
Setiap mahasiswa di universitas tempat Amber menimba ilmu diberikan fasilitas sebuah loker beserta kuncinya yang nantinya akan dikembalikan kepada pihak kampus saat kelulusan. Tak heran, jika di setiap fakultas ada area-area tertentu di mana ada banyak loker berjejer.
Bagi Amber, loker seperti ini sangatlah bermanfaat. Ia bisa menyimpan alat tulis cadangan, atau barang-barang lain yang biasa ia gunakan tanpa harus bolak-balik membawanya ke rumah dan ke kampus.
Jika dalam satu hari ada cukup banyak buku yang Amber bawa, setiap kali tiba di kampus ia juga akan menyimpan sebagian dari buku tersebut di loker supaya tak perlu merasa berat membawanya ke sana ke mari. Setiap pergantian kelas baru Amber akan mengambilnya.
Siang ini saat ada jeda kelas, Amber bermaksud untuk mengambil buku yang ia simpan di loker untuk keperluan kelas berikutnya. Betapa terkejutnya Amber saat menemukan ada banyak sekali potongan kertas kecil jatuh berhamburan keluar saat ia membuka pintu loker tersebut. Jika dilihat lagi, jumlahnya hampir memenuhi lokernya.
Suara Amber yang terkejut sempat membuat banyak orang disekitarnya menengok untuk tahu apa yang terjadi. Salah satunya adalah Charemon yang tampak berlari dari kejauhan menghampiri Amber.
"Kerjaan siapa sih ini?" Amber menggerutu kesal sambil memunguti potongan kertas di lantai.
"Amber, lo kenapa?" Charemon tampak sangat terkejut melihat banyak sekali kertas berhamburan keluar dari loker Amber.
Charemon langsung membantu sahabatnya memunguti kertas supaya tak mengotori lantai. Sebagian kertas yang lain masih ada di dalam loker dan tak ikut jatuh.
"Nggak tau, Mon. Tadi pas buka loker tiba-tiba ada banyak kertas jatuh," jawab Amber masih dengan nada kesal.
"Pasti ada yang masukin lewat lubang loker nih," Charemon berkata sambil melihat ke sekeliling.
Ia berharap bisa menemukan orang yang gerak-geriknya tampak mencurigakan. Hasilnya nihil. Orang-orang yang ada di sana hanya melihat apa yang dialami Amber sebentar lalu kembali pada urusannya masing-masing atau berlalu pergi ke tempat yang mereka tuju.
Setiap loker memang dilengkapi dengan satu lubang memanjang yang sebenarnya fungsinya adalah untuk memasukkan surat atau edaran, baik itu dari kampus atau dari pihak lain seperti UKM. Hanya saja, nampaknya potongan kertas-kertas di dalam loker Amber sama sekali bukanlah berasal dari kampus.
"Pasti ada yang ngisengin lo nih, Amber," kata Charemon sambil bangkit berdiri setelah semua kertas berhasil dipunguti dan dibuang ke tempat sampah.
"Iseng?"
Mendengar kata itu, Amber langsung teringat pada Gian. Selama ini cuma Gian yang sering mengusili dirinya sampai membuatnya merasa kesal.
"Jangan-jangan Gian?" Amber mengatakan itu sambil menoleh pada Charemon.
"Kak Gian? Kayanya nggak mungkin deh, Amber." Wajah Charemon tampak ragu.
"Kenapa nggak mungkin? Dia kan usil terus sama aku sejak awal aku di sini." Amber makin percaya pada dugaannya sendiri.
"Usilnya Kak Gian ke lo itu lain, Amber. Bukan usil murahan kaya gini. Ini pasti ada yang nggak suka sama lo, deh," Charemon mencoba meyakinkan sahabatnya.
"Kalau pun ada yang nggak suka sama aku itu pasti Gian, Mon. Dia kan kesel banget soal masalah spot parkir waktu itu," Amber masih bersikeras.
"Lo nggak inget tempo hari kita udah bisa becandaan dikit sama Kak Gian di kantin 2? Nggak mungkin dia lah, Amber. Lagian kurang kerjaan amat Kak Gian masuk-masukin kertas sebanyak ini lewat lobang loker lo," Charemon masih teguh pada kepercayaannya bahwa ini semua bukanlah ulah Gian.
"Terlebih lagi … " Charemon tak melanjutkan kata-katanya.
"Apaan, Mon?" tanya Amber penasaran.
"Kan gue bilang, Kak Gian itu kayanya suka sama lo. Jadi mana mungkin dia ngelakuin ini semua?"
"Kalau bukan Gian terus siapa?" lanjut Amber yang kini sudah mengambil buku dari dalam loker lalu tak lupa menguncinya kembali. Memastikan bahwa loker itu benar-benar terkunci rapat karena ia tak mau ada peristiwa lain lagi yang terjadi di dalam sana.
"Jangan asal nuduh lho, Amber. Lo nggak punya bukti juga kan kalau ini semua perbuatan Gian—"
Belum selesai Charemon berbicara, Amber memotong dengan bersungut-sungut, "kok kamu belain Gian terus sih, Mon?"
"Bukannya belain Gian, Amber sayang. Gue cuma mau lo berpikir jernih sebentar aja. Gue tau lo kesel sekarang, tapi bukan berarti lo boleh asal nuduh orang, kan?" Charemon mencoba menenangkan sahabatnya.
"Asal nuduh kalau salah nanti malah bisa bikin lo rugi sendiri loh, Amber. Setuju kan lo sama gue?" lanjut Charemon.
"Iya juga sih, Mon."
Setelah mencoba meredakan kekesalannya sejenak, Amber pun bisa membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Namun, hatinya masih sangat penasaran siapa yang sudah mengusilinya kali ini.
Seingat Amber, selama menjadi mahasiswa di universitas ini, tak pernah sekali pun ia bentrok atau bermasalah dengan siapapun. Seberapa keras pun ia mencoba mengingat, ia rasa ia tak pernah dengan sengaja berbuat salah kepada orang lain di kampus ini.
Lalu, ini semua perbuatan siapa? Apa alasannya? Semua pertanyaan itu berputar-putar di dalam pikirannya.
"Ampun deh. Aku cuma pengen kuliah dengan tenang biar bisa cepet lulus. Why it's so effing hard to do since the very beginning?!" batin Amber kesal.
"Udah, jangan dipikirin sekarang. Lo masih ada kelas kan?" Charemon mengingatkan sambil menepuk kepala Amber pelan. Membuyarkan lamunannya akan hal yang baru saja ia alami.
"Iya, masih ada satu kelas lagi. Kita pulang di jam yang sama kan? Nanti ketemu di parkiran aja ya," kata Amber.
"Okay. Dah sana. Nggak usah dipikirin loh ya, ntar kuliah lo malah keganggu," Charemon mulai lagi dengan mode cerewetnya.
"Iya … iya, Mon. Bye," kata Amber mengakhiri percakapan mereka berdua lalu beranjak ke kelas selanjutnya di lantai dua gedung tersebut.
Tanpa Amber dan Momon ketahui, ada dua orang wanita yang secara diam-diam memang mengawasi mereka sedari tadi. Seorang diantara mereka berpenampilan cukup menarik. Wajahnya pun cantik.
"Ini baru permulaan, Amber," kata wanita itu.
"Lo masih mau ngerjain dia lagi?" tanya yang lain.
"Iya lah. Yang ini tadi belum apa-apa. Ini baru pemanasan,"
"Hey, apa lo nggak keterlaluan?" tanya temannya dengan raut wajah khawatir.
"Siapa suruh dia berurusan sama gue?!" sungut wanita cantik itu.
"Kalau kita sampai ketahuan bukannya bisa bahaya ya?" temannya sungguh merasa khawatir saat mengetahui bahwa wanita cantik itu benar-benar berniat mengerjai Amber, bukan hanya sekedar menumpahkan kekesalannya sesaat saja.
"Udah lo nggak usah bawel. Lo lupa bokap gue siapa? Lo nurut aja sama gue dan rencana gue," ujarnya.
"Hal yang berikutnya bakalan lebih menarik dari ini," lanjutnya lagi sambil menyunggingkan senyum penuh kelicikan di bibir merahnya.