
Mobil Amber memasuki gerbang rumahnya. Sebuah rumah dengan perpaduan gaya arsitektur Jawa dan modern dengan suasana asri yang tercipta karena hamparan rumput gajah mini, berbagai macam tanaman hias, dan juga beberapa pohon buah yang memberikan kerindangan di sana sini.
Halaman rumah tersebut cukup luas di bagian depan juga belakangnya. Ada pula sebuah kolam ikan koi di dekat teras belakang, yang merupakan spot favorit Tarachandra. Di sanalah ia biasa menghabiskan waktu untuk menikmati kopi atau mencari inspirasi untuk melukis.
Di salah satu sudut halaman belakang, Tarachandra juga membangun sebuah ruang kecil. Bisa di bilang, itu adalah studio pribadinya kini.
Jika dilihat sepintas, keseluruhan desain dan juga detail dari rumah tersebut memang kental akan tampilan yang artistik. Hal itu pula lah yang sudah menarik perhatian Charemon sejak pertama kali ia melewati gerbang rumah itu.
Sejak awal pertemuannya dengan Amber, dari mobil yang Amber gunakan, Charemon memang sudah tahu betul bahwa Amber datang dari keluarga yang sangat berkecukupan yang tentu saja sangat berbeda dengan latar belakang keluarganya sendiri. Walaupun begitu, ia tak pernah merasa canggung berada di dekat Amber. Memang sudah menjadi sifat Charemon untuk terbuka berteman dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang selama itu tidak membawa pengaruh buruk untuknya.
Setelah memarkirkan mobil di area parkir yang lengkap dengan peneduhnya, Amber dan Charemon pun turun lalu masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tamu, Charemon dibuat terkejut oleh sebuah lukisan besar berukuran sekitar 2 x 1 meter yang tergantung di salah satu sisi dinding.
"Amber tunggu. Kok gue ngerasa pernah ngeliat lukisan ini ya?" ujarnya sambil melangkah mendekati lukisan tersebut agar bisa melihatnya lebih dekat lagi.
"Liat di mana? Itu lukisan kan cuma ada satu di dunia." Amber geli sendiri melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kok bisa ada di sini? Ini bukannya karya Tarachandra yang pernah dipamerkan tapi ga mau dijual. Kabarnya ada yang nawar sampe 3M tapi tetep nggak dilepas."
Di dalam hatinya, Charemon terkejut dan heran. Ia berpikir, sekaya itukah keluarga Amber hingga mampu membeli sebuah lukisan dengan harga yang sangat tinggi hanya untuk dijadikan sebuah hiasan dinding ruang tamu?
"Tu kan bener ini karya Tarachandra! Kenapa bisa ada di sini, Amber?" Charemon terus memburu Amber dengan pertanyaan setelah ia menemukan tanda tangan khas milik Tarachandra yang selalu ia bubuhkan di tiap karyanya.
"Sssttt …ayok masuk, Ayah udah nungguin pasti." Amber bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, namun malah mengajaknya masuk untuk membasuh tangan dan kaki lalu menuju ke ruang makan.
Benar saja, Tarachandra memang sudah duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari meja makan dengan posisi membelakangi. Ia menunggu putrinya pulang untuk makan malam bersama.
"Hai, Ayah," sapa Amber yang menghampiri Tarachandra lalu melayangkan kecupan di pipinya.
"Anak ayah udah pulang," sambut Tarachandra.
Charemon hanya berdiri tak jauh dari sana. Ia menyaksikan kedekatan antara sang sahabat dan ayahnya. Sungguh, sebuah pemandangan yang mendamaikan hati.
"Katanya mau ajak Momon?" Tarachandra bertanya pada Amber.
"Iya, tuh dia. Ayok, Yah. Amber kenalin." Amber lalu menarik tangan sang ayah agar ia beranjak dari duduknya.
Charemon yang tadinya sudah berniat untuk menyapa dan berkenalan dibuat kaget setelah ia melihat wajah ayah Amber. Seorang lelaki paruh baya yang tinggi tegap dan berambut panjang sebahu yang beberapa helainya sudah nampak memutih namun tak mengurangi pesonanya. Charemon tak menyangka sama sekali bahwa selama ini sahabat terbaiknya adalah anak dari Tarachandra, seorang pelukis aliran surealis yang sudah bertahun-tahun ia idolakan.
Ya, sebenarnya ini adalah hal yang sangat wajar. Amber memang tidak suka mengumbar tentang siapa ayahnya, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang tahu tentang ini. Tarachandra sendiri juga bukanlah orang yang suka mengekspos kehidupan pribadinya kepada media, jadi wajar saja jika masih banyak orang yang tak tahu siapa dan bagaimana rupa putrinya.
Charemon adalah salah satunya. Ia masih terdiam dalam kejutnya. Ia masih tak percaya bahwa yang di hadapannya adalah Tarachandra. Walaupun ia sering datang ke pameran lukisan beliau, tapi tak pernah sekalipun Charemon bertatap muka sedekat ini dengan sang pelukis.
Amber yang paham akan keterkejutan Charemon lalu memecah keheningan dengan mengenalkannya pada sang ayah, "Ayah, ini Momon. Momon, ini ayahku."
"Iya. Halo, Pak!" Charemon yang akhirnya tersadar dari kagetnya malah jadi terbata-bata dan memanggil Tarachandra dengan sebutan 'pak'.
Sontak itu membuat Amber dan Ayahnya tertawa terbahak-bahak. Charemon sendiri menjadi malu bukan kepalang setelah sadar akan apa yang baru saja ia katakan.
"Panggil 'Om' aja, Nak Momon. Jangan sungkan-sungkan begitu," ucap Tarachandra.
"Hehehe. Iya, Om," kata Charemon sambil tersenyum.
"Udah sana. Taruh tas kalian dulu lalu kita makan malam sama-sama. Bik Nem udah siapkan tadi," ucap Tarachandra.
"Iya, Ayah," jawab Amber.
"O iya, Om. Ini tadi ada titipan dari Mama. Fresh, baru dibuat tadi, Om. Semoga Om suka," Charemon memberikan dua toples kecil kue kering kepada Tarachandra.
"Wah. Sampaikan terima kasih Om untuk Mama, ya. Kebetulan Om suka sekali dengan kue-kue seperti ini," kata Tarachandra.
"Siyap, Om," jawab Charemon.
"Buatku mana?" Amber tiba-tiba menyela pembicaraan.
"Ssttt! Besok kita bikin sendiri di rumah," kata Charemon yang meringis kecut sambil mencubit kecil pinggang Amber, membuat si empunya kesakitan.
Tingkah mereka berdua sungguh membuat tertawa. Betapa bahagianya ia melihat Amber berubah menjadi semakin ceria dari hari ke hari.
Amber dan Charemon pun lalu menuju kamar Amber untuk menaruh barang bawaan mereka. Sesampainya di sana …
"Ambeeeer! Lu tega banget sih ama gue," kata Charemon yang terduduk lemas di lantai kamar Amber Nampaknya, ia tadi sangatlah merasa gugup bertemu, berjabat tangan, dan bahkan bercakap dengan pelukis idolanya.
"Hahaha. Kamu kan nggak pernah nanya ayahku siapa," jawab Amber dengan entengnya.
"Ya tapi kan—" Ucapan Charemon dipotong oleh Amber.
"Yang penting kan sekarang udah kenal. Bentar lagi mau makan malam bareng di rumahnya pula," goda Amber.
"Iya, sih. Hehehe. Makasih ya, Amber. Kalau bukan karna lo kayanya gue ga bakal bisa ketemu idola kaya gini," katanya sambil bangkit lalu memeluk erat Amber.
Dalam hati, ia pun sebenarnya merasakan hal yang sama seperti Amber. Ia merasa beruntung mendapatkan sahabat yang baik seperti Amber walaupun latar belakang mereka sangatlah berbeda.
Satu hal yang Charemon tidak mengerti. Selain tak pernah bercerita tentang ayahnya, Amber pun tak pernah sekali pun bercerita tentang ibunya. Bahkan, malam ini pun ketika Charemon berkunjung ke rumahnya, sosok seorang ibu seolah tak ada di sana. Rumah yang cukup besar itu terkesan sepi.
Walau sangat penasaran, Charemon lebih memilih untuk menjaga mulutnya. Jika soal ayahnya yang masih ada saja Amber tidak bercerita, bagaimana dengan ibunya yang bahkan tak nampak di sana.