
"Lo enggak mau mampir dulu?" tanya Charemon saat tiba di rumah diantar oleh Amber.
"Enggak ah, Mon. Kapan-kapan aja ya. Aku berasa agak capek, lembur ngerjain tugas terus," jawab Amber yang masih duduk di balik kemudi mobilnya.
"Ya udah buruan balik. Keburu tambah sore juga. Entar kalau udah sampe kabarin ya," pesan Charemon. "O iya, lo udah daftar makrab belom? Jangan sampe lupa. Acaranya weekend depan lho."
"O iya! Untung kamu ingetin. Senin besok deh aku daftar," kata Amber. "Sebenernya kalau enggak wajib aku males ikutan beginian."
"Udah ikut aja! Ada gue juga kan. Daripada lo enggak dapet sertifikatnya buat syarat lulus besok malah berabe lho," ujar Charemon.
Amber menghela napasnya. "Iya deh iya. Ya udah aku balik ya. Ketemu lagi Senin besok, Mon."
"Besok Senin kalau lo mau berangkat dan pulang bareng sama Kak Gian enggak papa, enggak usah mikirin gue. Gue mah gampang. Udah sana. Ati-ati," kata Charemon sambil melambaikan tangan pada Amber.
Amber pun melajukan mobilnya perlahan. Dalam keadaan lelah seperti ini, ia memilih untuk lebih berhati-hati dalam menyetir walau itu berarti akan sedikit lebih lama baginya untuk sampai di rumah.
Saat laju mobilnya terhenti di lampu merah, Amber menyempatkan diri untuk melihat ponselnya sebentar. Masih juga belum ada pesan dari Gian, padahal saat ini hari sudah hampir petang.
"Mungkin masih sibuk. Tunggu aja deh," gumam Amber sambil tersenyum kecil lalu melanjutkan laju mobilnya.
Sama seperti yang dirasakan oleh Gian tempo hari, kali ini Amber pun merasakan rindu. Ia ingin tahu kabar Gian saat ini dan apa yang sedang ia lakukan. Hanya saja, ia mengurungkan keinginannya untuk terlebih dahulu menghubungi Gian karena ia takut akan mengganggu kegiatan yang sedang Gian lakukan. Saat ini, bisa dibilang kedua sejoli ini bertemu setiap hari. Sehari saja tak bertemu rasanya seperti ada yang kurang.
Sementara itu di kediaman Adipramana, Gian sebenarnya sudah sampai sejak pukul 5 sore tadi. Ia sekarang sedang duduk terdiam di kamarnya sambil memandangi layar ponselnya setelah ia mandi.
Sebenarnya saat masih dalam perjalanan pulang tadi ia sudah ingin mengirimkan pesan kepada Amber. Seharian ini ia benar-benar tak bisa menyentuh ponselnya dan saat ia akhirnya bisa, yang menarik perhatiannya adalah sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang sangat menyita perhatiannya hingga ia urung mengirim pesan kepada kekasihnya.
"Sial! Apaan lagi nih?!" begitulah kira-kira yang langsung dikatakan Gian di dalam hatinya. Dalam kondisi tubuh yang sedang lelah dan rasa yang begitu merindukan Amber setelah seharian tak bertemu dan berkabar, mendapatkan pesan semacam ini tentu saja membuat Gian otomatis merasa galau. Terlebih lagi, ia memang akhir-akhir ini juga sedang kepikiran soal Andre dan bagaimana Amber yang di luar kuliah pun juga masih berkegiatan dengan pemuda cool berparas ganteng itu.
Di saat ia sedang berusaha menepiskan kegalauan dan rasa cemburunya yang memang tak beralasan kuat itu, ia malah menerima banyak foto Amber yang terlihat dekat dengan Andre seperti ini. Gambar di dalamnya tak hanya menunjukkan kegiatan tempo hari saat di Nol Kilometer tapi juga kegiatannya hari ini di area Taman Kota. Rasa cemburu dan emosi Gian yang tersulut membuat ia bahkan tak sempat memikirkan siapa yang kira-kira mengirimkan foto-foto tersebut kepadanya. Ia juga sama sekali tak membalas pesan tersebut.
Mungkin Gian belum menyadarinya. Namun, setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Zefanya padanya, ia menjadi seorang pemuda yang sensitif terhadap hal-hal yang seperti ini. Terbukti sekarang kehadiran Andre di sekitar Amber dengan mudah bisa mengusik batinnya dan membuat ia merasa terancam. Padahal jika dipikir lagi, Andre bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah teman sekelas Amber. Wajar jika pemuda itu memang sering berinteraksi dengan Amber. Dan yang terpenting, mereka tidak melakukan apapun yang bisa disebut sebagai sebuah pengkhianatan di belakang Gian. Kalaupun berkegiatan, mereka juga selalu melakukannya bersama banyak teman yang lain. Satu-satunya waktu di mana Gian melihat mereka berdua saja adalah saat Gian pertama kali berkenalan dengan Andre dulu, itu pun mereka berada di tempat ramai, kantin. Gian pun belum menjadi kekasih Amber kala itu.
Sayang sekali, Gian sudah terlanjur cemburu. Ia sudah terlanjur mendirikan tembok penghalang tinggi yang mencegahnya untuk mengenal lebih jauh siapa dan seperti apa seorang Andre. Foto-foto yang ia terima seolah menuangkan minyak yang membuat bara api cemburunya menyala semakin besar.
"Amber seharian juga enggak ada chat. Emang sesibuk itu apa?" gumam Gian sambil terus saja memandangi foto-foto tadi yang justru membuat perasaannya semakin kesal. "Eh, tapi tunggu dulu. Gimana kalau ternyata Amber enggak kirim chat karna takut ganggu gue yang baru manggung? Gue kemaren kan juga gitu,enggak chat karena takut ganggu dia yang baru ngerjain tugas."
Berbagai macam spekulasi terus saja muncul di pikiran Gian, membuat ia pusing sendiri. "Katanya lo enggak mau jadi cowok yang nyebelin? Katanya harus jadi cowok cool? Gimana sih lo?" gumamnya lagi. "Kalau kayak gini namanya lo udah enggak percaya sama Amber. Emang Amber udah ngapain coba?"
Gian terus saja salah tingkah di dalam kamarnya. Di dalam pikirannya seolah ada setan dan malaikat yang terus saja beradu mulut mengatakan hal yang berkebalikan. "Arrrgh! Bodo amat!" Gian akhirnya tetap mengikuti rasa kesalnya entah itu karena Andre yang terlihat terlalu dekat dengan Amber atau karena Amber yang tidak memberinya satu kabar pun.
Ia lalu meninggalkan ponselnya di kamar. Sengaja ia tak mengirimkan pesan kepada Amber terlebih dahulu karena suasana hatinya yang masih tak menentu. Ia tak ingin mengatakan sesuatu yang salah atau malah menyakiti kekasihnya.
Gian pun memilih untuk turun ke bawah menuju studio untuk menemui ayahnya yang masih saja berkutat dengan kegiatan bermusiknya. Hujan yang cukup deras membuatnya enggan pulang ke rumahnya sendiri. Terlebih, Dhika juga sedang berada di sana sejak sore tadi, membuat ia semakin enggan pulang.
"Dhik, battle yok," Gian mengajak Dhika bermain game bersama di ruang keluarga yang terletak di lantai dua. Rasanya sudah lama Gian dan Dhika tidak menghabiskan quality time bersama di rumah ayah mereka seperti ini. Sejenak, Gian ingin melupakan kepenatan yang ada di kepalanya serta rasa lelah setelah seharian bekerja. Kali ini ia ingin bersenang-senang bersama sang adik.
"Ayok! Yang kalah bayarin makan steak enak yang waktu itu. Deal?" keusilan Dhika kembali muncul, membuat kegalauan Gian teralihkan.