AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 32 – Luapan Kemarahan



Sebagai mahasiswa tingkat awal, wajar jika ada cukup banyak mata kuliah yang harus Amber ambil dalam satu semester. Terlebih lagi, Amber memang sudah berniat untuk selalu memaksimalkan seluruh jatah SKS yang ia terima di tiap semesternya dengan tujuan supaya ia bisa segera lulus.


Hari ini pun begitu. Ia pulang saat waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 1 siang.


Ia berniat ingin mengambil beberapa buku yang ia simpan di loker sebelum menuju ke tempat parkir. Hari ini, ia memang tak ada rencana untuk pulang bersama dengan Charemon karena sahabatnya itu akan mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya.


Matahari cukup terik siang ini. Terlebih lagi, Amber merasa cukup penat setelah mengikuti beberapa kelas perkuliahan tadi. Wajar jika saat ini ia terlihat cukup lelah dan ingin segera pulang.


Amber membuka lokernya dengan malas dan langsung terkejut saat melihat di dalam loker tersebut menumpuk beberapa bungkus makanan. Yang lebih membuatnya geram, ada sisa makanan yang tercecer di mana-mana dan mengotori buku-bukunya.


“Lagi?!” tanyanya dalam hati.


Amber sungguh tak mengerti kenapa ada orang yang tega melakukan ini padanya. Apa kesalahan yang sudah ia lakukan sehingga ia pantas menerima perlakuan seperti ini.


Dengan emosi yang sudah tak tertahan lagi Amber menyingkirkan semua bungkus makanan tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah yang letaknya tak jauh dari sana. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar tisu untuk mengelap sisa makanan yang menempel di sampul bukunya.


Amber juga mengambil sebuah botol parfum kecil dari dalam tasnya lalu menyemprotkan isinya ke dalam loker. Bau makanan ringan yang memenuhi lokernya sungguh membuatnya merasa muak.


Sebenarnya Amber bukanlah orang yang mudah marah. Hanya saja, apa yang dialaminya kali ini menurutnya sudah keterlaluan.


Jika kemarin masih ada Charemon yang bisa sedikit menenangkan emosinya, kali ini Amber sendiri. Ia sungguh merasakan kekesalan yang luar biasa di dalam hatinya.


“Pasti kerjaan Gian!”


Di dalam pikirannya, tak ada orang lain yang mungkin mengerjai dia kecuali Gian. Walau di satu sisi ia masih mengingat pesan Charemon untuk tidak secara sembarangan menuduh orang, kali ini emosinya menuntutnya untuk berbuat lain.


“Aku harus cari Gian. Kalau dia memang masih marah sama aku, nggak gini caranya,” kata-kata itulah yang ada di dalam benaknya saat ini.


Dengan suasana hati yang masih kesal, Amber pun berjalan dengan cepat menuju ke gedung program studi Desain Komunikasi Visual. Tak ada tempat lain yang terpikirkan olehnya untuk mulai mencari Gian kecuali tempat itu.


Beruntung ia bertemu dengan Egidia yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya setelah berputar-putar tak tentu arah.


“Kak Egi, tau Gian ada di mana?” sapa Amber.


Egidia melihat jelas raut gusar di wajah Amber. Ia pun menjawab, “Dia di kantin 1 sama Bimo, Dek. Ini abis ngobrol gue mau ke sana. Mau bareng?”


“Nggak usah, Kak. Kak Egi lanjutin aja ngobrolnya, aku mau ke sana duluan. Makasih ya, Kak,” kata Amber yang langsung berlalu menuju ke kantin satu berbekal informasi yang diberikan oleh Egidia.


“Siapa, Gi?” tanya salah seorang teman Egidia yang tadi sedang mengobrol dengannya.


“Temen gue. Maba,” jawab Egidia yang sesekali masih menengok ke arah Amber pergi tadi.


“Kok kayanya baru marah gitu dia?” kata temannya lagi.


“Iya, kah?” tanya Egi.


Ia jadi teringat akan raut wajah Amber tadi yang memang terlihat tak seperti sedang baik-baik saja tadi. Terlebih lagi, kenapa ia tadi mencari Gian?


Walaupun merasa penasaran, Egidia tak bisa langsung pergi menyusul Amber karena sedang membahas suatu hal penting bersama teman-temannya. Pikirnya, ia akan menanyakannya langsung pada Gian nanti.


Sementara itu, Amber yang memang berjalan dengan cepat, bahkan terkesan tergesa-gesa, sudah hampir sampai di area kantin 1. Dari kejauhan, ia sudah mulai mencari di mana Gian berada.


Gian sedang duduk menikmati kopi bersama dengan Bimo dan beberapa teman yang lain. Amber yang akhirnya menemukannya pun langsung menghampirinya.


“Gian, bisa ngobrol sebentar?” tanya Amber tiba-tiba, bahkan tanpa menyapa atau basa-basi terlebih dahulu.


Kehadiran Amber tentu saja membuat semua orang yang tadinya sedang asyik mengobrol itu sedikit kaget, terutama Gian. Beberapa teman Gian bahkan menggoda Gian yang lagi-lagi dicari oleh mahasiswa wanita di kampus itu. Candaan mereka sama sekali tak merubah wajah kesal Amber.


“Ngobrol aja,” jawab Gian dengan santai walau masih dengan wajah heran.


“Ya udah di situ aja,” jawab Gian sambil menunjuk ke kursi yang berada tepat di belakangnya.


Amber yang sudah mulai tak sabar lalu menarik tangan Gian yang memaksa pria itu berdiri dan menurutinya. Mereka menjauh menuju ke salah satu sudut kantin yang cukup sepi. Nampaknya Amber tidak ingin obrolannya dengan Gian didengar oleh orang lain.


Saat mereka sudah menjauh, Egidia datang.


“Bimo, kenapa tuh?” tanyanya pada Bimo yang sedari tadi sudah di sana.


“Auk. Gian mau ditembak kali,” jawab Bimo sambil cengengesan.


“Ditembak pale lu?! Muka Amber kesel begitu,” kata Egidia sambil memukul kepala Bimo dengan buku yang dibawanya.


Egidia lalu duduk di kursi yang tadi digunakan oleh Gian. Dari jauh, ia terus mengamati, penasaran akan apa yang ingin dibicarakan Amber dengan Gian.


“Lo kalau pengen banget nggandeng tangan gue bilang dong,” kata Gian sambil sedikit bercanda.


“Aku baru nggak pengen bercanda Gian,” ujar Amber dengan serius.


“Lo kenapa sih dateng-dateng marah-marah gitu?” Gian pun mulai kesal karena ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kamu yang kenapa? Masalah kamu apa sih?” Suara Amber mulai meninggi walau ia sadar betul ia tak ingin sampai berteriak-teriak.


Amber tak suka menjadi pusat perhatian karena hal semacam ini. Walaupun begitu, ia tetap merasa perlu untuk berbicara dengan Gian untuk memperjelas semuanya.


“Maksud lo apaan? Gue nggak ngerti,” kata Gian dengan menatap tajam ke mata wanita yang berdiri tepat di hadapannya itu.


“Kamu kalau masih marah atau nggak suka sama aku tuh bilang. Nggak gini caranya,” Amber pun sedari tadi juga menatap Gian tepat di matanya karena luapan emosinya yang sudah tak terbendung lagi.


“Sekali lagi gue tanya, maksud lo apaan?” Gian yang merasa dirinya tak tahu apa-apa pun mulai tersulut emosinya.


“Jangan pura-pura nggak tau. Kamu kan yang kemarin masukin potongan kertas banyak banget ke lokerku? Hari ini kamu juga kan yang masukin bungkus makanan ke sana? Maksudnya apa?” Wajah Amber memerah karena marah.


“Lo yang maksudnya apa! Gue nggak tau apa-apa tiba-tiba lo salahin!” Gian sedikit berteriak.


Suaranya membuat beberapa orang menoleh kepada mereka berdua, termasuk Egidia dan Bimo. Mereka yang tadinya masih cengengesan dan bercanda kini tahu bahwa yang Amber dan Gian bicarakan mungkin bukanlah sebuah candaan.


“Kamu itu laki-laki. Kalau kamu nggak suka sama aku tu yang gentleman dikit dong. Jangan malah pake cara murahan kaya gini!” Amber tak bisa lagi menahan-nahan suaranya agar tak terdengar oleh orang lain.


“Yang nggak suka sama lo tuh juga siapa?!” Gian tak kalah kesal.


Rahang Amber mengerat karena amarah. Sekejap ia menatap mata Gian dengan tajam lalu berlalu meninggalkan pria muda itu.


“Kalau belom selesai ngomong jangan pergi gitu aja dong,” kata Gian sambil meraih tangan Amber.


Hal itu membuat kemarahan Amber semakin meluap hingga tanpa sadar ia berteriak, “lepas!”


Gian yang kaget pun secara spontan melepaskan pegangannya dan membiarkan Amber pergi. Ia lalu kembali kepada teman-temannya yang kini semua menatap ke arahnya.


“Tumbenan. Biasanya cewek kalau nyamperin lo tuh minta dijadiin pacar. Ini anak orang lo apain sampe marah begitu?” tanya Bimo.


“Bawel, lo” Gian hanya mengambil tasnya lalu pergi dari tempat itu.


“Mau ke mana, lo?” tanya Bimo lagi.


“Balik!” jawab Gian singkat tanpa menoleh.


Berbeda dengan Bimo, Egidia malah tampak serius menanggapi apa yang baru saja dilihatnya. Di dalam hatinya, ia merasa perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.