AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 69 - Aaaaa!!



Petang ini, kelima anak muda itu sudah berkumpul di area deck belakang untuk mengadakan pesta barbeque alias bebakaran. Cuaca yang cerah dengan bintang yang mulai bermunculan memungkinkan mereka untuk mengadakan pesta kecil-kecilan itu di luar menggunakan sebuah barbecue grill yang memang selalu ada di villa itu.


Tentu saja, kali ini pun Charemon lah yang menjadi penanggung jawab utama urusan masak-memasak. Hanya saja, karena memasak dengan teknik barbecue cukup mudah dilakukan asalkan saus rahasianya sudah tersedia, Amber dan Egidia pun bisa ikut serta memanggang berbagai macam bahan makanan yang ada.


Daging sapi, ayam, sosis, jagung, bawang bombay, paprika, dan masih banyak lagi, semua sudah tersedia karena mereka sudah membeli semua bahan tersebut saat menuju ke villa ini tadi pagi. Dengan riang, Amber dan Egidia membolak-balikkan setiap bahan makananan yang mereka panggang di atas pemanggang. Sementara Charemon, sesekali mengoleskan saus rahasia buatannya sambil terus mengajari kedua gadis manis itu bagaimana cara memanggang yang tepat. Selain itu, Charemon juga menyiapkan sendiri mashed potato yang nantinya akan dinikmati bersama dengan semua hasil panggangan.


Aroma sedap menyeruak ke segala arah terbawa angin, mengundang suara keroncongan di perut siapa saja yang menghirupnya. Setelah semua bahan selesai dipanggang, kelima sahabat itu pun duduk melingkari sebuah meja bundar yang ada di area deck dan menikmati dengan lahap semua hidangan yang ada sambil bercengkrama.


Amber terdiam sambil terus mengunyah makanannya. Sama seperti yang sudah-sudah, Amber memang tak pernah malu-malu soal makan. Ia akan makan sebanyak yang ia mau kalau memang ia merasa lapar. Beruntungnya, sebanyak apapun makanan yang masuk tak pernah membuat tubuhnya membesar berlebihan.


Sambil menikmati potongan besar daging sapi yang terasa sempurna dengan saus rahasia buatan Charemon, Amber menatap ke arah Gian. Pikirannya masih menggaungkan apa yang Gian ucapkan tadi siang saat mereka berdua sedang mencuci piring.


"Emang bener ya apa yang selama ini Momon bilang kalau Gian suka sama aku? Kalau emang bener, kenapa tadi siang dia nggak bilang aja kalau yang dia sukai itu aku? Jangan-jangan memang bukan aku yang disukai sama Gian?!" batin Amber.


Di saat yang sama, mata Gian secara tak sengaja berpapasan dengan mata Amber yang sedari tadi menatapnya. Ia lalu menggoyangkan sedikit kepalanya sambil mengangkat kedua alisnya seolah bertanya kepada Amber 'kenapa?'. Amber hanya menjawab dengan gelengan kepala lalu melanjutkan kembali makannya, kali ini tanpa menatap Gian.


"Duh, Amber. Kenapa sih kamu sama sekali nggak ada pengalaman soal beginian? Pusing sendiri kan mikirin Gian terus?" katanya pada diri sendiri di dalam hati.


***


Tak butuh waktu lama untuk kelima sahabat itu menghabiskan seluruh makanan yang ada. Anak muda jika sudah dipertemukan dengan makanan bebakaran seperti ini, apalagi disertai dengan obrolan yang mengasyikkan, memang bisa jadi lahap sekali.


Sambil menyeruput es jeruk nipis manis buatan Charemon, Bimo tiba-tiba menyeletuk, "kalian percaya sama yang namanya hantu nggak?"


"Ih! Kak Bim apa-apaan sih. Malem gelap sepi gini malah ngomongin hantu," Charemon langsung menanggapi.


Amber dan Egidia nampak biasa saja. Entah hantu itu benar-benar ada atau tidak,yang pasti keduanya memiliki kemiripan. Mereka sama-sama tak pernah merasa ketakutan saat mendengar cerita hantu atau menonton film horor.


Berbeda dengan Gian. Diam-diam, topik ini adalah satu topik yang selalu Gian hindari. Ia tak suka segala sesuatu yang berbau hantu. Jika disuruh berkelahi ia tak akan ragu untuk maju apalagi jika itu adalah untuk membela kebenaran atau orang-orang yang ia sayangi. Namun, jika halnya berkaitan dengan hantu ia menyerah.


Sayangnya, situasinya agak rumit sekarang. Ia tak mungkin menunjukkan rasa takutnya karena ada Amber di sana. Semakin terasa rumit karena Amber tak nampak ketakutan mendengar celotehan Bimo soal hantu.


Akhirnya, Gian hanya terdiam walau jantungnya merasa berdebar. Perasaannya bahkan mulai mencurigai sekitarnya yang memang gelap dan sunyi. Terasa seolah-olah banyak yang mengawasi mereka berlima.


"Biasanya di deket pantai gini suka ada hantu loh," Bimo kembali melanjutkan ocehannya.


"Iya kah, Kak Bim?" walau tadi sempat memprotes, Charemon pada akhirnya tetap merasa penasaran.


Charemon menutup telinganya, namun sesekali juga membukanya supaya bisa mendengar jelas apa yang Bimo katakan. Ia adalah tipe orang yang penasaran dan suka menonton film horor walaupun berulang kali menutup mata dan telinganya sepanjang film diputar.


"Lo ada cerita hantu, Bim? Cerita gih buruan," celetuk Egidia.


Gian mulai panik. Ia tak mau mendengar cerita seram di tempat yang sesepi ini. Maka, ia pun beralasan, "nggak usah aneh-aneh deh, Bim. Entar ada yang nongol tau rasa lo."


"Hooooohohoho … Lo takut ya," Bimo menggoda Gian.


"Nggak lah! Ngapain?! Kasian noh entar cewek-cewek pada ketakutan," Gian kembali mencoba menutupi perasaan takutnya.


Sialnya, Amber malah menimpali, "nggak takut kok. Cepet Kak Bim cerita aku pengen denger."


Tak ada yang bisa Gian lakukan lagi. Mau tak mau, ia pun ikut mendengarkan cerita hantu yang Bimo sampaikan.


"Di sepanjang laut ini, ada rumor yang beredar, kalau sering terdengar nyanyian di malam hari, yang entah lagu apa itu dan entah siapa yang menyanyikannya," Bimo memulai ceritanya dengan suara yang diberat-beratkan supaya menambah kesan seram dalam cerita tersebut.


Semua mendengarkan cerita tersebut dengan seksama sambil terdiam, termasuk juga Gian. Angin dingin dan suara air laut yang memecah sunyi entah kenapa membuat suasana semakin mencekam.


"Konon katanya, orang yang imannya tak kuat dan mudah digoda bisa terhipnotis oleh suara nyanyian itu. Mereka bakal secara nggak sadar berjalan menuju ke pantai dan terus berjalan hingga menghilang di sunyinya air lautan. Katanya, kalau hal itu terjadi, itu pertanda penunggu laut sedang kesepian dan minta ditemani," Bimo kembali melanjutkan ceritanya.


"Aaaaaa!!"


Teriakan Gian itu diikuti oleh gelak tawa semua yang ada di sana, tak terkecuali Amber.


Gian yang merasa malu langsung menampar keras punggung Bimo dan berkata, "sial lo! Sepi-sepi jangan ngagetin. Bikin jantungan aja!"


"Aw! Hahahaha! Takut kan lo sama cerita gue?" walau kesakitan, Bimo masih saja bisa menertawai sahabatnya itu.


"Kagak! Kaget doang," Gian menimpali godaan Bimo dengan singkat.


Ia lalu berdiri dari duduknya dan hendak masuk ke dalam villa, ketika tiba-tiba terdengar suara gerbang depan dibuka dan tak lama setelahnya terdengar suara berdebam seolah gerbang itu kembali di tutup dengan keras.


Hal itu tentu saja membuat kelima sahabat itu serempak terdiam. Suasana seketika berubah mencekam. Siapa yang sudah membuka dan menutup gerbang dengan begitu keras malam-malam begini?


"Gian, bokap atau adek lo mau ke sini kah?" pertanyaan Egidia memecah keheningan.


"Nggak. Dhika baru ikut ayah ke luar kota," Gian menjawab lalu menelan ludahnya.


"Kak Bim sih pake acara cerita serem segala," Charemon yang padahal tadi asyik mendengarkan cerita Bimo, kini berbalik memberikan protes padanya.


"Mendingan lo cek deh, Gian. Ajak Bimo gih. Cewek-cewek biar sama gue aja di dalem," saran Egidia.


"Iya, ayok, Gian," ajak Bimo.


Walaupun takut setengah mati dan jantungnya berdebar kencang, mau tak mau Gian pergi bersama Bimo menuju ke halaman villa. Harga dirinya di depan Amber harus ia jaga.


Sementara itu, Egidia, Amber, dan Charemon juga ikut berjingkat-jingkat di dalam rumah. Mereka semua mengintip dari dekat pintu masuk utama villa itu.


Suasana malam yang sepi serta halaman villa yang cukup gelap membuat bulu kuduk Gian berdiri. Rasa merinding menjalar di seluruh tubuhnya.


"Gerbangnya kekunci tuh," bisik Bimo pada Gian setelah mereka berdua melihat bahwa gerbang depan villa masih dalam keadaan tergembok.


"Terus tadi itu suara apaan? Villa tetangga juga nggak mungkin, kan jauh?" Gian pun ikut berbisik heran. Jelas-jelas tadi ia mendengar suara gerbang yang dibuka dan ditutup.


Tiba-tiba, Bimo mendengar suara seperti orang bergumam, seperti sedang melantunkan lagu yang nada dan liriknya tidak ia ketahui. Sontak ia pun memegang lengan Gian. Dalam hati ia menyesal sudah mengarang cerita seram tadi.


"Lo denger nggak?" Bisik Bimo di dekat telinga Gian.


" Denger, Bim," jawab Gian singkat.


Keduanya pun langsung menyusurkan pandangan ke sekitar mereka, berharap menemukan sesuatu. Sampai tiba-tiba, mata Gian tertuju pada sosok berwarna putih di dekat area parkir mobil yang tak nampak begitu jelas karena minimnya penerangan.


Keringat dingin muncul membasahi seluruh tubuh Gian. Tangannya secara otomatis menyenggol-nyenggol Bimo, yang ternyata juga sudah melihat sosok yang sama. Tangan Bimo pun kini mulai bergetar.


"Sa … ssam … samperin kaga, Bim?" tanya Gian dengan suara bisikan yang terbata-bata.


Walaupun ragu, Bimo pun menjawab, "samperin. Siapa tau maling."


Apa yang dikatakan oleh Bimo memang ada benarnya. Karena itulah keduanya memutuskan untuk mendekati sosok itu dengan langkah perlahan. Semakin mereka mendekat suara nyanyian yang dilantunkan oleh sosok itu terdengar semakin jelas walau mereka berdua masih tetap belum mengetahui lagu apa itu sebenarnya.


Di saat mereka berdua sudah berjarak kurang lebih 2 meter dari tempat di mana sosok itu berada, tiba-tiba sosok itu menoleh ke arah keduanya, memperlihatkan wajah tua nan sendu yang seolah disoroti cahaya kebiruan yang membuatnya semakin terlihat menyeramkan.


"Aaaaaa!!" Gian yang ketakutan melihat sosok itu berteriak hingga ia terjatuh di tanah karena kedua lututnya tiba-tiba terasa lemas.


Sedangkan Bimo, ia sudah lari terbirit-birit menuju ke dalam villa meninggalkan Gian yang masih terpaku tak bisa bergerak.