AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 67 - Malu!



Sebelum pukul 8:30 Amber dan teman-temannya sudah sampai di villa milik Adipramana. Villa dua lantai dengan desain modern minimalist tersebut berukuran tidak terlalu besar dan memang hanya berfungsi sebagai rumah liburan saja.


Halaman villa tersebut cukup luas dan dilengkapi dengan tembok serta gerbang yang tinggi. Ada juga sebuah area parkir yang cukup untuk menampung hingga 2 buah mobil.


Lantai 1 dari villa tersebut berdesain open-floor yang menggabungkan antara ruang tamu, ruang makan, dapur dan sebuah kamar mandi. Pada bagian belakang, terdapat sliding doors berbahan kaca yang menghubungkan bagian dalam villa dengan sebuah deck yang dilengkapi dengan pagar pembatas dan menghadap langsung ke pemandangan laut lepas yang walaupun terletak cukup jauh namun bisa terlihat jelas.


Di lantai 2, terdapat dua kamar tidur dengan ukuran yang sama. Masing-masing dari kamar tersebut dilengkapi dengan sebuah kamar mandi dan juga balkon kecil yang juga menyajikan pemandangan laut yang sama.


Semua orang larut dalam suasana gembira, merasakan hembusan angin laut di pagi hari yang terasa sangat menyejukkan jiwa dan raga. Amber pun juga merasakan kesejukan yang sama. Setelah tidur di sepanjang perjalanan, ia tak lagi merasa mengantuk.


"Enak tidurnya, Dek?" Egidia bertanya namun dengan nada yang seperti menggoda. Belum lagi senyum yang mencurigakan yang tersungging di bibir Egidia.


"Lumayan, Kak. Udah segeran sekarang," Amber yang sedikit heran menjawab dengan ragu.


"Kayanya lo lebih nyenyak kalau tidur pake guling ya, Mber?" Bimo pun ikut bertanya, disusul dengan tawa kecil Egidia dan Charemon.


Hanya Gian saja yang tak nampak tertawa. Sebaliknya, ia nampak kikuk dan seolah mengindari kontak mata dengan Amber.


"Pada kenapa sih?" batin Amber sambil melihat satu per satu dari teman-temannya itu.


"Mmm … iya?" walaupun ragu Amber tetap dengan polosnya menjawab pertanyaan Bimo.


Ketiga temannya itu pun kembali tertawa. Lebih keras kini.


"Jangan pada resek deh," Gian akhirnya bersuara sambil membuka pintu utama villa itu, sementara yang lain masih terkekeh sambil menurunkan barang bawaan dari mobil.


Tentu saja, jawaban Gian itu membuat Amber semakin bingung. Terlebih, walaupun Gian terlihat kesal, wajahnya memerah seperti orang yang sedang merasa malu.


"Ada apaan sih, Kak?" Amber yang semakin penasaran pun akhirnya berbisik dan bertanya pada Egidia.


"Hihihi … Entar abis kelar beres-beres gue kasih tau," jawab Egidia singkat.


Semuanya pun kembali memasukkan barang-barang ke villa. Makanan ringan, minuman, serta bahan masakan yang sudah mereka beli sebelumnya ditata rapi di area dapur. Sebagian dimasukkan ke dalam lemari pendingin supaya tak cepat rusak.


Setelah itu, masing-masing dari mereka membawa barang-barang pribadi mereka ke kamar tidur. Gian dan Bimo menempati satu kamar sedangkan para gadis di kamar yang lain.


"Kak Egi, yang tadi itu apaan?" Amber masih saja memburu jawaban dari Egidia. Egidia malah menoleh ke Charemon dan mereka lalu tertawa bersama.


"Iiiiih … ini pada kenapa sih aku nggak dikasih tahu," rengek Amber. Bibirnya mengerucut.


"Kasih tau nggak, Dek?" tanya Egidia pada Charemon.


"Kasih tau aja, Kak. Mau ngambek tuh dia," Charemon menjawab dengan geli.


Egidia pun bangkit dari duduknya lalu meraih kamera digital miliknya. Dinyalakannya kamera tersebut lalu ia mencari sesuatu di sana.


"Kak Egi kok malah ngambil kamera sih? Jangan-jangan mukaku jelek banget tadi pas tidur terus difoto sama Kak Egi. Aaaa!" Amber berpikir sesukanya sendiri.


"Nih liat, Dek." Egidia menyodorkan kamera tersebut kepada Amber supaya ia bisa melihat foto pada bagian layarnya.


"Aaaaaaa!" Amber berteriak dengan kerasnya setelah melihat fotonya yang sedang memeluk Gian saat ia tidur di mobil tadi.


"Kok bisa gini? Kok aku nggak dibangunin sih?" Amber merasa malu sekali. Pantas saja tadi wajah Gian terlihat aneh.


"Lah? Lo sendiri yang tidur pules banget udah kaya orang mati. Meluk Kak Gian lama banget gitu masa nggak nyadar?" Charemon masih saja terkekeh jika melihat lagi foto sahabatnya itu.


"Aku kan tidur. Mana aku tau!" protes Amber.


"Beneran, Kak Egiiiii. Itu fotonya dihapus aja dong, Kak. Pleaseee," Amber memohon pada Egidia.


"Enak aja! Nggak usah, Kak. Lucu tauk buat kenang-kenangan," malah Charemon yang menjawab.


"Malu! Aaaaaa!!" Amber kembali berteriak.


"Ish … Nggak usah malu kali. Nggak ada foto juga tadi udah pada liat kelakuan lo pas tidur," Egidia tertawa melihat tingkah lucu Amber.


"Udah ah. Ayok ke bawah. Kita masak buat makan siang," ajak Charemon.


"Nggak mau! Aku nggak mau ke bawah!" jawab Amber yang masih tenggelam dalam perasaan malunya dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal di atas tempat tidur.


Sambil terus terkekeh, Egidia dan Charemon pun meninggalkan Amber dan menuju ke lantai bawah. Karena sudah menjelang siang, mereka harus segera masak sesuai dengan rencana.


"Amber mana?" tanya Gian yang hanya melihat kedua gadis itu turun dari lantai 2 tanpa Amber bersama mereka.


"Ahahaha … Dia nggak mau turun noh," jawab Egidia.


"Kenapa deh?" tanya Bimo.


"Malu dia, Kak. Abis liat foto yang tadi," jawab Charemon sambil menyiapkan bahan-bahan masakan. Dia yang menjadi penanggung jawab utama soal masak-memasak karena memang dialah yang mempunyai kemampuan masak lebih baik dibandingkan yang lain.


Gian pun sebenarnya sama malunya dipeluk begitu erat oleh Amber. Ia senang namun juga tak mau Amber berpikir bahwa ia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia sudah berusaha melepaskan diri, namun pelukan Amber semakin erat tadi.


"Hadeeeh," Gian berkata sambil menghela napasnya.


Ia lalu berjalan menuju ke lantai 2 untuk menemui Amber. Dilihatnya Amber masih berbaring diatas tempat tidur.


"Heh. Ayo turun. Egi sama Momon udah mulai masak tuh," kata Gian, berusaha memecah rasa canggung di antara mereka berdua.


"Nggak mau!" suara Amber terbenam di dalam bantal.


Melihat tingkah Amber yang seperti ini Gian malah menjadi semakin gemas. Ia lalu mendekat ke arah Amber dan berusaha menarik bantal yang menutupi wajah manis gadis itu.


"Nggak mau!" jawab Amber yang malah semakin erat memegang bantal tersebut. Kebiasaan tidurnya yang selalu bergerak ke sana kemari membuatnya sungguh merasa malu di hadapan Gian.


"Hiiiih! Ngeyel banget sih ni bocah," Gian terus berusaha menarik bantal itu.


Amber malah menarik bantal itu semakin kencang, sementara Gian masih memegang salah satu ujungnya. Bantal itu terpental jauh ke lantai. Sedangkan Gian kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh tepat di atas Amber. Untung saja kedua tangannya langsung refleks menyangga tubuhnya sehingga ia tak benar-benar menimpa Amber.


Wajah Gian tepat sejajar dengan wajah Amber yang ada di bawahnya. Jarak yang sedekat itu kembali memicu detak jantung Gian. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Amber menyentuh kulit wajahnya.


Amber membuka perlahan matanya yang sedari tadi tertutup. Wajah Gian dekat sekali dengan wajahnya. Mata lelaki muda itu menatap dalam ke mata cokelat Amber. Sesaat keduanya terdiam dan larut dalam pacu detak jantung masing-masing.


Gian yang terlebih dahulu tersadar lalu bangkit dari posisinya. Sedangkan Amber masih tercengang akan apa yang baru saja terjadi. Ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Malunya terhadap kejadian di mobil tadi belum selesai, sekarang sudah muncul hal yang lain lagi.


Gian yang masih berdiri mematung menyadari hal tersebut. Ia tak ingin Amber merasa semakin malu atau malah tak nyaman berada di dekatnya.


Ia laku meraih kedua tangan Amber dan mengajaknya untuk berdiri. Kali ini Amber tak memberikan perlawanan sama sekali karena takut jika Gian malah akan terjatuh lagi menimpanya seperti tadi.


Saat mereka berdua sudah dalam posisi berdiri, Gian pun berkata, "nggak perlu malu, Amber. Aku suka kamu peluk."


Blush! Amber kembali merona. Ia tak mengucapkan apapun untuk menanggapi apa yang sudah Gian katakan. Sementara Gian, tersenyum melihat Amber yang menggemaskan seperti ini. Ia pun menggandeng tangannya dan mengajaknya menemui teman-teman di lantai 1.