
"Sayang, Ayah nanti mau ke padepokan Tante Ratih. Kamu mau ikut enggak?" tanya Tarachandra saat sedang menikmati sarapan bersama Amber.
Akhir-akhir ini Tarachandra memang sering berpamitan untuk bertemu dengan Ratih. Amber sebenarnya selalu diajak namun gadis itu terus menolak dengan berbagai alasan. Kali ini pun begitu.
"Maaf, Yah. Amber enggak bisa. Amber ada janji sama Gian. Enggak papa kan yah?" tanya Amber.
"Enggak papa, Nak. Mumpung libur juga kan, jadi kamu bisa punya waktu lebih banyak bareng Gian. Ayah titip salam ya buat Gian," ujar Tarachandra dengan begitu perhatian.
"Iya, Ayah."
Hati Amber merasa tak enak karena selalu menolak ajakan ayahnya. Mau bagaimana lagi. Ajakan tersebut selalu berhubungan dengan Ratih dan Amber masih belum selesai dengan kegalauannya. Ia tak ingin pertemuan Tarachandra dengan Ratih malah berubah canggung karena dirinya.
"Kamu kelihatannya akhir-akhir ini agak pendiam, Nak. Ada apa? Mau cerita sama Ayah?" tanya Tarachandra dengan tatapan penuh kasih.
"Enggak ada kok, Yah," tentu saja Amber mengelak. "Kayaknya cuma bosen karena liburan, Yah, jadi jarang ketemu sama Momon dan yang lain. Makanya nanti aku main sama Gian aja biar enggak makin bosen."
"Iya, sana puas-puasin mainnya. Kalau udah masuk kuliah juga pasti kamu akan sibuk dengan tugas. Pokoknya kalau kamu ada apa-apa, kamu harus cerita ya sama Ayah?" Kebiasaan bercerita membuat hubungan Tarachandra dan Amber begitu lekat hingga saat ini.
"Iya, Ayah. Amber pasti cerita." Amber memberikan senyum manis karena tak ingin ayahnya merasa khawatir.
"Ya udah. Ayah mau berangkat dulu ya biar enggak kesiangan. Enggak enak udah ditungguin sama Tante Ratih," Tarachandra pun beranjak dari meja makan setelah memberikan kecupan di kening putrinya.
"Hati-hati, Ayah." Amber menghela napas panjang. Ia masih menyelesaikan sarapannya sambil menatap punggung ayahnya yang kian menjauh.
***
"Apa yang akan kamu lakukan kalau Om Adi jatuh cinta lagi?" tanya Amber yang akhirnya hanya menghabiskan waktu di rumah Gian. Ia kehilangan selera untuk pergi ke manapun.
"Eh? Tiba-tiba tanya itu?" Gian yang sedari tadi menggunakan paha Amber sebagai bantal sambil menonton film mendongak melihat wajah kekasihnya itu
"Ih … Ditanyain malah balik nanya," gerutu Amber.
"Ya enggak masalah kan? Itu hak Ayah," kata Gian. "Tapi kalau mau ke arah yang lebih serius lagi mungkin aku sama Dhika bakal ikut berpendapat. Selama orangnya baik, enggak aneh-aneh, beneran sayang sama Ayah, sama aku, sama Dhika ya kenapa enggak?"
"Gitu ya?" Amber menanggapi dengan singkat.
Gian yang sedari tadi sudah menangkap raut muka Amber yang tak biasa, ia pun memilih untuk duduk dan bertanya, "Om Tara kenapa?" Gian paham ke mana arah pembicaraan Amber. Melihat gadisnya menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, Gian pun mengelus kepala Amber, berharap itu bisa memberikan rasa nyaman dan mengurangi kepenatan yang jelas tergambar di wajahnya.
"Entahlah," Amber menjawab dengan singkat.
"Kok entah?" Gian semakin penasaran.
"Beberapa hari yang lalu pas baru ke pameran sama aku, Ayah ga sengaja ketemu sama temen kuliahnya dulu. Namanya Tante Ratih," pada akhirnya Amber tak tahan lagi untuk bercerita kepada Gian. "Pas pertama ketemu Ayah langsung ngajakin Tante Ratih makan siang bareng bertiga, padahal biasanya Ayah selalu jaga jarak kalau sama temen wanita. Tante Ratih juga keliatan antusias banget. Kata Ayah, dulu tante Ratih sempat bilang suka sama Ayah tapi enggak bisa Ayah terima karena Ayah mau fokus sama kuliahnya."
"Terus?" Gian masih menyimak penuturan Amber.
"Lho? Kenapa emangnya? Bukannya kamu juga baru senggang dan enggak ada kegiatan apa-apa?"
"Iya sih," jawab Amber pelan. "Hatiku enggak tenang. Ini hal yang baru buatku. Maksudku kedekatan Ayah dengan seorang wanita kayak gini.
Gian tersenyum mendengar penuturan Amber yang begitu polos. " Jadi kamu ngerasa enggak nyaman kalau Om Tara deket sama Tante Ratih?"
"Bukannya enggak nyaman sih. Cuma … aku terus kepikiran Bunda karena hal itu," suara Amber melirih ketika menyebut soal Ayu.
"My Amber …" kata Gian sembari menarik pelan Amber ke dalam pelukannya. "Tak apa merasa seperti itu. Enggak perlu kamu pikirin terlalu berat. Just let is flow. Lihat ke mana alurnya akan pergi."
"Terus aku harus diem aja dan terus bersikap aneh kayak gini? Enggak enak banget tauk. Aku jadi ngerasa udah bohong sama Ayah," ujar Amber.
"Ya enggak gitu juga. Gini deh aku coba jelasin. Perasaan cinta itu adalah sesuatu yang enggak bisa kita paksakan untuk datang dan pergi. Dia bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi," ujar Gian. "Maksudku gini. Kalau memang Om Tara ada hati sama Tante Ratih, ya kamu bisa apa? Kalaupun kamu enggak suka dan ngomong sama Om Tara, bisa aja Om Tara berhenti menemui Tante Ratih sesuai permintaanmu. Tapi gimana dengan hatinya? Tentunya rasa itu tetep ada dong?"
"Iya sih. Aku pun udah sempet mikir gitu. Makanya aku selalu nolak ajakan Ayah untuk ketemuan sama Tante Ratih. Aku cuma enggak mau suasananya malah jadi awkward," ujar Amber.
"Satu lagi," Gian melanjutkan perkataannya, "emang kamu yakin kalau Om Tara sering ketemuan sama Tante Ratih itu karena memang ada apa-apa di antara mereka?"
"Enggak tau juga sih. Aku selalu langsung nolak pas diajak dan Ayah enggak cerita ketemuannya itu mau ngapain," kata Amber.
"Huuu … Kamu ini." Gian menyentil pelan dahi Amber. "Gimana kalau ternyata semua kekhawatiranmu itu cuma ada di dalem kepalamu aja? Gimana kalau ternyata Om Tara ketemuan terus sama Tante Ratih karena ada keperluan yang lain?"
"Ah! Bener juga!" celetuk Amber. Penuturan Gian barusan seolah menyadarkannya.
"Makanya kalau diajakin itu ikut, biar tahu. Kalau penasaran itu tanya, biar jelas. Jangan malah galau berhari-hari sampe males ngapa-ngapain kayak gini nih. Padahal kan tadi aku rencananya mau ngajakin makan siang di cafe yang dulu itu tuh," kata Gian sambil berpura-pura cemberut.
"Cafe yang mana?!" tanya Amber cepat.
"Dih! Langsung nyaut. Laper kaaan? Makanya enggak usah galau sampe enggak nafsu makan. Sekarang kelaperan kan perutnya?" Gian terus saja menggoda Amber.
Sesungguhnya Gian hanya tak ingin Amber berlarut-larut dalam perasaan galaunya. Ia tahu yang Amber alami tidak mudah. Berbeda dengan dia yang ibunya sudah jelas-jelas bercerai dengan sang ayah. Kalaupun suatu saat ayahnya dekat dengan seorang wanita itu tidak akan menyisakan perasaan mengganjal dibenak Gian. Sementara Amber, hingga saat ini masih belum tahu bagaimana keadaan ibunya, termasuk bagaimana perasaan ibunya terhadap ayahnya.
"Ayo, aku mau ke cafe. Aku laper," kata Amber dengan manja.
"Tadi katanya males ke mana-mana?" Gian masih saja menggoda Amber.
Amber yang sudah merasa lebih baik dan ingin pergi keluar lalu melayangkan sebuah kecupan di pipi Gian dan berkata dengan begitu manis, "Gian sayang, aku mau makan di cafe."
Mata Amber yang dilebar-lebarkan membuatnya terlihat begitu menggemaskan. "Curang! Beraninya ngerayu," kata Gian yang sudah terlanjur merasa gemas.
Gian lalu mengecup bibir manis Amber yang kemudian malah membuat keduanya berciuman cukup lama hingga Amber melepaskan kecupannya dan berkata dengan wajah memelas, "lapeeeeer."
Gian sontak tertawa melihat tingkah kekasihnya. "Maaf … maaf. Keterusan. Yuk … yuk berangkat sekarang."