
Gian sedari tadi nampak salah tingkah. Ia sampai duduk di kursi teras depan, menunggu kehadiran Amber dan Tarachandra.
Walaupun penasaran setengah mati, ia sama sekali tak mengirim pesan kepada Amber untuk menanyakan kapan ia akan tiba di rumah ayahnya. Meskipun begitu, sesekali ia menatap layar ponselnya, berharap ada pesan dari Amber di sana. Sayangnya tidak ada.
Saat ia sedang asyik mengutak-ngatik ponselnya, terdengar suara suara sebuah mobil berhenti di depan gerbang kediaman Adipramana. Saat Gian melihat Tisna akan membukakan gerbang, ia pun bergegas mencegahnya, "biar gue aja, Kang Tis." Tisna pun dibuat heran dengan kelakuan tuan mudanya yang tak biasa itu.
Benar saja. Ketika Gian membukakan gerbang, tampak mobil Tarachandra yang kemarin ia lihat sudah tiba di sana. Nampaknya, kedatangannya kali ini diantarkan oleh sang supir setia, Pak No.
Gian pun langsung memberi aba-aba kepadanya supaya memasukkan mobil tersebut di area khusus parkir yang tersedia di halaman rumah yang bagian luarnya didominasi oleh warna abu-abu gelap yang membuatnya malah terlihat seperti sebuah kastil.
Desain rumah yang berlantai 3 dengan tambahan basement yang berfungsi sebagai studio musik dan rekaman itu nampak menjulang tinggi, menarik perhatian siapa saja yang baru pertama kali datang ke sana dengan pesona akulturasi desain Eropa klasik dan Jawa. Hal yang sama pun terjadi pada Amber yang sebenarnya sedikit gugup akan bertemu dengan Adipramana untuk pertama kali. Bukan karena ia tertarik pada tampilan visual sang maestro,namun karena ia memang menyukai setiap lagu ciptaan Adipramana, terutama lagu-lagu yang terlahir di tahun 90an.
Andai saja Tarachandra sudah mengatakan sejak dulu bahwa ia bersahabat dengan Adipramana, mungkin Amber sudah bertemu dengan orang yang ia kagumi itu sejak lama. Namun entah, informasi tentang persahabatannya dengan Adipramana terlewat begitu saja karena kesibukan masing-masing Tarachandra dan Amber.
"Lho, kamu kok di sini, Gian? Kata ayah di telpon kemarin kamu udah punya rumah sendiri?" tanya Tarachandra yang turun dari mobil setelah Gian membukakan pintunya. Amber pun terlihat ikut turun dari pintu di sisi mobil yang lain.
"Semalem aku nginep di sini, Om, yang deketan. Keburu ngantuk soalnya," Gian pun beralasan.
"Hei," lanjutnya lagi menyapa Amber sambil menepuk pelan puncak kepalanya.
Entah mengapa Amber sekarang merasa seperti mengalami apa yang Charemon pernah alami saat bertatap muka langsung dengan Tarachandra di rumahnya kala itu. Bedanya, rasa gugup Amber membuatnya tak banyak bicara.
"Ayo masuk, Om. Aku panggilin ayah," Gian mengajak Tarachandra dan Amber untuk duduk di sebuah ruang tamu besar di lantai 1 yang juga berfungsi sebagai ruang tamu kantor manajemen musik ayahnya. Ia pun lalu beranjak ke dalam untuk memanggil sang ayah.
Tak lama setelahnya, sosok yang menjadi alasan kegugupan Amber pun muncul. Ia langsung menyapa Tarachandra dengan sangat bersahabat, "Tara, lama sekali nggak ketemu."
"6 tahun, Di … 6 tahun," Tarachandra menyambut pelukan sahabatnya lalu memberinya tepukan di bagian punggung.
"Ini Amber?" Adipramana lalu beralih pada Amber yang sedari tadi hanya berdiri mematung tanpa bicara.
Ia lalu menjabat tangan Adipramana dan memperkenalkan diri, "Amber, Om."
"Om udah temenan lama sama ayah kamu tapi baru pertama kali ini ketemu kamu. Malah Gian yang udah ketemu kamu duluan, kan?" kata Adipramana sambil menepuk pelan kepala Amber, yang entah kenapa mengingatkan Amber pada kebiasaan yang biasa Gian lakukan saat bertemu dengannya.
"Iya, Om. Gian satu angkatan di atasku. Beda prodi tapi, Om," Amber masih berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Lho kamu ngambil prodi apa emangnya?" Adipramana pun terus berbicara dengan ramah walau ceplas-ceplos kepada Amber. Memang begitu pembawaannya.
"Aku ambil seni murni, Om," jawab Amber.
"Wah, bagus itu. Pas banget buat anaknya Tarachandra. Gian bukannya ngambil seni musik malah ngambil diskom. Katanya kalau cuma mau belajar musik gratis aja sama Om gitu," Adipramana mencoba mencairkan suasana dengan menjadikan Gian sebagai bahan candaan.
"Tapi emang bener gitu kan, Om? Aku aja suka banget sama lagu-lagu ciptaan Om
"Weleh, ngefans nih ceritanya?"goda Adipramana, membuat Amber hanya mampu menanggapinya dengan senyuman saja.
"Gian, ajak Amber keliling liat-liat sana. Ayah mau ngobrol banyak sama Om Tara di basement," lanjut Adipramana.
"Boleh, Sayang. Gih sana," jawab Tarachandra, yang lalu berdiri dan menuju ke studio Adipramana di basement untuk berbincang.
Gian pun lalu mengajak Amber berkeliling, terutama untuk melihat benda-benda antik koleksi yang ayah yang membuat satu ruangan besar di rumah itu terlihat lebih mirip dengan sebuah museum. Tak hanya ada benda-benda berbau musik di sana, namun juga yang berbau sejarah. Ada juga banyak koleksi buku yang ditata rapih di beberapa rak besar dan tinggi.
Setelah puas berkeliling, Gian pun mengajak Amber ke lantai dua supaya mereka bisa duduk dengan lebih nyaman di ruang keluarga. Sebelum sampai di sana, Gian mengajak Amber untuk mampir sebentar ke sebuah small open kitchen untuk mengambil cemilan dan minuman.
"Duduk sini," Gian menepuk tempat kosong di sebuah sofa berwarna abu-abu yang sudah duluan ia duduki.
Amber pun datang dan duduk di sebelah Gian. Ia lalu meneguk jus buah kalengan yang disediakan oleh Gian.
Gian lalu merubah posisi duduknya agar bisa menatap ke arah Amber. Tentu saja Gian merasa senang bisa bertemu lagi dengan Amber, padahal baru kemarin mereka menghabiskan waktu seharian bersama.
"Maaf kemaren aku malah ketiduran," kata Amber yang sudah terbiasa mengobrol dengan Gian.
"Nggak papa. Lo nggak bilang kalau abis begadang nugas. Kan bisa berangkat siangan ke pamerannya," ujar Gian sambil menyodorkan cemilan kepada Amber.
"Sengaja soalnya pengen dapet set siang buat foto kemaren," kata Amber sambil menerima cemilan dari Gian.
"Eh, aku inget sesuatu deh," kata Amber tiba-tiba.
"Apaan?" tanya Gian sambil tetap memakan cemilannya.
"Kemaren aku denger kamu cerita ke ayah soal cita-cita bikin clothing line. Kenapa meredup?" tanya Amber penasaran.
"Oh itu," Gian menegakkan duduknya dan tak lagi mengarah pada Amber.
"Sebenernya itu cita-cita gue bareng Zefanya," lanjutnya. Tak ada yang berubah dengan nada bicara Gian. Baginya, semua cerita tentang Zefanya adalah masa lalu yang tak lagi menyisakan rasa apapun di hatinya.
"Zefanya? Kayaknya aku pernah denger nama itu," Amber bertanya di dalam hatinya.
Gian yang tak tahu bahwa Amber pernah mendengar cerita tentang Zefanya dari Egidia lalu melanjutkan ceritanya, "Fanya itu mantan gue. Dia kuliah di Paris. Rencananya, saat kami sama-sama lulus kelak, kami bakal kolaborasi buat bikin clothing line. Itu juga yang jadi alasan kenapa gue kuliah di diskom. Gue pengen bisa menuangkan ide gue dalam sebuah desain dengan kemampuan gue sendiri."
"Terus kenapa nggak dilanjutin aja cita-citanya?" entah kenapa Amber masih ingin memuaskan rasa penasarannya.
"Nggak bisa lah, dodol," jawab Gian sambil mencubit pipi Amber hingga dia sedikit mengaduh.
"Kenapa?" lagi-lagi Amber bertanya.
"Gue udah putus. P.U.T.U.S," jelas Gian sambil menatap lekat ke mata Amber, seolah ia sangat ingin Amber mengetahui hal itu. Ia tak ingin Amber salah paham.
Mungkin Gian tak sepenuhnya salah. Ada sedikit perasaan yang tak biasa yang Amber rasakan saat mendengar dari mulut Gian sendiri bahwa Zefanya adalah mantan kekasihnya. Dan dari cerita Egidia kala itu, Amber tahu bahwa Gian pernah sangat mencintai Zefanya.
Entah mengapa hatinya malah bertanya apakah kini Gian masih menyimpan perasaan itu? Jika Zefanya sampai menjadi alasan dibalik cita-citanya, bukankah itu berarti dia adalah orang yang sangat berarti di hidup Gian?
"Kenapa rasanya seperti ini?" gumam Amber di dalam hatinya.