
"Ugh! Bagaimana bisa aku melupakan wajahnya!" Amber menggerutu pada dirinya sendiri sembari merebahkan dirinya di tempat tidur. "Cuma gara-gara kacamata hitam dan warna rambut yang berbeda kenapa bisa lupa?! Bodoh sekali kamu, Amber!" Entah kenapa Amber merasa sangat kesal. Perasaannya campur aduk setelah tadi Egidia memberitahukan bahwa gadis cantik yang baru saja ia temui adalah Zefanya.
Sebenarnya wajar saja jika Amber tidak mengenal wajah Zefanya. Selain karena gadis itu memakai kacamata hitam, gaya dan penampilannya juga berbeda dengan yang terlihat di foto-foto lamanya bersama Gian yang banyak beredar di dunia maya dan pernah Amber lihat. Terlebih, Amber juga hanya beberapa kali saja mencari foto-foto tersebut untuk memenuhi rasa penasarannya hingga akhirnya Gian melarangnya melakukan itu. Gian hanya ingin Amber terhindar dari perasaan dan pikiran yang tak perlu.
Tapi bener juga kata Kak Egi!" Amber tiba-tiba bangkit dan duduk. "Kenapa tiba-tiba Zefanya pulang?"
Ia terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu. "Eiiss, jangan berpikir yang tidak-tidak, Amber. Jangan kegeeran kamu. Ini kan holiday season. Wajarlah kalau dia pulang ke rumahnya." Ia berusaha menepis pilirannya sendiri. "Tapi kenapa dia tadi mau beli gelang juga? Jangan-jangan …? Aaaah! Entahlah aku enggak tau!"
Dengan keras Amber kembali merebahkan dirinya. Malam sudah cukup larut namun ia masih juga belum bisa memejamkan matanya. Udara sebenarnya cukup dingin malam ini, tapi entah mengapa Amber merasa kegerahan.
Setelah salah tingkah sekian lama, ia kembali bangkit. Diraihnya ponsel lalu dikirimnya pesan kepada Gian.
Udah tidur?
Lama, tak ada jawaban. Hal itu membuat dirinya semakin kesal. Di saat sedang galau seperti ini yang ia butuhkan adalah Gian. "Mungkin masih di jalan," pikirnya untuk membuat hatinya tenang.
Gian memang mengambil job menyanyi di luar kota malam ini. Karena ini jugalah ia senang saat mendengar Amber berencana pergi bersama Egidia tadi karena ini berarti Amber tak akan kesepian hari ini.
Tiba-tiba, ponsel Amber berdering. Betapa bahagianya ia saat melihat nama Gian terpampang dilayarnya. "Halo," katanya dengan cepat.
"Hei. Aku belum tidur. Ini masih di jalan mau ke rumah sama Dhika. Paling sejam lagi sampai. Aku enggak mampir ke rumah ayah dulu. Pengen langsung balik aja," Gian langsung bercerita tanpa diminta oleh Amber terlebih dahulu.
"My Gian capek? Gimana tadi acaranya? Lancar kah?"
"Capek tapi seneng. Penontonnya 'pecah' tadi. Rame banget," Gian terdengar antusias. "Lancar kok. Enggak ada kendala apa-apa."
"Syukurlah," kata Amber.
Gian yang menangkap suara Amber yang kurang bersemangat tiba-tiba mengatakan sesuatu, "mmm … Tadi Egi cerita sesuatu ke aku."
Amber sedikit tersentak hingga menegakkan tubuhnya karena ternyata Gian sudah tahu apa yang ia alami tadi. "Oh, soal Zefanya ya?" dengan nada yang terdengar malas Amber menjawab.
"Iya. Egi udah bilang semuanya."
Seketika Amber teringat dan khawatir kalau-kalau Egidia juga bercerita tadi Amber sedang mencari hadiah ulang tahun untuk Gian. "Kak Egi cerita apa aja?" tanyanya memastikan.
"Dia cuma bilang kalau kamu enggak sengaja ketemu sama Zefanya di mal pas kamu baru liat-liat barang di toko. Egi minta aku mastiin kabar kamu. Makanya aku telpon sekarang."
"Oh." Batin Amber bersyukur karena kejutan untuk Gian tidak bocor.
"Emang kamu tadi beli apa lho, Amberku?"
"Enggak beli apa-apa. Cuma liat-liat aja sambil nungguin Kak Egi balik dari toilet," Amber berkelit.
"Oh. Tapi aku jadi penasaran, dia tadi kayak tahu kamu pacarku atau enggak? Kan foto kamu udah nampang di akun medsos Ayah," tanya Gian ingin tahu.
"Kalau menurutku kok enggak ya. Dia keliatan biasa aja tuh. Enggak ada sesuatu yang aneh sama sekali," ujar Amber.
"Terus kamu, kok bisa enggak tau kalau itu dia? Bukannya udah pernah liat fotonya?"
"Ya mana aku tau! Dia pakai kacamata hitam dan rambutnya beda!" Amber menjawab dengan ketus sembari memonyongkan bibirnya.
"Ahahaha … ya jangan ngambek gitu dong." Gian bisa membayangkan bibir Amber yang mengerucut saat ini.
"Abisnya …"
"Ya udah kalau gitu. Enggak usah dipikirin banget-banget ya, My Amber. Selama dia enggak mengusik, dia bukan urusan kita. Okay?"
"Okay," Amber menjawab pelan. "Tapi … boleh aku minta sesuatu?"
"Jangan bertemu dengan Zefanya ya? Aku tau ini terdengar egois tapi kamu sekarang punyaku,"
Mendengar kata 'punyaku' membuat Gian merasa senang, "apa? Coba diulangi lagi. Aku punya siapa?"
"Ih … Gian! Aku serius!
"Ahahahaha … habis kamu lucu. Tanpa kamu minta juga aku pasti melakukannya. Buat apa juga aku ketemu sama dia?" Kecemburuan Amber terasa begitu menggemaskan bagi Gian. "Segitu sayangnya," kata Gian di dalam hati.
"Ya udah besok lagi aja teleponnya. Nanti kalau udah sampe ngabarin ya? Kalau aku enggak bales berarti aku udah tidur. Hehehe," kata Amber. Hatinya sudah jauh lebih tenang sekarang.
"Iya. Kamu coba tidur ya. Udah malem lho. Love you, My Amber," pamit Gian.
"Hu um. Love you, My Gian," balas Amber.
Ia lalu meletakkan ponselnya di meja. Setelahnya, dengan gemas ia memeluk satu bantalnya dengan erat karena gemas lalu bergumam pelan, "my Gian …"
***
Tak lama Gian dan Dhika sudah sampai di rumah. Gian pun turun untuk membukakan gerbang sementara Dhika memasukkan mobil ke dalam. Saat Gian hendak menutup kembali gerbang itu, ada sosok yang ia kenal berjalan menghampirinya.
"Fanya," gumam Gian dengan wajah terkejut.
"Gian. It's been a while," sapa gadis itu dengan senyum yang dulu membuat Gian jatuh hati.
"Ngapain kamu di sini selarut ini?" tanya Gian dengan ketus.
Suaranya yang agak keras membuat Dhika datang mendekat. Adiknya itu tak kalah terkejutnya dengan kehadiran Zefanya yang tiba-tiba. "Ngapain lagi Fanya di sini? Enggak tahu malu banget!" kata hati Dhika. Dengan geram ia berusaha menahan emosinya.
"Aku baru sampai kemarin, Gian. Aku kangen pengen ketemu kamu." Sudah hampir setahun sejak terakhir mereka bertemu di Paris.
"Sorry aku enggak bisa," Gian bermaksud masuk ke dalam dan menutup gerbangnya namun tangan Zefanya meraih lengannya dan menahannya.
"Ayolah, Gian. Ini sudah hampir setahun. Masihkan kamu marah sama aku?"
"Waktu enggak akan mengubah apa yang sudah terjadi, Fanya," ucah Gian dengan tegas sambil menghempaskan tangan Zefanya.
"Aku udah berjam-jam lho nunggu kamu di sini. Aku kedinginan. Aku sakit kepala. Semua aku lakuin cuma buat ketemu sama kamu!"
"Aku enggak nyuruh kamu dateng. Sorry aku capek," kembali Gian mencoba untuk masuk ke dalam.
"Tega kamu, Gian!" Zefanya sedikit berteriak.
Zefanya terhuyung ke arah Gian lalu kehilangan kesadarannya. Sialnya, Gian secara refleks menghindar hingga tubuh Zefanya jatuh terjerembab ke dinginnya jalan aspal perumahan.
Gian sedikit terkejut akan hal itu namun ia masih terdiam. Jika Zefanya masih menjadi kekasihnya mungkin ia akan panik dan segera membopong gadis itu. Namun kali ini semuanya sudah berbeda. Ia memang hampir saja meraih Zefanya untuk memeriksa keadaannya namun seketika Dhika menghentikannya. "Jangan kotorin tangan lo, Kak. Liat," Dhika menunjuk ke arah sebuah mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan.
Dhika sudah geram sejak tadi melihat Zefanya menghampiri Gian. Terlebih, Adipramana juga sudah bercerita kepada kedua putranya tentang kedatangan Tjokroatmodjo kala itu. Inilah yang membuat Dhika seolah tega sekali dengan Zefanya yang tak sadarkan diri di hadapannya dan Gian. Ada perasaan di benak Dhika yang berkata bahwa saat ini Zefanya hanya sedang berulah saja.
Gian akhirnya paham jika Dhika mencoba memberitahunya bahwa Zefanya tak datang sendiri namun diantarkan oleh sopir pribadinya. Gian pun kembali berdiri dan berjalan ke arah mobil tersebut. Benar saja, sopir Zefanya ada di dalam sana. Gian mengetuk pelan kaca mobil tersebut yang lalu dibuka oleh sang sopir, "tolong Nona mudanya diurusin. Dia tau-tau pingsan tuh. Gue enggak ada waktu untuk ngurusin ginian. Ngerti?"
Dengan wajah yang kebingungan dan suara yang tergagap pria di dalam mobil itu menjawab, "ba … baik, Tuan." Ia lalu buru-buru berjalan menghampiri Zefanya yang masih tergeletak di jalan.
Sementara Gian dan Dhika dengan santainya masuk dan menutup gerbang dan menguncinya. Tak lama kemudian mereka mendengar suara Zefanya.
"Arrrgh! Aku enggak akan nyerah ya, Gian. Liat aja nanti! Aku bakal dapetin kamu lagi!" Gadis itu pergi setelah meluapkan kemarahannya.