AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 26 - Egidia



Setelah kuliah umum selesai dilaksanakan tadi, Amber dan Charemon berpisah karena harus mengikuti jadwal kuliah selanjutnya. Ya, walaupun mereka berdua berada di fakultas yang sama, jadwal kuliah mereka tidaklah bersamaan. Terlebih, mereka juga berada di pembagian kelas yang berbeda.


Amber lalu bergegas mencari kelas di mana ia akan mengikuti kuliah selanjutnya. Karena belum begitu familiar dengan ruang-ruang kelas di kampus, ia mengalami kesulitan dalam menemukan tempat yang ia tuju.


Ya, sebenarnya ia bisa saja pergi ke sana bersama teman-teman yang sekelas dengannya. Hanya saja, setelah kuliah umum tadi ia terlalu asyik mengobrol dengan Charemon sehingga teman-temannya sudah pergi duluan.


Sudah hampir jam 09.00 sekarang. Seharusnya Amber sudah di kelas. Tiba-tiba …


"Nyari kelas ya, Dek?"


Seseorang menyapa Amber dari arah belakang. Ternyata ia adalah Egidia, teman dekat Gian. Amber sempat merasa ragu untuk menanggapinya, khawatir jika akan mengalami kesialan yang bertubi-tubi lagi seperti apa yang ia alami karena ulah Gian.


"Santai aja, gue nggak usil kaya Gian, kok," ujarnya sambil tersenyum.


Amber jadi ingat, di malam inagurasi Egidia juga pernah melambaikan tangannya pada Amber sambil tersenyum. Amber jadi berpikir lagi, jangan-jangan memang benar ia tak akan usil padanya seperti yang Gian lalukan.


"Mmm … iya, Kak," akhirnya Amber menjawab.


"Ruang berapa? Sini gue bantuin nyari," kata Egidia.


"3a, Kak," Amber hanya menjawab dengan singkat. Di dalam hatinya, ia merasa perlu mengenali Egidia lebih jauh lagi sebelum ia bisa benar-benar percaya.


"Lho, itu bukannya kelas Pengetahuan Seni? Udah ayok bareng aja," kata Egidia sembari mengajak Amber berjalan bersamanya.


Sesampainya di Ruang 3a, dosen sudah ada di sana dan kuliah akan segera di mulai. Egidia pun mengajak Amber bergegas untuk masuk.


"Egi, kamu ngapain masuk ke sini? Ngulang?" tanya dosen tersebut.


"Bukan, Pak. Cuma memperbaiki nilai," jawab Egidia dengan cengengesan dan mengusap-ngusap rambut pendeknya.


"Jangan ngajarin maba buat telat-telat ya kamu," kata dosen tersebut lagi, sambil melihat ke arah Amber yang sudah melipir duduk di barisan belakang ruang kelas yang dibuat dengan desain berundak itu.


"Siap, Pak!" Jawab Egidia dengan suara lantang dan tangan yang melakukan gerakan hormat.


Sontak itu membuat banyak mahasiswa di ruangan tersebut terbahak. Suasanya mulai hening kembali setelah dosen memulai penjelasannya mengenai mata kuliah Pengetahuan Seni.


Karena tempat duduk lain sudah penuh terisi, Egidia pun berjalan menuju ke arah Amber. Ia duduk di kursi kosong tepat di sebelah kiri Amber.


Amber lalu berbisik pelan padanya, "Kak, maaf. Gara-gara aku Kakak jadi kena omel tadi."


"Sans. Cuma gitu doang juga," kata Egidia yang lalu kembali fokus pada penjelasan dosen.


Jika dipikir-pikir lagi, selama ini Gian mengusili Amber sendirian. Tak pernah sekali pun Egidia atau Bimo ikut-ikutan. Sambil sedikit melirik ke arah Egidia, Amber berpikir ulang. Jangan-jangan Egidia memang tidak seusil Gian walaupun ia adalah teman dekatnya.


★★★


Mata kuliah Pengetahuan Seni sedah selelai pada pukul 10.55. Amber belum bisa pulang karena ingin menunggu Charemon yang masih ada satu mata kuliah lagi hingga pukul 11.55 nanti.


Sebenarnya, melalui pesan yang ia kirimkan ke Amber, Charemon menyuruhnya pulang duluan. Namun, Amber menolak. Ia malah bersedia menunggu sahabatnya itu.


"Masih ada kelas, Dek?" tanya Egidia saat mereka sudah sama-sama berada di luar Ruang 3a.


"Nggak, Kak. Cuma aku mau nungguin Momon. Dia masih ada 1 kelas lagi," jawab Amber yang mulai terbiasa dengan Egidia.


"Temen lo yang rambutnya panjang itu?" tanya Egidia.


Rambut panjang dan gaya cukup feminine yang membuat Charemon terlihat manis memang cukup mudah diingat oleh siapapun. Sedangkan Amber justru malah memiliki style yang sedikit serupa dengan Egidia yang membuat mereka terkesan lebih tomboy. Egidia bahkan memiliki rambut yang cukup pendek sehingga makin memperkuat kesan tersebut.


"Iya, Kak," jawab Amber.


"Gue temenin ya. Sambil nongki di kantin aja mau? Kopi buatan Mang Dadang top banget lho," Egidia dengan ramah mengajak Amber.


Secara tak langsung Egidia terkesan seperti akan memperkenalkan salah satu sudut kampus yang lain. Kantin.


Tawaran itu terdengar menarik di telinga Amber.


"Emang Kak Egi ga ada kelas lagi?" tanya Amber.


"Nggak ada. Udah yok cepetan. Pengen ngopi gue," Egidia lalu mulai beranjak dari tempat mereka berdiri, di susul oleh Amber.


Mereka berdua berjalan menuju kantin yang ternyata letaknya agak jauh. Melewati lorong-lorong gedung kampus juga beberapa ruang terbuka.


Di universitas ini memang ada 2 kantin. Satu yang Amber dan Egidia tuju saat ini adalah yang cukup populer di kalangan anak Fakultas Seni.


Ada beberapa kios tersedia di sana. Salah satunya adalah kios Mang Dadang yang khusus menyediakan kopi, mulai dari kopi bubuk racikan Mang Dadang sendiri hingga kopi shacet yang iklannya sering mondar-mandir di layar televisi.


"Lo ngopi, kan, Amber?" tanya Egidia.


"Iya, Kak," jawab Amber singkat.


Kesukaan Amber kepada minuman yang sering dianggap pahit oleh kebanyakan kaum hawa itu menurun dari Tarachandra. Bahkan, sesekali Amber juga menikmati kopi hitam panas tanpa gula yang merupakan kesukaan sang ayah.


"Cobain kopi spesialnya Mang Dadang ya," kata Egidia yang lalu langsung memesan dua kopi special kepada si pemilik kios.


"Siap Neng Egi!" jawab pria yang memakai ikat kepala bermotif batik itu.


Kantin itu dipenuhi dengan meja-meja bulat serta bangku-bangku kecil yang mengelilinginya. Setiap meja dipasangkan dengan kirang lebih 5 bangku. Namun, seringkali bangku-bangku tersebut berpindah entah kemana, terutama saat ada segerombolan mahasiswa yang memilih untuk menghabiskan waktu di satu area meja saja.


Saat Amber dan Egidia tiba di sana, suasana sedang tak begitu ramai. Karena itulah, tak sulit bagi mereka untuk mendapatkan spot yang paling nyaman.


Tak lama kemudian, kopi pesanan mereka sudah datang. Dua cangkir kopi hitam dengan aroma yang tak biasa.


Egidia lalu memberikan uang kepada Mang Dadang. Belum apa-apa Amber sudah ditraktir kopi oleh kakak tingkatnya itu.


"Cobain deh," tanpa membahas sedikit pun tentang uang kopi tadi.


Amber lalu menyeruput kopi panas tersebut setelah sebelumnya meniupnya sedikit.


"Jahe?" kata Amber spontan setelah mengecap rasa jahe yang hadir di dalam seduhan kopi tersebut.


"Dan kayu manis," tambah Egidia yang juga mulai menikmati secangkir kopinya.


Amber tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Dari mana kak Egi tau namaku?"


Kalau dipikir-pikir, Amber pun memang belum pernah berkenalan dengan Egidia. Ia mengetahui namanya waktu perkenanal panitia di acara inisiasi yang lalu. Tapi Egidia? Dari mana ia tahu nama Amber? Hal ini sungguh membuatnya penasaran.


"Oh, waktu itu Gian yang nanya ke pendamping kelompok lo," jawab Egidia dengan santainya.


"Gian?" tanya Amber heran.


Ia jadi teringat Gian yang menyebut nama lengkapnya kala itu. Ternyata informasi tersebut ia dapatkan dari Angga, pendamping kelompok Amber.


"Nggak tau tuh. Gian jadi aneh semenjak tempat parkirnya lo serobot," Egidia menanggapi pertanyaan Amber sambil terkekeh.


"Emang beneran itu spot parkir punya dia ya, Kak?" Amber berpikir mungkin Egidia tahu yang sebenarnya karena ia adalah teman Gian.


"Nggak lah, Dek. Itu dia aja yang resek. Lagian yang lain entah kenapa juga malah bikin mitos kalau itu spot parkir punyanya Gian. Makin resek deh jadinya," jelas Egidia.


"Tapi dia kayanya dendam banget gitu sama aku, Kak. Heran."


"Hahaha … nggak dendam kok, Dek. Aku udah temenan sama Gian bahkan sebelum kami kuliah di kampus ini," ujar Egidia yang tertawa melihat wajah cemberut Amber.


"Terus kenapa aku digangguin terus?" Amber masih tak paham.


"Kalau soal itu, kayanya cuma Tuhan yang tau, Amber," jawab Egidia lalu tertawa.


Di dalam hatinya Egidia pun masih menduga-duga. Sesungging senyum mengisyaratkan seolah ia tahu sesuatu.