
"Kak Fanya ke mana aja? Kok jarang update?" Zefanya membaca salah satu pertanyaan dari netizen saat dia sedang siaran live di akun media sosialnya "Oh, aku masih disibukkan sama tugas kuliah. Proyek show akhir tahun kan sebentar lagi digelar jadi aku masih fokus ke situ. Ada banyak jadwal pemotretan juga. Jadi … maaf ya aku jarang sekali menyapa kalian."
"Apa Kak Fanya beneran udah putus sama Kak Gian? Kok enggak pernah barengan lagi?" bacanya lagi. "Wah, pertanyaan ini yang paling sering aku dapatkan dari kalian. Aku bingung jawabnya gimana. Semua cuma salah paham aja sih."
"Kak Fanya repost foto bareng Kak Gian terus. Baru kangen ya? Atau jangan-jangan kalian deket lagi?" wanita muda berpenampilan elegan itu tertawa kecil saat membaca pertanyaan ini. "Kalau ditanya kangen apa enggak, ya jelas aku kangen. Doain aja yang terbaik ya," jawabnya disertain dengan senyuman yang begitu manis juga tangan yang membentuk simbol finger heart yang membuat ratusan penggemarnya serentak mengirimkan emoji hati kepadanya.
"Dih! Udah ah, Mon. Matiin. Males banget gue liat tingkahnya yang fake itu! Menggiring opini banget sih!" kata Egidia yang kala itu diajak Charemon untuk melihat live video Zefanya saat mereka sedang menghabiskan sore di sebuah cafe. Ada Bimo juga di sana.
"Gue juga males sih sebenernya, Kak. Cuma demi Ambergian gue rela-relain ngepoin akunnya Zefanya biar gue tau dia berkicau apa aja," Charemon yang merupakan pendukung garis keras Ambergian Couple merasa tidak terima melihat kelakuan Zefanya yang akhir-akhir ini kerap kali mengunggah ulang foto-foto kebersamaannya dulu dengan Gian. "Tapi beneran mereka udah putus kan, Kak? Bukan hubungan yang ngegantung gitu maksud gue," tanya Charemon penasaran.
"Putus lah! Kalau enggak ngapain juga Gian ngejar dan jadian sama Amber," jawab Egidia cepat.
"Gitu-gitu Gian bukan tipe cowok brengsek, Mon," tambah Bimo.
"Terus kenapa Zefanya begini? Hampir tiap hari loh dia ngepost fotonya bareng Kak Gian. Ini antara kepedean atau enggak tahu malu sih kalau kataku," Charemon menggerutu. Ia lalu menyesap minuman cokelat hangat untuk meredakan rasa kesalnya.
"Gue rasa sih ya, dia mulai tau kalau Gian deket sama Amber. Ya walau identitas Amber belum sepenuhnya diketahui tapi kan Gian sama Amber bahkan pernah ketangkep kamera amatir pas mereka hunting waktu itu," Bimo mencoba menjelaskan pendapatnya.
"Caper sih kalau gue bilang, Bim. Kayaknya dia mau narik perhatian Gian lagi. Itu semua foto-foto yang dipajang sama dia sifatnya sentimentil semua lho, bukan foto asal. Ada kenangan tersendiri di tiap foto itu. Lo juga pasti tau semua ceritanya kan, Bim," kini giliran Egidia yang berpendapat.
Charemon yang tak tahu banyak latar belakang di setiap foto tersebut menyimak dengan seksama semua penjelasan yang diberikan oleh Bimo dan Egidia. "Aha! Bisa jadi kombinasi keduanya, Kak. Dia tau kalau Kak Gian baru deket sama seseorang, terus dia kebakaran jenggot makanya jadi caper," Charemon menyimpulkan.
"Iya juga sih," celetuk Egidia.
"Bisa jadi," Bimo pun menimpali.
***
Tanpa terasa hari pembukaan pameran yang sudah Gian dan rekan-rekannya persiapkan selama beberapa bulan terakhir tiba juga. Gian sendiri sudah membuat tiga karya untuk dipamerkan di acara yang diselenggarakan di aula besar kampus namun terbuka untuk umum tersebut. Satu adalah karya kelompok dan dua lainnya adalah karya individu.
Dari kedua karya individunya, nampak jelas ketertarikan Gian pada aliran desain pop art. Hal ini tentu tak bisa dipisahkan dari tujuan awalnya menimba ilmu di jurusan desain komunikasi visual, yaitu supaya kelak ia bisa menggeluti bisnis clothing linenya sendiri. Itu juga yang menjadi alasan mengapa Gian benar-benar menyiapkan karyanya dengan kedua tangannya sendiri. Mulai dari proses pencarian inspirasi di mana ia mengandalkan kemampuan fotografinya yang cukup mumpuni, proses editing yang menggabungkan bahan mentah yang berupa foto dengan kemahirannya mengaplikasikan pengetahuan tentang desain pop art melalui media komputer, hingga proses pembuatan masing-masing karya.
Wajar saja jika pada akhirnya Gian merasa puas. Ia bisa menyelesaikan karya untuk dinilai oleh para dosen dan dipamerkan ke khalayak umum tepat pada waktunya. Perasaan puas itu juga lah yang membuat ia semangat mengundang sang ayah untuk ikut hadir di hari pembukaan pameran. Ayahnya tersebut hadir sekitar satu jam setelah pameran secara resmi dibuka. Kehadiran sang maestro musik tersebut tentu saja mengundang perhatian semua orang di sana.
"Enggak lah, Yah. Baru juga mulai," kata Gian. Hatinya sungguh bahagia karena ditengah kesibukannya Adipramana masih menyempatkan diri untuk datang melihat karya puta sulungnya.
Memang seperti itulah Adipramana. Walau awalnya ia agak kurang setuju Gian mengambil jurusan desain komunikasi visual dan bukan jurusan musik, pada akhirnya rasa cintanya membuat ia menerima dan menghormati pilihan putranya. Terlebih, Gian juga bisa membuktikan pilihannya ini tidak akan mengurangi kecintaannya terhadap dunia musik yang sudah membesarkan namanya.
"Gian!" sapa Amber yang datang bersama Charemon dari kejauhan tak lama kemudian. Ia sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Adipramana juga ada di sana. "Eh! Om Adi malah udah sampe duluan."
Adipramana menyambut Amber dengan sebuah pelukan hangat layaknya ia memeluk Gian tadi. "Baru aja sampe kok, Amber. Ini siapa?" katanya ramah sambil menunjuk ke arah Charemon.
"Oh. Ini temen satu angkatan Amber, Om. Namanya Momon," jawab Amber.
"Salam kenal, Om Adi!" sapa Charemon dengan sangat antusias.
"Wah! Kamu bersemangat sekali. Sudah tau nama Om pula," Adipramana menerima jabatan tangan Charemon.
"Siapa sih yang enggak tau maestro musik Adipramana, Om," kata Charemon dengan senangnya. Berteman dengan Amber memberikan keberuntungan tersendiri untuk Charemon. Ia jadi bisa berkenalan dengan dua maestro di dua bidang seni yang berbeda.
"Bisa aja kamu," Adipramana terkekeh akan kejujuran Charemon. "Mumpung ada Momon, Om minta tolong fotoin Om bareng Gian sama Amber ya. Jangan lupa, karya Gian juga."
"Siap, Om!" kata Charemon sambil menerima ponsel yang disodorkan oleh Adipramana.
Mereka bertiga pun bersiap untuk diambil fotonya oleh Charemon. Adipramana berada di posisi tengah dengan diapit oleh Gian pada sebelah kanannya dan Amber di kirinya. Keduanyabia rangkul pada bagian pundak. Gianlah yang nampak tersenyum paling bahagia di dalam foto tersebut. Mungkin karena ia bahagia bersama dengan kedua orang yang disayanginya.
"Ya udah kalau gitu Ayah duluan ya. Ayah masih ada urusan edit musik, dari kemarin belum selesai," kata Adipramana kepada Gian.
"Iya, Yah. Ketemu lagi kapan-kapan," jawab Gian sambil memberikan pelukan kepada Ayahnya. Mereka memang tidak setiap hari bertemu.
Setelahnya Adipramana pun juga berpamitan sembari memeluk Amber. Tak lupa ia juga menjabat tangan Charemon. Lelaki yang terkenal dengan idealismenya yang keras ini sebenarnya mempunyai sisi yang hangat dan bersahabat juga.
Ia pun berjalan menuju ke parkiran. Setelah duduk di balik kemudi, ia menyempatkan untuk mengunggah foto yang baru saja diambil dengan menyertakan keterangan: Yang tercinta. Sekejap lelaki itu tersenyum melihat foto tersebut lalu pergi meninggalkan tempat itu.