AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 73 - Restu Tarachandra



Amber sedang sarapan bersama Tarachandra di ruang makan. Setelah kepulangannya dari menikmati akhir pekan bersama teman-temannya kemarin, Tarachandra menangkap sesuatu yang berbeda pada diri anak gadis kesayangannya itu. Ia tampak lebih ceria. Bahkan, pagi ini pun Tarachandra melihat sesuatu yang berbeda pada penampilan Amber.


"Ehm," Tarachandra berdehem pelan sebelum memulai ucapannya. "Tumben pakai kalung, Nak? Ayah juga baru liat itu kalungnya."


"Hehehe … Iya, Ayah. Ini dikasih Gian kemaren. Dia pengen aku sering-sering pake." Cerita Amber dihiasi dengan senyuman manis di bibirnya.


"Ayah boleh liat sebentar?" tanya Tarachandra yang penasaran dengan kalung seperti apa yang sudah Gian berikan pada putrinya.


"Boleh, Yah." Amber lalu melepas kalungnya dan memberikannya kepada Tarachandra. "Nih," lanjutnya.


Tarachandra menerima kalung tersebut lalu mengamatinya sekilas. Saat ia melihat bagian belakang dari bandul kalung itu, ia baru menyadari bahwa itu ternyata adalah sebuah kotak musik dengan ukuran yang sangat kecil. Diputarnya tuas kotak musik itu dan terdengarlah penggalan lagu lama yang sangat merdu.


"Wah, Gian ngasih kalung seunik ini ke kamu, Nak? Kalau dilihat dari bahannya juga, ini kayaknya sterling silver loh." Tarachandra memberikan komentar seperti itu sama sekali bukan karena harga dari benda tersebut yang sudah pasti tidaklah murah. Ia hanya merasa sangat penasaran mengapa Gian memberikan kalung yang berharga seperti itu kepada Amber.


Amber tidak langsung menjawab pertanyaan Tarachandra barusan. Ia hanya melemparkan senyum kepada sang ayah sambil menerima dan memakai kembali kalungnya. Sebenarnya ia ingin sekali bercerita pada ayahnya bahwa saat ini Gian sudah menjadi kekasihnya. Hanya saja, ini adalah pengalaman pertamanya dan ia merasa sedikit canggung untuk bercerita.


Sejak mengasuh Amber seorang diri, bisa dibilang bahwa Tarachandra memberikan cukup banyak perhatian pada anak semata wayangnya itu. Ia juga membiasakan Amber untuk bercerita tentang semua hal yang ia alami dan ia pikirkan. Dengan begitu, putrinya akan terbiasa terbuka tentang banyak hal padanya dan mereka pun selalu bisa mempunyai hubungan yang dekat.


Sambil tersenyum karena memang sudah sejak lama ia mencium bau kedekatan antara Gian dan putrinya, Tarachandra berkata, "kalian berdua deket ya?" Cerita dong sama Ayah. Biasanya kan juga kamu cerita semua ke Ayah."


"Mmm … Iya, Yah. Kami berdua deket," jawab Amber pelan. "Mmm … Kalau Amber punya pacar Ayah ngebolehin apa enggak?" dengan malu-malu ia melontarkan pertanyaan itu.


"Lho, ya boleh aja lah, Nak. Selama ini kan malah Ayah yang nyuruh-nyuruh kamu. Apalagi Gian kan anak dari sahabat Ayah. Ayah liat Gian anaknya bertanggung jawab juga. Ayah jadi tenang kalau yang jadi pacar kamu itu dia," jelasnya sambil mengelus rambut hitam putrinya. "Eh, tapi tunggu dulu. Memangnya kalian sudah pacaran?"


Amber hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah anggukan. Ia lalu menundukkan wajahnya karena tersipu.


"Wah, anak Ayah sudah besar rupanya." Di dalam hati, Tarachandra sangatlah bahagia karena Amber tidaklah menutup hatinya untuk lelaki. Yang lebih membahagian lagi, Gian adalah seseorang yang ia kenal dan tentunya akan lebih mudah ia percaya.


"Nanti aku enggak bawa mobil ya, Yah. Gian yang mau jemput." Karena sudah bercerita, hati Amber kini merasa lebih ringan saat mengatakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Gian dan dirinya kepada sang ayah.


"Iya, enggak papa. Asal enggak ngerepotin Gian aja," bagaimanapun Tarachandra tak mau sifat mandiri anaknya memudar hanya karena kini ia sudah mempunyai kekasih. "O iya, jangan sampai pacaran ganggu kuliah juga ya, Nak," pesannya lagi.


"Iya, Ayah. Ayah bisa percaya sama Amber soal itu," jawab Amber. Ia sudah selesai sarapan. Di saat yang bersamaan ponselnya berbunyi.


Aku udah di depan ya.


"Ayah, Gian udah sampe. Kayaknya mau langsung berangkat aja biar enggak telat kuliah, Yah. Udah jam segini. Gian suruh masuk dulu enggak, Yah?" kata Amber sambil bersiap-siap.


"Enggak usah, Sayang. Ayah aja yang anter kamu ke depan sekalian ketemu Gian. Kalau masuk dulu malah kelamaan nanti," jawab Tarachandra yang sudah berdiri hendak mengantar putrinya ke depan. Mereka pun lalu berjalan bersama.


"Pagi, Om. Gian mau jemput Amber," Gian menyapa Tarachandra sembari menjabat tangan sang pelukis dengan sopan.


"Iya. Hati-hati nanti di jalan. Sana cepet berangkat biar enggak telat masuk kelas," ucap Tarachandra.


"Iya, Om." Gian pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Amber.


"Bye, Ayah," Amber mengecup pipi Tarachandra untuk berpamitan.


Setelah Amber masuk ke dalam mobil, Gian pun kembali berpamitan pada Tarachandra. Di saat itulah Tarachandra menepuk-nepuk pelan punggung Gian dan berkata kepada pemuda tampan itu, "jaga Amber baik-baik ya."


"Iya, Om. Om bisa percaya sama Gian," janjinya pada Tarachandra. "Kami berangkat ya, Om." Ia lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan membawa Amber menuju ke kampus.


"Tadi ngobrol apa sama, Ayah?" Amber bertanya karena merasa penasaran. Percakapan singkat antara Gian dan ayahnya tak bisa ia dengar dari dalam mobil.


"Rahasia," goda Gian sambil tetap memfokuskan pandangannya pada jalanan yang sedang dilalui mobilnya.


"Ck …" Amber bercedak singkat. Ia sungguh merasa penasaran akan tetapi Gian tidak mau memberitahunya.


Di lampu merah, Gian menghentikan mobilnya. Ia lalu melihat ke arah Amber yang masih memonyongkan bibirnya karena kesal. "Aduh … Pacar aku kenapa jadi monyong begini? Ini pacar aku atau bebek sih?" Gian kembali menggoda Amber sambil mencubit pelan pipinya.


"Hiiih! Kasih tau nggak?!" Amber memiringkan duduknya sehingga ia kini menghadap ke arah Gian. Ia balik mencubit kedua pipi Gian karena gemas bercampur kesal.


"Eh ... Eh … Lampunya udah ijo tuh," Gian berkelit dengan alasan lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau.


Dengan terpaksa Amber melepasnya cubitannya dan kembali ke posisi duduk semula. Mereka pun melanjutkan perjalanan yang masih tersisa sekitar 20 menit lagi sebelum mereka sampai di kampus.


Sesampainya di kampus, Gian memarkirkan mobilnya di spot parkir favoritnya. Jika diingat lagi, tempat inilah yang sudah membuatnya kenal dengan Amber. Walau di awal perkenalan mereka, mereka seolah tidak menyukai satu sama lain, hal itulah yang justru membuat mereka tak sengaja semakin dekat. Tanpa disadari, sifat Gian pun semakin berubah tidak seketus dulu semenjak ia berkenalan dengan gadis manis ini.


"Betah amat manyun dari tadi," Gian masih saja menggoda Amber. Keduanya masih berada di dalam mobil.


"Bodo ah. Ayok kuliah. Udah mau telat ni," Amber menjawab sambil mengambil tasnya dan bersiap untuk turun dari mobil.


"Tunggu ah," ucap Gian memegang tangan kanan Amber, membuat gadis itu urung untuk turun. "Om Tara tadi cuma minta aku jagain kamu baik-baik. Dah tuh. Jangan manyun lagi," lanjutnya.


Seperti biasa, tak sulit membuat Amber kembali tersenyum. Melihat senyum manis yang seperti ini rasanya Gian masih ingin berlama-lama bersama Amber, tak ingin masuk ke kelas. Tapi di sisi lain, ia tak boleh mengecewakan Tarachandra yang sudah secara tak langsung memberikan restu padanya untuk menjadi kekasih Amber.


"Dah yok. Mau telat ni," Amber kembali mengajak Gian untuk keluar dari mobil.


"Tungguuuu. Masih mau bareng," rengek Gian sambil mengusap-usapkan punggung tangan Amber pada pipinya. Tingkah Gian yang seperti ini entah kenapa membuat Amber begitu gemas.


"Tadi Om Tara dapet chu aku enggak," kini gantian Gian yang memonyongkan bibirnya, berpura-pura kesal pada Amber.


"Chu?" Amber tak paham apa arti kata 'chu' yang barusan dipakai oleh Gian.


"Hmm," Gian hanya menanggapi dengan gumaman namun sambil menunjuk-nunjuk salah satu pipinya.


"Ih! Apaan sih, Gian! Ayok kuliah!" Amber yang wajahnya merona karena permintaan Gian mencoba untuk kabur.


"Nggak mau kuliah kalau belom dapet chu!" Gian malah semakin merengek dan tak melepaskan tangan Amber. Ia pun menyodorkan pipinya semakin mendekat ke arah Amber.


Amber yang sungguh tak ingin terlambat kuliah karena dosen yang terkenal ketus akhirnya melayangkan sebuah kecupan kecil di pipi Gian. Itu sungguh membuatnya malu. Selain Tarachandra, tak pernah ia mencium lelaki sebelumnya.


Dengan keras ia berusaha melepaskan genggaman tangan Gian lalu cepat-cepat keluar dari mobil. Ia menuju ke dalam kampus bahkan tanpa menunggu Gian terlebih dahulu. Ia tak mau Gian melihat wajahnya yang mungkin sudah semerah tomat sekarang.


"Ahahaha … lucu banget pacar aku malu," ucap Gian sambil terbahak. Ia tak menyangka bahwa Amber benar-benar memberinya sebuah kecupan.


Cepat-cepat, Gian menyiapkan barang-barang yang hendak ia bawa untuk keperluan kuliah. Ia buru-buru keluar dan tak lupa mengunci mobilnya. Setelahnya, ia berusaha mengejar Amber yang nampaknya sengaja mempercepat langkah kakinya untuk menghindari Gian.