
Sabtu malam itu …
Saskia yang menjaga pos misi dalam kegiatan Jerit Malam dibuat terkejut dengan kemunculan Nadine yang tiba-tiba. Terlihat peluh di wajah gadis cantik itu yang seolah mengatakan bahwa ia baru saja berlari. Napasnya pun terengah.
"Dari mana lo, Nad?" dengan wajah yang penuh selidik Saskia menanyakan pada Nadine.
Ada jeda sekian detik sebelum akhirnya Nadine menjawab, "jaga lah!" Gadis yang memang tergabung dalam seksi dokumentasi makrab itu memang terlihat membawa kameranya.
"Bukannya dokumentasi cuma di garis start sama finish aja ya?" tanya Saskia heran.
"Auk! Gue cuma disuruh! Bawel banget sih lo!" Nadine kembali menjawab dengan ketus.
"Terus ngapain lo lari-lari barusan?" entah kenapa di hatinya Saskia merasa terus ingin memburu kejelasan dari temannya itu.
"Gue mau ke kamar mandi! Udah ah, tanya mulu lo!" Nadine kembali berlari meninggalkan tempat itu menuju ke wisma.
Tak lama setelahnya, Andre sebagi peserta terakhir yang mengikuti kegiatan itu pun muncul. Ia mendapatkan misi dan berjalan dengan santai ke arah wisma setelah berhasil menyelesaikan misi tersebut.
"Kok kertas misinya masih ada satu, Sas?" tanya teman Saskia yang kebetulan juga mendapatkan tugas untuk menjaga pos misi.
"Palingan kita salah ngitung tadi. Udah yok cepet balik ke wisma. Makin malem makin serem aja di sini," jawab Saskia sembari memberesi perlengkapan di pos misi. Sebenarnya hatinya juga bertanya-tanya; bagaimana bisa kertas misi itu tersisa satu disaat ia yakin betul bahwa ia sudah menghitung jumlahnya dengan benar sebelum kegiatan Jerit Malam dimulai tadi.
"Udah abis pesertanya. Yok balik ke wisma," ajak Bimo yang baru saja selesai mengecek rute setelah semua peserta sudah selesai melakukan tantangan Jerit Malam.
"Bantuin bawa meja kecil itu dong, Bim. Gue mau bawa yang lain," kata Saskia.
Setelahnya mereka pun berjalan bersama menuju wisma. Siapa yang sangka, kedatangan mereka di garis finis disambut dengan kehebohan. Amber hilang!
"Kenapa perasaan gue enggak enak ya?" batin Saskia mengatakan bahwa ada yang salah. Di saat semua rekan panitia mulai sibuk dan hendak pergi mencari Amber, Saskia malah merasa bahwa ia harus segera mencari Nadine.
Ia menemukan Nadine di sebuah ruangan besar yang memang digunakan sebagai tempat untuk panitia wanita menaruh barang pribadi dan juga beristirahat. Anehnya, Nadine nampak sedang menelepon sambil mengemasi barang-barangnya. Saskia melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Nadine yang baru saja menutup sambungan teleponnya. Cuma ada mereka berdua di sana.
"Ngapain lo beres-beres, Nad?" dengan nada yang penuh curiga Saskia bertanya kepada Nadine.
"Barusan dikabarin kalau gue harus pulang. Gue nunggu jemputan abis ini," jawabnya tanpa memandang ke arah Saskia. Kedua tangannya masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Tiba-tiba banget. Ada apa?" Saskia masih terus memburu.
"Lo mau balik karena ada urusan keluarga atau karena mau kabur abis nyelakain Amber?" dengan berani Saskia menanyakan hal itu.
Pertanyaan itu semakin membuat emosi Nadine naik. Pikirannya yang sedang kalut membuat ia langsung berdiri dan mencengkeram leher kaos merah Saskia dengan kedua tangannya hingga hampir membuat gadis itu hilang keseimbangan. "Lo enggak usah banyak bacot!" Nadine malah mengancam Saskia.
"Sumpah! Kali ini lo udah ngaco banget, Nad!" kali ini Saskia tak bisa diam saja mendengar ancaman Nadine. Ia yang selama ini lebih banyak memilih diam melihat berbagai tingkah Nadine tak bisa lagi berbuat demikian. Hati kecilnya menolak untuk tetap bersama Nadine saat ini.
"Kalau lo ngomong macem-macem ke anak-anak, abis lo, Sas!" tak hentinya mulut Nadine melontarkan Ancaman pada Saskia, satu-satunya teman yang masih setia berada di sisinya di saat yang lain terus datang dan pergi.
Ada rasa perih di hati Saskia mendengar Nadine mengatakan hal tersebut. Walau begitu, ia tak menghiraukannya karena ada hal yang lebih genting yang harus ia tuntaskan saat ini. "Sekarang mending lo bilang ke gue di mana Amber."
"Gue enggak tau, okay?!" jawab Nadine yang dengan sadar memelankan suaranya. Ia tak ingin ada orang lain yang mendengar percakapannya dengan Saskia.
"Maksud lo apa lo enggak tau?!"
"Gue enggak tau, Sas! Jangan tanya terus!" Nadine melepaskan genggamannya dari leher kaos Saskia. Jelas terlihat getaran di kedua tangannya. Ia lalu terduduk di sebelas tasnya dengan padangan menerawang.
Saskia lalu berjongkok di depan Nadine. Sambil menggoyangkan kedua pundak temannya itu ia melontarkan pertanyaan yang sama, "sekali lagi gue tanya; maksudnya apa lo enggak tau?! Jawab, Nad!"
Tersentak akan suara Saskia, Nadine pun akhirnya menjawab, "dia udah gue dorong ke lereng!"
Saskia sontak melepaskan pegangannya pada pundak Nadine. Ia sungguh tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Kecurigaan yang ia rasakan sejak tadi ternyata benar adanya. "Lo sadar enggak sama yang udah lo lakuin? Lo bisa aja udah ngebunuh orang, Nad!"
"Sshhh … Please lo jangan teriak-teriak," Nadine memohon belas kasihan pada Saskia. Tak lagi terdengar nada mengancam dalam setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Ia tahu, ia dalam posisi yang tak boleh marah pada Saskia yang selama ini sering menjadi sasaran kemarahannya. "Gue kalap, okay?"
"Kalap enggak bisa lo jadiin alesan, Nad! Kalau Amber mati gimana?! Kenapa lo sampe senekat itu?!"
"Dia udah ngerebut Gian dari gue, Sas! Bahkan setelah apapun yang gue lakuin dia tetep aja berhasil ngambil hati Gian. Gue nguping obrolan Egidia sama Momon temennya Amber itu kalau Gian besok akan minta maaf karena udah percaya sama foto-foto Amber sama Andre. Dia udah bener-bener ngerebut Gian, Sas!" Nadine bercerita sambil menangis.
"Foto? Apa lagi ini?! Lo udah berulah apa lagi ke mereka?!" Saskia sudah benar-benar tak tahu harus berkomentar apa lagi. "Lo udah gila apa gimana sih, Nad?!"
"Gue cuma baru memperjuangkan cinta gue, Sas! Gue bener-bener jatuh cinta sama Gian! Amber engak boleh dateng-dateng ngerebut Gian kaya gitu!"
Sebuah tamparan meluncur begitu saja di pipi Nadine. Saskia sudah tak bisa lagi mendengar hal semacam ini terucap dari mulut sahabatnya itu. "Sadar, Nad! Yang ada juga lo yang mau ngerebut Gian dari Amber. Mereka itu udah jadian! Gian itu enggak pernah sekalipun suka sama lo! Masa lo enggak bisa ngeliat sih?! Yang lo rasain itu bukan cinta tapi obsesi!"
"Sorry, Nad. Gue udah enggak bisa terima sama cara lo. Mending kita enggak usah temenan lagi mulai sekarang," Saskia berlalu ke luar ruangan setelah mendengar suara keributan di sana. Amber sudah ditemukan.