AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 56 - Menolong Charemon (Bagian 2)



Malam ini, Amber menginap di rumah Charemon. Ia ingin menemani sahabatnya. Lagipula, sudah terlalu larut untuk pulang ke rumah.


"Iya, Yah. Aku nginep aja di rumah Momon," kata Amber kepada Tarachandra melalui sambungan telepon.


"Mamanya Momon sakit apa lho, Nak? Kok sampai pingsan gitu?" tanya Tarachandra.


Amber lalu menceritakan semuanya kepada ayahnya. Mulai dari penipuan yang dialami Charemon dan keluarganya, hingga ke urusan biaya rumah sakit yang sudah Amber tangani tanpa diminta terlebih dahulu.


"Sip itu! Pinter anak Ayah," ucap Tarachandra yang bangga akan kebaikan hati putrinya.


"Nggak usah minta Momon balikin ya, Nak. Sahabat sejati itu lebih tak ternilai harganya," lanjut Tarachandra.


"Iya, Yah. Tapi aku masih kepikiran sesuatu…" Amber seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Hmm?" Tarachandra menanyakan lewat gumaman.


"Soal nastar yang 100 toples itu … Apa kita juga bisa bantu ya, Yah? Kasian Mamanya Momon. Modalnya semua di situ," walau ragu, Amber akhirnya mencoba menanyakan hal ini kepada ayahnya.


Sebenarnya bisa saja Amber langsung membeli semua kue kering itu, walau ia sendiri belum tau akan diapakan nantinya. Hanya saja, Amber yakin bahwa Charemon mungkin akan menolak bantuannya. Soal biaya rumah sakit tadi saja Charemon seperti merasa tidak enak kepada Amber. Ia berulang kali bilang akan menggantinya walau Amber sudah menolaknya.


Terdengar suara Tarachandra terkekeh kecil di seberang sana. "Kalau kamu nggak nanyain, baru Ayah mau bilang," katanya kepada Amber.


"Bilang apa, Yah?" tanya Amber.


"Kamu inget sama Om Sukmantara nggak, Sayang? Kita pernah main ke rumahnya waktu itu," ujar Tarachandra.


"Iya, Yah. Yang pelukis nyentrik itu, kan? Kenapa?" Amber malah jadi penasaran.


"Ayah tu baru inget. Istrinya Om Sukma, Tante Danik, itu punya usaha jualan kue kering. Orang-orang yang butuh biasanya dateng ke kiosnya yang ada di deket balai kota sana. Kalau pas ada stok bisa beli langsung, tapi biasanya pada pesen dulu baru janjian diambilnya kapan. Dia nggak bikin sendiri kayak mamanya Momon. Dia cuma jualin aja," Tarachandra bercerita.


"Coba besok kamu ke sana sama Momon, tawarin kue nastarnya. Siapa tau Tante Danik mau beli buat dijual lagi," lanjutnya lagi.


Tarachandra pun memikirkan hal yang serupa dengan Amber. Sebenarnya bisa saja ia langsung membeli semua kue itu, hanya saja, ia tak mau membuat Charemon atau bahkan ibunya merasa sungkan dan rendah diri karena bantuan semacam ini. Selain itu, ia berpikir bahwa situasi sulit semacam ini bisa menjadi sarana untuk Charemon dan mungkin juga juga Amber belajar berusaha, walaupun memang jika pada akhirnya mereka berdua gagal, Tarachandra akan tetap siap untuk membantu.


"Oh, boleh-boleh, Yah. Besok abis kuliah Amber ajak Momon ke tempat Tante Danik. Kebetulan besok juga cuma ada satu mata kuliah aja," kata Amber dengan antusias.


"Nha, iya. Abis kuliah besok kalian bisa coba ke sana. Nanti Ayah kasih alamat sama petunjuk jalannya biar nggak salah toko. Soalnya di situ ada beberapa toko serupa yang lain," Tarachandra menjelaskan.


"Okay, Ayah. Ya udah aku mau istirahat dulu aja, Yah. Besok kuliah pagi langsung berangkat dari sini sama Momon. Pulangnya ke tempat Tante Danik," kata Amber.


"Okay, Nak. Kalau ada apa-apa kabari Ayah ya? Night, Sayang," pungkas Tarachandra.


***


Charemon sudah terlebih dahulu tiba di depan kelas Amber sebelum Amber selesai. Amber sudah menceritakan rencana yang disarankan oleh Tarachandra kepada Amber semalam dan Charemon pun langsung menyetujuinya. Saat ini yang terpenting bagaimana semua kue nastar buatan sang ibu bisa lekas laku.


Dengan cemas, Charemon menunggu Amber keluar dari kelasnya. Hatinya terus berharap, semoga nanti kuenya bisa habis terjual dan sang ibu tak jadi merugi.


"Amber! Sini!" teriak Charemon yang akhirnya melihat Amber keluar.


Amber pun langsung menghampiri sahabatnya dan bertanya, "langsung berangkat aja, kan?"


"Iya, biar nggak kesiangan," sahut Charemon.


Mereka pun lalu melaju ke kios kue kering milik Tante Danik, berbekal alamat dan petunjuk jalan yang diberikan oleh Tarachandra. Tak sulit bagi mereka untuk menemukan kios tersebut karena letaknya yang memang tepat di pinggir jalan raya.


"Hai, Te," Amber menyapa tante Danik yang kala itu tengah melayani pembeli.


"Hei, Amber! Kamu kok sampai sini, Nak? Sebentar ya," Tante Danik kembali menyapa Amber yang memang sudah dikenalnya.


"Iya, Te. Lanjutin dulu aja," sahut Amber.


Ia pun lalu menunggu di sana bersama Charemon. Ditangannya, Charemon memegang setoples nastar untuk sample.


Setelah selesai melayani pelanggannya, Tante Danik oun langsung menghampiri Amber dan Charemon. "Siapa ini?" tanya wanita berpawakan sintal itu dengan ramah.


"Ini Momon, temen kampus Amber, Te," kata Amber.


"Kenalin aku Momon, Te," Charemon berkenalan dengan mengulurkan tangannya kepada Tante Danik.


Wanita itu pun menyambut tangan Charemon dengan ramah, "nama kamu kok lucu banget dih, Nak."


Amber dan Charemon hanya tertawa kecil mendengar celetukan Tante Danik.


"Ada apa ini kok kalian sampai sini? Mau cari kue?" tanya Tante Danik.


"Nggak, Te. Justru kami ke sini mau nawarin kue nastar. Siapa tau Tante mau beli," kata Amber.


Charemon lalu membuka toples berisi sample kue nastar yang sedari tadi dibawanya dengan hati-hati lalu menyodorkannya kepada Tante Dani, "ini kalau Tante mau nyicipin dulu. Enak kok, Te. Yang bikin mamaku sendiri."


Tante Danik lalu mengambil sebuah, memakannya, dan langsung berkomentar, "Hmm … enak lho ini, Nak. Mama kamu pinter lho bikin nastarnya."


"Kamu bawa berapa banyak? tanya Tante Danik lagi.


" Ada 100 toples itu, Te," jawab Charemon.


Setelah berpikir sejenak, Tante Danik pun berkata, "waduh, kalau sebanyak itu Tante nggak berani, Nak. Maklum, uangnya harus muter cepet soalnya. Kamu jual berapaan lho?"


"50.000 aja, Te," jawab Charemon.


"Wah, murah sebenernya kalau cuma segitu untuk nastar seenak ini. Tapi kayaknya Tante cuma bisa ambil 70 toples aja, Nak. Nggak papa, ya?"


Tante Danik sebenarnya cukup terkesima dengan rasa dari kue nastar buatan ibu Momon. Padahal nastar termasuk salah satu jenis kue kering yang rumit pembuatannya. Nastar yang lembut namun tak mudah hancur dengan isian selai rumahan dengan aroma harum cengkeh yang khas seperti ini, kalau pun ia akan menjualnya dengan harga lebih dari Rp.50.000 pun nampaknya akan tetap laris manis.


"Ya udah, tunggu sebentar ya. Tante ambil uangnya dulu," kata Tante Danik.


"Iya, Te. Kami ambilin nastarnya," kata Amber.


Amber dan Charemon pun lalu menurunkan 70 toples kue nastar dari mobil Amber. Mereka lalu meletakkannya di tempat yang sudah ditunjukkan oleh Tante Danik.


"Nah, ini uangnya. Semua ada 3.500.000. Coba dihitung dulu, siapa tau Tante salah hitung," kata Tante Danik sambil menyerahkan uang kepada Charemon.


Charemon pun lalu menghitung uang itu dengan hati-hati. "Udah pas kok, Te. Terima kasih banyak," ucapnya.


"Sama-sama, Nak," kata Tante Danik.


"Mama bisa bikin kue apa lagi, Nak?" tanya Tante Danik.


"Macem-macem, Te. Hampir semua jenis kue kering mama bisa bikin. Yang kekinian juga Mama bisa bikin. Fotonya bisa diliat di sosmed yang ada di stiker di tiap toples itu, Te," dengan semangat Charemon menjelaskan.


"Wah, kalau tante butuh tante bisa pesen sama Mama dong, ya?" Tante Danik nampaknya tertarik dengan kue-kue lain buatan ibu Charemon.


"Bisa banget, Te! Tante tinggal telpon atau chat ke nomor yang ada di stiker aja. Yang bawah ini nomorku, Te" kata Charemon.


"Iya deh. Nanti Tante simpan nomornya ya? Nih, kamu simpen nomor Tante juga, Mon," wanita itu berkata sambil tersenyum ramah. Charemon pun lalu menyimpan nomor telepon Tante Danik di dalam daftar kontak ponselnya.


"Tapi, Te. Kami kan masih ada 30 toples lagi itu, Tante ada saran nggak dijual ke mana? Siapa tau Tante ada kenalan yang mau nerima?" tanya Amber.


"Wah, kalau penjual yang di deretan sini Tante nggak yakin, Amber. Kalaupun ada penjual di sekitar sini ada yang mau beli kue kalian, harganya juga pasti bakal turun," jelas Tante Danik.


"Mmm … Kalau mau, kalian bisa coba tawarkan ke deretan kios kue kering yang dekat pasar besar setelah lampu merah depan itu. Mungkin ada yang mau dan kasih harga sesuai sama yang Momon mau," Tante Danik berusaha membantu setelah melihat sedikit mendung di wajah Charemon.


"Gimana, Amber? Mau coba ke sana?" Charemon merasa tak enak pada Amber jika langsung meminta. Siapa tahu Amber tak ingin ke sana karena tak kenal dengan para penjual di sana.


"Lho, kok aku? Kalau kamu mau coba ke sana aku siap anterin, Mooon," jawab Amber sambil mengusap kepala Charemon dan tersenyum.


"Mau!" Charemon menjawab dengan sangat cepat. Ia masih berharap semua kue nastar buatan ibunya bisa laku. Ia tak ingin ibunya kepikiran dan jatuh sakit lagi.


Amber tertawa melihat tingkah sahabatnya. Dalam hati, ia sedikit merasa lega karena Charemon sudah tak semurung tadi malam.


"Ya udah, kalau gitu kami pamit dulu ya, Te. Mau langsung ke sana aja," kata Amber.


"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Tante Danik," kata Charemon.


Amber dan Charemon pun langsung menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Tante Danik. Karena lokasinya yang memang berdekatan dengan sebuah pasar, tempat tersebut memang terkesan lebih riuh.


Di salah satu sisinya, berderet kios-kios yang khusus menjajakan kue-kue kering. Amber dan Charemon pun mulai masuk dari satu kios ke kios yang lain untuk menawarkan kue nastar yang masih tersisa 30 toples itu.


Sayangnya, kali ini mereka tak beruntung. Dari kurang lebih 8 toko yang ada di sana, hanya ada dua saja yang mau membeli kue yang mereka tawarkan. Itu pun jumlah total yang terjual hanya 5 toples saja. Itu artinya, masih ada 25 toples lagi yang tersisa.


Siang semakin meninggi. Hari pun terasa semakin panas.


"Istirahat dulu aja, Amber. Lo pasti capek banget," Charemon mengajak Amber untuk istirahat di sebuah stand kecil penjual bubble tea. Mereka duduk sejenak sambil menikmati segarnya minuman yang dilengkapi dengan bulatan-bulatan popping boba.


Sebenarnya, Charemon masih ingin mencoba berkeliling lagi. Bahkan terlintas di pikirannya untuk mencoba menawarkan kue-kue itu ke orang-orang yang lalu-lalang di sana. Apapun itu ingin sekali Charemon lakukan untuk membantu ibu yang sangat ia cintai.


Hanya saja, di dalam lubuk hatinya ia sungguh merasa tak enak kepada Amber. Ia tak ingin merepotkan Amber lebih dari ini. Apalagi, sahabatnya itu terlihat cukup kelelahan. Butiran-butiran peluh pun terlihat di wajahnya.


"Amber, abis ini kita balik aja ya. Nanti biar gue yang mikirin gimana caranya jual yang 25 toples lagi," Charemon berusaha tersenyum saat mengatakan itu. Jika bukan karena Amber dan ayahnya, belum tentu Charemon bisa menjual kue nastar sebanyak ini.


"Lho? Kenapa? Kita kan masih bisa coba lagi abis ini. Jangan nyerah dulu, Mon. Pasti bisa lah nanti," lagi-lagi Amber menyemangati sahabatnya dengan mengusap kepalanya.


Charemon merasa sangat terharu akan kebaikan Amber. Ia tahu pasti, Amber adalah sahabat yang bisa ia andalkan dalam situasi apapun.


"Gue bakal jaga persahabatan kita baik-baik, Amber. Kelak di saat lo susah, gue janji akan bantu lo, akan ada buat lo," batin Charemon.


Tiba-tiba, suara dering ponsel membuyarkan pikiran Charemon.


"Tante Danik, Mber," kata Charemon dengan wajah sedikit heran setelah melihat layar ponselnya.


"Angkat cepetan," sahut Amber.


"Halo, Te. Ada apa ya?" sapa Charemon.


"Mon, nastar kamu tadi udah laku belum? Kalau belum stop dulu! Jangan dijual!" kata Tante Danik dengan sedikit heboh.


"Lho, emangnya kenapa, Te?" Charemon khawatir kalau-kalau ada yang salah dengan kue nastarnya.


"Yang di Tante udah ludes, Nak. Ini masih ada yang nanyain lagi. Kalau kalian bawa sisanya ke sini lagi bisa?"


Charemon hampir saja menitikkan air mata karena ia terlalu bahagia.


"Bisa, Te. Bisa! Tante tunggu sebentar ya. Kami langsung ke sana," Charemon berdiri sambil mengatakan hal ini. Ia lalu menutup panggilan teleponnya.


"Amber! Amber! Ayo cepet kita balik ke tempat Tante Danik. Dia mau beli semua sisa kue nastarnya!" Charemon berkata sambil melompat kegirangan.


"Beneran?" Amber pun ikut bangkit dari duduknya.


"Ayo cepet kita ke kios Tante Danik!" lanjutnya lagi.


Sepanjang perjalanan menuju ke kios Tante Danik, Amber dan Charemon dengan riang bercakap. Mereka berdua sungguh tak menyangka bahwa di akhir hari mereka berhasil menjual seluruh kue nastar yang sudah dibuat dengan susah payah oleh ibu Charemon.


Bagi Amber sendiri, pengalaman hari ini adalah sesuatu yang baru dihidupnya. Tak pernah sebelumnya ia berusaha sekeras ini untuk bisa menjual sesuatu. Bahkan sebenarnya, ini adalah kali pertamanya terjun langsung untuk menjual sesuatu. Segala sesuatu yang ia butuhkan selalu tersedia bahkan tanpa ia harus meminta terlebih dahulu. Pengalaman hari ini membuatnya jauh lebih menghargai apa yang ia miliki saat ini, menghargai orang-orang yang sudah menyayanginya.


Dan yang terpenting, hari ini ia berhasil membantu sahabat tercintanya. Itu membuat rasa bersalah di dalam hatinya sedikit berkurang.