AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 84 - Makrab (Bagian 2)



Hari sudah menjelang siang ketika seluruh peserta dan panitia makrab tiba di wisma. Ukuran lahan dan bangunan-bangunan yang menjadi bagian wisma milik kampus itu cukup luas sehingga bisa menampung semua orang yang ikut dalam acara tersebut.


Setelah menaruh barang di ruang tidur yang sudah ditentukan oleh panitia, seluruh peserta diminta pergi ke aula untuk menikmati makan siang bersama. Menu kali ini adalah nasi kotak ayam bakar lengkap dengan sambal dan juga lalapannya. Panitia membebaskan semua peserta untuk makan di manapun mereka mau asal mereka tertib untuk membuang kotak nasi pada tempatnya dan berkumpul di jam yang sudah ditentukan setelah mereka selesai makan.


Amber dan Charemon memilih untuk duduk santai di lantai depan aula sambil menikmati segarnya udara di lereng pegunungan. Dengan malas, Amber menyendok makan siangnya.


"Makan yang banyak ah. Hari ini kita banyak kegiatan lho," ucap Charemon yang sepertinya tahu bahwa Amber enggan melahap makan siangnya. "Biasanya juga apa-apa lo makan. Sekarang ini pipi kenapa jadi tirusan gini he?"


"Lembur tugas terus, Mon," Amber beralasan. Padahal, sebenarnya ia memang sedang kehilangan nafsu makannya akhir-akhir ini.


"Heleh. Palingan juga kangen sama Kak Gian kan?" celetuk Charemon. "Udah, enggak usah dipikirin dulu. Entar juga Kak Gian pasti balik lagi kok."


"Mana ada?! Ini udah hampir seminggu lho, Mon. Dia nyariin juga enggak. Gondok banget aku rasanya!" kata Amber dengan nada kesal.


"Udah. Sekarang mending lo nurut sama gue deh. Enggak usah mikirin Kak Gian dulu. Seneng-seneng aja dulu selama makrab, biar pikiran lo enggak penat terus," Charemon mencoba membujuk sahabatnya itu. "Sekarang abisin makannya buruan yok. Keburu abis waktunya malah kena marah dampok entar." Mereka pun lalu bergegas menghabiskan nasi kotaknya.


Memang waktu makan siang ini dibatasi karena acara akan segera dilanjutnya. Siang ini, panitia sudah menyiapkan berbagai macam permainan untuk meningkatkan keakraban diantara mahasiwa baru sehingga mereka bisa menjadi rekan satu angkatan yang solid. Tentu saja, bukan hanya para peserta makrab saja yang terbahak dan bersenang-senang. Para panitia pun juga larut dalam tawa yang sama, terutama ketika ada perserta yang melakukan tingkah konyol atau gagal menjalankan tugas yang diberikan.


Aura kesenangan yang meliputi hati semua orang, akhirnya membuat Amber ikut tenggelam di dalamnya. Sejenak, ia lepaskan semua pikirannya tentang Gian dan kemarahannya yang menurut Amber salah sasaran. Hari ini, Amber hanya ingin bersenang-senang dengan teman-temannya seperti yang sudah disarankan oleh Charemon.


***


Malam hari selepas makan, seluruh peserta berkumpul di aula untuk mendengarkan penjelasan dari panitia tentang kegiatan selanjutnya yang akan mereka laksanakan bersama. Jerit Malam. Ya, acara malam keakraban seperti ini tak akan terasa lengkap tanpa kegiatan yang satu ini.


Karena jumlah peserta yang cukup banyak, panitia memutuskan untuk melaksanakan kegiatan ini lebih awal, sekitar pukul 19.00 dengan harapan sebelum malam terlalu larut, semua peserta sudah menyelesaikan misinya. Rute yang dipilih pun cukup pendek masih berada di sekitaran wisma saja.


"Kalian udah bawa senter masing-masing kan?" tanya ketua panitia yang memimpin briefing malam itu.


"Udah, Bang!" jawab semua peserta serempak, dengan panggilan 'bang' yang memang biasa mereka gunakan untuk memanggil Arvin, mahasiswa Diskom yang menjadi ketua panitia makrab.


"Sekarang kalian harus dengerin arahan dari gue baik-baik. Selama Jerit Malam nanti, kalian harus taat aturan, enggak boleh aneh-aneh juga."


Pesan Arvin ini berhasil membuat beberapa peserta makrab merasa ketakutan. Terlebih, wisma itu memang berada di lokasi yang cukup sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Ada banyak pepohonan di sekitarnya yang seolah menambah suasana gelap dan mencekam di sana.


Melihat wajah beberapa peserta yang berubah pucat, Arvin pun paham kalau mereka merasa takut. "Tenang, rutenya pendek doang. Nanti di tengah juga ada panitia yang jaga pos misi. Jalannya ati-ati, soalnya di sebelah sisi sini agak curam. Jangan sampe nyungsep," Arvin menjelaskan sambil menunjuk ke peta rute Jerit Malam yang sudah digambar di white board oleh panitia. "Pokoknya kalian cuma perlu ngikutin petunjuk arahnya aja. Jangan sampe nyasar. Oke?!" Arvin berusaha menyuntikkan semangat pada seluruh peserta. "Masih ada pertanyaan enggak?"


"Entar jalannya sendiri-sendiri, Bang?" tanya salah seorang peserta.


"Boleh jalan cepet-cepet enggak, Bang?" tanya peserta yang lain.


"Boleh asal jangan cepet-cepet amat. Curang kalau sampe jalan barengan sama peserta sebelumnya. Ati-ati pokoknya, jangan sampe jatoh. Gelap jalannya," kata Arvin. "Udah? Kelar? Abis ini kumpul sama kelompok masing-masing ya. Entar dijelasin lebih lanjut sama dampok kalian."


"Iya, Bang!"


Semua peserta pun lalu berkumpul dengan kelompoknya sesuai dengan arahan yang sudah diberikan Arvin. Tepat pukul 19.30 kegiatan Jerit Malam pun dimulai. Satu per satu peserta mulai berjalan mengikuti rute dan petunjuk arah yang sudah diberikan dan hanya berbekal senter yang akan membantu mereka melihat jalan di kegelapan malam.


"Gue paling enggak demen ni sama kegiatan kayak gini. Mana kelompok kita dapet giliran paling bontot lagi," ucap Charemon sambil memegang erat senternya.


Sambil mengenakan LED headlamp di kepalanya, Amber pun mencoba menenangkan sahabatnya itu, "udah enggak usah takut. Kata Bang Arvin rutenya pendek juga kan? Sebentar juga udah sampe sini lagi."


"Hah," Charemon menghela napas panjang. Di dalam hati, ia sungguh enggan ikut serta dalam kegiatan semacam ini. Tapi mau bagaimana lagi, semua perserta wajib ikut. "Entar gue mau jalan cepet-cepet aja ah."


"Hahaha. Ati-ati, jangan sampe jatoh ya," Amber menepuk-nepuk kepala Charemon pelan.


"Ya jangan lari juga lho, Mon. Entar yang ada lo malah jatoh kan bahaya gelap-gelap gini. Mending lambat asal selamat," ujar Andre yang juga ikut mengobrol dengan mereka kala itu.


"Nah, bener tu Si Andre," sahut Amber.


Mereka pun kembali menunggu giliran Jerit Malam. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya giliran mereka tiba juga.


"Gue duluan ya. Doain gue! Entar ketemu di finis," Charemon berpamitan pada Amber dan Andre. Walaupun ragu, ia pun melangkah pergi juga, mengatasi ketakutannya sendiri.


Tinggallah Amber dan Andre yang menjadi peserta terakhir. Tak lama setelahnya, giliran berikutnya pun dipanggil oleh panitia yang berjaga.


"Lo duluan aja gih, gue yang terakhir," Andre menjadi lelaki sejati dan menawarkan kepada Amber untuk berjalan duluan.


"Enggak papa, Ndre?" tanya Amber.


"Santai. Bentar juga udah ketemu lagi di finis. Dah sana. Ati-ati," jawab Andre diiringi senyum manis di wajahnya.


"Iya deh kalau gitu. Ketemu entar ya," jawab Amber sambil menyalakan LED headlampnya lalu berjalan meninggalkan Andre.