
"Hey! Amber! Jangan pura-pura nggak ngeliat deh," kata Gian yang akhirnya berhasil mengejar Amber di salah satu koridor Fakultas Seni.
Amber pun terpaksa memelankan kembali langkahnya. Matanya tadi memang tak sengaja saling bertatapan dengan Gian yang ada di kejauhan. Ia yang tadinya menuju ke kantin bersama Charemon, langsung menarik tangan sahabatnya itu dan berbalik arah menuju ke parkiran setelah melihat Gian.
"Hey, Mon," Gian menyempatkan untuk menyapa Charemon yang ada di sebelah Amber.
"Hey, Kak Gian," jawab Charemon yang sebenarnya sedikit bingung melihat tingkah Amber yang terkesan aneh.
"Amber kenapa aneh dan cuek banget gitu sama Kak Gian? Tadi katanya mau ke kantin? Kenapa tiba-tiba nggak jadi?" Charemon bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Kamu mau ke mana? Tadi kayanya ke arah sana? Kok nggak jadi," tanya Gian yang memang sudah heran, kenapa Amber seolah menghindarinya.
"Mmm … aku lupa kalau … ada janji sama Ayah," jawab Amber tergagap.
"Masa iya kalau ada janji sama Om Tara kamu lupa?" nampaknya Gian tak mau melepaskan hal ini begitu saja.
"Mmm … iya lupa. Baru aja ingetnya. Makanya ini mau balik cepet-cepet. Yuk, Mon," Amber berusaha pergi dari sana.
Dengan cepat Gian meraih dan memegang pergelangan tangan Amber, "hey, aku masih ngomong lho ini."
Amber terlihat kaget dan buru-buru melepaskan tangannya dari pegangan Gian.
"Yakin gue. Ada yang nggak beres ni," batin Gian.
"Sorry, Gian. Aku harus pulang," Amber berkata sambil mulai melangkah pergi.
Walau tak mengerti apa yang sedang terjadi, Charemon hanya bisa mengikuti Amber. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Sementara Gian, dia belum mau menyerah semudah itu. Ia pun menghalangi Amber dengan berdiri di depannya.
"Kamu kenapa? Chatku juga nggak dibales. Telpon apa lagi. Aku bikin salah apa lagi?" tanya Gian yang sudah mulai terpancing emosinya.
Amber berhenti dan menjawab dengan menatap dalam ke mata Gian, "kamu nggak ada salah apa-apa, Gian. Okay? Now would you please let me go?"
"Segitu pengennya kamu pergi? Fine!" bentak Gian yang tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia pun melangkah pergi dengan geram, meninggalkan Amber yang terkejut mendengar bentakan Gian dan kini malah mematung di posisi yang sama.
"No! Jangan nangis Amber. Masa kamu nangis cuma karna hal kaya gini. Jangan nangis. Jangan sampai Momon tau," kata Amber dalam hati.
"Amber?" Charemon yang kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan akan apa yang terjadi antara Amber dan Gian berusaha memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
"Kita balik aja ya, Mon," Amber tetap berusaha tersenyum di depan Charemon.
"Iya, nggak papa. Yuk," jawab Charemon.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Charemon, Amber tak banyak berbicara. Melihat Amber yang seperti itu, Charemon pun menjadi bingung. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya tiba-tiba …
"Amber, stop! Lampu merah!" teriakan Charemon sungguh membuat Amber terkejut hingga dengan refleks ia menginjak rem.
Mobilnya pun berhenti mendadak dan sontak mengejutkan pengendara lain di belakangnya yang langsung memencet klakson keras-keras. Untung tidak terjadi tabrakan.
"Matanya di mana sih?!" omel seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang jalan melalui zebra cross. Jika mobil Amber tidak direm tepat waktu, entah apa yang akan terjadi padanya.
Degup jantung Amber terasa begitu cepat. Tangannya masih memegang kemudi dengan erat karena terkejut.
"Please ya, Amber. Apapun yang ada di pikiran lo saat ini, JANGAN NYETIR SAMBIL NGELAMUN! BAHAYA TAUK! GUE MASIH BELOM BENER JADI SENIMAN!" Charemon yang sangat terkejut akhirnya malah secara refleks mengomel kepada Amber.
"Udah, sekarang jalan pelan-pelan aja dan please, jangan ngelamun lagi. Lo mampir ke rumah gue dulu baru balik. Nggak usah ngeyel," cerewet Charemon.
"Okay."
Amber pikir yang dikatakan Charemon memang ada benarnya. Tak aman jika ia harus menyetir dalam keadaan pikiran yang tidak tenang seperti ini.
Sesampainya di rumah Charemon, Amber melepaskan jaketnya, meletakkannya di kursi kamar Charemon yang ada di lantai dua dan meminta ijin untuk menggunakan kamar mandi yang letaknya di lantai satu. Ia ingin sekali membasuh wajahnya supaya dirinya merasa lebih segar.
"Gih sana, biar segeran. Abis itu kita makan dulu. Mama udah masak tadi," jawab Charemon.
Tak lama setelah Amber pergi, sebuah benda kecil berwarna hitam tak sengaja terjatuh dari kantong jaket Amber.
"Recorder? Ngapain Amber bawa-bawa ginian?" gumam Charemon.
Rasa penasaran yang teramat sangat memberanikan Charemon untuk menyalakan alat perekam itu. Hanya ada satu file rekaman dengan durasi pendek di sana. Walaupun ragu karena merasa lancang, pada akhirnya ia pun mulai mendengarkannya.
Isi rekamannya bukanlah sesuatu yang biasa. Itu adalah percakapan antara Amber dengan seorang wanita yang entah Charemon tidak tahu itu siapa.
"Amber diancam?!" hati Charemon bergetar setelah mendengar seluruh isi percakapannya.
Tak lama setelahnya, Amber kembali dari kamar mandi. Tentu ia merasa kaget melihat alat perekamnya sudah ada di tangan Charemon. Terlebih lagi, wajah sahabatnya itu terlihat begitu syok.
"Amber, apa ini? Kenapa lo nggak cerita sama gue kalau lo diancam kaya gini? Siapa yang udah ngancem lo?" mulut Charemon meluncurkan rentetan pertanyaan yang ditujukan kepada Amber.
Amber buru-buru mengambil alat perekam itu dan mematikannya walau sudah terlambat. Ia duduk terdiam sambil menggenggam alat itu dengan kedua tangannya.
"Kenapa lo malah diem aja?" Charemon terus mencecar Amber dengan pertanyaan.
"Jangan-jangan sikap aneh lo sama Kak Gian tadi karena ini? Orang kaya gini harusnya lo lawan biar nggak makin jadi, Amber. Kenapa lo malah diem aja? Malah menghindar dari Kak Gian?" tambahnya.
"Karena aku nggak mau orang-orang di sekitarku yang kena imbasnya! Okay?!" jawab Amber cepat sambil menatap wajah Charemon.
"Orang-orang disekitar lo? Siapa?" Charemon masih belum paham dengan apa yang Amber katakan.
"Aku belum punya bukti apa-apa, tapi bisa jadi apa yang udah menimpa kamu dan mama kamu kemarin ada hubungannya dengan ini. Bisa jadi orang yang pura-pura pesen kue ke Tante itu orang yang sama. Aku nggak tau, tapi aku sangat merasa bersalah sama kalian!" Mata Amber mulai berkaca-kaca saat mengatakan ini.
Charemon merasakan kesedihan dalam setiap kata yang Amber ucapkan. Bagaimana bisa ia merasa sangat bersalah atas sesuatu yang bahkan bukan kesalahannya?
"Terus Kak Gian gimana? Lo beneran mau tiba-tiba menjauh dari dia kayak gini? Kalian kan baru aja mulai deket. Kak Gian itu keliatan banget kalau dia suka sama lo," kata Charemon.
Butiran-butiran air mata mulai jatuh begitu saja dari kedua bola mata Amber. Untuk pertama kalinya, Amber yang biasanya kuat dan cuek dalam segala hal terlihat begitu lemah di hadapan Charemon.
"Amber sayang … " tak banyak yang bisa Charemon katakan. Ia hanya bisa memeluk Amber dan mengusap punggungnya.
Amber pernah bercerita kepada Charemon bahwa ia tak pernah mengijinkan hatinya untuk memupuk rasa tertariknya kepada lelaki. Tak pernah sekali pun ia membuka hatinya untuk menyukai lelaki lebih dari sekedar rasa tertarik saja.
"Buat apa kita membuka hati jika nantinya cuma akan ditinggal pergi? Tutup saja rapat-rapat, daripada mati terbunuh sepi," begitu yang Amber katakan ketika Charemon menanyakan alasannya.
Nampaknya semua kini berubah lain ketika Amber mulai dekat dengan Gian. Charemon merasa bahwa untuk pertama kalinya, Amber benar-benar menyukai seseorang.
"Gue nggak boleh tinggal diam!" janji Charemon di dalam hatinya.