AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 77 - Kegalauan



Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 7 malam. Giandra yang sudah tiba di rumah sejak tadi setelah mengikuti rapat untuk persiapan pameran pun merasakan gelisah di dalam hatinya. Dilihatnya layar ponselnya berulang kali. Masih saja belum ada pesan atau panggilan telepon dari Amber.


"Enggak boleh chat atau telepon duluan! Jangan ganggu Amber nugas!" katanya pada diri sendiri di dalam hati walau sebenarnya ia sangat ingin mengetahui kabar kekasihnya saat ini. "Harus jadi cowok cool! Enggak boleh nyebelin! Harus percaya sama Amber!" batinnya lagi, mencoba menjaga gengsinya di mata Amber.


Sewaktu masih berpacaran dengan Zefanya dulu, Gian memang sangat aktif menanyakan kabar Zefanya termasuk tentang hal apa yang ia lakukan setiap harinya. Walaupun sama sekali tak melarang, Gian secara terang-terangan menunjukkan bahwa ia merasa tak nyaman jika Zefanya berinteraksi terlalu dekat dengan teman lelakinya. Pada akhirnya, Zefanya malah mengkhianatinya.


Gian berpikir bahwa mengekang, baik itu secara langsung maupun tidak, malah bisa berakibat buruk, bisa timbul perasaan ingin memberontak yang sering kali muncul bergitu saja tanpa disadari. Gian tak ingin kejadian yang sama terulang lagi saat ia kini sudah menjadi kekasih Amber. Karena itulah, ia berusaha sangat keras untuk menahan diri walau hati dan pikirannya dilanda kegalauan yang luar biasa.


"Ck!," sambil berdecak keras karena kesal, diusapnya dengan kasar rambutnya yang basah setelah ia keramasi, menggunakan sebuah handuk kecil berwarna abu-abu.


Dipikirannya, Gian masih teringat ada Andre yang ikut bersama dengan Amber tadi. Andai saja dulu saat mereka berkenalan untuk pertama kalinya Andre tidak terkesan seangkuh dan secuek itu, mungkin alam bawah sadar Gian tidak akan merasa bahwa pemuda itu adalah pesaingnya. Satu hal yang Gian tidak tahu, pembawaan Andre memanglah seperti itu, bahkan jika ia berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya.


Dhika yang tengah santai menonton televisi setelah penat mengerjakan tugas sekolahnya pun menyadari hal itu. "Kenapa lagi sih lo, Kak?" tanyanya sambil menikmati sebungkus keripik kentang rasa barbecue. "Amber kenapa?" Karena tak mendapatkan jawaban dari Gian, Dhika kembali bertanya.


Walaupun belum pernah bertemu dengan Amber sebelumnya, Dhika sudah mendengar cerita dari sang kakak bahwa ia telah resmi berpacaran dengan Amber. Tentu saja Dhika menyambut gembira berita ini. Ini tandanya Gian sudah benar-benar move on dari kisah cintanya yang kandas bersama Zefanya. Ia juga tahu Gian tak pernah sembarangan dalam memilih kekasih. Jadi, ia pun percaya pada pilihannya kini yang jatuh pada Amber.


"Ssstttt … Mau tau aja lo. Kerjain tugas sekolah sana!" Gian malah mengalihkan pembicaraan, tak mau ketahuan oleh Dhika bahwa ia sedang dilanda galau atau bahkan mungkin cemburu.


"Udah kelar dari tadi. Laper ni gue, Kak. Mau keluar cari makan atau pesen aja?" Dua anak bujang yang tinggal bersama itu tak pernah pusing soal makan. Jika tidak pergi untuk makan di luar, mereka pasti akan menggunakan jasa pesan antar makanan yang saat ini bisa dengan mudah diakses melalui ponsel pintar.


Mereka memang sengaja tidak mau mempekerjakan seorang asisten rumah tangga karena mereka sendiri lebih sering keluar rumah. Soal bersih-bersih, setiap beberapa hari sekali di saat Gian atau Dhika ada di rumah, Adipramana mengutus salah seorang asistennya untuk membersihkan rumah Gian tersebut.


"Pesen aja. Gue baru males keluar," jawab Gian sekenanya, dengan kedua mata yang masih lekat pada ponselnya.


"Ya udah sini gue aja yang pesenin. Lo mau makan apaan?" tanya Dhika sambil melihat-lihat berbagai jenis makanan yang penjualnya memang sudah terhubung dengan aplikasi jasa pesan antar yang biasa Dhika gunakan.


"Terserah lo aja deh. Pesen semua yang lo mau. Buat gue asal jangan pedes aja," jawab Gian.


"Asiiik," celetuk Dhika sambil tersenyum senang. Ia kadang memang menjadi adik yang usil. Kali ini, ia memanfaatkan kegalauan Gian untuk bisa berfoya-foya menikmati makan malam yang tentunya Gian yang akan membayarnya.


***


Sekitar pukul 8:30 malam, ponsel Gian berdering. Ia yang tadinya masih duduk santai di sofa setelah menikmati makan malam bersama Dhika pun bergerak secepat kilat untuk meraih ponsel tersebut dan berlalu menuju ke kamarnya. Benar saja, nama Amber tertera di layarnya.


"Halo," sapa Gian sambil menjaga nada bicaranya supaya tak terkesan tergesa-gesa. Hatinya merasa tenang karena akhirnya Amber menghubunginya. Entah kenapa waktu lima setengah jam terasa sangat lama baginya.


"Hey, baru ngapain?" suara manis Amber seolah mengguyurkan air segar di kepala Gian yang sedari tadi terasa panas karena terlalu kencang dalam berpikir.


"Udah. Tadi makan bareng sama anak-anak abis itu baru pulang," Amber pun bercerita.


"Makan bareng? Berarti sama Andre juga dong?" batin Gian, kembali merasa terusik. Tentu saja ia tak mau menanyakan hal ini kepada Amber. Ia tak ingin terkesan terlalu cemburuan.


"Dapet berapa sketsa yang kelar?" Gian menepiskan pikirannya dan berusaha untuk kembali mengobrol dengan biasa saja dengan kekasih yang ia rindukan itu.


"Mayan, kelar 4 tadi. Tapi kayaknya nanti bakalan aku poles sedikit lagi biar bagus," Amber menjawab dengan nada yang terdengar begitu senang. Gadis ini memang selalu antusias dalam bidang ini.


"Cepet juga pacar aku bikin sketsanya." Gian tahu, diam-diam Amber menyukai pujian semacam ini. "Terus sisanya mau dikerjain kapan?"


"Sabtu kan libur tuh, rencananya mau ngerjain bareng-bareng lagi," suara Amber masih terdengar antusias. "Jadi ceritanya, tadi Andre punya ide bikin semacam komunitas sketching gitu, soalnya UKM di kampus pun juga belom ada kan yang kayak gitu. Ya biar temen-temen yang pengen belajar dan latihan sketching punya wadah aja sih. Kalau rame-rame kan jadi semangat."


Gian sebenarnya senang Amber dan teman-temannya yang masih terbilang mahasiswa baru sudah mempunyai gagasan yang menarik seperti ini. Hanya saja, sebelum ia benar-benar mengenal sendiri siapa Andre, bagaimana sifatnya, serta bagaimana hubungan pertemanannya dengan Amber, Gian masih belum bisa benar-benar merasa tenang. Begitulah sifat Giandra jika hal yang berkaitan adalah soal kekasihnya.


"Berarti bakalan ada kepengurusan dan lain-lain dong? Kamu bakalan masuk enggak?" tanya Gian, mencoba untuk mendapatkan informasi tanpa terkesan memburu.


"Enggak sih. Aku bilang jujur sama temen-temen kalau aku memang belum tertarik untuk terikat apa-apa. UKM aja aku belom jadi ikutan. Untungnya UKM sifatnya enggak wajib," Amber pun menjelaskan. "Aku cuma bilang, kalau waktunya pas aku pasti bakalan ikut. Asik juga sih bikin sketsa bareng-bareng kayak tadi."


"Asal jangan sampai ganggu tugas utama kamu untuk kuliah ya. Katanya pengen cepet lulus," ujar Gian mengingatkan.


"Pasti lah!" Amber menjawab dengan mantap.


"Besok kuliah aku jemput aja ya? Kamu kelas pertama jam berapa?" Walau sering kali jadwal kuliah mereka berbeda, Gian tidak berkeberatan untuk mengantar jemput Amber, kecuali di saat-saat tertentu di mana ia memang ada keperluan lain.


"Iya. Kelas pertamaku pagi besok," jawab Amber. "Tapi boleh enggak kalau besok Charemon ikut bareng pulangnya? Aku udah agak lama enggak pulang bareng Charemon. Pengen nyapa mamanya bentar," pinta Amber pada Gian.


Gian tersenyum mendengar permintaan Amber barusan. Ia sadar betul bahwa Amber memang berteman dekat dengan Charemon. Ia juga ingat bagaimana Charemon sangat khawatir saat Amber dikerjai habis-habisan oleh Rara. Karena itulah, Gian tak pernah keberatan jika Amber ingin bersama dengan sahabatnya itu. Ia malah sangat bersyukur Amber mempunyai teman yang sangat menyayanginya seperti Charemon.


"Iya boleh," jawab Gian. "Tidur gih, Amber. Capek kan pasti?"


"Iya, capek. See you tomorrow," jawab Amber disertai dengan suara menguapnya yang terdengar oleh Gian dan membuat pemuda itu terkekeh geli.


"Good night, Amberku," pungkasnya, meninggalkan perasaan berbunga di hati kecil Amber.