AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 62 - Tangkap! (Bagian 3)



Wajah lelaki itu semakin mendekati wajah Amber. Tentu saja, Amber tak sudi dan jijik diperlakukan demikian. Ia lalu meludahi wajah lelaki itu.


Cuh!


Hal tersebut memicu kemarahan sang lelaki, yang sontak menampar pipi kiri Amber dengan begitu keras.


Plak!


"Berani banget lo ya?!" bentak lelaki itu.


"Sakit," batin Amber. Seumur hidupnya, baru kali ini Amber merasakan tamparan dan itu membuat pipinya terasa panas sekali.


Amber sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Kedua tangannya dipegangi dengan kencang. Sekeras apapun ia mencoba melepaskan diri, tetap saja tak berhasil.


Lelaki yang ada di depannya itu kini kembali memaksa. Namun, sebelum bibirnya sempat bersentuhan dengan bibir Amber …


Dhuak!!


"Arrrgh!" pekik lelaki muda itu.


Sebuah tendangan yang cukup keras mengenai bagian sisi kiri tubuhnya dan membuat ia tersungkur di lantai. Lelaki muda itu sesaat tak bisa bangkit karena merasakan sakit yang luar biasa sambil memegangi bagian kiri tubuhnya.


"Mau ngapain lo tadi, ha?! Lo kira lo siapa?!" Gian yang sudah terlanjur kalut mencengkeram leher kaos milik lelaki itu lalu memberikan sebuah pukulan yang tepat mengenai wajahnya.


Beberapa tetes darah nampak keluar dari hidungnya. Seketika ia dilanda pening yang yang teramat sangat dan membuatnya tak mampu beranjak dari tempat itu. Ia terhuyung dan ambruk ke lantai walau masih sadarkan diri.


Kedatangan Gian yang tiba-tiba tentu membuat Rara dan satu teman lelakinya yang lain terkejut. Lelaki muda itu sontak melepaskan pegangannya pada tangan Amber lalu melarikan diri.


"Heh! Mau kabur ke mana lo, pengecut!" Bimo dan Egidia pun mengejar lelaki muda itu sekencangnya.


Sementara Rara yang sedikit lengah dan tak tahu harus bagaimana karena terlalu terkejut memberikan kesempatan untuk Amber bisa meraih dan memelintir tangannya sehingga pisau lipat yang sedari tadi ia pegang pun terjatuh di lantai. Setelahnya, Amber melakukan kuncian dengan kedua tangannya, membuat Rara menghadap ke tembok, dan menahannya di sana dengan tubuhnya. Dengan tubuh yang lebih tinggi dan besar dari Rara, tentu tidak sulit bagi Amber untuk melakukan hal tersebut.


"Au! Sakit tauk!" teriaknya, masih dengan nada yang kasar.


"Aku tadi bilang sakit juga kamu diem aja," jawab Amber dengan entengnya.


Cara Amber melakukan hal tersebut membuat Gian tercengang. Ia tak menyangka jika Amber seberani itu dan mampu melakukan gerakan bela diri seperti itu.


Charemon yang sedari tadi merekam semua yang terjadi akhirnya menghentikan rekamannya. Ia mendekat pada Amber dan mengelus pipinya, "Amber, lo nggak papa?"


"Nggak papa, Mon," Amber tersenyum lega.


Paling tidak, ia sudah mendengar apa yang perlu ia dengar dari Rara sebagai bukti. Hanya saja, ia merasa cukup menyesal karena tidak berhasil merekam semua yang sudah Rara katakan tadi.


"Tenang aja, Amber. Gue udah videoin semua di sini tadi," ucap Charemon sambil tersenyum puas dan menunjukkan ponselnya pada Amber. Ia seolah tahu apa yang ada di pikiran Amber.


"Sial!!" batin Rara.


"Serius?" kata Amber tak percaya. Senyumnya merekah.


"Serius. Gue sama Kak Egi jadi saksinya. Dari tadi gue ngumpet di situ. Lo nggak perlu khawatir lagi, okay?" ujar Charemon.


Betapa leganya hati Gian menyaksikan senyum itu kembali menghiasi wajah Amber. Ia lalu mengambil gulungan tali rafia yang kebetulan mengonggok di sana. Mungkin itu adalah sisa projek mahasiswa yang tercecer.


Yang pertama Gian lakukan adalah mengunci tangan lelaki yang tadi ia pukul wajahnya lalu mengikat kedua tangannya di belakang dengan menggunakan tali rafia tadi. Selanjutnya, ia juga melakukan hal yang sama pada Rara supaya Amber tidak kelelahan memeganginya.


"Duduk situ lo! Jangan coba-coba kabur!" kata Gian kepada keduanya. Mereka berdua pun lalu duduk di lantai dan tak bersuara sama sekali.


"Gawat! Ini gawat!" batin Rara.


Wajahnya pucat membayangkan bagaimana jika Samantha tahu akan semua ini. Ia sudah bergerak sembarangan tanpa berdiskusi dulu dengan Samantha.


"Gimana kalau Kak Sam sampai murka membongkar semua rahasia keburukanku di kampus ini?" batin Rara lagi.


Inilah hal yang paling ia takutkan. Samantha tahu semua rahasia busuk Rara yang seringkali bersikap sok kuasa, terutama pada mahasiswa baru. Is pun tak segan melakukan perundungan jika keinginannya tak dituruti. Semua hal inilah yang membuat Rara begitu penurut dengan Samantha.


Yang lebih membuatnya khawatir juga adalah bagaimana jika ia dilaporkan kepada pihak berwajib oleh Amber dan kawan-kawannya? Rekaman tadi nampaknya sudah lebih dari cukup sebagai bukti untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Keringat dingin mulai menetes dari keningnya.


Tak lama kemudian, dari kejauhan tampak Bimo dan Egidia yang membawa serta lelaki muda satunya yang tadi sempat melarikan diri.


"Nyusahin aja lo. Pake acara kabur segala," kata Bimo yang lalu menoyor kepala lelaki muda itu.


"Iya, gue kan jadi lari-larian mulu hari ini. Kesel banget!" Egidia yang napasnya tersenggal jadi ikut memberikan toyoran pada lelaki itu.


Gian kemudian juga mengikat tangan lelaki itu. Ia lalu menyuruhnya duduk berjajar di lantai bersama dengan Rara dan temannya yang lain.


"Okay. What should we do next?" Akhirnya Gian berbicara pada Amber. Ia bertanya sambil menatap ke dalam mata gadis yang sebenarnya sangat ia rindukan itu.


"Udah laporin aja ke kampus. Kalau kampus nggak mau bertindak kita bisa ngancem bakalan bawa kasus ini ke ranah hukum," celetuk Bimo yang diam-diam geram dengan apa yang sudah Rara dan teman-temannya lakukan kepada Amber selama ini.


"Amber?" tanya Egidia.


Amber masih terdiam dalam pikirnya sejenak.


"Kalau kita laporin, mereka bertiga dan yang lain mungkin bakalan dikeluarin dari kampus, nggak bisa lanjut kuliah," ucap Amber.


Bahkan di saat ia sudah menderita karena ulah Rara dan teman-temannya, hati kecilnya tetap tak tega memupus cita-cita seseorang untuk bisa menyandang gelar sarjana. Terbayang pula gambaran orang tua mereka yang sangat kecewa jika hal itu benar-benar terjadi.


"Mereka pantes ngedapetin itu, Amber. Teror, ancaman, perundungan, penganiayaan, pelecehan … mereka udah ngelakuin semua itu ke lo. Mereka pantes dilaporin!" kata Charemon yang merasa tak terima.


"Kalau kita laporin, aku bisa jamin Ayah akan akan tau dan pasti nggak akan terima, Mon. Ayah bakal pastiin mereka bakal masuk ke penjara, Mon," kata Amber yang tahu betul sifat protektif sang ayah yang selalu muncul saat Amber mengalami sesuatu yang buruk.


Deg!


Kata penjara yang terlontar dari mulut Amber terdengar begitu serius. Hal itu tentu saja membuat nyali ketiga orang tadi menciut, terutama Rara.


"Woa … woa … jangan bawa-bawa penjara. Okay, aku ngaku salah udah pake cara yang nggak bener untuk bantuin Kak Samantha-“


Belum selesai Rara berbicara, Gian memotong kalimatnya, " Samantha? Jadi lo neror dan bully Amber gara-gara Samantha?"


"Samantha kayanya suka sama lo, Gian. Kan udah bukan rahasia lagi kalau Rara itu anak buahnya Samantha, makanya dia bantuin Samantha. Amber yang kena imbasnya karena kalian berdua deket," Egidia yang sudah paham akan situasinya menjelaskan kepada Gian.


"Bener kaya gitu, Ra?!" tanya Gian dengan nada membentak.


Rara tak bisa berkutik lagi. Dengan suara pelan ia menjawab, "iya."


"Arrrgh! Kalau bukan karena lo cewek udah gue hajar lo!" Gian meluapkan rasa marahnya dengan berteriak.


"Hey … udah," kata Amber singkat. Ia mengelus tangan Gian yang sudah mengepal erat karena amarah.


"Terus jadinya mau diapain ini mereka bertiga?" tanya Bimo yang sudah mulai tak sabar.


"Bikin pernyataan, pakai video. Minta maaf sama aku, sama Momon," jawab Amber dingin.


Walau ia memang tidak berniat untuk melaporkan ketiganya, baik itu kepada pihak kampus maupun pihak yang berwajib, Amber tak bisa memungkiri bahwa ada rasa benci di hatinya.


Walaupun canggung, Rara dan kedua temannya pun lalu menuruti apa yang Amber mau. Setidaknya, ini lebih baik daripada harus dikeluarkan dari kampus atau berurusan dengan polisi.


Setelah video pernyataan maaf dan juga perjanjian bahwa ketiga orang tadi tak akan mengulangi perbuatannya selesai direkam Amber pun berkata, "video ini, juga bukti-bukti yang lain akan aku simpen. Aku cuma bakal ngasih kesempatan satu kali aja. Kalau kalian ingkar atau ngeganggu aku dan orang-orang di sekitarku lagi, percayalah aku nggak bakal tinggal diem."


"Satu lagi. Bilang sama Samantha, besok gue tunggu di taman deket kolam belakang jam 11. Kalau sampai dia nggak dateng, lo yang bakal kena. Dan inget, lo pada nggak usah cerita dulu ke dia soal hari ini. Ngerti lo?" ancam Gian. Ia berpikir bahwa masalah ini tidak akan benar-benar selesai jika urusannya dengan Samantha belum dituntaskan.


"Iya, Gian," jawab Rara lirih.


"Cabut yok," ajak Egidia.


Mereka berlima pun lalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Rara dan kedua temannya yang masih dalam keadaan terikat.


"Hey, paling nggak lepasin dulu talinya, dong!" pinta Rara Sayangnya, tak seorang pun yang menggubris.


Gian berjalan di sebelah kanan Amber. Ia lalu teringat bahwa tadi Amber sempat menerima tamparan yang cukup keras di pipi kirinya.


"Liat sini sebentar," kata Gian. Ia menghentikan langkahnya untuk memeriksa pipi Amber yang kini terlihat merah sedikit memar.


"Sakit?" tanya Gian lagi sambil mengelus pelan pipi Amber.


Amber meringis lalu menjawab, "sakit sekali. Rasanya rahangku mau copot."


"Ikut aku bentar ya?" tanya Gian.


Amber pun tersenyum lalu mengangguk.


"Gaes, gue sama Amber mau ke mang Dadang dulu. Lo pada mau ikut nggak?" tanya Gian kepada Egidia, Bimo, dan Charemon yang sudah berjalan duluan.


"Bo-" belum juga selesai Bimo menjawab, kakinya sengaja diinjak oleh Egidia.


"Aw, Gi! Jangan ngaco dong lo," rintih Bimo yang berjingkat-jingkat karena kesakitan.


"Nggak ah. Gue ama Bimo mau nganterin Momon balik aja. Ya kan, Mon?" kata Egidia sambil mengedipkan mata ke arah Charemon.


"Oh … Iya, iya. Gue capek, mau pulang aja," Charemon yang paham akan kode yang diberikan oleh Egidia pun segera menjawab.


"Ya udah. Ati-ati deh kalau gitu," kata Gian lagi.


"Bye Mon, Kak Egi, Kak Bimo," kata Amber sambil melambaikan tangan kepada mereka bertiga.


"Kita mau ke Mang Dadang?" tanya Amber heran.


"Iya. Yok," jawab Gian singkat. Ia lalu menggandeng tangan Amber dan itu membuat hati Amber kembali bergejolak.


"Aku kangen Gian," batinnya.


***


Sesampainya di kios Mang Dadang, Gian menyuruh Amber untuk duduk. Ia kemudian berlalu dan memesan sesuatu kepada Mang Dadang.


Gian kembali membawa sebotol air mineral dan juga bongkahan-bongkahan kecil es batu yang dibungkus di dalam kantong plastik bening. Setelahnya, ia menggeser kursinya supaya ia bisa duduk berdetakan dengan Amber.


"Pipimu merah. Kalau nggak dikompres nanti malah memar. Kamu nggak mau Om Tara tau kan?" tanya Gian.


"Iya. Sini, biar aku sendiri aja yang kompres," kata Amber, meraih bungkusan es batu dari tangan Gian. Ia hanya tak kuasa merasakan detak jantungnya begitu cepat karena wajah Gian yang terlalu dekat.


"Nih, sambil diminum. Biar kamu adem," Gian menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ia bukakan sebelumnya.


"Hu um," jawab Amber singkat.


Ia memang sudah merasa haus sejak tadi. Tak heran jika ia hampir menghabiskan seluruh air yang Gian berikan. Gian yang merasa geli melihat hal itu akhirnya malah terkekeh dan menepuk-nepuk kepala Amber.


Rasanya sudah cukup lama, Amber tak merasakan kepalanya ditepuk dengan lembut seperti itu oleh Gian. Entah kenapa, ia merasa bahagia.


Setelahnya, wajah Gian berubah serius. Dengan pelan ia berkata pada Amber, "maaf. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini."


Gian lalu menunduk dan memegangi kepalanya yang sedari tadi terasa sangat penat. Terngiang lagi di memorinya saat ia tadi melihat Amber ditampar dengan keras, yang akhirnya memicu ia untuk menghajar lelaki muda tadi.


Tangan Amber seolah bergerak sendiri. Ia mengelus rambut Gian yang terasa begitu halus. Hal itu secara otomatis membuat Gian mendongakkan kepalanya karena terkejut bercampur senang.


"It's okay. Bukan salah kamu," kata Amber sambil masih sesekali menempelkan kantong es di pipinya.


"Mmm … besok kamu bakal ketemuan sama orang yang namanya Samantha?" tanya Amber penasaran.


"Iya. Tenang aja. Cuma sebentar," Gian seolah tak mau Amber salah sangka.


"Mau ngomongin apa?" Amber masih saja penasaran.


"Udah kamu tenang aja. Bukan hal yang penting," jawab Gian yang kini gantian mengusap lembut rambut Amber.