AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 29 - Kota Patah Hati (Bagian 3)



Gian perlahan membuka matanya. Rasa pening di kepalanya membuat ia malas untuk bergerak bangun. Semalaman ia tidur di sofa. Itu membuat badannya terasa sangat pegal sekali pagi ini. Ia pun akhirnya memutuskan untuk duduk.


Dilihatnya jam tangan yang masih ia kenakan sejak kemarin. Sekarang sudah pukul 11.00. Pantas saja, matahari sudah cukup tinggi bersinar.


Ia lihat Dhika masih pulas tertidur di atas ranjang. Ia lalu melirik ke arah beberapa botol alkohol yang teronggok di atas sebuah meja yang ada di depannya.


Bau alkohol yang masih tercium tiba-tiba membuatnya merasa mual. Ia pun secepatnya berlari ke kamar mandi sebelum ia membuat kekacauan di ruang tamu kamar hotel yang ia sewa.


Tak ada yang keluar dari mulutnya. Hanya cairan asam yang berasal dari lambungnya. Begitulah akibatnya jika ia minum alkohol sebanyak itu dalam kondisi perut yang belum terisi apapun. Nampaknya, ini membuat Gian kapok karena rasanya sangatlah tidak nyaman.


Suara berisik di kamar mandi membuat Dhika terbangun. Setelah berhasil bangun sepenuhnya, ia lalu menelpon pihak hotel untuk memesan dua porsi sarapan untuknya dan Gian, semangkuk sup, dan juga air madu hangat.


Berbeda dengan sang kakak yang sering terkesan cuek, Dhika adalah sosok yang perhatian. Ia tahu betul bahwa sup dan air madu hangat bisa meredakan efek hangover setelah mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak.


Tak lama kemudian Gian sudah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan bath robe saja.


Ia melihat Dhika yang sudah duluan sarapan di ruang tamu kamar tersebut. Ia lalu menyusulnya dan duduk bersama.


"Minum air madu terus supnya dimakan, Kak. Perut lo pasti nggak enak kan rasanya? Makanya nggak usah berlagak minum segala," Dhika mulai mencereweti kakaknya.


"Sejak kapan lo jadi bawel begini?" Gian mengacak rambut Dhika yang sebenarnya juga masih acak-acakan setelah bangun tidur.


"Rencana lo apaan? Gue ke sini cuma buat nemenin lo, Kak. Kalau lo mau balik ya gue sih ayok aja," Dhika bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Memang begitulah mereka biasanya. Lagipula, Dhika sudah paham akan situasinya.


"Hari ini kita cari tiket. Besok kita balik," Gian hanya menanggapi dengan singkat sambil menyantap sup hangat yang sudah Dhika pesan.


"Sorry, Kak."


Dhika menghentikan makannya. Tenggorokannya terasa tercekat akan rasa benci mengingat kejadian Fanya tadi malam. Ia pun melontarkan kata maaf yang entah sebenarnya ditujukan untuk siapa. Ia hanya merasa sedih karena sang kakak harus mengalami pengalaman buruk seperti itu.


"Kenapa malah lo yang minta maaf? Salah lo di mana?" Gian membalas ucapan Dhika dengan entengnya.


"Gue nggak akan bisa maafin Fanya, Kak," Dhika kini memanggil nama Fanya tanpa embel-embel 'Kak' seperti biasanya.


Gian terlihat diam sejenak dan menghentikan makannya. Ia pun lalu menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya.


"Nggak usah menggunakan perasaan dan pikiran lo buat hal-hal yang nggak layak lo pikirin, Dhik. Lupakan. Pikiran lo terlalu berharga untuk menyimpan benci pada Fanya."


Gian pun berpikir akan hal yang sama. Seberapa pun sakit yang ia rasakan sekarang, ia tak ingin berlama-lama larut di dalamnya. Begitulah ayahnya mendidiknya.


Mungkin tak mudah karena Fanya adalah satu-satunya wanita yang sudah hampir 5 tahun mengisi relung hatinya. Hanya saja, perselingkuhan adalah hal yang sama sekali tak bisa ia toleransi. Hal yang sama juga lah yang juga sudah menjadi sebab perceraian kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu.


"Mumpung masih di sini, Kak? Lo nggak mau memperjelas semuanya?" tanya Dhika.


"Apanya lagi yang perlu diperjelas, Dhik? Semua udah jelas kan?" jawab Gian dengan senyum getir di bibirnya.


"Paling nggak status lo masih pacarnya Fanya, Kak. Lo bahkan ada rencana mau ngelamar dia setelah kalian lulus kuliah nanti, kan?"


Ucapan Dhika seperti sebuah tusukan pisau yang tepat menghujam jantung Gian. Rencana yang sudah ia bayangkan tak akan jadi kenyataan. Ia tahu ia tak akan pernah mampu memaafkan Fanya walaupun hatinya masih sangat mencintai wanita itu.


"Hari ini gue mau beli tiket balik sekaligus coba refund tiket balik kita minggu depan. Lo mau ikut nggak?" tanya Gian pada Dhika.


"Sorry, Kak. Gue kayanya kecapekan jagain lo semalem. Gue nggak ikut nggak papa kan?" Kata Dhika.


"Oke, nggak papa. Lo kalau butuh apa-apa dan males pergi-pergi pesen aja di sini. Gue yang bayar pas check out besok," ujar Gian.


"Iya, Kak. Thanks," jawab Dhika singkat lalu melanjutkan lagi sarapannya.


★★★


Setelah berhasil melakukan proses refund tiket pesawat dan menukarnya dengan tiket baru untuk penerbangan esok hari, Gian langsung kembali ke hotel. Walau pun saat ini ia sedang berada di Paris, tak ada sedikit pun keinginan untuk menikmati keindahan kota tersebut. Baginya saat ini, kota tersebut tak lebih dari sebuah kota simbol patah hati.


"His name is Giandra. Please tell me the room number. It's urgent."


Gian sedikit kaget saat memasuki lobi hotel dan mendengar ada sedikit keributan di area resepsionis. Terlebih lagi ia juga mendengar namanya disebut.


Betapa terkejutnya Gian saat mengetahui bahwa keributan itu disebabkan oleh Fanya yang sedang mencarinya. Bagaimana ia bisa tahu kalau Gian menginap di sini?


"Gian!" teriak Fanya yang akhirnya melihat Gian yang sekarang terlihat ingin menghindarinya.


"Dari mana kamu tau aku di sini?" tanya Gian dengan tegas.


"Aku nyari kamu, Baby. Aku ingat kamu pernah bilang kalau ini hotel favorit kamu di Paris," jawabnya sambil mencoba memegang tangan Gian namun langsung ditepis oleh Gian.


"Ayo kita ke kamar kamu, kita ngobrol ya?" ajak Fanya.


"Nggak! Nggak ada yang perlu diobrolin lagi, kan?" Gian segera menjawab dengan sangat ketus


"Ayolah, Baby. Kita ngobrol di kamar kamu sebentar aja ya?" Fanya masih berusaha membujuk supaya ia dan Gian bisa berbicara di tempat yang lebih tertutup. Bukan di depan umum seperti ini.


"Nggak! Kalau mau ngobrol di sini aja," jawab Gian ketus.


"Ya udah, ayo kita duduk di sana. Nggak enak kalau ngobrol di sini diliatin orang. Malu," Fanya akhirnya mengalah lalu mengajak Gian untuk duduk kursi yang terletak di salah satu sudut area lobi. Ia sadar betul, Gian pasti akan marah besar padanya.


"Kamu masih punya malu setelah apa yang kamu lakuin semalem?" Gian mencoba mengingatkan Fanya lagi tentang apa yang ia saksikan dengan kedua bola matanya tadi malam.


"Baby … ayolah," Fanya kembali membujuk Gian untuk duduk dan akhirnya Gian mau juga walaupun dengan langkah yang enggan.


"Jangan panggil aku 'Baby' lagi!" Mendengar sebutan itu sungguh membuat Gian semakin geram.


Nyali Fanya pun menciut. Belum pernah ia melihat Gian semarah ini sebelumnya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini?" Fanya kembali mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara lagi kepada Gian.


"Biar kamu bisa siap-siap dan nggak ketahuan selingkuh? Gitu maksud kamu?!" Gian kembali membentak Fanya, membuat wanita itu beringsut ke belakang.


Gian teringat kembali akan perasaan senang dan antusias yang ia rasakan sehari sebelum ia terbang ke Paris. Kala itu, ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Fanya. Memori itu sungguh membuat dadanya terasa sesak.


"Gian … maaf," kata itu mengalir bersamaan dengan buliran air mata yang jatuh membasahi wajah cantiknya. Satu-satunya wajah yang selama ini Gian puja.


Jika dulu Gian selalu luluh setiap kali melihat Fanya menangis, kali ini lain. Di kepalanya masih tergambar jelas bagaimana bibir wanita yang sangat ia cintai dilumat dengan begitu mesra oleh pria lain di depan matanya. Itu adalah sebuah kesalahan fatal yang tak bisa Gian maafkan.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Gian dengan tatapan mata yang tepat mengarah pada Fanya yang sudah tak berani lagi menatapnya.


"Jadi kamu mengakui kalau kamu selingkuh?!" Gian sudah tak bisa lagi menahan amarah dan rasa kecewanya.


Suaranya meninggi, membuat semua orang yang ada di lobi serentak menoleh kepada mereka berdua walau mungkin tidak memahami bahasa yang mereka gunakan.


"Aku kesepian, okay?! Sean baik dan mau menemaniku," secara tak sadar Fanya ikut meninggikan suaranya.


"Alasan macam apa itu? Kamu pikir aku nggak kesepian? Nggak merindukanmu? Semua chat, video call, dan telpon dariku itu apa artinya? Ha?!" Gian kembali membentak.


"Aku bahkan menawarkan untuk sering ke sini setiap aku ada waktu tapi kamu bilang nggak perlu. Jadi ini alasannya aku nggak perlu datang? Biar kamu nggak ketahuan? Biar kamu bisa seenaknya sendiri? Iya?! Kamu bahkan berani menyebut nama pria itu di hadapanku!"


Suara Gian begitu lantang. Membuat salah satu pihak keamanan akhirnya terlihat mulai melangkah mendekati mereka berdua dari kejauhan.


"Aku udah putus dengannya, okay? Please stop, Gian. Jangan marah lagi," Fanya mengiba memohon pada Gian sambil meraih tangannya.


"Apapun itu nggak akan merubah fakta bahwa kamu sudah berkhianat di belakangku," ia menepis tangan genggaman tangan Fanya dengan kasar.


"Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, okay?" Gian mengakhiri percakapannya lalu berdiri.


"Gian, please. Jangan seperti ini. Aku minta maaf. Aku salah," Fanya menangis sejadi-jadinya.


"Sorry, Sir. You can't create a commotion here," kata seorang petugas keamanan hotel yang datang menghampiri mereka berdua.


"I'm a guest here," kata Gian sambil menunjukkan kunci kamarnya.


"She's the one with trouble so ask her to leave," lanjutnya lagi sambil melangkah pergi menuju ke kamarnya, meninggalkan Fanya yang masih berteriak-teriak memanggil namanya.


Saat Gian sudah berada di dalam lift untuk naik, tampak sang petugas keamanan masih mencoba untuk meminta Fanya meninggalkan hotel.


Masih ada perasaan tak tega melihat perempuan itu terus memanggil namanya. Namun, Gian lebih memilih untuk tak peduli. Baginya, hubungannya dengan Fanya sudah berakhir ketika kemarin malam secara kebetulan ia memergokinya bermesraan dengan pria lain.


★★★


"Kenapa Kak Egi nyeritain itu semua ke aku?" tanya Amber yang kopinya sudah habis sedari tadi saat mendengarkan cerita Egidia tentang Gian.


"Nggak papa, Dek. Gue ada feeling aja kalau lo harus tau," jawab Egidia sambil tersenyum.


"Kok bisa gitu?" Amber masih tak mengerti.


"Udah nggak usah dipikirin. Harusnya kelas temen lo udah kelar ini. Nggak mau nyamperin?" tanya Egidia sambil menatap jam tangannya.


"O iya, jadi lupa sama Momon. Kak Egi masih mau di sini?" tanya Amber sambil bersiap untuk pergi ke parkiran, tempat ia janji bertemu dengan Charemon.


"Iya, janji ketemuan di sini sama Bimo dan Gian," goda Egidia yang padahal tak ada janji untuk bertemu dengan sahabatnya sama sekali.


Wajah Amber langsung terlihat was-was. Ia pun lalu berpamitan dan bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih atas kopi yang sudah dibelikan oleh Egidia tadi. Ia malas jika harus bertemu dengan Gian.


Tingkah Amber itu membuat Egidia tertawa kecil.


"Lucu banget ini bocah," katanya dalam hati.