AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 80 - Pertengkaran Pertama



Amber membuka matanya perlahan. Di luar jendela, semburat matahari sudah terlihat jelas, pertanda sudah pagi. Semalam ia tak sengaja tertidur saat sedang mengobrol melalui aplikasi chat dengan Charemon. Nampaknya tubuhnya memang butuh istirahat yang berkualitas setelah terlalu sering begadang kemarin-kemarin. Terbukti tidur pulasnya semalam membuatnya merasa lebih segar pagi ini.


"Masih belum ada kabar juga," ucapnya saat menatap layar ponsel pintarnya. Hanya ada beberapa pesan dari Charemon yang tertera di sana. Tak ada satu pesan atau panggilan pun dari Gian.


"Kirim chat duluan aja kali ya. Siapa tau kemaren Gian ketiduran karna capek abis manggung," ucapnya lagi. Ia lalu mengetik sebuah pesan yang menanyakan apakah Gian sudah bangun dan meletakkan kembali ponselnya di meja kamarnya.


Amber lalu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh mukanya supaya terasa lebih segar. Setelahnya, ia keluar kamar untuk sarapan bersama ayahnya seperti biasanya.


Seusai sarapan, Amber pun kembali ke kamar untuk mandi. Saat badannya sudah kembali segar, dilihatnya lagi ponselnya, berharap ada balasan pesan dari Gian.


Ada! Namun balasan yang ia terima dari Gian membuatnya merasa kecewa. Gian hanya membalas dengan satu kata, 'udah'. Tak ada kata-kata manis atau stiker lucu yang biasa ia sertakan. Di dalam hatinya, Amber merasa pasti ada yang salah. Tak biasanya Gian seperti ini. Biasanya ia sangat ribut dan manja kepada Amber. Kali ini tidak. Bahkan, sejak kemarin pun tidak ada kabar yang ia sampaikan pada Amber.


Kok balesnya pendek banget gitu? Ada apa? Dari kemaren juga enggak ada kabar.


Amber akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Gian. Menurutnya, jika ada sesuatu terjadi dalam sebuah hubungan sebaiknya segera dibicarakan. Amber memang belum pernah berpacaran sebelumnya, tapi paling tidak itulah yang ia tahu berdasarkan pengalaman hidup sang ayah maupun nasehat-nasehat yang selalu diberikan oleh Tante Ria.


Apa ini? Balas Gian dengan menyertakan semua foto yang ia terima dari nomor tak dikenal kemarin. Amber sedikit kaget melihat Gian mempunyai foto-fotonya sedang berkegiatan bersama Andre. Tanpa berpikir panjang Amber langsung menghubungi Gian melalui telepon.


"Maksudnya apa, Gian? Aku enggak ngerti," ucap Amber tanpa diawali dengan kata 'halo' terlebih dahulu.


"Kamu yang maksudnya apa, Amber. Kenapa kamu terlalu deket sama Andre gitu?" dengan suara yang terdengar malas Gian kembali bertanya.


"Deket gimana sih maksudnya? Itu kan baru ngerjain sketsa bareng Gores," Amber semakin tak mengerti maksud pertanyaan Gian yang seolah berputar-putar.


"Kamu enggak mikir kalau aku bakalan cemburu kamu sedeket itu sama Andre?" Gian melontarkan pertanyaan lain.


"Astaga! Kamu cemburu? Buat apa sih, Gian? Andre kan temen sekelas aku. Kamu juga tau aku kemaren ngerjain tugas sketsa!" Amber mulai merasa kesal. Ia kini tahu bahwa Gian ternyata sedang merasakan cemburu tersulut foto-foto yang ia lihat.


"Iya, aku tau dia temen sekelas kamu dan kalian ngerjain tugas barengan. Tapi kan enggak perlu sedeket itu juga. Kita sekarang udah resmi pacaran lho, Amber. Enggak perlu aku kasih tau juga harusnya kamu bisa membatasi kan?" Gian membeberkan sudut pandangnya yang justru semakin membuat Amber merasa kesal dan tertuduh.


"Buat apa kamu nanyain itu? Yang penting kan bukan itu sekarang," dengan santainya Gian menjawab.


"Penting lah! Siapa coba orang yang udah kurang kerjaan motoin aku kaya gitu? Kamu nyuruh orang ngikutin aku emangnya?" Amber malah jadi menuduh Gian karena sedikit demi sedikit emosinya mulai naik.


"Jangan sembarangan nuduh dong-"


Belum juga selesai Gian berbicara Amber sudah menyahut dengan nada yang jelas kesal, "kamu lho yang udah nuduh aku duluan. Emangnya aku ngapain sama Andre? Kamu ada temen-temen cewek aja aku enggak pernah kaya kamu gitu. Aku percaya sama kamu. Kamu enggak percaya sama aku?!"


Gian terdiam. Di dalam hatinya memang ada sedikit perasaan menyesal telah menuduh Amber. Tapi ia juga tak bisa memungkiri perasaan cemburunya melihat Amber begitu dekat dengan Andre. Emosinya seolah membuatnya tak mau mengalah dan malah meluapkan semua rasa cemburunya yang sejak kemarin ia tahan.


"Aku ceritain ya, Gian," Amber melanjutkan lagi perkataannya karena tak juga mendapat tanggapan dari Gian. "Kamu jago fotografi lho. Yakin kamu enggak curiga sama foto-foto itu? Jangan keburu kemakan cemburu duluan dong. Coba diliat lagi, aneh enggak itu foto? Kenapa fotonya cuma fokus ke aku sama Andre aja? Padahal kalau foto itu dizoom-out kamu bakalan liat kalau ada Charemon yang duduk di bawah deket kakiku baru bikin sketsa. Di deket Andre juga ada Dion sama yang lain."


"Kalaupun emang kaya gitu, kenapa kamu harus duduk sebelahan sama Andre sedeket itu?" Gian masih saja ngeyel dan tak mau terima.


"Susah banget sih dikasih taunya! Andre sama aku itu enggak duduk sebelahan! Dia itu cuma baru nengok sketsaku bentar terus pergi lagi ke anak-anak yang lain. Enggak ada 5 menit dia di situ, Gian!" Rasa kesal Amber semakin memuncak.


"Kamu kok kayak belain Andre banget sih? Bilang baek-baek enggak usah pake marah kan bisa." Memang, sedari tadi Gian berbicara tanpa meninggikan suaranya. Hanya saja, jelas terdengar dari nadanya bahwa ia tidak senang. Terlebih lagi, Gian terus memburu dan seolah mencoba mengatakan bahwa Amber bersalah sudah berdekatan dengan Andre. Hal itulah yang membuat Amber semakin kesal.


"Arrrrgh! Terserah! Bodo amat! Besok aku berangkat kuliah sendiri! Enggak usah jemput!" Amber sudah tak bisa menahan kekesalannya lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Cemburu itu lucu. Cemburu itu tandanya sayang. Tapi kalau sudah sampai seperti ini tentu saja bisa membuat perasaan menjadi kesal. Amber yang sedari kemarin menanti kabar dari Gian dan tak tahu apa-apa malah mendapatkan tuduhan yang macam-macam. Tentu saja ia marah.


"Gian bodoh!" teriak Amber dengan menutupkan bantal pada mukanya. Ia butuh meluapkan rasa kesalnya tapi tak ingin seorang pun di rumah itu mendengarnya, terutama sang ayah. "Emang enggak tau apa kalau dia itu cowok pertama yang bener-bener aku suka? Dia itu cowok pertamaku! Kenapa malah cemburu sama Andre? Enggak jelas banget sih! Kalau aku sukanya sama Andre juga enggak bakal aku jadian sama kamu kan?! Ngeselin!"


Sepanjang hari itu, keduanya sama sekali tak saling berkabar. Keduanya masih keras memegang egonya masing-masing. Amber tak terima karena sudah didiamkan sejak kemarin dan dituduh dekat dengan Andre yang baginya hanyalah sebatas teman saja. Sedangkan Gian, ia tak mau mengalah karena merasa bahwa Amber lebih membela Andre.