
Hari kedua inisiasi mahasiswa baru di mulai di jam yang sama, yaitu jam 8.00 pagi. Setelah melewati hari pertama yang cukup membosankan karena sebagian besar diisi dengan sesi penjelasan dan tanya jawab seputar kampus dan seminar tentang dunia perkuliahan, akhirnya para maba bisa bersenang-senang di hari kedua ini.
Akan ada banyak permainan kelompok yang harus mereka lakukan bersama guna mengumpulkan poin. Ada juga beberapa lomba yang harus mereka ikuti supaya poin menjadi semakin banyak. Di akhir hari nanti, 3 kelompok dengan poin yang terbanyak akan mendapatkan hadiah khusus dari panitia.
Jika ditotal, ada lebih dari 10 jenis permainan yang sudah dipersiapkan oleh panitia dan seluruh kelompok wajib mengikutinya. Tidak semua permainan mengandalkan kekuatan fisik karena beberapa hanya bisa dilakukan dengan mengandalkan kemampuan otak. Panitia sengaja membuatnya seperti itu supaya para mahasiswa baru tidak akan kelelahan dan bisa bertahan hingga sore nanti.
Masing-masing dari permainan tersebut hanya boleh dilakukan dalam batas waktu tertentu saja. Jika selama itu peserta tidak bisa menyelesaikan teka-teki atau tantangan yang diberikan, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan poin tambahan dan harus langsung pindah ke pos yang selanjutnya.
Bagi para mahasiswa baru, kegiatan semacam ini sangatlah menyenangkan. Hal ini juga membuka kesempatan bagi mereka untuk lebih mengenal teman-teman baru. Jika beruntung, bisa juga tumbuh bunga-bunga cinta antar teman satu kelompok.
Bagi Amber, kegiatan hari ini cukup efektif untuk melepas kepenatan sebelum akhirnya nanti ia mulai belajar di Prodi Seni Murni. Karena itulah, hari ini apapun yang terjadi ia hanya ingin bersenang-senang.
Sebelum mulai mengumpulkan poin, hal pertama yang dilakukan untuk memulai seluruh rangkaian kegiatan di hari kedua ini adalah lomba yel antar kelompok yang dilaksanakan di dalam sebuah aula besar. Tentu saja, poin juga akan diberikan di sini.
Secara berurutan, setiap kelompok akan maju ke panggung yang sudah disiapkan oleh panitia. Setiap kelompok tampak berbeda karena khusus untuk hari ini mereka dibebaskan untuk memilih pakaian dan atribut masing-masing. Kelompok 21 di mana Amber berada pun juga begitu.
Kemarin, sebelum pulang, Amber bersama pendamping kelompok dan teman-temannya yang lain berkumpul sebentar untuk membahas pakaian apa yang akan mereka kenakan hari ini. Setelah membahas cukup lama, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan memakai tema kotak-kotak atau yang lebih dikenal dengan sebutan plaid.
Sambil menunggu giliran mempertunjukkan yel yang sudah dipersiapkan sebelumnya, seluruh mahasiswa baru tumpah ruah duduk di lantai aula yang memang tidak dialasi apapun. Setiap kelompok yang sudah selesai akan langsung menuju ke pos-pos permainan lain yang sudah disediakan panitia. Pantas saja, pagi itu setelah beberapa kelompok selesai dengan yelnya, suasana riuh di luar aula mulai terdengar.
Amber pun juga ada di sana bersama sengan teman sekelompoknya. Mereka masih belum mendapat giliran untuk menampilkan yel yang sudah mereka buat.
"Amber … Amber …" panggil Charemon dengan suara berbisik-bisik supaya tidak mengganggu jalannya acara.
"Hmm?" Jawaban Amber terdengar malas.
"Lo tahu nggak kalau Gian jadi panitia?" tanyanya penasaran.
"Hmm," lagi-lagi Amber menjawab dengan gumaman.
"Ih…lo tahu apa nggak? Jangan cuma ham hem ham hem aja," tanya Charemon lagi sambil menyubit kecil tangan Amber karena gemas dengan jawaban temannya itu.
"Au! Usil banget sih kamu, Mon? Emang kenapa kalau aku tahu atau nggak tahu?" Amber mengusap tangannya yang sakit.
"Ya nggak kenapa-kenapa sih. Cuma … bukannya urusan kalian di tempat pendataan masih nggantung ya? Orang lo sama gue cabut gitu aja,"
Charemon tak tahu bahwa setelah kejadian itu pun Amber sudah kembali berurusan dengan Gian waktu dia ketahuan terlambat kemarin. Amber memang tidak bercerita apapun pada Charemon untuk menghindari kehebohan. Selain itu, walaupun sedikit merasa bersalah, ia juga tak mau ada yang tahu bahwa ia telah melakukan kecurangan.
"Aku nggak ngerasa punya urusan sama dia tuh," jawab Amber cuek.
Dalam hatinya, dia pun tidak merasa mempunyai hutang budi dengan Gian. Satu energy bar kesukaannya kemarin sudah cukup untuk membuat semuanya impas. Ia tak ingin memanjang-manjangkan urusan. Apalagi, fokusnya sebentar lagi hanya akan tertuju penuh pada studi yang akan ia tempuh di kampus ini.
"Ati-ati aja lo kalau dia sampe ketemu sama lo terus marah-marah lagi," suara Charemon seperti menakut-nakuti.
"Kayanya dia nggak seserem itu tuh. Kenapa harus takut?"
"Ih, lo mah belum tau aja. Mungkin Gian emang ga pernah berbuat sesuatu yang buruk di kampus ini. Tapi ada banyak orang yang mengekor dia. Belom lagi cewek-cewek yang pada tergila-gila sama dia. Mereka semualah yang bakal bertindak kalau ada terjadi sesuatu dengan Gian," Charemon menjelaskan.
"Kurang kerjaan banget belain orang sampai segitunya. Kuliah aja yang bener biar cepet lulus kenapa sih?" kata Amber heran.
Amber jadi teringat pada dua gadis yang menemuinya di area parkir kala itu. Jangan-jangan mereka serupa dengan orang-orang yang baru saja Charemon ceritakan.
Entahlah. Amber tak mau berlarut-larut memikirkan hal yang tidak perlu. Jika semua yang dikatakan Charemon benar, bukankah akan lebih baik jika ia tak berurusan lagi dengan Gian yang malah mungkin akan mengacaukan studinya? Itu yang ada di pikirannya sekarang.
Larut sebentar dalam lamunannya, tak terasa kini sudah giliran kelompok 21 untuk maju ke panggung dan menampilkan yel yang sudah mereka buat. Amber rasanya malas sekali melakukan ini. Pikirnya, yel tersebut tidak sampai dipertontonkan di atas panggung, ia tak pernah suka jika ada banyak mata yang terarah padanya.
Kenyataan tak sesuai dengan ekspektasinya. Ia harus rela maju ke depan bersama teman-temannya. Keadaan terasa semakin buruk bagi Amber karena tadi Charemon tiba-tiba mengusulkan untuk menambahkan koreografi. Katanya itu semua dilakukan demi poin.
Maka semakin engganlah Amber. Walaupun begitu, mau tidak mau ia tetap maju ke depan bersama kelompoknya. Diam-diam, ia menurunkan sedikit bucket hat yang ia kenakan, berharap bahwa itu akan sedikit lebih menutupi wajahnya.
Kala itu di salah satu sudut aula …
"Ketemu," Gian tersenyum licik sembari menjalankan tugasnya sebagai seksi dokumentasi.
Sebenarnya, ini bukanlah sebuah kebetulan. Pagi tadi sewaktu briefing sebelum acara inisiasi hari kedua dilakukan, Gian memaksa untuk dipasangkan dengan Egidia. Karena malas mendengarnya mengeluh terus sejak kemarin, akhirnya permintaan tersebut dikabulkan oleh ketua divisi.
Gian sudah jengah terus-terusan dikerubungi oleh maba perempuan sejak kemarin. Setiap kali ada kesempatan, mereka semua selalu ribut berdesakan untuk bisa mendekat pada Gian setiap ada kesempatan. Gian bahkan sampai tidak bisa mengisi jeda istirahatnya dengan nyaman karena hal tersebut. Wajar saja jika di akhir acara kemarin ia merasa sangat lelah.
Intinya, Gian meminta pertanggung-jawaban Egidia sebagai salah satu penyebab Gian harus bersedia menjadi panitia. Egi harus menjadi 'bodyguardnya' hari ini dan besok. Entah bagaimana caranya, pokoknya Egi harus bisa menghalau para maba yang sudah terlalu dekat dan rusuh. Itulah hukuman Gian untuk Egi.
"Heh! Ditanyain malah senyum-senyum aja lo. Kesambet?" Egi kembali bertanya setelah pertanyaan pertamanya belum dijawab oleh Gian.
"Mau tahu aja lo." Gian lalu menjulurkan lidahnya kepada Egidia dan lanjut mengambil beberapa gambar lagi dengan kameranya.
Saat itu, Amber dan teman-temannya sudah selesai dengan penampilan mereka dan bersiap untuk mulai menjajali satu per satu permainan hari ini.
"Gi, ayok," ajak Gian.
"Lah, kan kita disuruh jaga di sini dulu," jawab Egidia bingung.
"Bodo amat. Noh, lo kaga liat masih banyak anak dokumentasi yang pada stay sambil ngecengin maba?" katanya sambil menunjuk dengan dagu ke beberapa anggota divisi dokumentasi yang masih berada di aula.
"Ayo cepetan!" Gian lalu menarik tangan Egi.
"Fajar, gue sama Gian keliling ya? Lo kelarin area sini," Egi berpamitan pada salah seorang temannya yang juga bertugas sebagai di bagian dokumentasi acara.
"Beres!" jawab Fajar.
Egi pun langsung menyusul Gian yang sudah keluar dari pintu belakang aula. Suara tawa terdengar riuh di luar sana. Ada yang senang sekali karena berhasil menyelesaikan tantangan permainan. Ada pula yang terbahak-bahak karena gagal menyelesaikan sesuatu yang terlihat sepele namun ternyata sulit untuk dilakukan.
Mata Gian secara otomatis menyelusur ke seluruh ruang terbuka itu. Entah kenapa dia mencari si pemakai bucket hat dengan motif plaid warna merah. Harusnya tak sulit menemukannya karena sepertinya hanya ada satu orang yang memakainya tadi.
Kalau ditanya mengapa ia mencarinya? Mungkin ia sendiri tak mengetahui jawaban pastinya. Hanya saja, ada perasaan ingin menumpahkan kekesalan karena kemarin dia hampir saja mendapatkan masalah karena orang itu. Karena itulah, hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.
"21 … Mana sih?" gumamnya pada diri sendiri.
"Lo nyariin kelompok 21? Emang ada yang lo kenal?" tanya Egidia yang penasaran kenapa sejak pagi tadi temannya itu seperti mencari seseorang, sampai-sampai ia memerhatikan setiap kelompok yang maju ke panggung untuk menampilkan yel tadi.
"Justru karena gue nggak kenal makanya gue nyari, dodol," jawabnya sambil masih mengajak Egi berkelilingan dengan sedikit tergesa.
"Jangan bilang kalau lo mau nyariin maba yang ngambil spot parkir lo waktu itu? Yaelah Gian ... Gian, nggak ada hak patennya juga kali itu tempat."
"Semua orang juga tahu kalau gue nggak bisa parkir selain di situ. Kasian si Item tauk," gerutu Gian.
"Segala mobil lo kasih nama lo sayang-sayang," celetuk Egidia yang selalu saja heran dengan kebiasaan temannya itu.
"Diem lu ah, bawel. Buruan bantuin nyari 21 ada di pos mana," kata Gian sambil terus berjalan.
"Noh, 21 di situ." Egi akhirnya menemukan keberadaan kelompok 21 yang dicari-cari oleh Gian.
Gian langsung mengajaknya mendekat ke kerumunan itu. Saat itu, seluruh pesertanya sedang fokus berdiskusi untuk mencoba menyelesaikan sebuah teka-teki.
Gian pun mengambil kesempatan itu untuk mendekat pada Angga, sang pendamping kelompok, tanpa ada yang benar-benar meperhatikannya.
"Ngga, sini bentar," panggilnya.
"Apaan? Gue baru tugas," jawab Angga sambil masih terus mengawasi anggota kelompoknya.
"Iya, cuma bentar doang. Yang pakai bucket hat siapa?" tanpa basa-basi Gian langsung bertanya pada intinya.
"Oh, itu Amberley Senja. Anak Prodi Seni Murni."
"Okay. Thank you, Bro," balasnya lalu berlalu dari tempat itu setelah mengambil beberapa foto. "Nama yang unik." batinnya dalam hati.