AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 91 - Nasib Nadine



Mobil yang dikendarai oleh Pak No masuk dan berhenti tepat di area drop-off Gedung Rektorat. Tarachandra nampak menuruni mobil tersebut disusul oleh Amber di belakangnya.


Sudah sekian hari setelah Amber diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tarachandra tak mau membuang waktu lagi. Ia ingin kasus ini segera selesai.


Sebelum hari ini, ia sudah terlebih dahulu menemui Prof. Budiono yang menjabat sebagai rektor kampus dan menyampaikan berita kejadian yang Amber alami. Kala itu, Tarachandra datang bersama dengan Arvin.


Beruntung nama Tarachandra sudah cukup disegani di kampus tersebut sebagai maestro lukis yang sering menjadi pembicara di berbagai event maupun kuliah umum di sana. Sudah berulang kali pula Tarachandra mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen di sana namun selalu ia tolak karena ia bukanlah seorang seniman yang rela terikat dalam gelar semacam itu. Karena semua hal tersebut, wajar saja jika tak sulit baginya untuk bertemu dan berdiskusi dengan penyandang jabatan tertinggi di kampus itu guna membahas tindak kekerasan yang dialami oleh putrinya.


"Hai, Om," Gian yang sudah menunggu kehadiran mereka menyambut Tarachandra dan Amber dengan hangat di lantai 3 gedung tersebut. Ia tahu bahwa ia tak akan bisa ikut masuk dalam diskusi nanti karena ia bahkan tak ada di tempat kejadian kala itu. Hanya saja, ia tetap ingin datang untuk memberikan dukungan dan kekuatan kepada Amber. Hal yang sama juga dilakukan oleh Egidia, Charemon, dan Andre.


"Nadine dan orang tuanya sudah datang, Gian?" tanya Tarachandra.


"Belum, Om. Tapi rektor dan wakilnya sudah ada di ruangan. Arvin dan Bimo juga udah di dalem," jawabnya.


"Ya sudah, kalau gitu Om dan Amber akan ke sana duluan saja. Ayo, Nak."


"Iya, Yah," jawab Amber sambil melambaikan tangannya pada Gian dan yang lain yang hanya bisa duduk di area tunggu yang terletak di depan ruang rektor.


Tak lama kemudian, lift yang bisa dilihat dari ruang tunggu itu terbuka. Nampaklah Nadine yang datang bersama seorang pria paruh baya yang nampak perlente dengan setelan jas warna hitamnya. Pria dengan raut wajah marah itu masuk begitu saja ke ruang rektor tanpa menggubris Gian dan yang lain. Begitu pun dengan Nadine, ia hanya tertunduk menyembunyikan wajah di balik rambut panjangnya saat tahu ada Gian di sana.


Tomi Widyanto, ayah Nadine, adalah seorang pengusaha sukses yang juga menyandang predikat sebagai salah satu penyumbang dana terbesar di yayasan universitas tersebut. Sedari tadi ia sudah menggerutu dan bertanya-tanya mengapa ia sampai diundang untuk bertemu dengan rektor kampus guna membahas tentang Nadine. Berulang kali ia bertanya kepada putrinya namun tak dijawab. Nadine sendiri yakin bahwa undangan ini pasti bukan soal Amber. Ia yakin bahwa Saskia tak akan mengatakan hal yang ia tahu kepada siapapun.


Tentu saja ia salah besar. Keberadaan Gian dan yang lain di luar ruangan sudah sempat membuatnya curiga. Ia jauh lebih terkejut ketika melihat Amber ada di ruangan tersebut bersama dengan Arvin dan seorang pria berambut panjang sebahu. Saat itu juga raut wajahnya memucat.


Tomi sang ayah pun tak kalah terkejutnya saat melihat sosok pria yang sebenarnya sudah lama ia kenal itu. "Kenapa Pak Tara ada di sini juga? Ada apa sebenarnya?" Tomi pun membatin. Ia dan Tarachandra memang sudah lama saling mengenal. Tarachandra sendiri merupakan sosok yang bisa dibilang telah menyelamatkan perusahaan Tomi dari kebangkrutan. Tarachandra yang bahkan sebenarnya tidak mengenal Tomi sedekat itu rela meminjamkan sejumlah besar uangnya untuk mengatasi masalah keuangan di perusahaan Tomi, yang merupakan teman dekat dari rekan sesama seniman Tarachandra. Jika bukan karena uang pinjaman Tarachandra kala itu, mungkin perusahaan Tomi juga tidak akan sesukses saat ini.


"Jadi begini, Pak Tomi," Budiono mulai angkat bicara dengan nada yang serius, "kami mendapat laporan bahwa Nadine, putri bapak, sudah melakukan tindak kekerasan yang mengacu pada percobaan pembunuhan kepada Amber, mahasiswa kami yang juga merupakan putri tunggal Bapak Tarachandra."


Bagai disambar petir. Pembukaan pembicaraan yang disampaikan oleh Budiono sungguh membuat Tomi terkejut. Apa yang sudah dilakukan oleh Nadine? Bagaimana bisa ia melakukan itu?


"Apa maksudnya ini, Pak Budi?! Saya tidak mengerti!"


"Nadine?!"


Bentakan Tomi mengejutkan Nadine. Ia yang sedari tadi tertunduk diam semakin menciut. Ia semakin tak bisa bicara. Keringat dingin semakin terasa di kedua telapak tangannya.


"Sudah, Pak Tomi. Kalau putri Bapak tak mau bicara, biar Nak Arvin saja yang menjelaskan kepada Bapak. Ayo, Arvin." Tarachandra tak ingin berlama-lama. Ia sungguh enggan berhadapan dengan Nadine sejak awal. Gadis muda itu sudah begitu tega membahayakan nyawa putrinya. Beruntung takdir berkata Amber selamat.


Sesuai permintaan Tarachandra, Arvin menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Tomi, termasuk semua hal buruk yang Nadine perbuat kepada Amber jauh sebelum makrab seperti apa yang dituturkan oleh Saskia.


Sikap Nadine yang hanya terdiam tanpa menyangkal sedikit pun seolah membenarkan apa yang Arvin tuturkan. Saat itu juga emosi Tomi memuncak sampai ke ubun-ubun. Dengan pandangan tajam yang menusuk ia melihat ke arah putrinya. Nadine menyadari arti tatapan mata itu. Nadine tahu bahwa ia adalah putri tunggal kesayangan ayahnya. Namun di saat yang sama ia juga sangat mengetahui bahwa kemarahan sang ayah adalah suatu hal yang lain. Itulah yang membuat tubuhnya gemetar seketika.


"Mohon maaf Pak Tomi, sesuai dengan peraturan dan ketentuan universitas, terlepas dari status Bapak sebagai salah satu penyumbang dana yayasan, dengan terpaksa saya harus mengatakan bahwa status kemahasiswaan Nadine akan segera kami cabut sehubungan dengan hal ini," Budiono menjabarkan, "mengenai kasus ini, kami selaku pihak kampus hanya bisa menjadi penengah saja. Hak sepenuhnya berada pada tangan Bapak Tarachandra dan Amber."


Tomi menelan ludah. Bukan karena status kemahasiswaan Nadine yang akan segera dicabut dari kampus, melainkan lebih karena kata-kata terakhir Budiono barusan. Putri satu-satunya bisa saja berakhir di penjara karena perbuatannya kepada Amber.


"Bagaimana, Pak Tara?" Budiono kini bertanya pada Tarachandra.


Sebuah helaan napas yang panjang mengawali apa yang hendak Tarachandra ucapkan. Digenggamnya tangan putrinya. Masih terlihat beberapa luka yang mulai mengering di sana.


"Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja atau akan terus terulang. Bagaimana bisa seseorang berbuat seperti itu kepada orang yang bahkan tidak mengenalnya? Bagaimana bisa gadis semuda itu berbuat sekejam itu hanya karena cinta? Saya mungkin saja tidak akan pernah bertemu dengan Amber lagi jika takdir berkata lain. Namun nyatanya, Amber masih bersama saya hingga saat ini," dengan tatapan yang mengarah langsung pada Tomi dan Nadine, Tarachandra berbicara. Jelas terdengar amarah dalam setiap kata yang ia ucapkan. Aneh jika tidak.


"Surat keterangan dokter dan hasil VeR sudah saya kantongi. Amber pun juga ternyata menyimpan beberapa bukti dari teror yang pernah ia terima di awal masa kuliah," Tarachandra mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Amber. Sementara jantung Tomi dan Nadine berdegup sangat kencang seolah suaranya bisa terdengar oleh siapapun yang ada di ruangan tersebut.


"Ingin sekali saya melanjutkan kasus ini ke jalur hukum. Nadine pantas menerima hukuman atas perbuatannya," lanjut Tarachandra. "Sayangnya, Amber tidak mengijinkannya. Dia hanya ingin Nadine dihukum sesuai dengan ketentuan kampus saja, tak lebih. Dia minta saya membayangkan bagaimana rasanya jika putri saya satu-satunya harus mendekam dibalik jeruji besi sementara saya masih bisa tinggal nyaman di rumah. Saya tak ingin memuji, tapi lihatlah betapa baik hati Amber kepada orang asing yang tega mencelakainya hingga hampir kehilangan nyawa!" penekanan pada kata-kata terakhir Tarachandra jelas tertuju kepada Nadine.


"Ayah …" Amber menangkup tangan Tarachandra dengan kedua tangannya.


"Saya dan Amber tidak akan berlama-lama di sini. Saya takut berubah pikiran jika harus berhadapan dengan Nadine terlalu lama. Selebihnya, silahkan selesaikan urusan kalian dengan pihak kampus," Tarachandra berkata dengan tegas. "Satu hal lagi. Jika suatu saat Nadine masih saja berani mengusik anak saya, saya tidak akan diam. Silahkan anggap ini sebagai ancaman, saya tidak peduli!" Tanpa berpamitan kepada semua yang ada di sana, bahkan tanpa menunggu Tomi atau Nadine mengatakan sesuatu, Tarachandra mengajak Amber untuk meninggalkan ruangan itu.