AMBERLEY

AMBERLEY
Episide 30 - Bakso Cabe Rawit



Hari ini Amber dan Charemon selesai kuliah di jam yang sama. Tadinya Amber ingin langsung pulang karena sudah tidak ada kegiatan lain lagi di kampus, tapi Charemon merengek minta ke kantin karena sudah sejak tadi malam ia terus terbayang-bayang bakso Pak Pri.


"Jam segini kantin 2 pasti penuh banget, Momon. Bungkus aja ya?"


"Ogah! Pokoknya gue maunya makan di sana. Ya? Ya? Ya?" Charemon semakin merengek sambil terus menarik Amber menuju ke kantin 2.


"Kenapa nggak dibungkus aja sih? Liat tuh rame begitu."


Amber benar-benar malas ke kantin 2 di jam makan siang seperti ini. Makanan yang disajikan di sana memang lezat dan cukup beragam, mulai dari nasi campur hingga bakso legendaris Pak Pri. Terlebih lagi, tempatnya pun bersih. Jadi, wajar saja jika banyak mahasiswa yang suka membeli makan siang di sana.


"Tuh…ada kursi kosong di sana," kata Charemon sambil menunjuk ke sepasang kursi kosong yang mengapit sebuah meja bundar berukuran kecil.


"Lo ke sana dulu biar nggak diambil orang," kata Charemon sambil berlalu menuju ke kios bakso Pak Pri.


Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain untuk Amber. Ia pun segera berjalan menuju ke meja yang tadi ditunjuk oleh Charemon.


Setelah duduk, Amber mendengar seseorang memanggil namanya. Ternyata Egidia.


"Nggak mau gabung di sini aja, Amber?" tanyanya.


Amber melihat Egidia sedang menikmati makan siang bersama dengan Gian dan Bimo. Gian pun sempat menoleh ke arah Amber lalu seperti tersenyum saat tahu Egidia menyapa Amber. Senyum yang selalu membuat Amber merasa was-was.


"Nggak, Kak. Aku nunggu Momon di sini aja."


Tentu saja Amber menolak. Ia tidak akan mau semeja dengan Gian. Yang ada nanti malah ia diusili lagi.


Setelah sekian hari memulai kuliah, akhirnya Amber bertemu lagi dengan Gian. Untungnya, kali ini Gian tak langsung menghampirinya atau mengusilinya. Nampaknya ia masih asyik dengan makan siangnya.


Tak lama, Charemon pun datang dengan Pak Pri yang mengekor di belakangnya, membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan satu piring ketupat polos. Pak Pri memang menyajikan baksonya dengan cara yang berbeda, yaitu didampingi dengan ketupat.


"Kenapa pesen dua?" tanya Amber yang sebenarnya lebih terbiasa makan di rumah karena Bik Nem pasti sudah susah payah menyiapkan masakan untuknya.


"Nggak papa. Udah buruan makan. Lo mau ketupat nggak?" tanya Charemon sambil mulai menambahkan sambal dan kecap ke dalam mangkuk baksonya.


"Nggak usah. Buat kamu aja."


Amber pun akhirnya ikut makan bersama Charemon. Nampaknya, kali ini Charemon bukan sekedar ingin makan bakso. Amber tahu bahwa ia ingin mentraktir Amber yang hampir setiap hari selalu rajin mengantarnya pulang ke rumah.


Di saat yang sama di sisi lain area kantin, nampak seorang wanita datang menghampiri Gian sambil membawa sebuah bangku yang ia ambil dari meja lain.


"Gue ikutan duduk di sini ya," kata wanita itu dengan centilnya sambil menaruh bangkunya tepat di sebelah Gian, membuat Bimo terpaksa bergeser.


Hal itu tentu saja membuat Gian dan kedua temannya merasa tak nyaman. Perasaan enggan terlihat jelas pada raut wajah mereka masing-masing, terutama Gian.


"Ngapain sih lo duduk di sini? Noh ada meja kosong," kata Egidia dengan nada kesal sambil menunjuk ke arah salah satu meja di ujung area kantin.


"Nggak mau tuh. Gue maunya di sini deket Gian. Gian udah makan?" tanya wanita itu sambil menatap wajah Gian lekat-lekat.


"Lo nggak liat noh di depan Gian udah ada piring kosong?" Egidia makin kesal pada wanita yang memang selalu centil pada Gian itu.


Wanita itu bernama Putri Nadine. Ia adalah teman satu angkatan Gian yang kebetulan juga mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual, sama seperti Gian.


Sudah bukan rahasia lagi. Nadine memang secara terang-terangan mendekati Gian. Apalagi setelah ia tahu bahwa Gian sedang tak punya kekasih. Terlihat betul usahanya semakin menjadi-jadi.


Setiap ada kesempatan, ia akan mendekati Gian dengan berbagai cara dan alasan. Hal itu justru membuat Gian merasa risih. Sekarang pun begitu.


Amber yang tadinya sudah merasa tenang kembali was-was setelah Gian duduk tepat di sebelahnya. Di kejauhan, nampak Nadine begitu geram.


"Apa lagi ini?" kata Amber dalam hati.


"Hai, Kak Gian," sapa Charemon yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Gian yang tiba-tiba di dekat Amber.


"Hai. Lo temen deketnya Amber ya? Barengan terus," tanpa Charemon sangka, Gian untuk pertama kalinya berbicara dengannya. Ia bahkan tersenyum pada Charemon.


Tentu saja, Charemon tak merasa berbunga-bunga seperti wanita lain yang bahkan mungkin akan tersungkur lemas karena melihat ketampanan Gian. Charemon lebih suka mengumpulkan bukti-bukti bahwa Gian memang menyukai Amber seperti yang ia duga selama ini.


"Iya, Kak. Gue Momon temen Amber yang paling setia," sahut Charemon dengan nada ceria seperti biasanya.


"Kalian makan apa?" tanya Gian penasaran.


Walau sudah setahun lebih berkuliah di sana nampaknya Gian belum pernah mencoba bakso legendaris Pak Pri. Tadi pun sebenarnya ia malas makan di kantin jika tidak dipaksa oleh kedua temannya.


"Masa Kak Gian belom pernah nyobain bakso Pak Pri? Enak loh, Kak. Mau aku traktir?" tanya Charemon.


"Nggak. Nggak usah," Gian menjawab demikian namun sambil melihat ke arah Amber.


Karena sudah mulai terbiasa diganggu oleh Gian, kali ini Amber seolah paham kenapa Gian melihat ke arahnya waktu menolak tawaran Charemon tadi. Sebelum hatinya kesal karna Gian mengambil paksa bola-bola bakso yang ada di mangkuknya, Amber dengan sukarela menusuk sebuah yang paling besar lalu ia tawarkan kepada Gian.


"Nih," katanya singkat.


"Nah, gitu dong. Udah jadi mahasiswa emang harus makin pinter." Gian begitu puas akan tingkah Amber.


Ia lalu mengambil garpu Amber dan memakan bakso yang Amber berikan padanya. Tanpa ia tahu bakso itu adalah bakso isi cabe rawit.


Berbeda dengan Amber dan Charemon yang sangat menyukai makanan pedas, Gian tidak bisa memakan makanan yang terlalu pedas. Mukanya langsung memerah saat gigitannya tiba di bagian tengah bakso yang berisi cabe rawit berwarna merah itu.


"Kak Gian kenapa?" tanya Charemon yang bingung melihat perubahan warna pada wajah Gian.


"Ini bakso ada isinya?" tanyanya dengan bulir-bulir keringat yang mulai deras keluar di dahinya.


"Iya, Kak. Tadi aku pesen bakso isi cabe sama Pak Pri. Kak Gian nggak bisa makan pedes ya?" Charemon mulai khawatir karena Gian nampak sangat tersiksa.


"Haaah…kenapa nggak bilang kalau isinya cabe?" Gian sesekali menjulurkan lidah yang rasanya sudah seperti terbakar itu.


"Hahahahaha … " Amber spontan tertawa terbahak-bahak melihat Gian yang menderita.


Dalam hatinya ia membatin puas, "tuh kan kualat. Gangguin aku terus sih."


"Ni bocah kenapa malah ketawa? Bagi air cepetan!" kata Gian yang sudah tak tahan lagi.


Karena Amber masih saja sibuk tertawa, akhirnya Gian mengambil es teh yang baru diminum sedikit oleh Amber. Tanpa basa-basi ia langsung menenggak habis isinya.


"Hahaha … Maaf, maaf," kata Amber yang masih berusaha menghentikan tawanya.


Hal itu membuat Gian merasa kesal. Setelah selesai minum, ia lalu mengacak-ngacak sedikit rambut Amber untuk meluapkan kekesalannya.


Charemon yang dari tadi ada di hadapan mereka, hanya tertawa kecil lalu tersenyum. Diam-diam, ia adalah tim pendukung Ambergian.