
"Amber gimana?" tanya Gian kepada Egidia setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih dari rumahnya menuju ke rumah sakit tempat Amber dirawat.
"Tadi begitu sampe langsung ditangangin di IGD. Udah CT scan juga soalnya dokter takut kalau ada cedera atau pendarahan yang enggak keliatan. Dokter bilang Amber beruntung karena hasil CT scan menunjukkan enggak ada cedera yang parah," Egidia yang menjemput Gian dan Dhika di depan pun menjelaskan. "Cuma memang iya, dia kena hipotermia, mungkin karena pingsan di luar dalam waktu cukup lama dan enggak pake jaket. Udah teratasi. Sekarang udah membaik, badannya udah enggak semenggigil tadi."
"Gimana ceritanya Kak Amber bisa jatoh sih, Kak Egi?" Dhika yang sedari tadi penasaran pun akhirnya bertanya.
Sambil terus berjalan menuju ke ruang rawat Amber, Egidia pun menjelaskan apa yang ia dengar dari Bimo dan Andre tadi. Walaupun begitu, yang benar-benar tahu apa yang terjadi tetaplah Amber sendiri. Jadi, hingga saat ini pun cerita tentang bagaimana ia bisa berakhir pingsan di lereng itu masih menjadi pertanyaan besar.
"Om Tara udah dikabarin belom?" Gian bertanya.
"Udah. Tadi Momon yang telpon. Tapi Om Taranya masih di luar kota, kemaren Amber juga cerita gitu ke Momon," jawab Egidia. "Om Tara langsung balik sih setelah denger kabar Amber tadi, tapi kayaknya paling cepet sampe sini besok soalnya Om pake mobil dianter supirnya. Tadi Om cuma pesen minta Amber dicariin kamar yang paling nyaman."
Tak butuh waktu lama Gian, Dhika, dan Egidia sudah sampai di depan sebuah kamar VVIP yang sengaja dipesan untuk Amber. Di sebuah bangku panjang yang ada di depan kamar tersebut duduklah Bimo, Adit, dan juga Andre. Gian lalu menyalami mereka semua sebelum masuk ke dalam. Bagaimanapun mereka sudah membantu Amber. Di dalam hatinya, Gian sangat berterima kasih karena hal itu. Bahkan, sampai selarut ini pun mereka masih berada di sana untuk menemani Amber.
Perlahan Gian membuka pintu kamar tersebut dan menemukan Amber yang masih terlelap. Charemon duduk di sebelahnya dengan mata yang sembab karena tak bisa berhenti menangis. Dia menepuk pelan pundak Charemon yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya. Hal itu membuat Charemon sedikit terkejut. Buru-buru Gian memberi isyarat supaya Charemon tak bersuara. "Makasih ya, Mon," bisik Gian.
"Enggak perlu, Kak. Amber udah gue anggep saudara," kata Charemon sambil tersenyum. "Udah sana kalau Kak Gian mau nemenin Amber. Gue keluar dulu," pungkasnya sambil berlalu keluar dari kamar.
Semetara Dhika masih berada di sana. Ia menatap wajah Amber yang baru pertama kali ia temui ini. Dilihatnya Gian sudah duduk di kursi yang tadi dipakai oleh Charemon. Ia memandang wajah Amber dengan tatapan yang begitu sedih. Dhika lalu keluar kamar tanpa mengatakan apapun pada sang kakak. Ia seperti ingin memberi ruang kepada Gian untuk bersama Amber yang masih terlelap.
Tak lama setelahnya, Andre masuk dan mendekat pada Gian. "Gue sama yang lain bentar lagi bakal balik ke wisma, Bang. Sebelumnya, bisa kita ngobrol sebentar aja? Kalau enggak ngobrol sekarang gue enggak akan tenang perginya," Tanpa diduga, Andre meminta, yang lalu diiyakan dengan sebuah anggukan oleh Gian. Mereka berdua pun lalu keluar kamar.
"Mon, titip Amber bentar," kata Gian sambil berjalan menuju bangku yang ada di kejauhan bersama Andre.
"Iya, Kak," Charemon langsung berdiri dan masuk untuk menemani sahabatnya. "Bagus deh. Semoga enggak ada salah paham lagi," katanya dalam hati.
Setelah duduk bersebelahan, Andre merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Ia lalu menyodorkan ponsel tersebut kepada Gian sambil berkata, "tunangan gue, Bang." Ternyata ia menunjukkan fotonya bersama dengan seorang wanita anggun yang belum pernah Gian lihat di area kampus. "Muda banget ya gue udah punya tunangan? Tapi ya gitu, gue udah dijodohin sama dia sejak kecil. Untungnya kami cocok satu sama lain, saling melengkapi. Buat gue cuma dia gadis yang bisa bikin hati gue bergetar," tanpa basa basi Andre bercerita pada Gian.
Gian terdiam. Ia mengembalikan ponsel itu kepada Andre. "Lo udah tau gue ada masalah sama Amber, Ndre?"
"Iya. Amber yang cerita kapan hari itu, waktu gue tanya kenapa performanya enggak sebagus sebelumnya. Dia sering bengong. Badannya juga kurusan. Gue cuma tanya dia ada masalah apa dan dia malah minta maaf ke gue karena gue udah jadi bahan pertengkaran kalian," Andre menjelaskan. "Gue udah nawarin ke dia buat ngomong ke lo bahwa ini semua cuma salah paham, bahwa kejadian aslinya sama sekali enggak kayak apa yang terlihat di foto-foto itu. Dia nolak. Katanya biar kalian berdua aja yang selesein sendiri."
"Gue yang salah, Ndre," katanya pada akhirnya. "Gue minta maaf udah nuduh lo dan Amber. Gue yang bodoh percaya gitu aja sama foto-foto itu."
"Santai, Bang. Lo cinta sama Amber, wajar kalau lo cemburu. Yang pasti lo enggak perlu khawatir lagi. Gue cuma cinta sama tunangan gue. Soal Amber, gue kagum aja sama kemampuan dia yang udah segitu bagusnya. Dia juga enggak pelit berbagi ilmu ke gue. Dia juga yang udah ngomporin gue bikin Gores," Andre tersenyum di akhir ucapannya.
"Makasih lo udah bantu Amber malam ini. Gue utang budi sama lo dan yang lain," ucap Gian.
"Enggak perlu ngerasa gitu, Bang. Amber itu temen kami, jadi ya udah kewajiban kami buat bantu dia," kata Andre.
Saat mereka masih mengobrol, tiba-tiba Charemon memanggil Gian, "Kak Gian, Amber bangun!"
"Sana, Bang. Dia butuh lo," kata Andre seketika itu juga.
"Sekali lagi makasih, Ndre." Gian lalu buru-buru masuk ke kamar untuk melihat kekasihnya. Di sana, ia melihat Amber yang sedang dibantu oleh Charemon dan Egidia untuk minum. Wajar jika ia merasa haus, sedari tadi ia belum minum sama sekali.
"Amber sayang, gue ama yang lain balik ke wisma ya. Besok kami ke sini lagi. Lo sama Kak Gian ya malam ini. Kak Egi beliin macem-macem makanan buat lo. Kalau kerasa laper lo makan yang banyak ya, biar cepet sembuh. Jangan begadang. Lo harus tidur nanti," dengan begitu cerewet Charemon berpesan kepada sahabatnya itu.
"Bye, Amber. Besok kami ke sini lagi," Egidia pun berpamitan pada Amber lalu Gian dan pergi bersama Charemon dan yang lain untuk kembali ke wisma.
Setelah semua orang keluar, hanya tinggal Amber dan Gian di ruangan itu. "Hey," kata Gian dengan lembut. Digenggamnya tangan kanan Amber perlahan lalu dielusnya. Gian berharap itu bisa memberikan sedikit rasa nyaman pada kekasihnya.
Amber belum mengatakan sepatah katapun. Ia terus menatap Gian yang kini duduk di kursi tepat di sampingnya sambil terus menatap dalam ke arahnya dan sesekali mengelus pelan kepalanya. Seluruh tubuh Amber merasakan sakit. Saat terguling di lereng tadi, entah benda apa saja yang sudah ia terjang, meninggalkan luka, goresan, dan memar di sana sini. Punggung dan leher belakangnya terlebih lagi, hantaman keras pada batu besar tadi meninggalkan memar yang cukup menyiksa.
Namun, yang paling membuatnya tersiksa adalah kenyataan bahwa ia sudah lama tak bertemu sedekat ini atau sekedar bersama dengan Gian. Walau marah, Amber tetaplah seorang gadis yang merindukan lelakinya. Betapa takutnya ia tadi saat seseorang mendorongnya hingga jatuh ke lereng. Ia takut tak bisa bertemu lagi dengan Gian dan ayahnya, juga semua sahabatnya.
Semua yang ia rasakan saat ini tumpah dalam bentuk air mata yang seolah selama seminggu ini ia tahan. Tanpa malu ia menangis sejadinya di hadapan Gian. Itu membuat Gian merasa sangat menyesal. Hatinya perih melihat Amber seperti ini.
"Shhh … No no no no, don't cry my Amber. Aku yang salah. Aku minta maaf," Gian mencoba menenangkan Amber dan mendekat menempelkan dahinya pada dahi Amber sambil terus mengelus rambut kekasihnya itu.
Mendengar kata 'my Amber' yang terucap dengan begitu tulus dari mulut Gian, tangis Amber malah semakin kencang. "Sakit," hanya itu yang ia katakan.