
"Hoeek … hoek …"
Terdengar suara Ayu yang entah sudah sudah berapa kali muntah hari ini. Wajahnya terlihat pucat karena tak bisa makan sejak pagi. Setiap kali dia makan maka akan pangsung terasa mual lalu muntah.
Tarachandra yang baru saja pulang dari diskusi proyek seni bersama rekan-rekannya tentu saja kaget mendengar suara tersebut. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk melihat Ayu.
"Sayang, kamu kenapa?" Ia sigap langsung memijit pelan tengkuk Ayu.
"Nggak tahu, Mas. Seharian ini aku sama sekali nggak bisa makan. Rasanya mual," jawabnya sambil berusaha berdiri lalu membersihkan mulutnya.
"Lho, kenapa kamu nggak ngasih tahu mas?" Tarachandra tampak sedih dan mungkin merasa bersalah karena sudah terlambat mengetahui kondisi istrinya itu. Ia lalu memapah Ayu untuk duduk di kursi makan.
"Paling cuma maagku aja baru kumat, Mas." Ayu sudah paham betul dengan sifat suaminya. Kalau ia memberitahukan keadaannya dari tadi, pasti Tarachandra akan buru-buru pulang dan meninggalkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
"Maag juga kan kalau nggak diatasi dengan benar bisa makin parah nanti. Pakai jaketmu, ayo kita ke dokter sekarang. Jangan membantah."
Kalau Tarachandra sudah mengeluarkan kata-kata seperti itu, Ayu memilih untuk tidak menjawab lagi dan menuruti suaminya atau mereka hanya akan berdebat panjang. Toh memang sepertinya dia perlu ke dokter juga.
Sesampainya di tempat praktek dokter langganan, setelah Ayu diperiksa dan diberi beberapa pertanyaan, dokter pun berkata, "ada baiknya kalau kamu cek urine dulu ya, Yu."
"Lho, apa hubungannya dengan cek urine, dok?" tanyanya bingung sambil menatap Tarachandra yang juga tak kalah bingungnya.
"Sudah nurut saja. Saya kan dokternya," kata si dokter sambil memberi senyum tipis pada kedua pasangan pengantin baru itu.
Tak butuh waktu lama untuk mereka menunggu hasil tes urine. Dokter saat itu pun menunjukkan raut wajah yang berbeda, dia terlihat lebih sumringah.
"Tuh kan, benar apa dugaan saya," katanya singkat sambil menyodorkan sesuatu kepada Ayu dan Tarachandra.
Betapa terkejutnya mereka berdua melihat benda kecil yang ternyata adalah sebuah alat uji kehamilan. Yang membuat mereka lebih kaget, ada dua garis di sana. Sudah pasti, itu artinya Ayu sedang mengandung anak Tarachandra saat ini.
Tarachandra tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia langsung memeluk dan mencium Ayu sambil tertawa senang tanpa peduli bahwa ada dokter dan perawat di sana. Ia sampai lupa kalau saat itu Ayu sedang merasa pening dan mual.
Ayu pun juga tentunya bahagia. Dia tidak menyangka bahwa Tuhan akan secepat itu mengaruniakan seorang anak kepadanya.
"Ada baiknya jika besok kamu segera periksa secara lebih terperinci lagi ke dokter kandungan, Yu. Nanti kamu pasti diberi informasi yang lebih lengkap soal kehamilan." Dokter pun menyodorkan resep obat kepada Ayu.
"Lho, obat apa ini, dok?" tanya Tarachandra yang nampaknya secara alamiah langsung menjadi lebih protektif terhadap istrinya. Ia tahu bahwa wanita hamil tak boleh sembarangan mengkonsumsi obat.
"Oh, ini hanya vitamin dan suplemen untuk meredakan mual biar Ayu bisa makan sepulang dari sini. Saya cuma kasih sedikit aja soalnya besok dari dokter kandungan pasti akan diberikan yang lebih sesuai. Tenang, yang ini juga aman untuk ibu hamil."
"Baiklah kalau begitu, dok. Terima kasih banyak." Tarachandra pun merasa lega.
Walaupun tak banyak, Ayu sudah berhasil makan setelah meminum suplemen pereda mual yang diberikan dokter umum langganannya tadi. Itupun Tarachandra yang berinisiatif membelikan sup ayam favorit Ayu supaya ia mau makan. Dan ternyata sup itu memang bisa membuat seleranya kembali, walau kini ia tak bisa menikmatinya dengan banyak sambal seperti biasanya karena sadar ia tengah mengandung.
"Mas Tara suka banget sama anak kecil ya?" tanya Ayu penasaran saat mereka berdua mengobrol di tempat tidur sebelum beristirahat.
"Nggak juga," jawabnya singkat sambil merebahkan badannya di samping Ayu yang masih terduduk. Ia pun mulai mengusap pelan perut Ayu.
"Mmm … kalau begitu, apa Mas Tara pengen banget buru-buru punya anak ya?" Rasa penasaran Ayu masih saja memburu karena senyum Tarachandra yang tak hilang-hilang sejak tadi.
"Nggak juga. Memangnya kamu nggak suka ya kalau kita punya anak sekarang?" Tarachandra kini mengalihkan pandangannya ke wajah sang istri.
"Bukannya ga suka kok, Mas." Ayu langsung menimpali karena tersadar bahwa saat ini ia terkesan seperti tidak menginginkan kehadiran si jabang bayi yang sekarang mulai tumbuh di rahimnya.
"Tuhan kan memberi kita seorang anak sekarang, sayang. Sudah sepatutnya kita bersyukur kan? Makanya aku terlihat senang terus dari tadi," jelas Tarachandra yang lalu mencubit gemas pipi istrinya.
"Iya, mas. Aku juga bahagia kok. Semoga anak kita ini tumbuh dengan sehat dan kuat ya," Ayu pun kini ikut mengelus pelan perutnya walau masih tampak kaku karena belum terbiasa.
Tampak wajah Tarachandra perlahan berubah serius seolah memikirkan sesuatu. Dia lalu berkata pada Ayu.
"Biar anak kita tumbuh dengan baik dan sehat di dalam sini, bagaimana kalau kamu berhenti saja dari pekerjaanmu? Toh selama ini dengan penghasilanku saja kita tidak kekurangan kan?"
Sifat protektif Tarachandra keluar lagi. Kali ini sudah tak lagi hanya ditujukan kepada Ayu, tetapi juga calon anaknya yang bahkan baru berumur beberapa minggu di dalam perut Ayu.
Ayu tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia sedikit kaget malahan. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk secepat itu meninggalkan kariernya sebagai pemburu berita yang selama ini ia perjuangkan dengan susah payah.
"Coba kamu bayangkan. Bagaimana kamu bisa menjalankan tugasmu sebagai wartawan dalam keadaan hamil seperti ini? Bukankah itu hanya akan membahayakan anak kita dan diri kamu sendiri?" Tarachandra memberikan alasan yang selogis mungkin supaya Ayu bisa mengerti dan menuruti sarannya.
Yang disampaikan oleh Tarachandra memang ada benarnya. Tapi apakah harus Ayu benar-benar melepaskan pekerjaan yang sudah menjadi impiannya sejak remaja itu?
"Akan aku pikirkan ya, mas. Sekarang aku pengen tidur biar pusingku hilang." Hanya itu jawaban yang diberikan Ayu. Dia memanfaatkan sifat Tarachandra yang selalu protektif terhadapnya supaya tak ada lagi pembahasan soal pekerjaan Ayu yang dia sendiri pun belum tahu harus menjawab apa.
"Baik, tidurlah yang nyenyak, Sayang." Tarachandra memberikan kecupan di kening dan perut Ayu, lalu berbisik pelan, "Kamu juga tidur ya, Nak."
Dalam hati, Ayu paham betul bahwa segalanya akan berubah setelah ini. Sebentar lagi, ia bukan hanya mempunyai peran sebagai istri Tarachandra, tetapi juga ibu dari anaknya.
Yang ia tahu, seorang ibu memang harus mau berkorban untuk darah dagingnya. Apakah ini berarti Ayu juga harus mengorbankan pekerjaan impiannya?
Malam itu terasa sangat panjang untuk Ayu. Saat Tarachandra sudah terlelap, Ayu masih terjaga. Ia terus mengusap pelan perutnya. Ia sudah tahu, keputusan apa yang harus ia ambil.