AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 113 - Kemelut di Hati Ayu



Ayu menutup toko kuenya lebih awal hari ini. Ia mengajak Amber dan juga Gian untuk berkunjung ke rumah Cornelia, seorang wanita yang usianya jauh lebih tua dari Ayu. Selama ini, Ayu tinggal di sana. Rumah cantik berukuran kecil itu berada tepat di belakang toko kue yang kini Ayu kelola. Hanya ada dua kamar di sana. Dulunya, rumah tersebut ditinggali oleh Cornelia dan suaminya, namun sepeninggal suaminya, wanita yang seluruh rambutnya sudah memutih itu tinggal sendiri hingga Ayu datang padanya.


"Kalau bukan karena Oma Cornel, Bunda enggak tau gimana nasib Bunda, Nak," kata Ayu dengan lembut. Tangannya menggenggam erat tangan Amber sedari tadi.


"Jangan melebih-lebihkan, Ayu. aku cuma perantara Tuhan. Tuhan yang sudah tolong kamu. Bukan aku," kata wanita dengan suara beratnya yang khas. Ia memang rendah hati.


"Tapi sebenarnya ada apa, Bunda? Kenapa waktu itu Bunda tiba-tiba pergi?" Amber tak bisa menunggu untuk bertanya. Saat ini ia merasa sungguh bahagia, namun hatinya masih menuntut penjelasan.


Pertanyaan Amber bak pisau yang menghunus hati Ayu. Bukan karena Amber menyakitinya, tetapi karena rasa bersalah yang begitu besar yang Ayu rasakan selama bertahun-tahun. "Ampuni Bunda, Sayang. Bunda udah berdosa sama kamu dan Ayah." Bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya.


"Udah, Bunda. Jangan nangis lagi. Amber di sini. Amber sayang sama Bunda," kata Amber sembari menenangkan Ayu. Melihat Ayu menangis terasa begitu menyesakkan batinnya. "Amber memang pernah kecewa dan terluka waktu Bunda tiba-tiba hilang, tapi enggak pernah sedikit pun Amber benci sama Bunda. Sekarang Bunda udah ada di depan Amber. Itu yang paling penting buat Amber."


Di depan matanya, Gian menyaksikan Amber berubah menjadi seorang wanita yang lebih dewasa. Walau jarang sekali Gian menemui bahwa Amber begitu mengharapkan ibunya kembali, pemandangan yang ia lihat saat ini sudah cukup menjadi bukti betapa cinta Amber pada ibunya tak pernah hilang selama ini.


"Kamu anak baik, Amber. Apa yang bundamu alami beberapa tahun ini bukan hal yang mudah," Cornelia memulai ceritanya.


***


Kurang lebih 7 tahun yang lalu …


Cornelia bergegas ke depan. Waktu sudah menjelang petang ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya.


"Ayu?!" sapanya. Ia terkejut melihat Ayu berdiri di sana. Letak rumah Cornelia cukup jauh dengan rumah yang saat ini Ayu tinggali bersama keluarga kecilnya. "Kenapa kamu di sini malam-malam begini?" Cornelia tersentak ketika melihat Ayu membawa serta sebuah koper besar bersama dirinya. Terlebih lagi, wajah Ayu nampak lusuh dengan matanya yang memerah dah sembab.


Ayu belum mengatakan apapun. Ia persis seperti orang yang linglung. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan dituntun oleh Cornelia.


Cornelia membiarkan Ayu duduk di kursi ruang tamu sementara ia sendiri pergi ke dapur sebentar untuk membuatkan teh hangat. "Udara begitu dingin di luar. Bagaimana bisa kau pergi tanpa mengenakan jaket," ucapnya dari dapur yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Tak terdengar jawaban dari Ayu. Cornelia tahu, sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi. "Apa dia cekcok dengan Tara? Tapi kenapa ke sini? Bukan ke rumah orang tuanya?" batin Cornelia bertanya-tanya.


Ia berjalan mendekati Ayu dan menyodorkan secangkir teh hangat. "Minumlah. Hangatkan tubuhmu."


Dengan tangan yang gemetar, Ayu menyesap sedikit teh tersebut. Rasa hangatnya tak mampu mengusir dingin yang sudah menyelimuti relung hatinya. Ia meletakkan lagi cangkir itu. Seketika tangisnya pecah. "Tante Cornel, aku pergi dari rumah. Aku pergi meninggalkan suami dan anak yang aku cintai, Tante," isaknya.


Semenjak pertemuan pertamanya dengan Ayu, Cornelia, yang kebetulan juga tidak mempunyai anak, merasa tersentuh dengan semangat Ayu sebagai seorang wartawan juga dengan pengetahuannya yang cukup luas. Sikap ramah Ayu dan kedekatan mereka berdua dari waktu ke waktu membuat Cornelia menganggap Ayu sudah seperti putrinya sendiri.


"Tak apa. Menangislah sepuasmu. Semua akan baik-baik saja," kata Cornelia sembari memeluk Ayu.


Malam itu, Ayu menangis sejadinya hingga ia lelah dan jatuh tertidur. Cornelia masih belum tahu pasti apa yang terjadi, namun satu hal yang ia tahu, Ayu datang ke sini untuk meminta pertolongannya.


***


Pagi hari Cornelia dikejutkan dengan pemandangan Ayu yang lehernya sudah tergantung pada seutas kain yang ia sampirkan pada lubang ventilasi pintu kamarnya. Dengan sigap Cornelia menggagalkan usaha bunuh diri tersebut.


"Sudah gila kamu?!" bentaknya, berusaha untuk menyadarkan Ayu. "Kalau cuma untuk bunuh diri kamu tidak perlu jauh-jauh datang ke sini!"


"Bagaimana bisa aku bunuh diri di depan anak dan suamiku?" jawab Ayu sambil menangis sesenggukan.


"Alam bawah sadar kamu sudah membawa kamu ke sini. Kamu tahu apa itu artinya? Artinya kamu percaya sama Tante, kamu percaya kalau Tante bisa bantu kamu dan Tante akan bantu kamu! Itu janji, Tante!" Cornelia lalu memapah Ayu yang sedari tadi terduduk di lantai dingin rumahnya.


"Aku harus gimana, Tante? Semua ini rasanya diluar kendaliku. Aku enggak tau apa yang terjadi sama diriku sendiri, Tante," ujar Ayu, masih dalam tangisnya.


"Apapun masalah yang sedang kamu hadapi ayo kita urai sama-sama," kata Cornelia dengan tegas. "Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal konyol seperti tadi lagi."


Ayu memegangi dadanya yang terasa kian sesak. Ia tahu bahwa yang barusan ia coba lakukan adalah suatu hal yang sangat konyol seperti kata Cornelia.


"Kamu tau kenapa Tante bilang begitu? Karena Tante tahu rasanya kehilangan orang yang sangat Tante cintai untuk selama-lamanya." Mata Cornelia berkaca-kaca saat mengingat betapa ia merasa kehilangan mendiang suami yang sudah menjadi teman setianya sepanjang hidupnya. "Kematian sama sekali tidak akan menyelesaikan masalahmu. Yang ada kamu malah akan melukai suami dan anakmu. Apa kamu bisa menjamin kalau mereka akan baik-baik saja kalau kamu mati? Bagaimana kalau mereka malah tersiksa lalu menyusul kematianmu?"


Kata-kata Cornelia seperti tamparan keras bagi Ayu. Semua yang ia katakan memang benar. "Kalau begitu bantu aku, Tante. Tolong bantu aku," pintanya kepada Cornelia.


"Pasti. Kamu sudah datang ke orang yang tepat Ayu," jawab Cornelia.