AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 96 - Go Public?



"Ambeeeer! Gue kangeeeen!" teriak Charemon yang akhirnya bertemu lagi dengan Amber setelah selama akhir pekan mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Kemarin Jum'at juga ketemu. Tiap hari juga chat terus. Kangenmu gombal, Mon," celetuk Amber.


"Ih! Lo mah yang dikangenin Kak Gian terus. Ama gue udah enggak pernah kangen lagi. Huh!" Charemon memonyongkan mulutnya.


Bukannya menanggapi, Amber malah menyodorkan sebutir bakso yang ditusuknya dengan garpu kepada Charemon. Amber memang sedari tadi sudah berada di kantin. Rasa lapar akibat tak sempat sarapan tadi pagi membuatnya tak mampu untuk menunggu Charemon terlebih dahulu.


Walaupun cemberut, Charemon tetap saja melahap butiran bakso yang Amber sodorkan. Di kampus itu, siapa sih yang bisa menolak kelezatan bakso daging sapi asli buatan Pak Pri?


"Kak Gian enggak ke sini?" tanya Charemon sambil menusuk satu butir bakso yang masih tersisa di mangkuk Amber.


"Enggak tahu aku. Aku kan ke kantin karena janjian sama kamu. Tapi tadi udah bilang ke dia sih kalau aku mau ke sini. Mungkin bakalan nyusul dia," Amber menjawab sembari berdiri dan pergi menghampiri gerobak bakso Pak Pri yang memang biasa terparkir di antara deretan kios di kantin. Ia memesan dua mangkuk bakso lagi, untuknya dan Charemon.


Sambil mengunyah bakso di dalam mulutnya, Charemon mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mulai mengakses akun media sosial pribadinya. Bukan Charemon namanya jika ia tak rajin mengecek hal populer yang sedang terjadi di tanah air maupun dunia. Biasanya, ia akan heboh menanggapi jika memang ada yang menarik perhatiannya.


Amber kembali dengan dua mangkuk bakso yang ia bawa menggunakan nampan. "Makan yang banyak, Mon," katanya sambil menyodorkan satu mangkuk ke depan Charemon.


"Hmm," jawab Charemon sekenanya karena ia masih asyik dengan media sosialnya.


Amber pun kembali sibuk dengan ronde kedua makan siangnya. Di manapun ia berada, ia tak pernah ragu untuk makan banyak saat merasa lapar.


Di kejauhan nampak Gian yang datang bersama dengan Bimo. Egidia yang memang berbeda jurusan tak nampak bersama mereka. Kadang aneh rasanya melihat mereka tidak bertiga.


"Gian mau?" tanya Amber menawarkan bakso kepada Gian yang tengah menarik kursi ke sebelahnya.


"Pedes enggak?"


"Enggak," jawab Amber. Ia sudah hapal betul bahwa Gian tak bisa makan pedas.


"Aaaa …" Gian membuka lebar mulutnya, minta disuapi oleh Amber.


"Lo enggak mau nyuapin gue, Mon?" Bimo menyindir kemesraan Amber dan Gian.


"Dih! Ogah! Kak Bim beli sendiri sono!" Charemon menolak Bimo mentah-mentah.


"Nunggu disuapin sama Egi aja deh kalau gitu," kata Bimo sambil cemberut.


Panjang umur. Belum juga lama dibicarakan, Egidia sudah muncul dan mengacak-acak rambut Bimo yang sebenarnya memang sudah acak-acakan. "Bimooooo! Radar gue bilang kalau lo nyariin gue. Bener?"


"Iyaaaa," rengek Bimo. "Enggak ada yang mau nyuapin gue." Bimo memegang tangan Egidia lalu menyandarkan kepalanya di sana.


"Dih! Kalau itu mah gue juga ogah," sahut Egidia sembari berusaha menjauhkan kepala Bimo.


"Udah gue duga! Pada akhirnya tetep gue yang jadi obat nyamuk kan?" Charemon memicingkan matanya.


"Uhuk!" tiba-tiba Charemon tersedak.


"Eh! Maaf … maaf, Dek. Becanda doang!" Egidia langsung panik dan menyodorkan minuman pada Charemon.


"Bukan, Kak. Bukan karena Kak Egi, tapi karena ini!" kata Charemon sambil menyodorkan ponselnya kepada Egidia.


Bimo yang penasaran pun langsung melongok ke ponsel yang sedang dipandangi Egidia untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dilihat oleh Charemon. Wajah ketiganya langsung berubah drastis dan seolah serempak menatap ke arah Amber dan Gian.


"Pada kenapa sih lo?" tanya Gian heran.


"Iya. Apaan sih, Mon?" Amber pun tak kalah herannya.


Awalnya ragu, namun akhirnya Egidia menyerahkan ponsel Charemon kepada Gian. Secara bersamaan, Gian dan Amber melihat foto lama Zefanya dan Gian yang berdampingan dengan mesranya saat menghadiri salah satu acara musik bergengsi tahun lalu terpampang di layar ponsel tersebut. Yang lebih mengejutkan, Zefanya sendirilah yang menggunggah ulang foto tersebut di akun media sosial pribadinya dengan keterangan: How I miss this guy …


Suasana berubah seketika. Raut tak nyaman tergambar jelas di wajah Amber. "Semesta main-main lagi denganku nampaknya. Baru tempo hari aku ngomongin dia sama Gian. Why it feels like I was the one who summoned her?" batin Amber merasa menyesal seketika. Padahal walau ia tak membicarakan Zefanya dengan Gian pun tidak akan menjamin Zefanya tidak akan mengunggah foto itu.


"It has nothing to do with me, okay?" kata Gian. Ia tak ingin ada salah paham lagi antara dia dan Amber. Lagipula, Gian memang sudah sejak lama menghapus semua foto kebersamaannya bersama Zefanya yang pernah ia unggah di media sosial. Bahkan semua koleksi foto yang tidak ia unggah pun sudah ia musnahkan karena merasa sangat kecewa dengan perselingkuhan mantan kekasihnya itu.


"I know," jawab Amber singkat. Ia sudah tak melanjutkan makannya karena seketika tak berselera.


"Mantan lo kenapa sih, Bro? Aneh-aneh aja tingkahnya." ujar Bimo.


"Enggak tau gue, Bim," jawab Gian.


"Padahal lo udah enggak ada komunikasi sama sekali kan?" Egidia penasaran.


"Enggak lah! Ngapain juga!" jawab Gian dengan kesal.


"Kalau kayak gini orang bisa salah kira lho, Kak Gian. Liat aja itu komen-komennya. Mana yang ngelike banyak banget. Pantes aja fotonya mencuat."


Perkataan Charemon tersebut membuat Amber tergoda untuk melihat-lihat komentar yang orang berikan mengenai foto tersebut. Dari sekian banyak komentar yang ada, bisa dibilang sebagian besar berasal dari pendukung pasangan Zefanya dan Giandra yang ternyata mempunyai sebutan 'Zegian'. Banyak dari mereka yang merindukan kebersamaan Zegian, menanyakan kelanjutan hubungan Zegian, mengatakan betapa serasinya Zegian, dan masih banyak lagi komentar yang lain.


Gian merebut ponsel itu dan mengembalikannya kepada Charemon. "Enggak usah bacain komentar, okay? Nanti kamu malah kepikiran sendiri," katanya sambil menggenggam tangan Amber.


"Iya ni. Cari muka doang deh kayaknya dia," celetuk Egidia dengan nada kesal. "Maksudnya apa cobak? Orang udah lama putus juga. Enggak tau malu banget sih!"


"Udah biarin aja, Gi. Yang penting enggak nyentil-nyentil gue," kata Gian.


"Enggak nyentil gimana sih, Gian? Jelas-jelas itu ada foto elo di sana!" Egidia semakin geram.


"Itu kan foto pribadi dia. Gue bisa apa? Kalau sampe harus berurusan lagi sama dia cuma gara-gara foto kayak gitu gue ogah. Males!" ujar Gian yang tentunya lebih memilih untuk tidak menggubris perbuatan Zefanya.


"Hiiiih! Kesel banget gue. Sumpah!" Egidia semakin kesal saja. "Emang kalian enggak ada rencana buat go public apa?"