
Gian dan Amber sudah selesai dengan makan siangnya. Tanpa disangka, makan siang bersama Amber ternyata bisa berjalan senatural ini, diselingi dengan beberapa obrolan tentang berbagai topik.
"Lo makannya banyak juga ya?" sifat usil Gian sesekali masih muncul setelah suasana semakin mencair di antara mereka berdua.
"Bukan banyak. Ini porsi pas tauk," sanggah Amber.
"Tau deh. Anak bongsor memang butuh banyak asupan energi biar nggak lemes," Gian usil berkomentar.
Memang, untuk ukuran seorang gadis berusia 18 tahun, Amber mempunyai pawakan yang tinggi semampai. Tinggi badannya pun kurang lebih 170cm, yang berarti berselisih sekitar 15cm dari Gian yang mempunyai tinggi badan 185cm.
"Gimana mau kuat hunting siang-siang gini kalau makannya cuma seipit," Amber pun kembali menanggapi.
"Iya …iya, yang baru semangat ngerjain tugas kuliah," tak hentinya Gian menggoda Amber.
"Tapi sebelum kuliah pun aku udah rajin hunting objek lho," Amber sedikit bercerita.
"Wih, udah jago dong motretnya? Tar gue liat," kata Gian sembari menggeser kursinya di sebelah kursi Amber.
"Ngapain pindah?" Amber bertanya dengan singkat.
"Dari tadi liat muka kamu terus, sekarang mau ganti pemandangan indah yang lain," Gian menyelipkan sesuatu yang lain dalam perkataannya.
"Apaan sih?" Amber malas menanggapi gombalan Gian.
Tak lama setelahnya, es krim stroberi yang Gian pesan sebagai hidangan penutup akhirnya tiba juga. Pelayan pun meletakkannya di depan Gian.
Gian lalu menggeser es krim tersebut ke hadapan Amber, "nih. Kamu suka stroberi, kan?"
Ada sesuatu yang terasa lain di hati Amber saat dia mendengar celetukan Gian barusan. Hal kecil seperti kesukaannya pada rasa buah stroberi saja diperhatikan oleh Gian. Padahal seingat Amber, ia tak pernah benar-benar mengatakan apapun soal kesukaannya itu. Ia hanya pernah dua kali memberikan energy bar rasa stroberi kepada Gian.
Amber pun lalu menyendok es krim tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa dingin dan juga segar langsung memenuhi mulutnya. Yang lebih terasa spesial, es krim ini nampaknya adalah produk homemade yang lengkap dengan potongan kecil buah stroberi di dalamnya. Ada sensasi rasa yang berbeda di dalamnya jika dibandingkan dengan es krim serupa yang tersedia di toko. Raut bahagia langsung tergambar dari wajah Amber.
Amber lalu menyendok lagi es krim itu. Kali ini ia menyodorkannya kepada Gian. Entah kenapa ia reflek melakukan itu. Ia ingin Gian juga ikut merasakan lezatnya es krim itu, yang sangat pas dinikmati di siang hari panas seperti saat ini.
"Cobain deh," kata Amber sambil memegang sesendok es krim di depan mulut Gian.
"Indirect kiss!" Entah kenapa malah hal itu yang terpikirkan oleh Gian di dalam kepalanya. Bagaimana pun, Gian adalah seorang pemuda berusia 19 tahun yang tentunya masih merasakan sensasi-sensasi seperti ini di kala ia tertarik dengan lawan jenisnya. Pipinya dibuat sedikit merona oleh ulah Amber ini.
Gian pun melahap sesendok es krim itu, "syukurlah rasanya benar-benar enak. Tempat rekomendasi Om Tara emang nggak salah," katanya dalam hati.
"Abisin gih. Bahagia banget mukanya dapet es krim enak," Gian tertawa kecil sambil menepuk pelan kepala Amber.
"Kenapa sih suka banget puk-puk kepalaku?" Amber bertanya sambil terus menyendokkan es krim tadi ke mulutnya sendiri.
"Suka aja. Nggak ada cewek lain yang gue puk-puk kepalanya selain lo, jadi nggak usah protes," Gian mengatakan itu sambil mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Amber.
Blush! Entah kenapa Amber merona karena perlakuan Gian. Ia langsung memalingkan wajahnya, berpura-pura kembali melihat pemandangan pegunungan yang menjadi saksi bisu tingkah dua sejoli itu.
Ia malah jadi teringat saat Gian melakukan hal yang serupa di malam inagurasi. Bedanya, kala itu Amber merasa sangat kesal pada Gian. Kali ini tidak terasa seperti itu.
***
Setelah selesai makan siang, Gian dan Amber pun pergi ke tempat yang ingin Amber kunjungi untuk hunting foto. Ternyata, tempat tersebut adalah sebuah pasar tradisional yang cukup besar dan buka selama 24 jam setiap harinya. Pasar itu cukup ramai dengan banyak pedagang dan pembeli yang tumpah ruah di dalamnya.
"Kok lu nggak bilang kalau mau ke pasar sih? Untung gue udah siap-siap," protes Gian yang masih saja duduk di balik kemudi.
"Hah? Siap-siap apaan?" tanya Amber tak mengerti.
"Lo mau gagal hunting gara-gara gue dikerumunin ibu-ibu di pasar?" Gian mencubit pipi Amber karna kesal. Ia mengambil sebuah masker kain hitam dan juga kacamata hitam dari kotak penyimpanan di dalam mobil lalu memakai keduanya.
"Ah … iya, maaf aku lupa," kata Amber yang kini telah paham akan maksud Gian.
Di matanya, Gian hanyalah seorang teman kampus, bukan seorang penyanyi terkenal. Berbeda dengan Amber yang walaupun adalah putri seorang pelukis kenamaan, namun wajahnya mungkin tak banyak dikenali orang kecuali memang mereka mengamati betul kehidupan para pelaku seni.
Gian adalah seorang penyanyi yang karya dan suaranya sudah dikenal oleh banyak orang dari berbagai kalangan di negri ini. Sangatlah mungkin baginya untuk menjadi pusat perhatian di tempat seramai ini.
"Nggak papa nih kalau kita tetep hunting di sini?" Amber hanya ingin memastikan.
"Udah nggak papa. Paling sejam juga kelar kan? Yok," Gian pun turun duluan dari mobil yang sudah ia parkirkan dengan rapi.
Walaupun merasa sedikit ragu untuk melanjutkan kegiatannya hari ini, akhirnya Amber pun mengikuti Gian keluar dari mobil itu dengan membawa serta kamera yang sedari tadi sudah ia set.
Selama memotret di pasar tradisional itu, Amber lah yang banyak berbicara, meminta ijin pada para pedagang dan pembeli yang akan ia ambil gambarnya untuk dijadikan objek hasil karyanya nanti. Ia juga sesekali berinteraksi dengan mereka, seperti yang selalu disarankan oleh sang ayah.
Sedangkan Gian, ia lebih banyak diam saat memotret. Tak bisa dipungkiri bahwa ia sedikit merasa was-was berada di tempat yang masih asing seperti ini. Bukan karena apa-apa, hanya saja suasana terkadang bisa jadi tak terkendali dan itu akan sangat merepotkan karena kali ini ia hanya berdua saja dengan Amber.
Sungguh sial. Ketakutan Gian malah terbukti. Saat Amber sedang sibuk memotret, ada dua orang wanita paruh baya yang kasak-kusuk. Tak lama kemudian salah satu diantara mereka mendekat dan bertanya sambil menyunggingkan senyum yang begitu merekah, "ya ampun, mas Giandra ya?
Suasana riuh pun mulai tercipta karena wanita tadi malah berteriak-teriak memberitahukan kepada semua orang, " Ada Giandra di sini! Waaaa!"
Beberapa orang mulai menoleh ke arah mereka, bahkan dari jauh nampak ada yang mulai berlari ke sana. Tentu saja hal ini membuat Gian dan Amber panik.
Secepatnya, Gian meraih tangan Amber, menggandengnya lalu berlari sekuatnya untuk menjauh dari kerumunan yang mulai terbentuk. Gian tak memikirkan hal lain. Yang terpikir olehnya adalah bagaimana supaya mereka berdua lekas sampai ke mobil.
Amber sempat menengok ke belakang. Beberapa orang masih ikut berlari, berusaha mengejar mereka.
Sesampainya di area parkir, Gian menyuruh Amber lekas masuk. Ia lalu merogoh selembar uang seratus-ribuan dari saku celananya dan cepat-cepat memberikannya kepada petugas parkir sambil berkata, "bantuin mobil gue keluar sekarang juga." Setelahnya, ia pun menyusul Amber masuk.
Bapak petugas parkir yang senang sekali mendapatkan uang parkir sebesar itu sontak menjawab, "rebes, Bos!"
Ia lalu memberikan aba-aba. Ia juga menyetop beberapa kendaraan yang melintas di jalan yang berada di dekat pasar sehingga mobil Gian bisa lewat dan menyebrang.
Setelah berhasil meloloskan mobil Gian, bapak petugas parkir itu terpaksa menerima omelan dari beberapa gadis dan wanita yang tadi mengejar Gian untuk mengajaknya berjabat tangan dan berfoto. Amber melihat pemandangan itu dari dalam mobil Gian yang semakin menjauh.
Ia pun tertawa lepas karena pengalaman yang sama sekali belum pernah ia alami seumur hidupnya itu. Walaupun kesal, Gian pun akhirnya ikut tertawa juga.