
Charemon masih saja merasa khawatir akan hal-hal yang mungkin akan Amber alami setelah videonya melarikan diri bersama Gian tersebar luas di internet. Charemon yakin pasti akan terjadi sesuatu, walau ia belum tahu itu apa.
"Udah, stop khawatir sama hal yang nggak pasti kaya gitu, Mon. Mending kamu nemenin aku ngopi di Mang Dadang biar adem," ajak Amber sambil menepuk pelan kepala sahabatnya itu.
"Ayok ah. Pusing kepala gue. Lo malah santai-santai aja," Charemon gemas pada Amber yang tampak tak begitu mau menggubris kehebohan yang baru terjadi di sekitarnya.
"Entar juga mereda sendiri, Mon," Amber tersenyum saat mengatakan ini pada Charemon.
Mereka lalu lanjut berjalan menuju ke kantin tempat Mang Dadang berjualan kopi. Sesampainya di sana, keduanya seolah sepakat untuk memesan es kopi karena memang siang itu udara cukup panas.
Tak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan pesanan yang mereka inginkan. Mereka pun lalu duduk dan menghabiskan siang ini untuk mengobrol setelah sepanjang akhir pekan mereka tak bertemu.
Tiba-tiba, seorang gadis yang sedang berjalan di dekat Amber dan Charemon seolah kehilangan keseimbangannya.
"Eh … eh … eeeeh!" Gedubrak!
Ia pun terjatuh. Tapi tak hanya itu. Minuman dingin yang tadi ia bawa pun ikut tumpah dan isinya mengotori sepatu serta celana Amber pada bagian kaki kirinya.
"Heh! Ati-ati dong lo," Charemon yang sempat melihat gadis itu seperti sengaja melakukannya menjadi marah melihat apa yang menimpa sahabatnya.
"Mon, udah, Mon. Dia nggak sengaja," kata Amber yang enggan memperpanjang masalah dan mengundang perhatian.
"Iya, maaf. Gue nggak sengaja," kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasnya.
"Mau tisu?" katanya lagi kepada Amber.
Belum juga Amber menjawab, Charemon sudah menimpali duluan dengan ketus, "nggak usah, gue punya!"
"Sekali lagi maaf ya. Gue nggak sengaja," kata gadis itu lagi.
"Iya, nggak papa," jawab Amber singkat.
Gadis itu pun lalu pergi.
"Kok lo nggak marah sih? Keliatan banget kalau sengaja tauk!" Charemon masih saja merasa kesal.
"Males ribut-ribut, Mon," Amber menjawab sambil melihat celana dan sepatunya yang kotor. Kakinya pun terasa tak nyaman karena lengket.
"Aku bersihin bentar di toilet ya. Sini bagi tisunya," kata Amber sambil berdiri dari duduknya.
"Mau gue temenin nggak?" tanya Charemon.
"Nggak usah. Bentar doang kok. Nanti aku ke sini lagi. Titip tas ya," kata Amber sambil mulai melangkah menuju ke toilet yang letaknya tak jauh dari kantin.
Amber lalu masuk ke dalam salah satu bilik dan bermaksud untuk melepaskan sepatunya. Belum juga sempat ia melepaskan talinya, suara berisik terdengar dari arah pintu bilik yang ia gunakan. Amber pun secara reflek langsung mencoba membuka pintu tersebut. Terkunci!
"Hei! Buka!" teriaknya dari dalam bilik kamar mandi yang tembok bagian atasnya memang tak tersambung dengan langit-langit. Masih ada jarak sekitar 50cm di sana.
"Nggak lucu ya! Buka!" Amber kembali berteriak sambil terus mencoba membuka pintu itu.
Setelahnya, terdengar suara seorang gadis berbicara padanya, "makanya jadi cewek jangan kecentilan. Pake acara deket-deket sama Gian segala."
Sepertinya ada lebih dari satu orang di sana. Amber mendengar suara tawa kecil mereka.
"Jangan pengecut! Buka kalau berani!" Amber mencoba untuk memprovokasi supaya mereka membukakan pintu kamar mandi itu namun tak berhasil.
"Makan nih!" terdengar suara teriakan dari luar.
Amber menatap ke atas, dilihatnya sebuah ember sedang berusaha mereka naikkan supaya isinya tumpah ke dalam bilik kamar mandi.
"Heh! Jangan gila deh!" Amber kesal bercampur panik setelah menyadari hal apa yang akan menimpanya. Tak banyak yang bisa ia lakukan di ruangan sesempit itu.
Lalu … Byur! Air tumpah ruah membasahi Amber dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"****** lo!"
Setelah terdengar makian itu, suasana menjadi hening. Nampaknya, gadis-gadis itu sudah pergi meninggalkan Amber tanpa membukakan pintunya terlebih dahulu.
"Sial! Nggak bawa handphone. Manjat juga nggak mungkin," kata Amber kesal.
"Hoi! Siapapun! Tolong! Bukain!"
Amber terus berteriak. Ia juga terus berusaha untuk membuka pintu itu namun masih tak berhasil.
Ia menggedor pintu itu sekencangnya, berharap ada yang mendengarkannya.
Di saat yang sama, Gian sedang berjalan bersama Egidia dan Bimo. Mereka hendak pergi ke kantin.
Setelah tiba di dekat toilet, mereka jelas mendengar teriakan minta tolong dari dalam sana. Karena itu adalah toilet wanita, hanya Egidia yang bisa masuk, sementara Gian dan Bimo menunggu di luar dengan perasaan yang sungguh penasaran.
"Kak Egi?" Amber mengenali suara Egidia.
"Lho? Dek? Lo kenapa?!" Egidia langsung panik begitu tahu bahwa yang meminta tolong adalah Amber.
"Aku dikunciin, Kak. Nggak tau siapa. Tolong bukain, Kak Egi," kata Amber dari dalam bilik.
"Gue coba bukain, Dek."
Egidia mencoba membuka pintu itu namun gagal. Kunci yang harusnya digunakan tak ada di sana. Tak ada jalan lain, ia harus meminta tolong pada Gian dan Bimo.
"Gian, Amber!" Egidia hanya bisa berkata dengan singkat karena panik.
Mendengar nama Amber, Gian pun tak pikir panjang lagi. Cepat-cepat ia masuk ke dalam toilet yang seharusnya hanya boleh dimasuki oleh wanita saja itu.
"Amber?!" teriaknya.
"Di sini!" jawab Amber.
Gian pun langsung mencoba membuka pintu itu. Karena tak bisa ia langsung mencoba mendobraknya.
"Bantuin, Bim," Egidia menyuruh Bimo untuk membantu Gian supaya pintu lekas terbuka. Dan benar, pintu terbuka.
Betapa kagetnya mereka bertiga mendapati Amber yang dalam keadaan benar-benar basah kuyub. Sedangkan Amber merasa sangat malu terlihat dalam keadaan seperti itu.
Gian menyadari bahwa pakaian dalam Amber sedikit terlihat. Air yang membasahi membuat kaos berwarna biru muda yang Amber kenakan sedikit menerawang. Dengan sigap, Gian membuka jaketnya dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Amber.
Ia lalu menuntun Amber keluar dari toilet itu. Lalu menyuruhnya duduk di pagar beton pendek yang memang ada di sepanjang koridor dan biasa dipakai mahasiswa untuk duduk dan mengobrol. Beberapa orang yang lalu lalang nampak heran dan bingung melihat Amber yang basah kuyub.
"Ya ampun, Dek. Lo kenapa?" tanya Egidia yang kini berjongkok di hadapan Amber.
"Tadi dari kantin, mau bersihin sepatu dan celana yang ketumpahan minuman, Kak. Tau-tau ada yang ngunci dari luar. Marah-marah bilang aku nggak boleh deket sama Gian. Terus aku disiram air dari atas," Amber menceritakan semuanya.
Tangan Gian mengepal karena emosi. Kemarahannya langsung melonjak sampai ke ujung kepala.
"Cewek apa cowok?" tanyanya singkat sambil menahan amarah.
"Cewek," Amber menjawab sambil menerima tisu dari Egidia untuk mengelap wajahnya yang basah.
Mendengar hal itu membuat Gian semakin marah. Egidia menyadari hal itu lalu berkata ada Gian, "tahan. Sekarang yang penting kita bantu Amber dulu.
Amber sedikit kaget melihat Gian yang begitu marah. Belum pernah ia melihat wajahnya semarah ini.
" Tas lo di mana, Dek?" tanya Egidia.
"Di kantin, Kak. Sama Momon tadi," jawab Amber.
"Ya udah. Lo mending tunggu di sini aja, Dek. Biar gue yang ambil tas lo ya." Egidia langsung pergi menuju kantin untuk mengambil tas Amber.
Setelahnya, Gian duduk di sebelah Amber. Ia masih belum mengatakan apa-apa lagi. Wajahnya masih nampak menyimpan amarah. Bimo yang masih berdiri di sana pun jadi bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa dan akhirnya malah ikut terdiam.
Tak lama kemudian, Egidia datang bersama Charemon yang duluan berlari karena ingin segera menemui Amber.
"Kenapa lo begini, Amber? Siapa yang tega begini sama lo?" raut muka Charemon sangat sedih. Ia sudah mendengar semuanya dari Egidia. Dalam hati ia menyesal kenapa ia tadi tidak menemani Amber ke toilet.
"Aku nggak tau, Mon. Tau-tau ada yang ngunciin," kata Amber.
"Jangan-jangan cewek yang tadi pura-pura jatoh terus numpahin minumannya di kaki lo?" wajah Charemon berubah serius.
"Siapa?!" tanya Gian dengan nada tinggi.
Amber secara reflek memegang pergelangan tangan Gian, berharap ia bisa lebih tenang. Ia bisa merasakan kalau Gian masih dalam keadaan emosi saat ini. Jika asal menuduh, kemarahan Gian bisa salah sasaran. Gian malah bisa terkena masalah nanti.
"Ssshh … Jangan asal nuduh, Mon. Kita nggak punya bukti apa-apa," kata Amber.
"Lo kok nggak percaya sama gue sih, Amber. Dia itu tadi keliatan banget kalau sengajaaa," Charemon yang tadi memang melihat gelagat aneh dari gadis itu mencoba untuk meyakinkan Amber.
"Amber bener, Mon. Kalau kita salah nuduh malah runyam nanti," Egidia menimpali.
"Terus kita harus gimana dong, Kak Egiiiii?" Charemon pun bertambah bingung. Ia merasa tak terima akan apa yang barusan dialami oleh Amber.
"Kita selidiki dulu aja. Kalau emang ada yang nggak suka sama lo, baiknya lo dan kita semua lebih waspada, lebih jeli ngeliat sekitar, biar kita tau siapa-siapanya," Bimo yang sedari tadi diam dan berpikir akhirnya angkat bicara.
"Udah. Sekarang baiknya Amber pulang dulu aja, bisa sakit nanti. Momon biar balik bareng gue ama Bimo," kata Egidia.
"Sini, ikut gue dulu sebelum lo balik," Gian meraih tas Amber lalu menggandeng Amber menuju ke area parkir.