
"Gue yakin cewek itu udah nggak bakal ngedeketin Gian lagi, Kak Sam," kata Rara yang sedang bercengkrama dengan Samantha di kamar indekosnya. Ada dua gadis yang lain dan seorang lelaki muda yang juga tergabung dalam geng Samantra ada di sana.
"Seyakin itu?" tanya Samantha tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.
"Yap. Gue kan udah kasih peringatan kedua ke dia, Kak?" ujar Rara.
Ucapan Rara akhirnya menarik perhatian Samantha. Bukan samata-mata karena ia penasaran akan peringatan kedua macam apa yang sudah Rara berikan kepada Amber, tapi juga karena Rara sudah bergerak tanpa seijinnya. Itu hal yang cukup tak disukai Samantha. Terlebih lagi, pergerakan kali ini berhubungan langsung dengannya dan rasa tertariknya pada Gian.
"Udah ngapain lo?" Samantha bertanya sembari menegakkan duduknya.
"Lo tau Momon nggak, Kak? Dia temen deketnya si Ember tu," Rara menyebut Amber dengan nama itu karena kegemaran Amber mengenakan bucket hat saat di kampus.
"Cewek yang sering bareng sama si Ember?" Samantha memastikan.
"Iya. Yang rambutnya panjang, orangnya berisik banget itu." Rara terlihat semakin antusias.
"Kenapa dia?" tanya Samantha singkat. Ia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga Rara seyakin itu bahwa Amber tak akan berani lagi mendekati Gian.
"Gue kan kepoin sosmed dia tuh, Kak. Segitu niatnya gue mau bantuin Kak Sam cobak," ujar Rara dengan bangganya.
"Dari sosmednya gue tau kalau dia jualan kue kering, terima pesenan gitu. Ya udah gue isengin aja. Gue pesen 100 toples tapi gue kasih alamat palsu. Rumahnya kosong. Tauk deh tu rumah siapa," Rara tergelak setelah menceritakan hal itu. Baginya, ini adalah sesuatu yang lucu.
"Ngaco lo!" suara Samantha meninggi, sama seperti saat ia sedang marah ketika anggota geng Samantra melakukan kesalahan.
Semua orang yang ada di kamar tersebut serentak diam dan menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan. Tak ada satu pun yang berani menatap ke arah Samantha, kecuali Rara yang selama ini berlaku layaknya tangan kanan Samantha, setidaknya itulah yang ia anggap selama ini.
"Kak Sam kenapa marah?" tanya Rara tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kenapa gue marah?! Lo bisa mikir nggak?!" tanya Samantha sambil menunjuk-nunjuk Rara tepat di keningnya.
Saat suara Samantha sudah sekeras ini, tak ada satu pun yang berani menjawab. Tidak juga Rara yang menyimpan rasa tak terima di dalam hatinya karena usahanya bukannya menuai pujian namun malah membuat emosi Samantha memuncak.
"Lo mikir nggak kalau ginian bisa jadi kasus? Lo bisa dilaporin ke polisi kalau ketahuan! Lo tau itu artinya apa?! Gue juga bisa kebawa-bawa!" Samantha mengatakan semua ini tepat diwajah Rara yang kini pucat pasi.
"Gue kan selalu bilang sama lo pada, ati-ati, jangan ngaco, jangan sampe urusan sama polisi dan bawa-bawa nama Samantra. Kalau kaya gini, lo bukannya bantuin tapi malah nyusahin!" Samantha lalu berdiri dari duduknya dan mencengkeram Rara pada bagian rahangnya supaya gadis itu bisa menatap tepat ke arah matanya yang memerah karena amarah.
"Gue udah ati-ati kali, Kak. Gue cuma pake sim card itu sekali dan udah langsung gue buang," Rara yang semakin tak terima mencoba membela dirinya.
"Inget! Kalau sampe ada apa-apa lo jangan bawa-bawa nama gue atau Samantra! Ngerti lo?" ucapnya, lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan meninggalkan kamar indekost Rara.
***
Di kampus, Charemon sedari tadi tampak gelisah. Amber mengirim pesan padanya pagi ini bahwa ia tidak akan berangkat kuliah hari ini karena tak enak badan.
Charemon bukan gelisah karena hal itu. Ia gelisah karena di satu sisi ia ingin sekali membantu Amber, namun di sisi lain Amber berpesan supaya ia tak memberitahukan soal semua hal yang sedang Amber alami, dari soal rekaman hingga soal kasus penipuan yang menimpa Charemon dan keluarganya kepada siapa pun. Paling tidak sampai Amber tahu apa yang harus ia lakukan, karena saat ini pun bukti yang ia kantongi masih sangat sedikit dan lemah.
"Gue harus ngelakuin sesuatu. Gue harus bantu Amber." Hal inilah yang selalu Charemon katakan pada dirinya sendiri sejak pertama kali ia tahu soal rekaman ancaman itu.
Ia sangat ingin membantu Amber bukan semata-mata karena ia adalah pendukung Ambergian couple yang baru saja mulai dekat namun terpaksa menjauh kembali karena ancaman itu. Hati kecilnya merasa harus membantu Amber karena memang ia adalah sahabat yang sudah membantunya di waktu sulit seperti saat itu. Jika bukan karena Amber, Charemon tak tahu akan seperti apa jadinya nasib usaha kue kering milik ibunya.
Di saat sedang kebingungan, Charemon melihat Gian dan Bimo sedang berjalan bersama. Nampaknya mereka baru aja menyelesaikan satu mata kuliah.
"Kak Gian!" tanpa berpikir panjang Charemon langsung memanggil dan menghampiri Gian.
"Kak Gian mau ke mana? Ada waktu sebentar?" tanya Charemon.
"Gue mau ketemu Egi. Kenapa, Mon?" Gian membaca raut wajah Charemon yang tak biasa. Ia juga merasa heran kenapa kali ini Charemon sendirian di saat biasanya ia hampir selalu terlihat bersama dengan Amber.
"Gue mau ngomong penting, Kak. Soal Amber. Tapi nggak bisa di sini. Ajak Kak Egi sekalian aja, Kak. Ya? Please." Charemon menangkupkan kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar perlu berbicara dengan Gian. Ia juga terus melihat ke sekitar seolah takut jika ada mata yang mengawasi percakapan mereka.
Saat mengetahui bahwa hal yang akan dibicarakan dengannya berkaitan dengan Amber, hati Gian pun tak bisa menolak walau sebenarnya ia juga masih merasa kesal pada gadis yang tengah disukainya itu karena tiba-tiba ia kembali mengabaikannya tanpa sebab yang jelas beberapa hari ini. Terlebih, Gian membaca raut wajah Charemon yang tampak tak tenang, seolah ada suatu hal genting yang ia pikirkan.
Bimo yang ternyata mempunyai pikiran yang sama pun berkata, "di taman deket kolam belakang itu aja. Sepi tuh."
"Okay," Gian pun menyetujuinya.
"Bentar gue telpon Egi," kata Bimo yang sudah sibuk mencari nama Egidia di ponselnya.
"Halo, Gi. Lo ke taman belakang deket kolam sekarang ya. Gue tunggu ama Gian di sono. Cepetan!" Bimo mengakhiri panggilanya sebelum Egidia menjawab dengan benar.
Setelahnya, mereka bertiga pun berjalan bersama menuju ke taman bagian belakang kampus dan menunggu kedatangan Egidia di sana.
"Maaf, Amber. Kali ini gue nggak bisa nepatin janji gue ke lo. Gue harus ngasih tau Kak Gian soal ini. Lo nggak boleh menderita sendirian. Lo berhak bahagia. Gue bakal bantu lo dengan cara yang gue bisa, Amber sayang," tekad Charemon di dalam hatinya.