AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 54 - Samantha



Amber sedang memasukkan beberapa buku dan barang bawaannya ke dalam loker. Belum juga selesai ia memberesi barang-barangnya, seseorang membalikkan badannya secara paksa. Dilihatnya ada tiga orang gadis yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"Apa ini?" kata Amber yang tak suka diperlakukan seperti itu. Terlebih lagi, mereka bukan orang yang Amber kenal.


"Dengerin omongan gue baik-baik," kata salah seorang yang berada di tengah.


"Kalau gue jadi lo, gue nggak bakal deket-deket sama Gian lagi," lanjutnya.


Tangan Amber berusaha masuk ke dalam kantong celananya secara diam-diam, lalu menekan tombol 'Rekam' yang ada pada sebuah alat rekam jurnalis peninggalan sang ibu, yang sekarang memang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia mengingat pesan Gian supaya terus waspada dan berhati-hati. Ia juga teringat akan pesan temannya, Andre, supaya sebisa mungkin mengumpulkan bukti. Semenjak itu Amber selalu membawa alat perekam itu bersamanya.


"Kalian yang tempo hari nyiram aku di toilet, kan?" Amber mulai mencoba memancing percakapan untuk mendapatkan bukti sembari menahan perasaan geram dalam hatinya.


"Punya bukti apa lo? Lo mau nuduh?" gadis itu kembali berkata sambil menyandarkan satu tangannya pada loker sehingga ia membuat ruang gerak Amber yang sudah sempit karena dikepung oleh ketiga orang itu semakin sempit lagi.


"Jangan keterlaluan ya. Aku bisa lapor ke pihak kampus," Amber mencoba mengancam.


"Hahahaha … Dasar anak baru nggak tau apa-apa. Emangnya kampus bakalan mau ngurusin soal beginian?"


Amber jadi teringat akan apa yang beberapa hari lalu Gian sampaikan kepadanya.


"Mungkin perselisihan antar mahasiswa memang sering terjadi di sini. Mungkin kalau masalahnya nggak terlalu serius kampus memang nggak akan menggubris," batin Amber.


"Gue ingetin sekali lagi lo ya. Jauhi Gian, atau lo bakal tau akibatnya," gadis itu kembali mengancam.


"Kalau aku nggak mau emangnya kenapa? Kalian nggak ada hak untuk ngelarang-ngelarang nggak jelas kayak gini!" Amber menegakkan posisi berdirinya.


Ketiga gadis itu tak lebih tinggi darinya namun mereka sungguh berani. Amber berusaha terlihat lebih dominan dan mencoba mengulur waktu supaya ia bisa mendapatkan lebih banyak bukti.


"Berani juga ni cewek ya," kata gadis itu sambil melempar senyum kepada kedua temannya.


"Denger baik-baik," kata gadis itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Amber.


"Lo mungkin nggak bakalan kenapa-napa, tapi entah gimana nasib orang-orang di sekitar lo. Camkan itu!" gadis itu berlalu bersama kedua temannya, meninggalkan Amber yang masih mencoba mencerna perkataan terakhirnya tadi.


"Maksudnya apa?" gumam Amber yang lalu diam-diam memastikan bahwa percakapannya tadi sudah terekam dengan baik.


***


"Gue udah kasih peringatan ke cewek itu, Kak Sam."


Gadis yang ternyata bernama Rara itu memberikan laporan kepada Samantha. Mereka sedang berada di sebuah kedai kopi tempat mereka biasa berkumpul bersama dengan teman-teman satu geng yang biasa mereka sebut dengan nama Samantra.


Jelas saja, Samantha bukan hanya seorang yang dituakan di geng tersebut. Dia adalah ketuanya.


Geng tersebut sebenarnya tak sengaja terbentuk itu sampai saat ini mempunyai anggota aktif sekitar 15 orang gadis dan pria. Semuanya kuliah di kampus yang sama dengan Samantha, walau tak semuanya berasal dari jurusan yang sama.


Samantha sebenarnya adalah seorang mahasiswa yang cukup pintar dalam bidang desain. Sayangnya, kondisi keluarganya yang sering diwarnai dengan pertengkaran orang tuanya sejak ia masih kecil membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang sangat keras.


Geng Samantra sendiri awalnya tak pernah ada. Semua bermula ketika di awal masa perkuliahannya, Samantha membantu teman sekelasnya yang kala itu menjadi korban perundungan. Sifat Samantha permberani. Bahkan jika itu berarti dia harus beradu jotos dengan lawannya pun pasti akan ia lakukan.


Benar saja, kala itu Samantha berhasil membuat si pelaku perundungan, yang adalah Rara, ketakutan hingga meminta maaf kepada Samantha dan temannya setelah terjadi sebuah pertengkaran hebat di antara mereka. Rara dan pengikutnya bahkan sampai berbalik menjadi teman mereka dan sejak saat itu mengakui dirinya sebagai anak buah Samantha.


Hal itu tentu saja membuat Samantha terbuai dan lupa diri. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya, ia merasa diakui dan dipandang sebagai seseorang yang hebat. Tak seperti dirumahnya, di mana ia sering dikatai bodoh dan disalahkan bahkan untuk kesalahan yang tidak ia lakukan.


Bergaul dengan orang yang salah membuat Samantha berjalan ke arah yang salah pula. Seiring berjalannya waktu, Rara sering kali memprovokasi Samantha untuk berbuat hal yang tidak benar. Hal itu membuat banyak mahasiswa menjauhi Samantha. Sebagian melakukan itu karena takut, sebagian lagi hanya karena malas jika harus terlibat masalah sehingga kuliah mereka terganggu.


Ide untuk mendekati Gian juga tercetus dari mulut Rara, "Gian kan cowok yang paling keren di kampus. Pantes dong kalau sama Kak Sam," kata Rara berusaha mengompori Samantha sesaat setelah berita keretakan hubungan Gian dan Zefanya menyebar ke publik.


"Males ah gue. Gue dua tingkat di atas Gian kali," jawab Samantha dengan malas.


"Lho, emang kenapa, Kak? Jaman sekarang banyak kali cinta beda umur. Lagian cuma beda dua tahun doang kaga bakalan kentara," Rara masih terus berusaha.


Kala itu, Samantha hanya diam dan enggan menanggapi ide gila Rara. Hal itu membuat Rara berpikir keras bagaimana caranya supaya Samantha dan Gian bisa menyatu.


"Kalau mereka sampai jadian, gue bakalan bisa masuk ke circle orang berpengaruh di kampus ini. Mayan juga buat bekel jadi penerus Kak Sam kalau dia udah lulus nanti," pikir Rara dalam hati.


"Ayo lah, Kak Sam. Kakak kan ga lama lagi bakal kelar kuliahnya. Masa nggak pengen ngerasain pacaran di masa kuliah sih? Sama Gian lagi," kata Rara.


"Ish … bawel banget sih lo," Samantha yang masih enggan menanggapi malahan sibuk dengan ponselnya.


"Gue bantuin deh, Kak. Mau ya ya ya?" Rara terus saja memaksa.


"Ah … terserah lo deh," Samantha tak peduli lagi.


"Yey! Gue janji bakal bantuin lo jadi sama Gian, Kak Sam," kata Rara.


"Iya ... Iya. Serah lo," ujar Samantha singkat.


Semenjak saat itu, setiap ada kesempatan Rara pasti berusaha membuat kedua orang itu dekat. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah ikut mengobrol bersama Gian dan teman-temannya saat mereka sedang di kantin.


Di sana, Samantha bisa menggunakan kepintarannya untuk membantu Gian dan teman-temannya memahami mata kuliah atau tugas. Dari sana lah celah untuk Samantha mendekati Gian mulai terbuka walaupun tak mudah untuk bisa masuk ke sana.


Semenjak sesekali mulai mengobrol saat di kantin, Samantha pun akhirnya mulai merasa tertarik pada Gian. Gadis mana sih yang bisa menolak tertarik pada wajah tampan yang dibalut postur tubuh tinggi nan gagah itu?


Rasa sukanya pada Gian yang semakin tumbuh inilah yang membuatnya merasa terancam dengan kehadiran Amber yang seakan dengan mudahnya menarik perhatian Gian. Sebelum ada Amber pun sudah ada Nadine yang terang-terangan menabuh genderang perang persaingan. Ini berarti, kehadiran Amber akan membuat semuanya jadi jauh lebih sulit.


"Tenang aja, Kak Sam. Gue jamin cewek itu pasti nggak bakalan berani deket-deket sama Gian lagi," ujarnya setelah selesai menceritakan apa yang tadi sudah ia lakukan kepada Amber.


"Permainan akan segera dimulai, Amber," batin Rara.