AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 90 - Fakta Yang Terkuak



Nadine benar-benar pergi meninggalkan wisma di saat acara makrab belum selesai. Sedangkan Saskia menanggung sebuah beban yang terasa sangat berat di pundaknya. Ia begitu terkejut melihat Amber yang dibawa ke rumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan seperti itu. Di matanya, itu adalah sebuah pemandangan yang membuat batinnya sungguh tersiksa. Dadanya terasa sesak karena ia mengetahui fakta yang sebenarnya dibalik kesialan yang menimpa Amber saat itu.


Semalaman Saskia tidak bisa memejamkan matanya walau tubuhnya terasa sangat lelah. Ia terus memikirkan apa yang harus ia lakukan. Walaupun ia sudah memutuskan hubungan persahabatannya dengan Nadine tetap saja ia tak bisa begitu saja melaporkan Nadine. Ia tak sampai hati karena satu laporan saja mungkin sudah bisa menjebloskan Nadine ke dalam penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan.


"Kalau Amber sampai mati, Nadine jadi seorang pembunuh!" kata-kata itulah yang terus saja terngiang di dalam pikirannya dan itu terasa sungguh menyiksa. "Ya, Tuhan. Gue harus gimana?"


"Kenapa lo, Sas?" sapaan dari Arvin membuyarkan lamunan Saskia. Siang itu, acara makrab sudah selesai dilaksanakan dan seluruh peserta sudah pulang. Hanya tinggal sebagian besar panitia saja yang masih tinggal di sana untuk beres-beres.


"Kalau lo enggak jujur, lo jadi bagian dari perbuatan Nadine, Sas! Itu artinya; kalau Amber mati lo juga jadi bagian dari pembunuhan yang terjadi atas dia! Lo juga jadi pembunuh, Sas!" bukannya menjawab, Saskia malah menatap wajah Arvin sambil terus membatin di dalam hatinya. Pandangannya kosong.


"Heh! Ditanyain malah ngeliatin gitu. Kenapa lo?" tanya Arvin heran.


Walau awalnya ragu, namun akhirnya Saskia memilih untuk berbicara juga, "Vin, gue ada hal yang mau gue ceritain ke elo, empat mata." Sisi manusiawi Saskia tak bisa menolak lagi. Ia harus menyampaikan kebenaran yang ia ketahui. "Kalau pun gue bakal kena resikonya setelah gue ngomong ke lo, gue akan terima, Vin."


Melihat wajah Saskia, Arvin tahu bahwa ada hal serius yang sedang gadis itu alami. "Okay, cerita aja. Biar yang lain ngelanjutin beres-beres." Ia lalu mengajak Saskia pergi ke salah satu tempat sepi yang masih ada di area wisma. Di sana, dengan jelas dan lengkap Saskia menceritakan semua hal yang ia tahu kepada Arvin. Bukan hanya tentang Nadine yang sudah mendorong Amber ke lorong tadi malam, tetapi juga semua hal buruk yang diam-diam sudah ia lakukan pada Amber selama ini. Mulai dari insiden spot parkir, teror di loker, tumpahan minuman yang mengotori bagian kaca depan mobil Amber, hingga hasutan pada Samantha yang akhirnya membuat Amber ditimpa kesialan yang bertubi-tubi.


"Gue speechless, Sas. Gue enggak tau sama sekali kalau masalahnya sekompleks ini," ujar Arvin. Jantungnya berdegup kencang sepanjang ia mendengarkan penuturan Saskia. Ia tak menyangka bahwa Nadine yang terkenal sebagai putri dari salah satu penyumbang dana terbesar di yayasan kampus bisa berbuat hal yang keji seperti itu. Manusia yang berpikiran normal tidak akan mempunyai hati untuk menyelakai sesamanya dengan cara seperti itu.


"Vin, kalau boleh gue minta tolong banget sama lo," dengan ragu Saskia meminta. "Rahasiain nama gue sebagai orang yang udah ngasih tau semua ini ke lo. Kuliah gue taruhannya, Vin. Kasian bokap gue yang udah susah payah nyari duit buat kuliahin gue di sini," Saskia memohon kepada Arvin.


"Iya. Nama lo aman sama gue. Dari semua cerita lo juga kayanya lo bukan pihak yang terlibat. Lo cuma kebetulan berada di posisi sebagai pihak yang tau aja," ujar Arvin.


"Iya, Vin. Gue bukannya mau membela diri, cuma emang gue enggak pernah mau ikutan kalau diajakin sama Nadine buat ngerjain Amber, walau sering kali gue emang ada di deket dia. Gue udah berulang kali nasehatin dia buat stop, tapi omongan gue enggak didengerin, Vin," ujar Saskia.


***


"Ini persoalan serius dan tidak bisa dibiarkan begitu saja, Nak Arvin. Begitu kesehatan Amber membaik, Om akan bawa kasus ini ke pihak rektorat untuk ditindaklanjuti," dengan begitu tegas Tarachandra mengatakan.


"Iya, Om. Saya cuma merasa bertanggungjawab karena Amber adalah salah satu peserta makrab yang saya pimpin. Kalau memang Om ingin membawa kasus ini naik ke pihak rektorat tentu saya enggak bisa ngelarang, Om. Itu adalah hak Om sebagai orang tua Amber," kata Arvin.


"Om yang sangat berterima kasih. Nak Arvin sudah menjalankan tugas sebagai ketua makrab dengan baik. Nak Arvin tidak perlu khawatir, Om akan upayakan biar Nak Arvin dan rekan panitia yang lain tidak kena sanksi dalam hal ini. Diliat dari manapun panitia sebenarnya enggak salah dalam kasus ini. Ini sesuatu yang di luar kendali kalian. Kalian malah dengan sigap mencari sampai mengantar Amber ke rumah sakit. Om sangat berterima kasih. Entah bagaimana jadinya kalau enggak ada kalian semua."


"Saya mewakili temen-temen panitia juga berterima kasih sama Om, karena Om sama sekali enggak nyalahin kami. Saya sempat khawatir. Saya juga minta maaf kalau Amber harus ngalamin ini semua, Om," ungkap Arvin.


"Tenang saja, kalian enggak salah," kata Tarachandra.


"Kalau Om perlu bantuan kami sebagai saksi kami bersedia, Om," kata Arvin dengan mantap.


"Iya. Om tentu butuh bantuan kalian biar kasus ini cepat terselesaikan," jawabnya singkat. Setelahnya ia melihat penuh iba ke arah Amber dan berkata, "maaf ya, Sayang. Kali ini nampaknya kamu udah enggak bisa sembunyi lagi. Ayah harus muncul untuk perjuangin keadilan buat kamu. Kamu enggak pantas menerima perlakuan seperti ini, terlebih karena kamu sama sekali enggak salah."


"Iya, Yah," jawab Amber menurut. Ia masih memproses semua informasi yang baru saja ia terima. Ia sungguh tak mengenal siapa itu Nadine dan mengapa ia sampai harus menerima berbagai hal buruk karena gadis itu. Namun dari cerita ini, ia jadi mengetahui bahwa Nadine adalah salah satu dari sekian banyak gadis yang menaruh hati pada Gian, kekasihnya.


Gian hanya duduk diam tak bersuara di samping Amber. Amber yang sedikit banyak sudah mengenal Gian tahu bahwa hatinya pasti sedang marah dan merasa amat bersalah, sama seperti saat Amber menerima perlakuan yang semena-mena dari Rara dan teman-temannya. Tanpa merasa canggung karena di situ ada Tarachandra dan teman-temannya yang lain, Amber meraih tangan Gian dan mengenggamnya. Hal itu langsung membuyarkan pikiran Gian yang menerawang. Gian pun mengeratkan genggaman tangannya, seolah ia tak ingin lagi melepasnya.