
Nadine pergi meninggalkan kantin dengan mengajak Saskia karena sudah sangat malas melihat kedekatan antara Amber dan Gian. Hatinya pun menjadi semakin marah saat mengetahui bahwa teman-teman Gian seolah bisa menerima kehadiran Amber dengan cukup mudah. Berbeda dengannya yang seakan tak pernah diterima.
Tersulut akan kebencian, rasa dendam mulai tumbuh di dalam diri Nadine. Dan, semua itu tertuju kepada Amber yang sebenarnya bahkan tak pernah sedikit pun melakukan hal buruk padanya. Bagaimana bisa melakukan hal buruk, bahkan mengenal Nadine pun tidak.
Mungkin Amber tidak mengingatnya. Hanya saja, ia sebenarnya pernah bertemu bahkan bercakap sebentar dengan Nadine dan Saskia dahulu saat Amber datang ke kampus untuk mengurus pendataan peserta inisiasi dan pengambilan jas serta jaket almamater.
Ya, hari di mana Amber pertama kali bertemu dengan Gian itu juga merupakan hari di mana ia pertama kali bertemu dengan Nadine. Nadine adalah gadis yang memperingatkan Amber untuk tidak menggunakan spot parkir yang ia katakan sebagai spot khusus untuk Gian kala itu.
Jika mengingat hari itu kembali, rasanya Nadine ingin marah pada dirinya sendiri. Ada rasa sesal di hatinya karena ia telah mengantarkan Gian kepada Amber yang saat itu sedang menunggu antrian untuk mendapatkan jas dan jaket.
Kala itu, ia berharap bisa sedikit mendapatkan perhatian dari Gian karena sudah membantunya menemukan siapa orang yang sudah menggunakan spot parkir kesayangannya itu. Nyatanya, yang terjadi malah sebaliknya.
Semenjak insiden spot parkir itu, Gian malah terus-terusan bertemu dengan Amber, bahkan hingga sengaja berbuat usil kepada gadis itu. Semua hal tersebut tentu diketahui oleh Nadine karena ia memang seolah selalu mengikuti Gian ke manapun ia pergi.
Seumur hidupnya, baru kali ini Nadine tak bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau. Apapun usaha yang telah ia lakukan seolah belum menunjukkan hasil barang sedikit pun. Mungkin itu juga lah yang tanpa ia sadari sudah mengubah rasa sukanya terhadap Gian menjadi obsesi yang terus saja ia kejar.
Kehadiran Amber juga mebuat obsesinya semakin menggebu. Nadine merasa bahwa jika ia tak bisa mendapatkan Gian, maka Amber pun juga tak boleh.
Sungguh tak adil bagi Amber memang. Ia hanyalah korban salah sasaran dari rasa cinta Nadine yang bertepuk sebelah tangan kepada Gian bahkan saat perasaan itu belum sempat tersampaikan.
Siang ini, berjalan di area parkir Fakultas Seni bersama Saskia sungguh membuat Nadine semakin geram. Ia terus saja mengingat betapa ia sendiri lah yang sebenarnya sudah membuat Gian mengenal Amber.
Saat kebetulan melihat mobil Amber yang masih ia ingat dengan jelas pun, Nadine secara tak sadar langsung meluapkan kemarahannya. Ia membuka penutup cup minuman dingin yang sedari tadi ia bawa lalu menyiramkan seluruh isinya secara serampangan hingga mengotori bagian muka hingga kaca depan mobil tersebut.
“Dine, ngaco lo! Kalau ada yang ngeliat gimana?!” kata Saskia yang kaget melihat apa yang baru saja dilakukan oleh temannya itu.
“Diem, lo! Nggak usah bawel!” bentak Nadine.
Kalau bukan karena ia sudah menerima banyak barang dan bantuan dari Nadine, mungkin Saskia tidak akan betah berteman dengan Nadine yang memang sering kali egois, keterlaluan, dan mudah sekali marah. Kenyataannya memang begitu, jumlah orang yang kini masih bertahan menjadi teman Nadine bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar dari mereka pun sebenarnya juga hanya mengambil keuntungan karena Nadine terkenal sebagai orang yang cukup royal pada siapa saja yang mau mengekor padanya.
“Ayo buruan!” kata Nadine yang mengajak Saskia untuk buru-buru menuju ke mobilnya.
Setelah mereka masuk, Nadine hanya menyalakan pendingin kabin namun tak lekas melajukan kendaraannya tersebut.
“Kenapa ga buruan berangkat?” tanya Saskia.
“Gue belum puas kalau belum liat reaksi si cewek tengil itu. Kita tunggu dulu,” jawabnya Nadine.
Saskia yang sudah hafal betul dengan sifat Nadine hanya bisa diam.
Setelah sekitar 20 menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Nadine terlihat juga dari kejauhan. Sayangnya, Amber tak sendirian. Ia bersama dengan Gian.
Saat sudah berada dekat dengan mobil Amber, Amber dan Gian sama-sama dikagetkan oleh penampakan mobil tersebut. Bagian muka dan kaca depannya sangat kotor oleh cairan lengket yang mereka juga tak tahu itu apa.
“Bukan gue,”kata Gian.
“Iya, aku percaya,” Amber menanggapinya dengan nada datar. Ia lalu mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan berusaha membersihkan cairan yang mengotori kaca depan mobil pada bagian pengemudi.
“Isengnya nggak lucu kalau kaya gini, Amber,” Gian berkata sambil mengambil beberapa lembar tisu yang Amber pegang lalu membantunya.
“I know,” jawab Amber yang masih terdengar kesal.
“Bentar-bentar. Jangan dilap dulu, malah makin burem,” kata Gian sambil menunjuk kaca depan mobil Amber yang kini memang terlihat cukup buram.
“Iya juga,” kata Amber yang lalu menghentikan apa yang sedang ia lakukan.
“Bawa ke tempat cuci mobil aja. Bentar juga bersih. Di deket sini ada kok,” saran Gian.
Amber berpikir sejenak lalu menjawab, “iya deh. Aku mau ke sana dulu sekarang. Makasih ya Gian.”
“Nggak. Gue anterin lo aja sini,” Gian menawarkan.
“Nggak usah. Aku sendiri juga bisa. Kamu mau pulang, kan?” Amber menolak tawaran Gian.
“Kaca burem gini malah bahaya kalau lo nyetir sendiri. Lagian lo kan belum tau tempat cuci mobilnya di mana.” Gian langsung menyambar kunci mobil yang dipegang oleh Amber dan masuk untuk duduk di belakang kemudi.
Amber tak bisa menolak lagi. Lagipula, jika ia pikir lagi, suasana hatinya pun sedang tidak baik sekarang. Mungkin memang ada baiknya jika ada yang mengantarkannya. Hal ini juga lah yang diam-diam Gian pikirkan saat ini.
“Kamu beneran nggak keburu pulang?” Amber memastikan.
“Nggak. Tenang aja, gue baru nggak ada acara kok,” jawab Gian.
“Lo cewek tapi kenapa mobilnya model begini sih? Heran gue,” lanjut Gian mencoba bercanda mengomentari mobil SUV hitam kesayangan Amber, yang memng terlihat cukup garang dan lebih cocok untuk kaum pria itu.
“Nggak usah bawel, Gian. Jalan aja buruan,” kata Amber sambil melirik kesal pada Gian.
“Dih. Udah berani ngatain gue bawel sekarang,” Gian berkata sambil sedikit tersenyum.
Mereka pun berlalu meninggalkan kampus untuk mencari tempat pencucian mobil terdekat. Tentu saja, semua kejadian tadi pun juga disaksikan oleh Nadine dan Saskia. Saskia sudah bisa menebak hal apa yang kemudian akan terjadi.
Benar saja, Nadine menggebrak setir mobil dengan cukup keras dan hal itu membuat Saskia kaget walaupun ia sudah bersiap-siap tadi.
“Sial! Kenapa lagi-lagi mereka malah jadi deket gitu sih?! Kesel banget gue! Tu cewek pake pelet kali ya?!” Nadine berteriak sekerasnya di dalam mobilnya.
Di saat hatinya sedang marah bercampur sedikit perasaan sedih karena pujaan hatinya malah terlihat lebih nyaman bersama Amber pun semesta lagi-lagi seolah tak mendukung Nadine. Entah hal apa lagi yang akan Nadine perbuat nanti.