AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 110 - Kejutan Ulang Tahun Untuk Amber (Bagian 2)



"Gian, apa kita bisa lebih cepat lagi?" tanya Amber yang segera ingin sampai ke toko kue yang bernama Langit Senja itu.


"Maaf, Amber. Aku enggak bisa nurutin permintaan kamu kali ini. Aku enggak akan melebihi kecepatan ini. Apapun alasan yang membuat kamu pengen cepet sampe sana, aku enggak bisa mempertaruhkan keselamatan kita. Jadi bersabarlah. Sekitar satu setengah jam kita akan sampai," ucap Gian dengan tegas.


Amber pun terdiam. Ia tak membantah apa yang Gian katakan karena memang ada benarnya. Lagipula, toko kue itu tidak akan pergi ke manapun kan?


"Kamu enggak mau cerita ada apa sebenarnya?" tanya Gian, memecah keheningan di dalam kabin mobil. Pandangannya tetap fokus membawa mobil menembus jalanan siang itu.


"Nama toko itu. Kamu enggak berpikir kalau itu hanya sebuah kebetulan kan, Gian? Kue yang kamu berikan tadi juga, aku punya feeling kalau itu juga bukan sebuah kebetulan, Gian," kata Amber dengan pandangan fokus ke depan, seolah dengan seperti itu laju mobil akan menjadi lebih cepat. Tangannya tanpa sadar menggenggam sabuk pengaman yang sedari tadi ia kenakan.


"Maksud kamu apa?" Gian masih belum mengerti.


"Langit Senja itu arti namaku, Gian. Chocolate-ginger cake itu kue yang selalu Bunda buatkan untukku di setiap hari ulang tahunku. Bunda selalu bikin itu karena aku suka banget. Bunda enggak pernah beli kue ulang tahun buatku. Dia selalu buat sendiri," dengan suara yang bergetar Amber bercerita kepada Gian.


"Kamu yakin kalau kue itu bikinan Bunda?" Gian yang masih dalam keadaan terkejut ingin memastikan hal yang baru saja Amber simpulkan. "Jadi wanita yang aku temui tadi adalah bundanya Amber? Apa mungkin dia sengaja cuma jual kue itu di akhir tahun karena ulang tahun Amber?" batinnya.


"Kamu inget permen bentuk bintang yang terbuat dari larutan gula yang ada di atas kue tadi? Itu bagian yang dulu paling aku sukai dari kue buatan Bunda. Setiap ulang tahunku, jumlah bintang di kuenya selalu bertambah satu. Mungkin kamu enggak sadar, Gian, tapi aku udah hitung, ada 20 permen bintang kecil menghiasi kue tadi. Aku yakin Bunda yang udah buat kue yang tadi kamu kasih ke aku tadi, Gian. Aku yakin banget," ujar Amber.


Gian tersentak. Dengan penjelasan seperti itu, bisa jadi memang benar bahwa itu adalah Ayu. "Baiklah. Tapi pesanku, kalau ternyata itu bukan Bunda kamu jangan terlalu kecewa, okay?"


"Akan aku coba, Gian," jawab Amber. Ia tahu, kalau ternyata itu bukan Bunda, rasa kecewa pasti akan tetap ada.


***


Saat hari sudah menjelang sore Amber dan Gian akhirnya tiba dan memarkirkan mobil tepat di seberang jalan toko Langit Senja, sebuah toko kue kecil yang terletak di daerah yang jauh dari kata ramai.


"Benar kata Gian. Toko itu kecil tapi sungguh cantik. Bagaimana bisa ada toko secantik ini di tempat sepi begini? Pantas kami enggak bisa nemuin Bunda," Amber membatin di dalam hatinya. Ia terpana melihat nama 'Langit Senja' terpampang begitu besar di bagian depan toko tersebut, seolah mengirimkan tanda.


"Tunggu, Gian. Tunggu sebentar," kata Amber. Ia berusaha melihat ke dalam melalui jendela toko namun tidak terlihat jelas karena ia masih duduk di dalam mobil. "Menurutmu aku turun dan langsung ke sana sekarang?"


Gian tahu kalau Amber sedang gugup. "My Amber, Sayang," Gian menyentuh pipi kanan Amber, "kita udah jauh-jauh sampai ke sini. Kita harus turun dan liat apa bener itu Bunda? Kalau ternyata bukan, kamu jangan terlalu kecewa."


Saat Amber akhirnya berhasil mengumpulkan keberaniannya dan bermaksud untuk turun dari mobil, seorang anak laki-laki yang mungkin masih berusia 4 tahun tiba-tiba keluar dari toko kue itu.


"Tunggu sebentar," kata Amber yang seketika mengurungkan niatnya untuk turun.


Anak itu tersandung dan melukai lututnya. Ia lalu menangis dan berteriak, "Bundaaa!" Suaranya begitu keras hingga bisa terdengar dari dalam kabin mobil tempat Amber dan Gian menunggu sedari tadi.


Betapa terkejutnya Amber ketika melihat sosok Ayu bergegas keluar dari toko. "Itu Bunda," gumamnya pelan tapi masih terdengar oleh Gian dan membuat jantung pemuda itu ikut berdegup kencang karena ternyata ia tanpa sengaja menemukan keberadaan sosok yang selama ini dicari oleh kekasihnya.


Ayu meraih anak laki-laki itu dan membantunya berdiri. Dibersihkannya tubuh dan pakaian anak itu dari debu dan direngkuhnya ke dalam pelukannya. Anak itu masih menangis, mungkin karena luka di lututnya begitu perih. Ayu meniup luka pada lutut anak itu sama seperti yang selalu ia lakukan ketika Amber terluka di masa kecilnya dulu. Wanita yang masih terlihat cantik walau usianya mulai menua itu tersenyum sambil mengatakan sesuatu yang tak bisa Amber dengar dari dalam mobil. Yang pasti, anak kecil itu langsung berhenti menangis. Ia tersenyum lebar dan memeluk Ayu dengan eratnya. Ayu pun menggendong anak itu setelah sebelumnya melayangkan sebuah kecupan di pipinya, kemudian menutup dan mengunci toko kuenya. Mereka berdua lalu berjalan menjauhi toko sambil terus bercanda, entah menuju ke mana. Mereka tampak begitu bahagia.


Sementara Amber masih terpaku melihat adegan yang baru saja tersaji di depan matanya. Kebahagiaan kedua orang tadi seperti pisau yang menusuk tepat ke hati Amber, membuatnya hancur berkeping-keping. "Bunda? Kenapa anak kecil itu memanggil Bunda dengan sebutan itu? Siapa anak kecil itu?" gumamnya.


"Amber …" tanya Gian sembari menggenggam tangan kekasihnya. Rasa getir tergambar jelas dalam setiap getaran yang terasa dalam genggaman Gian.


Tubuh Amber terasa lunglai. Seolah semua tenaga yang ia miliki seketika hilang. Semua harapan yang sejak tadi menggelora musnah tak bersisa. Air mata jatuh begitu saja dari kedua bola matanya. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia sulit untuk bernapas. Ini sama sekali bukan pertemuan yang ia harapkan setelah sekian tahun lamanya tak berjumpa dengan wanita yang paling ia cintai.


Dengan suara yang begitu lirih dan bergetar karena memang ia masih menangis, Amber pun berkata, "Gian, kita pulang aja."


Gian sebenarnya tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Logikanya berkata bahwa Ayu harus dikejar saat ini juga. Bagaimanapun Ayu adalah orang yang sudah selama lebih dari 6 tahun dicari dan senantiasa dinanti oleh Amber dan Tarachandra. Tapi sepertinya, dengan sifat Amber yang begitu keras, tak mungkin memintanya untuk mengejar Ayu setelah ia bilang ingin pulang barusan. Mereka berdua pun akhirnya pulang dengan membawa sebuah tanda tanya besar di kepala masing-masing.