AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 116 - Memohon Restu



Pagi-pagi benar Gian mengantar Amber kembali ke rumah. Mereka berdua harus menyambut kedatangan Ayu dan Tarachandra. Untunglah kedua tamu istimewa itu belum sampai di rumah ketika Amber dan Gian tiba. Hal itu memberikan kelegaan di hati Amber.


"Kamu tunggu di sini aja, Gian. Aku mau bantuin Bik Nem. Kayaknya Bibik baru nyiapin makanan buat Bunda di dapur deh," kata Amber, meminta Gian menunggu di ruang tengah.


"Iya deh sana," kata Gian. Ia menyambar sebuah surat kabar baru dan mulai membacanya.


Amber bergegas menuju dapur. Dilihatnya beberapa menu makanan sudah selesai Bik Nem buat. Yang menarik perhatian Amber, Bik Nem memasak semua menu kesukaan Ayu. "Bibik," seru Amber sembari memeluk Bik Nem. "Bibik udah tau Bunda mau pulang?"


"Iya, Non. Tadi malam Pak No yang ngabarin ke Bibik. Bibik senang sekali makanya Bibik siapin semua ini. Mudah-mudahan Nyonya Ayu masih suka sama masakan Bibik ya, Non," wanita tua itu berkata dengan sorot mata bahagia.


"Pasti suka, Bik. Bibik kan masaknya pakai cinta," goda Amber dengan senyum merekah di bibirnya. Dipeluknya wanita tua yang sudah ikut merawatnya sejak kecil itu.


"Non apaan sih. Bibik masaknya pakai bahan dan bumbu yang tadi Bibik beli di pasar." Diam-diam Bik Nem merasa sangat tenang karena Amber terlihat begitu senang.


"Amber bantuin ya, Bik?" kata Amber bersemangat.


"Boleh, Non. Dikit lagi selesai ini," jawab Bik Nem sembari melanjutkan aktivitas memasaknya.


Belum juga lama Amber berkutat di dapur bersama Bik Nem,terdengar suara mobil datang. Buru-buru Amber menuju ke depan. Benar saja Ayu, Tarachandra dan juga Pak No sudah datang. Cepat-cepat Amber membukakan pintu mobil untuk Ayu. "Bunda," sapanya dengan riang. Ia lalu memeluk erat ibunya. Rasanya sudah seperti mimpi saja, Ayu benar-benar berada di rumah itu bersamanya dan juga sang ayah. "Selamat datang di rumah kita, Bunda. Bunda suka kan sama rumahnya?" dengan antusias Amber bertanya.


"Suka sekali, Sayang," jawab Ayu. Ayu tekesima dengan dengan rumah bergaya arsitektur Jawa-modern itu, terutama karena halaman rumah tersebut terlihat hijau dan asri. Bahkan, ada banyak jenis tanaman bunga yang menjadi favorit Ayu tumbuh subur di sana.


"Nanti Amber ajak bunda keliling-keliling ya, Bunda. Sekarang ayo masuk dulu, Bunda. Bik Nem udah nungguin Bunda dari tadi," kata Amber. Ia menggandeng tangan Ayu untuk masuk.


Bik Nem yang sedang menata makanan di meja makan bergegas menghampiri dan memeluk Ayu dengan penuh kasih. "Maafin Bibik ya, Nyonya. Bibik enggak bisa jaga Nyonya dengan baik," isaknya.


"Ayo, Nyonya. Makan dulu. Nyonya pasti kangen sama masakan Bibik kan?" ajak Bik Nem.


"Iya, Bik. Kangen sekali," jawab Ayu. Ia sungguh terharu saat melihat semua jenis makanan yang sudah susah payah Bik Nem buatkan khusus untuknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia makan dengan lahap dan nikmat.


***


Seusai makan siang, Ayu, Tarachandra, Amber, dan juga Gian bercengkrama di ruang tengah. Saat itu, Tarachandra baru menyadari sesuatu.


"Cincin apa itu, Nak? Ayah baru liat kamu pakai itu," tanya Tarachandra penasaran walau sebenarnya ia sudah menduga bahwa iti adalah pemberian Gian.


"Ah, ini-"


Gian memegang tangan Amber dan memotong perkataannya. "Cincin itu Gian yang kasih ke Amber kemarin malam, Om, Tante. Itu wujud keseriusan Gian sama Amber," layaknya lelaki sejati, Gian mengucapkan apa yang sepatutnya ia katakan dengan oenuh sopan-santun.


Walaupun sedikit kaget, Tarachandra sudah tak heran mendengar pernyataan Gian. Sejak awal, ia sudah bisa membaca bahwa Gian memang tulus menyayangi Amber. Tarachandra juga ingat betul bahwa Gian adalah pemuda pertama yang berhasil membuka hati Amber untuk mau mengenal lawan jenisnya di saat Tarachandra sempat merasa khawatir akan hal itu. "Ada yang mau kamu sampaikan ke Om sama Tante?" tanya Tarachandra kepada Gian. Suasana berubah serius seketika.


"Iya, Om, Tante. Ada," jawab Giam sembari menegakkan tubuhnya. "Gian tahu, jika mengucapkan hal yang sepenting ini harusnya Gian didampingi sama Ayah. Gian janji akan membawa Ayah bertemu dengan Om sama Tante. Untuk saat ini, ijinkan Gian mengawalinya sendiri. Gian tulus sayang sama Amber. Gian sudah jatuh cinta pada Amber. Karena itulah, Gian ingin memohon restu kepada Om Tara dan Tante Ayu untuk bertunangan dengan Amber. Om dan Tante tidak perlu khawatir karena Gian juga tidak akan terburu-buru menikahi Amber. Gian akan menyelesaikan kuliah dulu dan mengejar apa yang sudah Gian cita-citakan. Tentunya Amber juga ingin mengejar mimpinya."


Ayu tercengang mendengar kata-kata yang disampaikan dengan begitu mantap oleh Gian yang masih sangat muda. Semalam, ia sudah mendengar banyak tentang Gian dari Tarachandra. Karena itulah, ia pun merasa tenang jika Amber bersama dengan Gian. Ayu menyentuh tangan Tarachandra dan mengangguk pelan pertanda setuju.


Tarachandra menangkap isyarat yang Ayu berikan. Ia sendiri pun juga tahu bahwa Gian adalah sumber kebahagian bagi Amber. Ia bisa melihat dengan jelas perubahan Amber yang lebih periang saat semenjak menjadi kekasih Gian. Bahkan saat ini pun Tarachandra bisa melihat binar di mata anak semata wayangnya ini. "Terima kasih kamu sudah berani jujur sama Om dan Tante. Kami merestui niat baikmu, Gian."