AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 100 - Pertemuan



Beberapa waktu telah berlalu. Pameran Gian yang seolah menutup semester ini pun berjalan dengan lancar dan bahkan mendapatkan respon positif dari para dosen yang memberi penilaian. Sementara yang lain sedang mulai menikmati liburan semester setelah berjuang menyelesaikan ujian masing-masing.


Bagi Amber, bulan Desember ini terasa begitu spesial. Bukan hanya karena ia telah melewati semester pertamanya sebagai seorang mahasiswa Seni Murni dengan baik walaupun sempat diwarnai dengan berbagai insiden, tetapi juga karena selama kurang lebih enam bulan ini ia sudah dipertemukan dengan orang-orang istimewa yang berakhir menjadi sahabat sejatinya. Mereka tak lain adalah Charemon, Egidia, dan juga Bimo.


Lalu bagaimana dengan Gian? Tentu saja pemuda tampan ini mendapatkan tempat tersendiri di hati Amber. Ia bukan hanya seorang sahabat, tetapi juga lelaki yang sangat Amber sayangi.


"Amber! Sini!" panggil Egidia di sebuah cafe yang berada di sebuah mal.


Siang ini, mereka memang berjanji untuk bertemu. Amber meminta tolong kepada Egidia untuk menemaninya membeli hadiah untuk diberikan kepada Gian. Ya, Gian memang berulang tahun pada bulan ini. Uniknya Amber pun juga berulang tahun di bulan yang sama, hanya berbeda tanggalnya saja.


"Kak Egi kok enggak mau aku jemput aja sih tadi?" kata Amber sembari duduk di kursi yang berdekatan dengan Egidia.


"Gue udah di sini dari tadi kali, Dek. Nemenin sepupu gue nonton," jawab Egidia. "Lo mau makan atau minum dulu enggak?"


"Enggak ah, Kak. Tadi udah di rumah. Sepupu Kak Egi ke mana sekarang? Aku ganggu acara kalian enggak?"


"Enggak ganggu. Dia langsung balik juga kok tadi abis nonton," jelas Egidia.


"Maaf ya, Kak, aku mendadak minta tolongnya. Tadinya mau sama Momon. Taunya dia dimintai tolong buat nganter kue sama mamanya," Amber merasa tak enak pada Egidia.


"Santai aja, Dek. Gue juga baru bosen kok. Jadi mending jalan-jalan aja deh sama lo."


"Tapi aku belum tahu nih, Kak, mau beli apa buat Gian. Dia pasti udah punya semuanya juga," Amber berkata jujur bahwa ia belum punya rencana.


"Ya udah. Sekarang kita duduk dulu aja di sini sambil mikir kira-kira mau beli hadiah apa buat Gian," Egidia menyarankan.


"Aku sebenernya kepikiran sesuatu, Kak," kata Amber, "dulu waktu jadian Gian ngasih aku ini," Amber menunjukkan kalung dengan bandul sebuah music box locket berhiaskan kristal warna hitam kepada Egidia.


"Pantes lo sering banget pake ini, Dek. Ternyata hadiah spesial dari Gian," kata Egidia yang baru menyadari bahwa kalung itu pemberian istimewa dari Gian.


"Iya, Kak. Gian emang minta aku untuk sering-sering pakai," ungkap Amber. "Nah, aku jadi kepikiran untuk ngasih sesuatu yang bisa Gian pakai setiap saat juga, Kak. Tapi apa ya? Aku jarang liat dia pakai aksesoris."


"Kalau pas manggung dia pasti pakai sih, Dek. Setahu gue yang paling sering dipakai itu gelang," Egidia menjawab dengan raut wajah mengingat-ingat sesuatu.


"Wah! Boleh juga tuh, Kak. Kayaknya di sini ada juga kok toko aksesoris dan perhiasan yang ternama itu. Kita ke sana aja yuk. Siapa tahu nemu yang pas buat Gian," Amber menjawab dengan sangat antusias karena ini adalah kali pertamanya membelikan hadiah pada lelaki yang ia sukai. Ia benar-benar ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Gian.


"Ya udah yuk ke sana. Di lantai berapa?"


"Lantai 3, Kak."


Mereka pun lalu naik ke lantai 3 menggunakan eskalator. Tak butuh waktu lama mereka sudah berada di depan toko yang Amber maksud.


"Wah! Kalau di sini sih aksesorisnya emang oke punya, Dek!" Egi berkomentar setelah akhirnya melihat nama toko tersebut.


"Tapi, Dek. Kayanya gue mau ke toilet dulu deh bentar. Lo masuk dulu aja ya sambil nunggu gue di sini."


"Iya, Kak. Aku mau liat-liat dulu ya," kata Amber yang kemudian masuk duluan ke dalam toko tersebut.


Setelah mengutarakan jenis gelang yang ia cari kepada pramuniaga, Amber diantarkan ke satu sisi toko di mana terdapat banyak koleksi gelang yang memang didesain untuk pria muda. Amber pun melihat deretan gelang tersebut dengan seksama, berharap ia akan menemukan satu yang cocok untuk Gian.


"Mbak, coba liat yang ini dong," kata Amber sambil menunjuk sebuah gelang berbahan kulit yang ada di dalam meja displai tertutup kaca.


"Silahkan, Nona," kata pramuniaga itu dengan sopan sembari mengulurkan gelang tersebut kepada Amber.


"Ini bahannya kulit asli ya, Mbak?"


"Iya, Nona. Kalau untuk hiasannya itu terbuat dari sterling silver dan emas kuning 18 karat," pramuniaga itu pun memberikan penjelasan kepada Amber.


"Kalau ngasih emas ke Gian kayaknya agak berlebihan deh," Amber membatin. "Kalau yang bahannya silver aja tapi yang modelnya paling banyak disukai yang mana, Mbak?" Amber bertanya sambil mengembalikan gelang yang tadi kepada sang pramuniaga.


"Ada." Dengan sigap, pramuniaga itu mengeluarkan beberapa gelang sekaligus ke atas meja. Masing-masing terdisplai dengan rapi pada sebuah penyangga yang didesain secara khusus.


Pandangan Amber langsung tertuju pada sebuah gelang rantai yang seluruhnya terbuat dari bahan sterling silver yang memberikan kesan simpel namun eksklusif. Yang lebih menarik perhatian Amber adalah gelang itu mempunyai sebuah batangan perak berukuran kecil yang sepertinya didesain untuk ukiran nama atau sejenisnya.


Di saat Amber hendak mengambil gelang tersebut seorang pengunjung toko yang entah kapan datangnya juga bermaksud mengambil gelang yang sama.


"Oh, maaf," kata gadis muda berkacamata hitam dan bertubuh tinggi langsing bak model itu dengan suara yang manis. "Apa kamu akan membeli gelang ini?" tanyanya.


"Ah, iya. Aku baru akan memilihnya," kata Amber. Bagaimana pun ia sudah jatuh hati pada gelang tersebut.


"Apa masih ada stok yang lain?" tanya gadis itu kepada pramuniaga yang tampak sedikit kebingungan karena sepertinya kedua gadis muda di hadapannya menyukai gelang yang sama.


"Maaf sekali, Nona. Gelang yang itu tinggal satu saja dan sudah tidak diproduksi lagi," dengan canggung ia menjawab. "Kalau Nona mau kami akan tunjukkan gelang lain yang serupa karena Nona ini sudah memilih gelang yang itu terlebih dulu."


"Wah,sayang sekali. Sepertinya aku kurang beruntung." Dengan senyuman yang manis, gadis itu mengulurkan gelang tersebut pada Amber. Setelahnya ia pergi meninggalkan toko tersebut.


Dari kejauhan, Egidia yang melihat gadis itu keluar dari toko langsung berlari menghampiri Amber. "Dek, lo enggak papa kan?"


Pertanyaan Egidia malah membuat Amber terheran-heran. "Enggak papa gimana sih, Kak? Aku dari tadi cuma di sini milih-milih gelang."


"Lo ketemu sama cewek yang barusan keluar dari toko ini? Yang pake baju merah dan kacamata item," kata Egidia dengan raut wajah khawatir.


"Oh, iya. Tadi dia mau beli gelang ini juga tapi aku udah pilih duluan. Enggak jadi deh. Emangnya kenapa sih, Kak? Muka Kak Egi kok gitu banget?"


"Itu Zefanya!" jawab Egidia.