AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 92 - Terlambat Untuk Menyesal



"Pak Tarachandra! Tunggu sebentar!" dengan cepat Tomi mengejar Tarachandra yang sudah berada di luar ruang rektor bersama Amber.


Tarachandra pun berhenti, sementara Amber sudah berdiri di dekat Gian dan teman-temannya yang mendekat seketika melihatnya keluar ruangan. Mereka sungguh ingin tahu bagaimana kelanjutan kasus ini. Mereka semua berharap Amber mendapatkan keadilan.


"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang sudah terjadi, Pak. Sungguh saya tidak tau lagi bagaimana caranya minta maaf kepada Anda, Pak. Saya sungguh merasa malu atas kelakuan putri saya," ujar Tomi.


"Sudahlah, Pak Tomi. Tidak perlu dibahas panjang lebar lagi. Saya pikir apa yang saya katakan di dalam tadi sudah cukup jelas," dengan dingin Tarachandra menjawab.


"Paling tidak, ijinkan putri saya meminta maaf dengan benar kepada Anda dan terutama kepada Nak Amber, Pak," pinta Tomi.


Tarachandra tak mengatakan apapun untuk menanggapi permintaan Tomi tersebut. Namun, ia masih berdiri diam di sana, menunggu etiket baik Nadine.


"Nadine! Sini!" dengan nada tegas Tomi memanggil putrinya.


Dengan langkah enggan, Nadine menuruti perintah ayahnya.


"Kamu seharusnya malu! Lekas minta maaf dengan benar pada Amber dan Om Tara! Kenapa harus disuruh dulu?!"


Mata Nadine tertuju kepada Amber, lalu Gian. Semua di sana pun melihat ke arahnya. Malu yang begitu besar karena dipandang dengan tatapan menghakimi seperti itu menyeruak begitu hebat. "Pah, please, haruskah di sini? Can we do it somewhere else?" pintanya pelan.


"Masih bisa kamu berulah?! Apa kamu tahu Om Tara ini siapa?!" tingkah Nadine yang masih saja seenaknya sendiri membuat Tomi naik pitam. Ia sungguh merasa malu bukan kepalang di hadapan Tarachandra. "Dia adalah orang yang sudah menyelamatkan keluarga kita di saat perusahaan Papah hampir bangkrut! Show some respect, Nadine!"


Pernyataan Tomi sungguh membuat Nadine tercengang. Tak pernah sedikit pun terpikir olehnya bahwa Amber adalah anak dari orang yang sudah membuat keluarganya mampu untuk bertahan hidup di tengah kemelut yang tengah menerpa perusahaan Tomi kala itu.


Pikiran Nadine seakan otomatis terbawa ke masa lalu di mana segalanya berubah dalam waktu sekejap akibat perusahaan sang ayah yang terancam gulung tikar. Ia yang tadinya tinggal di sebuah rumah besar dengan fasilitas lengkap harus rela pindah ke rumah yang lebih kecil. Ia bahkan harus pindah sekolah karena orang tuanya sudah tak mampu membayar biaya di sekolah elite yang sebelumnya. Belum lagi pertengkaran yang terjadi setiap hari di antara kedua orang tuanya. Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Nadine.


Semuanya mulai berubah ketika seseorang memberikan pinjaman uang untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya. Tak hanya itu, orang tersebut juga menaruh uang pribadinya di perusahaan tersebut sehingga ia secara otomatis menjadi salah satu pemegang saham terbesar di sana. Sejak saat itu perusahaan tersebut kembali bangkit bahkan menjadi semakin sukses dari waktu ke waktu. Perubahan ini tentunya sangat disyukuri oleh Nadine, terlebih karena ia bisa kembali hidup tenang tanpa kekurangan lagi.


"Apa?! Kenapa Papah enggak pernah cerita ke Nadine?!" ucap Nadine. Ia tercengang dengan fakta yang baru saja diucapkan oleh ayahnya.


Keangkuhan Nadine yang selama ini ia pegang kuat hancur berhamburan. Begitupun dengan harga dirinya setelah tahu siapa Amber sebenarnya. Ia tak tahu lagi bagaimana ia akan menyembunyikan malunya. Yang paling menyakitkan adalah keberadaan Gian yang juga menyaksikan semua yang terjadi. Tatapan mata pemuda yang benar-benar ia sukai itu seolah jijik kepada dirinya. Nadine tahu, kali ini ia sudah benar-benar habis. Bahkan untuk sekedar berusaha mendekati Gian dengan cara yang benar pun ia sudah tak mempunyai kesempatan.


Tak mau menunggu lagi, Tarachandra mengajak Amber dan yang lain pergi dari sana, meninggalkan Nadine yang masih membisu.


"Papah sangat kecewa padamu, Nadine! Kalau sampai Om Tara mencabut sahamnya dari perusahaan Papah ini semua salah kamu!" Tomi mengatakan ini semua supaya Nadine sadar akan perbuatannya. Ia selama ini diam karena ia sangat menyayangi putri semata wayangnya. "Mulai sekarang hidup kamu Papah yang atur! Jangan lagi membantah! Secepatnya Papah akan atur kembali rencana awal untuk menjodohkan kamu dengan anak teman Papah! Harusnya kamu bersyukur ada pemuda yang menyukai kamu dan sama sekali enggak masalah dengan sifat manja dan boros kamu yang sering kali keterlaluan! Ini malah ngejar-ngejar pemuda yang udah punya kekasih. Harga diri kamu di mana?!" ucap Tomi dengan geram sambil kembali masuk ke ruang rektor untuk menyelesaikan masalah putrinya dengan pihak kampus.


Dengan gontai, Nadine mengekor dibelakang sang ayah. Ia tahu tak banyak yang bisa ia lakukan lagi jika sudah seperti ini. Pikirannya pun masih tenggelam dalam rasa bersalah yang mungkin tak akan pernah pergi seumur hidupnya. Apalagi, ia masih belum tahu apakah Amber mau memaafkan segala perbuatannya.


Sementara itu, Pak No sudah menyiapkan mobil di area drop-off di depan gedung rektorat untuk tuannya. Tarachandra pum sudah bersiap untuk kembali ke kediamannya.


"Yah, boleh aku pergi sama Gian?" Amber meminta ijin kepada Tarachandra.


Hal itu membuat Tarachandra tersenyum dan berkata, "boleh. Jangan lupa makan. Vitaminnya juga diminum, Okay?"


Amber menjawab dengan senyum lebar yang menghiasi wajah manisnya, "okay. Terima kasih, Ayah." Ia lalu melayangkan kecupan di pipi Tarachandra yang semakin membuat beberapa teman Amber yang ada di sana yakin bahwa ia memanglah putri sang maestro, sesuai dengan kabar yang akhir-akhir ini beredar.


"Ehem! Kita balik dulu ya, Amber," Egidia berdehem memberi kode kepada yang lain untuk memberikan ruang kepada dua sejoli yang nampaknya sangat saling merindukan setelah semua yang terjadi pada mereka.


Setelah mereka semua pergi, tinggallah Gian berdua dengan Amber. Gian mengecup tangan Amber yang sedari tadi ada di dalam genggamannya. "I miss My Amber."


"I miss My Gian too," kata Amber lembut. "Mau ke mana kita?" tanyanya kepada Gian.


Gian berpikir sejenak dan akhirnya tahu ia hendak mengajak Amber ke mana "Kamu udah pernah ke rumah ayah tapi sama sekali belum pernah ke rumahku. Ke sana aja ya?"


Detak jantung Amber otomatis terpacu setelah mendengar ajakan kekasihnya. "Rumah Gian?"