AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 109 - Kejutan Ulang Tahun Untuk Amber



Masih di bulan Desember. Ulang tahun Amber tinggal dua hari lagi. Berbeda dengan hari ulang tahun Gian yang dirayakan dengan sebuah pesta walau tidak direncanakan sebelumnya, ulang tahun Amber tidaklah dirayakan secara khusus. Amber bukan tipe gadis penyuka pesta. Itulah alasan mengapa setiap tahun pun ia tak pernah merayakan hari kelahirannya.


Tahun lalu, sebuah mobil mewah impian menjadi kejutan terbesar yang ia terima dari ayahnya. Tahun ini, entah kejutan apa yang akan ia terima dan entah datangnya dari siapa. Amber tak pernah mengharapkan hal semacam itu. Baginya hari ulang tahun sama seperti hari-hari lainnya.


"Maaf sekali, My Amber. Aku malah enggak bisa nemenin kamu di hari ulang tahun. Manajer aku udah terlanjur ambil job manggung," Gian menelepon Amber sebelum mereka pergi tidur. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa bersama Amber di hari ulang tahunnya nanti. Beberapa hari ini pun jadwalnya selalu padat.


"Beneran enggak papa, Gian. Aku emang enggak pernah ngerayain ulang tahun. Palingan cuma makan bareng aja sama Ayah," dengan santai Amber menjawab.


"Ya udah kalau gitu hari berikutnya aja ya aku main ke rumah. Siapa tau Om Tara ada waktu kita bisa pergi makan sama-sama," Gian menawarkan.


"Boleh. Nanti aku coba bilang sama Ayah ya," jawab Amber.


"Okay. Tidur gih, udah mau tengah malem," kata Gian.


"Masih kangen," Amber merengek. Memang sudah beberapa hari ia tak bertemu dengan Gian karena jadwal sang penyanyi yang sedang padat.


"Tidur. Bisa sakit nanti kalau bergadang terus. Besok pagi sebelum berangkat aku telpon lagi, okay?" Gian pun sebenarnya rindu dan mendengar suara Amber yang sedang manja seperti ini membuatnya ingin berlama-lama melanjutkan obrolannya.


"Janji ya?" kata Amber yang sebenarnya masih belum mau menutup teleponnya.


"Iya, janji. Udah sana tutup teleponnya," kata Gian.


"Mau chuuuu," bukannya menutup telepon, Amber malah semakin manja saja.


"Hiiiiih. Gemes tauk. Awas ya besok kalau ketemu," ancam Gian.


"Hiiii. Takuuut. Kabur ah. Bye, Gian. I love you," ucap Amber yang langsung menutup teleponnya tanpa menunggu balasan dari Gian terlebih dahulu.


"Dasar," gumam Gian, lalu terkekeh.


Sedari tadi Gian terus saja memainkan sebuah kotak hitam kecil saat sedang berbicara dengan Amber melalui sambungan telepon. Rupanya, pemuda itu sudah menyediakan hadiah khusus tanpa diketahui oleh kekasihnya.


Dibukanya kotak tersebut. Ia tersenyum lebar melihat cincin emas putih bertahtakan sebuah berlian hitam terduduk rapi di sana. Gian tak main-main. Cincin ini bukan hanya sebuah hadiah ulang tahun untuk kekasihnya semata. Benda berharga itu adalah wujud keseriusannya kepada Amber. Ia belum pernah seserius ini sebelumnya, bahkan dengan Zefanya yang dulu pernah selama lima tahun bersamanya.


Memang, usia Gian masih sangat muda, 20 tahun. Namun ia adalah lelaki setia yang dengan sungguh-sungguh mencintai Amber. Ia juga sudah mempunyai karier sukses sebagai penyanyi. Ia bahkan sedang berusaha untuk melanjutkan cita-citanya membangun clothing linenya sendiri dan berencana untuk mengajak Amber merintisnya bersama-sama kelak. Rumah, kendaraan dan tabungan, semua sudah ia miliki di usia yang semuda ini. Ini semualah yang mendorongnya berani untuk meminta Amber menjadi tunangannya di hari ulang tahunnya nanti. Semua sudah ia pertimbangkan dengan matang.


Gian pun sudah berdiskusi dengan sang ayah mengenai hal ini. Tentu saja, Adipramana sama sekali tidak menentang niatan baik putranya itu dan malah salut karena Gian memiliki pemikiran yang dewasa seperti itu. Terlebih, Amber adalah putri tunggal dari Tarachandra yang tak lain adalah sahabat baiknya.


Saat Gian mengutarakan niatnya, Adipramana sangat bahagia hingga ia menawarkan untuk menggelar pesta pertunangan keduanya, namun Gian menolak. Ia tahu Amber tidak menyukai hal-hal semacam itu. Karena itulah Gian hanya meminta restu kepada sang ayah dan tentunya nanti ia akan meminta ijin pula kepada Tarachandra jika saatnya sudah tiba nanti.


***


Pagi hari, sehari setelah ulang tahun Amber, Gian masih harus menyelesaikan satu job menyanyi lagi. Setelah selesai, Gian meminta pada manajernya untuk mampir ke sebuah toko kue yang tadi sempat ia lihat saat berangkat. Letaknya toko tersebut tak jauh dari lokasi ia menyanyi. Ia sebenarnya tak tahu menahu tentang toko itu sebelumnya apalagi tentang rasa kue yang dibuat di sana. Ia hanya tertarik dengan nama dari toko tersebut. "Hihihi … Pasti lucu kalau My Amber tau nama toko ini," gumam Gian di dalam hati.


Perjalanan yang jauh pun tak terasa melelahkan sama sekali bagi Gian. Hatinya sungguh merindukan Amber dan ingin segera bertemu.


Dengan bersemangat Amber menyambut Gian yang baru saja sampai diantar oleh manajernya yang kemudian langsung pamit pulang. Amber menghambur memeluk Gian untuk meluapkan rasa rindunya.


Gian menyambut Amber dengan sebuah kecupan di keningnya. "Happy birthday, My Amber," ucap Gian.


"Makasih, My Gian," Amber menjawab disertai senyuman, tanpa melepaskan pelukannya.


"Om Tara ada? Aku pengen nyapa sekalian ngajakin makan nanti," tanya Gian.


"Ayah enggak di rumah ternyata hari ini. Aku lupa bilang sama kamu. Ayah ngurusin workshop sama tim di tempatnya tante Ratih. Jadi kayaknya kita enggak bisa makan bareng hari ini," ujar Amber.


"Ya udah enggak papa. Coba liat kejutan yang aku bawa," kata Gian sambil mengangkat kotak kue yang ia bawa supaya Amber bisa melihat nama tokonya.


"Langit Senja?" gumam Amber.


"Aku beli karena nama tokonya bikin inget sama kamu. Tokonya cantik dan bersih juga. Kayaknya kuenya juga enak," kata Gian sambil berjalan bersama Amber menuju ke ruang tamu. "Tapi tadi ada yang aneh," lanjutnya.


"Aneh gimana?" tanya Amber penasaran. Ia lalu mengajak Gian untuk duduk.


"Cuma ada satu jenis kue ini aja yang dijual di sana. Pas aku tanyain ada yang lain atau enggak, yang punya toko bilang kalau tiap tahun, selama seminggu sebelum tahun baru dia hanya jual kue ini aja," Gian menceritakan pengalaman uniknya kepada Amber.


Cerita Gian memicu rasa penasaran dalam benak Amber. Perlahan ia membuka pita dan kotak kue tersebut. Matanya membelalak ketika melihat kue cokelat bertabur irisan almon panggang itu. Dari aroma yang tercium, jelas bahwa ini adalah chocolate-ginger cake. Amber lalu memotong kue tersebut dan cepat-cepat mencicipinya.


"Kamu beli kue ini di mana?" tanya Amber tiba-tiba. "Masih inget tempatnya?"


"Masih. Kenapa sih emangnya?" Gian heran karena Amber langsung berubah serius setelah melihat kue yang ia berikan.


"Anter aku ke sana sekarang," pinta Amber.


"Aku kan baru aja dari sana. Enggak besok aja?" tanya Gian.


"Kalau kamu capek aku aja yang nyetir. Kamu tinggal tunjukin jalannya." Amber masuk ke dalam untuk mengambil tas dan kunci mobilnya setelah mengatakan ini.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Gian. "Cerita dulu ke aku."


"Enggak ada waktu, Gian! Please! Anter aku ke sana sekarang!" tanpa sadar Amber malah membentak Gian.


Gian yang menangkap aura kepanikan dari Amber akhirnya menyetujui permintaan kekasihnya. "Okay, okay. Sini, biar aku aja yang nyetir."