
"Apa yang ada dipikiranmu, tentang Tante dan Ayah, Nak?" tanya Ratih dengan bersungguh-sungguh.
"Mmm … maksud Tante apa ya?" Amber tak ingin gegabah menjawab pertanyaan tersebut.
"Tante cuma penasaran aja kamu mikir apa. Apalagi Ayah sering ke sini," ujar Ratih tanpa mengubah raut wajahnya yang serius itu.
"Amber beneran enggak tau, Tante. Tapi mungkin yang Tante duga emang bener. Aku pikir Ayah dan Tante memang sedang dekat," jawaban Amber terdengar ragu.
"Lalu?" Ratih kembali bertanya, seolah ingin mengetahui lebih dalam isi kepala Amber.
"Ya aku bisa apa, Tante? Kalau memang Ayah nyaman dekat dengan Tante bukankah aku harus belajar menerima? Bukankah perasaan suka dan cinta adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan datang atau pergi?" Amber meniru apa yang Gian katakan.
Amber tak memandang wajah Ratih saat mengatakan semua ini. Ia jauh memandang ke pepohonan yang ada di depannya. Matanya yang sedikit basah terasa pedih saat angin dingin menerpa. "Jangan nangis, Amber. Kamu harus ikhlas. Demi Ayah!" ia membatin demikian.
Ratih menyadari bahwa Amber seperti menyembunyikan wajahnya. Melihat reaksi Amber yang sampai seperti ini, Ratih sungguh tak bisa menahan lagi. Ia terbahak sekencangnya. "Hahahaha … Maaf, maafin Tante, Amber. Tante udah enggak kuat nahan lagi." Ratih mengusap ujung matanya yang basah karena tertawa terlalu kencang.
Amber sungguh tak mengerti apa arti tawa Ratih. Ia menoleh dan mengekspos wajahnya sendiri yang sangat keheranan akan tingkah wanita yang duduk di sebelahnya itu. "Maksud Tante apa?"
"Nih, Tante ceritain ya. Sebenarnya sudah sejak awal kita ketemu Tante udah ngerasa banget kamu bikin 'benteng'. Mungkin karena Tante langsung kelihatan akrab sama ayah kamu ya, Nak?" dengan nada yang begitu ceria Ratih memulai penjelasannya.
Amber masih diam, belum menanggapi. Ia mencoba mencerna apa maksud Ratih sebenarnya.
"Kami berdua juga udah tau kalau kamu enggak mau diajak ke sini itu cuma alesan aja kan? Pasti kamu menghindari Tante," ucap Ratih tanpa merasa canggung sedikit pun.
"Jadi Ayah juga udah tau, Tante?" Amber sungguh merasa seperti orang bodoh.
"Gitu-gitu Ayah kamu itu orang yang paling paham soal kamu lho, Amber. Bukankah itu bagian dari janjinya kepada Ayu untuk menjaga kamu?" ujar Ratih.
Amber tersontak mendengar perkataan yang baru saja Ratih ucapkan. "Tante tau soal Bunda?"
"Tau lah, Nak. Tapi emang sih, Tante pertama kali denger dari temen Tante. Baru-baru ini Tante denger ceritanya langsung dari ayahmu," Ratih tak lagi tertawa saat mengatakan soal ini. Ia paham ini bukan candaan.
"Mmm … Apa Tante suka sama Ayah?" dengan begitu jujur Amber bertanya.
"Iya, Tante suka," dengan yakin Ratih menjawab.
Terbersit rasa kecewa di dalam benak Amber. Ia masih tak bisa membayangkan akan ada wanita lain di samping Tarachandra.
Ratih kembali terkekeh lalu mengacak rambut Amber karena wajah Amber yang mudah sekali terbaca olehnya. "Sebagai teman, Nak. Sebagai sesama seniman. Tante sudah terlanjur mencintai dunia seni. Enggak ada hal lain lagi yang Tante inginkan selain berkarya. Biarlah orang lain mengatai Tante menikahi kesenian. Memang begitu kenyataannya," dengan santai dan begitu keren Ratih menjabarkan sudut pandangnya.
Binar bahagia tak bisa Amber sembunyikan. Bibirnya bahkan secara otomatis tersenyum setelah mendengar penuturan Ratih.
"Lagipula siapa yang bisa mengalahkan hati Tara yang begitu kukuh? Lelaki tua itu selalu memegang teguh janji dan perkataannya sendiri. Dia bilang sama Tante, sampai kapanpun ia tidak akan memilih wanita lain untuk menggantikan Ayu. Jika bukan Ayu, maka ia lebih memilih untuk sendiri sampai mati," Ratih sedikit membocorkan curahan hatinTarachandra pada Amber. Ia hanya ingin gadis manis itu merasa tenang.
"Makasih, Tante," kata-kata ini terucap begitu saja dari mulut Amber.
"Segitu senengnya Tante enggak beneran deket sama ayah kamu sampe bilang makasih gitu, Nak?" goda Ratih.
"Ah … Maaf, Tante. Maksud Amber-"
Amber hanya bisa tersenyum karena merasa malu.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu tau enggak kenapa Tante minta ayahmu untuk ke sini bolak-balik sampe kamu curiga gitu kalau kami ada apa-apa?" tanya Ratih.
"Ayah enggak pernah cerita, Tante. Jadi Amber enggak tau," jawab Amber.
"Ah! Dasar seniman tua itu. Pantas saja kamu salah paham," ujar Ratih.
"Memangnya ada apa, Tante?"
"Jadi ceritanya, pertemuan kita bertiga di pameran tempo hari itu timingnya pas sekali. Padepokan Tante ini kan enggak hanya nyediain program seni tari aja tapi juga sering ngadain workshop berbagai bidang seni. Kadang juga ada pertunjukan dan diskusi teater. Macem-macem lah pokoknya," Ratih bercerita.
"Terus apa hubungannya sama Ayah, Tante?" Amber masih belum mengerti arah cerita Ratih.
"Nah, bulan depan itu Tante dan tim udah bikin jadwal untuk workshop seni lukis selama beberapa hari di sini. Belum buka pendaftaran aja peminatnya udah banyak banget. Tante udah siapin beberapa orang pembicara juga, tapi ternyata salah satu dari mereka jatuh sakit dan terpaksa membatalkan. Makanya Tante seneng banget pas ketemu sama Ayahmu. Tante minta tolong sama dia buat gantiin jadi pembicara dan dia mau. Makanya dia sering dateng ke sini itu karena ikut rembugan soal workshop itu sama tim," dengan panjang lebar Ratin menjelaskan.
"Astaga! Jadi selama ini aku udah berburuk sangka sama Ayah dan Tante Ratih?" Amber membatin karena merasa malu pada dirinya sendiri.
"Tante juga bilang ke ayahmu berulang kali untuk ngajak kamu ke sini soalnya Tante yakin kamu pasti tertarik sama workshopnya. Khusus buat kamu, Tante kasih gratis biaya pendaftaran deh. Kamu boleh ajak 2 temen kamu juga. Enggak usah bayar semua. Biar Tante yang traktir," Ratih memberikan penawaran yang ia yakin Amber tidak akan menolaknya.
"Waaah … Mau, Tante. Makasih banyak. Nanti Amber beneran ajak dua temen Amber buat ikutan workshopnya," Amber menjawab dengan senangnya. Ekspresi ceria benar-benar sudah kembali menghiasi wajahnya.
"Eeeh … jangan seneng dulu. Tante masih punya satu kejutan lagi karena Tante seneng banget ayah kamu udah mau bantuin Tante," kata Ratih.
"Apa itu, Tante?" Amber semakin penasaran setelah mendengar kata 'kejutan".
"Tante denger dari ayah kamu kalau kamu serius mau belajar seni lukis hyperrealist. Tante punya kenalan, dia bukan pelukis sembarangan walau mungkin namanya juga belum seberapa besar. Tara bilang kamu bahkan pernah dateng ke pameran dia," ujar Ratih.
"Maksud Tante Louisa Benedicta?" Amber langsung teringat saat ia pergi ke pameran pelukis wanita ini bersama Gian saat mereka belum menjadi sepasang kekasih dulu. Amber sudah jatuh cinta sejak pertama melihat hasil karyanya.
"Iya, Louis," begitu cara Ratih memanggilnya. "Kalau kamu mau, Tante akan kenalin kamu ke dia. Dia masih muda dan supel, jadi Tante yakin kalian bisa mudah akrab. Dia pasti bakalan berbagi ilmu sama kamu, Amber," kata Ratih sembari tersenyum ramah.
"Makasih, Tante. Tante baik sekali," dengan polosnya Amber berkata.
"Kalau Tante emang baik, kamu yakin enggak mau Tante deket sama ayah kamu, Nak?" goda Ratih.
"Yakin!" jawab Amber tegas.
Keduanya pun terbahak bersama karena jawaban Amber.
"Asyik banget. Pada ngobrolin apa?" Tarachandra tiba-tiba muncul.
"Mau tau aja kamu," jawab Ratih.
Melihat kedatangan Tarachandra, Amber tak bisa menahan diri untuk menghambur dan memeluk pria paruh baya yang sangat ia sayangi itu. Sementara Tarachandra yang langsung paham kalau putrinya sudah baik-baik saja hanya bisa melempar senyuman tanda terima kasih kepada Ratih.