AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 85 - Makrab (Bagian 3)



"Lho? Kok lo duluan yang nyampe, Ndre? Emangnya Amber urutan paling belakang?" tanya Charemon yang terlihat heran saat Andre muncul duluan di titik finis kegiatan Jerit Malam.


Wajah Andre menunjukkan ekspresi yang tak kalah bingung, "becanda lo ya, Mon?"


"Becanda gimana sih, Ndre?! Tadi yang duluan jalan siapa?!" dengan wajah serius Charemon bertanya kembali.


"Amber!" jawab Andre singkat dengan wajah yang memucat.


"Terus kenapa malah lo duluan yang nyampe?! Amber mana?!"


Suara obrolan antara Charemon dan Andre sedikit demi sedikit mulai menarik perhatian teman-teman sekelompok mereka, juga beberapa peserta dan panitia lain yang masih berkumpul di sekitaran finis. Banyak peserta lain sudah masuk ke aula dan bersiap untuk istirahat karena memang malam sudah cukup larut.


"Hei! Ada apaan nih?!" tanya Arvin yang kebetulan juga masih berada di sana untuk memastikan bahwa kegiatan malam ini berjalan dengan lancar tanpa kendala dan masalah apapun.


"Temen kita ada yang belom nyampe, Bang. Padahal tadi dia jalan duluan, tepat sebelum gue. Gue peserta terakhir, Bang," Andre mencoba menjelaskan.


"Ck!" Setelah bercedak cukup keras karena menyadari ada sesuatu yang salah, Arvin pun segera memberikan komando kepada panitia untuk mengajak peserta yang masih berkerumun di sekitar sana masuk dan beristirahat. Sementara Andre dan Charemon masih diminta untuk tinggal. Arvin cuma tak ingin masalah yang belum ia ketahui kejelasannya ini menyebar dan nantinya malah akan membuat dirinya dan panitia yang lain harus berhadapan dengan pihak kampus.


Setelah semua perserta masuk, Arvin kembali bertanya kepada Andre dan Charemon, "sekarang jelasin dengan singkat ada apa sebenernya?"


Charemon mulai panik dan menangis sehingga ia tak bisa bercerita. Akhirnya, Andre lah yang kemudian menceritakan kembali apa yang terjadi, "Kami bertiga peserta terakhir, Bang. Charemon jalan duluan tadi. Abis itu Amber dan terakhir gue. Sepanjang jalan sampe ke pos misi dan setelahnya pun gue sama sekali enggak ketemu sama Amber, Bang. Pas gue nyampe sini Momon malah bingung kenapa gue udah nyampe tapi Amber belom."


Tak lama setelah Andre menuturkan ceritanta, Egidia pun datang dan bertanya, "ada apa?" Ia lalu merangkul Charemon yang saat itu sudah menangis.


"Lo tenangin Momon dulu aja, Gi. Jangan bawa dia masuk ke kamar dulu. Gue enggak mau hal ini nyebar ke peserta. Kasih tau panitia lain juga lewat group chat. Jangan sampe bocor!" perintah Arvin. Tanpa menunggu penjelasan selanjutnya, Egidia lalu membawa Charemon ke ruangan panitia yang letaknya tak jauh dari finis.


"Lo enggak masuk aja nemenin Momon?" tanya Arvin pada Andre.


"Sorry, Bang. Boleh enggak kalau gue ikutan di sini? Amber temen gue, Bang" pinta Andre. "Lo bisa percaya gue, Bang. Gue bakal tutup mulut."


"Ya udah lah," karena merasa bahwa ini bukan saatnya untuk berdiskusi, maka Arvin pun membiarkan Andre tetap bersamanya. "Sekarang kita tunggu dulu sebentar, harusnya ga lama lagi bakal ada seksi keamanan yang ngecek rute setelah peserta terakhir jalan."


"Enggak ada peserta yang ketinggalan, Bim?" tanya Arvin pada Bimo yang kebetulan merupakan anggota seksi keamanan yang bersama dengan satu rekannya mengecek rute Jerit Malam tak lama setelah Andre pergi tadi.


"Enggak ada tuh. Kenapa emangnya?" tanya Bimo yang sama sekali belum mengerti duduk perkaranya.


"Kumpulin semua seksi keamanan dan semua panitia cowok di sini sekarang. Sisain beberapa panitia cowok buat jaga-jaga di sini," Arvin kembali memberikan komando.


Setelah semua berkumpul, secara cepat dan singkat Arvin menjelaskan masalah apa yang sedang terjadi. Andre masih berada di sana sebagai saksi.


"Sekarang, kalian semua yang ada di sini cepetan cari senter. Kita mencar cari Amber. Kita usahain cari sendiri dulu sebelum ngelibatin pihak lain," kata Arvin.


"Bang, gue mau ikutan nyari," kata Andre sesaat setelah semua orang bergegas memulai pencarian.


"Sorry, Ndre. Kali ini gue enggak bisa ngijinin. Elo tanggung jawab gue. Gue enggak bisa ambil resiko ada peserta gue lagi yang kenapa-kenapa," Arvin menjawab dengan cepat lalu berlalu untuk ikut dalam pencarian.


***


Sekitar 40 menit yang lalu …


Amber menyalakan LED headlamp yang ia kenakan di kepalanya dan mulai berjalan menyusuri rute Jerit Malam. Malam semakin larut. Wajar saja jika udara semakin terasa dingin di lereng pegunungan itu. Dalam hati Amber sedikit menyesal tidak mengenakan jaket tebal yang padahal sudah ia bawa. Ia tadi lebih memilih untuk menutupi kaosnya dengan kemeja plaid lengan panjang saja karena ia berpikir bahwa kegiatan Jerit Malam ini tak akan makan waktu lama. Terlebih lagi, rute yang harus dilalui juga cukup pendek.


"Dingin juga ternyata. Tau gitu pake jaket tadi," batin Amber sambil mengancingkan kemejanya, berharap itu bisa membuat tubuhnya sedikit lebih hangat. Beruntung ia menggunakan LED headlamp sehingga tangannya bebas untuk ia lipat di depan dada untuk menghalau dingin.


Ini bukan kali pertama Amber mengikuti kegiatan Jerit Malam. Dulu waktu ia masih duduk di bangku SMA, dia pun pernah ikut dalam kegiatan serupa saat berkemah. Sama seperti dulu, ia pun tak merasa takut saat menyusuri rute yang sudah ditentukan oleh panitia. Ia juga tak berjalan cepat-cepat.


Sekejap ia tiba di area yang tadi Arvin bilang cukup terjal di bagian sisinya. "Untung ada pager bambunya. Gelap-gelap gini salah-salah bisa jatuh ke sana," Amber mengomentari keberadaan pagar bambu sederhana yang sepertinya memang sudah sejak lama dipasang sebagai pelindung supaya siapapun yang lewat tidak akan jatuh terperosok ke lereng yang sekilas nampak tak begitu curam namun cukup panjang ke bawah.


Saat hendak melanjutkan langkahnya kembali, Amber tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat, lebih mirip seperti suara orang berlari. Belum sempat ia menengok ke belakang untuk mengetahui siapa orang itu, ia merasakan punggung bagian bawahnya didorong dengan sangat kuat dari arah belakang hingga tubuhnya pun terjungkal melewati pagar bambu tadi dan jatuh terguling di lereng. Begitu cepatnya ia terguling sampai-sampai ia bahkan tak bisa mengeluarkan suara teriakan, hingga akhirnya tubuhnya terhenti oleh sebuah benda besar yang keras, mungkin sebuah batu. Punggung dan bagian leher belakangnya pun terhantam dengan begitu kerasnya dan itu membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Ia tak bisa bangkit. Sesaat ia hanya bisa merasakan sakit dan pening di kepalanya. Perlahan-lahan pandangannya mengabur. Ia pingsan dalam posisi menelungkup di tanah.