
Tidur Gian sama sekali tak nyenyak semalam. Wajahnya kusut dan tubuhnya terasa lelah. Alam bawah sadarnya terus saja memikirkan pertemuan antara Amber dan Ayu yang jelas belum tuntas, bahkan mereka belum bisa dibilang sudah bertemu. Gian lalu melihat cincin berlian hitam yang gagal ia berikan sebagai kejutan ulang tahun untuk Amber. "Enggak bisa gini nih," gumamnya.
Pagi itu juga, Gian memutuskan untuk kembali mengunjungi toko Langit Senja. Ia masih belum tahu apa yang akan ia lakukan jika nanti tiba di sana. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang terus berkata bahwa ia harus kembali. Setibanya di sana Gian pun membuka pintu hingga terdengar suara bel berdenting pertanda ada pengunjung toko yang datang.
"Selamat pagi," teriak Ayu dari bagian belakang toko yang sepertinya merupakan dapur di mana kue-kue lezat Langit Senja dibuat. Saat menengok ke ruang toko, Ayu terlihat heran melihat Gian berdiri di sana, "bukankah kamu yang membeli kue di sini tempo hari?" rupanya Ayu masih mengingat wajah Gian.
"Ah… iya. Tante masih ingat?" tanya Gian berbasa-basi. "Kalau diliat-liat lagi, wajah Tante ini memang mirip dengan Amber," katanya di dalam hati ketika mengamati wajah Ayu.
"Tak sulit mengingat anak muda berwajah tampan sepertimu. Bahkan rasa-rasanya Tante pernah melihatmu di televisi," Ayu bercanda dengan ramahnya, berpikir bahwa Gian adalah benar-benar penikmat kue buatannya. "Mau cari apa? Semua kue baru saja Tante buat pagi ini. Masih fresh." Sebuah senyumah hangat menghiasi wajah Ayu. Senyuman yang memang biasa ia layangkan kepada setiap pembelinya.
Gian hanya tersenyum saja. Ia belum mau identitasnya terkuak karena khawatir jika Ayu malah akan menghindar atau bahkan menghilang lagi. "Kue yang waktu itu masih ada, Tante?" Gian menanyakan chocolate-ginger cake yang kemarin ia beli untuk Amber. Ia tak tahu harus bagaimana menggali informasi yang ia butuhkan untuk memecahkan teka-teki tentang Ayu dan berujung berpura-pura membeli kue.
"Kamu beruntung, Nak. Itu kuenya masih ada," Ayu menunjuk salah satu display di tokonya. "Baru saja Tante buat tadi. Walaupun terkesan sederhana kue itu banyak penyukanya. Kamu datang pagi-pagi sekali jadi masih kebagian. Kalau siang mungkin sudah tidak ada." Tawa kecil mengakhiri perkataan Ayu.
"Kalau gitu aku mau yang itu satu ya, Tante," kata Gian.
"Kamu jauh-jauh datang ke sini cuma buat beli kue itu?" tanya Ayu sambil memasukkan kue yang Gian pesan ke dalam kotak.
Gian sedikit kaget. "Ah… iya, aku suka rasa kuenya," jawab Gian. "Tapi, dari mana Tante tau kalau aku dari jauh?"
Ayu pun terkekeh. "Mana ada orang sekitar sini yang punya mobil semewah itu, Nak. Bahkan, mobil seperti itu juga sangat jarang sekali lewat sini," begitu penjelasannya.
"Tante pinter nebak," jawab Gian dengan jujur. Ia cukup terkejut bahwa Ayu sampai memperhatikan hal semacam ini.
"Tante seneng kalau ada yang suka sama kue ini. Bagi Tante, kue ini sangat berarti," tanpa diminta, Ayu bercerita. Ada semburat kesedihan di matanya saat mengatakan semua itu. "Terima kasih kamu udah kembali cuma untuk beli kue ini."
"Jadi itu alasan kemarin Tante bilang cuma jual kue ulang tahun jenis yang itu di minggu terakhir Desember?" Gian mencoba memecahkan teka-teki yang masih berputar di kepalanya.
"Ya, bisa dibilang begitu. Biasanya Tante sediain macem-macem kue ulang tahun. Tapi khusus seminggu terakhir di tiap bulan Desember Tante cuma buat ini aja. Kapan-kapan cobalah yang lain," ujar Ayu.
"Okay, Tante."
"Anaknya Tante?" Gian tak bisa lagi menahan dirinya. Rasa ingin tahunya harus terpenuhi hari ini juga.
"Ahahaha … Bukan. Tante sudah terlalu tua untuk punya anak sekecil ini," jawab Ayu, yang kemudian meraih bocah itu ke dalam gendongannya. Setelahnya ia menyerahkan kue yang sudah selesai ia bungkus kepada Gian. "Ini Rio, anak tetangga Tante. Sejak kecil dia suka main ke sini dan kebiasaan manggil 'bunda' ke Tante."
"Kalau Tante sendiri punya anak enggak?" Gian sengaja bertanya sambil mengulurkan uang untuk membayar kue yang ia beli. Ia tak tahan dengan misteri yang masih mengisi penuh kepalanya.
"Punya. Satu anak gadis. Tapi enggak di sini. Tante di sini cuma tinggal berdua sama temen baik Tante aja," jawab Ayu.
"Kalau boleh tahu, anak tante ada di mana memangnya?" Gian semakin memburu namun tetap berusaha supaya ia tidak terlalu kentara.
"Tante juga belum tahu. Tante masih cari dia," jawab Ayu. Wajahnya berubah sedih, namun secepatnya ia hapuskan, mungkin ia merasa tak enak karena ada pelanggan di sana.
"Maaf ya, Tante. Aku malah jadi banyak tanya," kata Gian. Di dalam hati, pemuda ini merasa senang sekali karena jawaban yang ia cari sudah semua ada di dalam genggamannya. Ia merasa bahwa ia tak perlu bertanya lagi. Ia takut jika hal itu malah akan membuat Ayu larut dalam kesedihan.
"Eh … Enggak papa. Kan Tante sendiri yang cerita," kata Ayu.
"Semoga Tante cepet ketemu sama anak perempuan Tante ya," kata Gian menyemangati.
"Iya. Amin!" jawab Ayu dengan mantap, seolah itu benar-benar doa dan harapan yang ia panjatkan. "Kamu sering-sering ke sini, Nak. Kalau suatu saat Tante udah ketemu sama anak gadis Tante biar Tante kenalin ke kamu. Siapa tahu kalian berjodoh," Ayu memilih untuk kembali ceria dan bercanda dengan pengunjung tokonya seperti biasa. Di daerah itu, Ayu memang terkenal sebagai seorang pembuat kue yang sangat ramah.
Gian terkekeh mendengar candaan Ayu barusan. Ia merasa lucu karena sebenarnya memang anak perempuan Ayu satu-satunya sudah menjadi kekasih hatinya. Tak banyak yang bisa Gian katakan sehingga ia hanya bisa menjawab, "Tante bisa aja."
"Terima kasih ya udah beli kue buatan Tante," kata Ayu.
"Iya, Tante. Aku pamit," kata Gian sembari menjabat tangan Ayu.
"Jangan lupa kapan-kapan ke sini lagi," kata Ayu.
"Pasti, Tante. Aku pasti ke sini lagi," jawab Gian. Tanpa Ayu minta pun, ia memang punya alasan yang kuat untuk kembali ke toko kue Langit Senja. Ia pun lalu pulang dengan perasaan hati yang sangat berbeda dengan kemarin. Ia merasa lega sekali karena sudah mengikuti kata hatinya untuk kembali mengunjungi toko Langit Senja.