
Perut kelima sahabat itu sudah penuh terisi dengan makanan yang dimasak spesial oleh Charemon. Dada ayam panggang tanpa tulang, nasi hangat, lalapan, serta sambal.
Egidia dan Amber sebenarnya juga membantu proses memasak pada awalnya. Hanya saja, mereka berdua yang tak bisa memasak malah jadi terlalu banyak bertanya kepada Charemon tentang apa yang harus mereka lakukan. Hal itu semakin lama semakin membuat Charemon merasa kesal dan menyuruh mereka berdua untuk menunggu saja. Nyatanya, pekerjaan malah lebih cepat selesai tanpa bantuan kedua gadis itu.
"Masakan Chef Momon emang da best deh," puji Egidia yang masih saja menyemili ayam panggang yang tersisa bersama Amber.
"Iya, nggak kaya lo yang jagonya makan doang, Gi," goda Bimo.
Celetukan Bimo tadi langsung membuat diam-diam Amber berhenti makan. Sedangkan Egidia yang merasa kesal karena digoda lagi oleh Bimo langsung menjejalkan sepotong mentimun yang sudah diolesi sambal ke dalam mulut Bimo yang ternganga saat ia tertawa.
"Hahaha … Rasain lo, Bim," Egidia gantian tertawa melihat Bimo yang kepedasan.
"Tapi emang masakan Momon enak kok. Lo suka masak ya, Mon?" Gian pun masuk dalam percakapan.
"Iya, Kak Gian. Aku selalu masak di rumah. Bantuin Mama. Soalnya Mama sering sibuk sama pesenan kuenya. Lama-lama terbiasa deh masak ini itu," Charemon tersenyum puas melihat semua temannya menyukai masakannya.
Sementara Amber diam-diam mengambil potongan mentimun yang tersisa. Bibirnya mengerucut sambil mengunyahnya pelan mentimun itu. Ia merasa kecil hati karena sama sekali tak mempunyai kemampuan memasak. Sejak dulu, Mbok Nem lah yang selalu memasak untuknya, sedangkan ia fokus pada belajarnya. Setelah Gian bertanya pada Charemon tadi, diam-diam Amber juga ingin bisa memasak.
Gian yang berada di sebelahnya nampaknya menyadari hal tersebut. Entah kenapa, menurutnya dalam beberapa hal Amber cukup mudah dibaca.
"Salah ngomong kayaknya gue nih," batin Gian.
Hal yang sama pun terbaca oleh Charemon, sahabat dekat yang paham betul akan sifat dan kebiasaan Amber. Sebelum Gian sempat mengatakan sesuatu, Charemon sudah terlebih dahulu berkata, "tenang aja, Amber, Kak Egi, kapan-kapan kita belajar masak bareng. Serahkan semua pada Chef Momon."
"Boleh-boleh, Dek," kata Egidia.
Amber pun juga menanggapi dengan anggukan yang disertai senyuman lebar.
"Hadeeeh. Ini bocah. Gampang banget balik senengnya," batin Gian lagi sambil melirik ke arah Amber dan ikut tersenyum.
"Btw, mumpung udah sampe sini kita nggak mau main di pantai nih? Deket tuh tinggal turun doang lewat tangga belakang," kata Bimo yang nampaknya sangat tak sabar ingin bermain di sejuknya air pantai.
"Besok aja ah, Kak Bim. Panas tauk," Dengan malas Charemon membalas karena memang saat ini matahari sudah tinggi.
"Iya bener. Gile lo siang-siang gini ke pantai," celetuk Gian.
"Aaa … tapi gue pengen main air sekarang. Masa gue main sendirian," rengek Bimo.
"Dih, mulai deh ngeselin," Egidia menimpali seolah memberikan kesempatan kepada Bimo untuk menyadari keberadaannya.
Aha! Bak mendapatkan ide cermerlang Bimo lalu melancarkan serangannya kepada Egidia.
"Gi, lo kan sohib gue. Masa lo nggak mau sih nemenin gue main air. Ayolah. Ayoooook," Bimo kembali merengek, kali ini sambil memegang tangan Egidia dengan kedua tangannya dan mengayun-ayunkannya.
Egidia tau, jika tidak dituruti Bimo akan terus merengek seperti ini. Mendengarkan rengekannya bisa jadi malah jauh melelahkan.
"Hiiiih! Iya deh iya!" akhirnya Egidia menurutinya.
Bimo yang senang hatinya akhirnya menciumi punggung tangan Egidia yang sedari tadi ia pegangi.
"Asik … Egi baik, Egi cantik," ucapnya sambil terus mengecup tangan Egidia.
"Yang lain nggak cantik. Lo juga Gian, lo nggak ganteng. Hahahaha!" lanjutnya lagi.
"Buruan sebelum gue berubah pikiran!" kata Egidia yang sudah berdiri di depan gerbang kecil di bagian deck belakang, yang menghubungkan rumah itu dengan tangga menuju ke pantai yang posisinya di bawah, yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki beberapa menit saja.
"Iyaaa. I'm coming, Egi yang cantik!" Bimo pun bergegas menyusul Egidia.
Sementara itu, Amber, Gian dan Charemon masih berada di sekitaran meja makan, membereskan sisa-sisa makan siang. Kala itu, Charemon tiba-tiba menguap lebar sekali.
"Kamu ngantuk, Mon? Tidur gih di atas. Ini biar aku yang beresin," kata Amber.
"Iya deh. Aku kangen tidur siang. Kayaknya tidur siang di sini enak, sambil dengerin suara laut," ujar Charemon.
Charemon tak semata-mata ingin tidur siang sebenarnya. Ia berpikir bahwa kesempatan liburan di akhir minggu ini bisa membuat Amber dan Gian semakin dekat satu sama lain.
Charemon pun lalu pergi ke kamar di lantai atas, berbaring sambil bermain dengan ponselnya sebentar hingga akhirnya jatuh terlelap.
Sementara itu, Amber dan Gian sibuk membereskan meja makan. Mereka lalu mencuci piring dan peralatan masak yang kotor.
"Kamu nggak ngantuk lagi?" tanya Gian yang sedang membantu Amber membilas piring dan alat masak yang sudah dibersihkan dengan sabun sebelumnya oleh Amber.
"Nggak. Tadi kan udah tidur," jawab Amber sambil masih terus melakukan aktifitasnya.
Membahas soal tidur membuat Amber kembali teringat akan foto yang tadi pagi diambil oleh Egidia menggunakan kameranya. Untuk pertama kalinya, kebiasaan tidur Amber yang tak bisa diam membuatnya merasa sungguh malu.
"Kamu pernah punya pacar?" secara tiba-tiba Gian menanyakan sesuatu yang membuat Amber berdebar.
"Belum," jawab Amber singkat.
"Kenapa?" tanya Gian.
"Aku nggak pernah bener-bener serius mikirin soal itu," jawab Amber lagi.
"Hah? Cewek secantik ini belom pernah pacaran? Nggak mungkin nggak ada cowok yang pernah suka sama dia, kan? Jangan-jangan emang Amber yang nggak mau pacaran?" batin Gian.
Di satu sisi, Gian merasa senang karena jika suatu saat nanti ia berhasil mendapatkan cinta Amber, itu berarti dirinya akan menjadi kekasih pertamanya. Di sisi lain, Gian merasa khawatir jika kali ini pun Amber tidak tertarik untuk memulai sebuah hubungan dengannya.
"Mungkin gue kudu usaha ekstra," tekad Gian dalam hati.
"Kamu kok nggak pacaran lagi sekarang?"
Tanpa disangka, Amber menanyakan pertanyaan itu. Tentu saja itu membuat Gian sedikit terkejut dan tak langsung menjawab. Ia berpikir terlebih dahulu tentang jawaban apa yang harus ia berikan kepada Amber.
"Aku nggak segampang itu jatuh cinta, Amber. Kalaupun aku jatuh cinta lagi, itu bukan sama cewek sembarangan dan aku pastiin aku bakal perjuangin itu," setelah diam sejenak, Gian akhirnya memberikan jawaban yang dirasa tepat untuk diberikan kepada Amber. Ia mengatakan itu semua sambil menatap ke dalam mata Amber.
"Kamu udah jatuh cinta lagi sekarang?" mulut dan pikiran Amber tak bisa berhenti merasa penasaran. Otak Amber terus dipenuhi dengan Gian akhir-akhir ini.
"Udah," jawab Gian sambil tetap melihat ke arah Amber yang sudah selesai dengan pekerjaannya dan kini balik menatap kedua mata Gian setelah mendengar apa yang Gian ucapkan.
"Siapa?" Amber kian memburu hal-hal yang hatinya ingin ketahui.
Gian mendekat ke arah Amber dan menjawab, "Nanti juga lama-lama tau sendiri."
Setelahnya, ia hanya menebar senyum yang terkesan mencurigakan dan mengajak Amber duduk di sofa yang ada di depan TV dan menikmati minuman dingin di sana.