AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 39 – Barang Bukti



Dengan perasaan geram Amber meremas sebuah kertas putih dengan tulisan bertinta warna merah yang baru saja ia temukan di dalam lokernya. Setelah kemarin ia mendapati mobilnya dalam keadaan kotor dan lengket akibat siraman minuman yang ia juga tak tahu siapa yang melakukannya, kini ia menemukan bahwa nampaknya teror lokernya kembali berlanjut.


“Jangan buru-buru dibuang,” kata Andre, teman sekelas dan seangkatan Amber yang kebetulan sedang mengambil barang di lokernya yang letaknya bersebelahan dengan loker Amber.


“Kapan gitu gue denger kalau ada anak kelas kita yang dapet teror di lokernya. Itu lo, kan?” lanjutnya lagi.


“Iya,” jawab Amber singkat.


“Yang mungkin untuk disimpen mending lo simpen aja. Kalau nggak mungkin lo bisa lo foto,” kata lelaki berparas rupawan yang terkenal tak banyak berbicara namun cukup pintar itu.


“Buat apa, Ndre?” Amber bingung dengan apa yang baru saja disarankan oleh Andre.


“Bukti. Siapa tahu suatu saat lo butuh,” jawab Andre.


Ah, benar juga. Sejak pertama Amber menerima teror di dalam lokernya, hingga kejadian yang menimpa mobilnya di parkiran kemarin, Amber sama sekali tak pernah terpikirkan untuk mengumpulkan barang bukti. Padahal, sangat mungkin jika semua hal yang ia alami dilakukan oleh satu orang yang sama, yang mungkin tidak menyukainya entah karena alasan apa.


“Bener juga kamu, Ndre. Aku nggak pernah kepikiran,” Amber berkata sambil mencoba merapikan kembali kertas berisi cacian bertinta merah yang tadi sudah hampir ia buang.


“Kejadian kaya gini kalau terus berulang atau jadi lebih parah nggak bisa didiemin gitu aja, Mber. Orang yang ngelakuin hal kaya gini sebenernya pengecut. Cuma bukan berarti boleh lo maklumin. Kalau terus berlanjut baiknya lo ambil tindakan.” Andre menutup lokernya lalu bersandar di sana dan menghadap ke arah Amber.


“Iya juga sih, Ndre. Makasih ya udah ngingetin,” kata Amber sambil tersenyum pada lelaki yang diam-diam sudah mencuri hati banyak gadis di Fakultas Seni dengan sikapnya yang cool itu.


“Sip. Kalau butuh bantuan lo bisa bilang ke gue. Lo juga bisa liat nomer gue di grup kelas, kan?” kata Andre.


“Iya. Masuk yuk, kayanya bentar lagi kelas mulai,” ajak Amber.


Selama kuliah berlangsung, Amber terlihat tidak berkonsentrasi pada materi yang diberikan. Pikirannya terus saja diburu rasa penasaran tentang siapa dalang dari semua hal menyebalkan yang terus Amber alami ini. Ia sama sekali tak punya petunjuk tentang siapa saja orang yang mungkin tak menyukainya hingga ia terus-menerus melakukan teror pada Amber.


Sampai saat ini pun Amber juga belum berkeinginan untuk mencari tahu siapa orangnya karena sebenarnya pun semua hal yang ia alami tidak ada satu pun yang membahayakan dirinya. Yang paling parah hanyalah yang menimpa mobilnya kemarin.


Lamunan Amber dibuyarkan oleh sebuah tepukan pelan di kepala yang dilakukan oleh Andre yang kebetulan duduk di sebelahnya. Lelaki itu lalu menunjuk ke arah depan dengan pulpen yang ia pegang, tanpa mengatakan apapun. Ia seolah mengajak Amber untuk fokus pada materi kuliah yang sedang diberikan oleh dosen. Amber hanya tersenyum menanggapi ulah lelaki itu.


Entah kenapa Amber malah teringat pada Gian. Gian lah satu-satunya teman lelaki yang terbiasa menepuk kepala bahkan sampai mengacak-ngacak rambut Amber selama ia menjadi mahasiswa di kampus ini.


***


“Mau ke mana lo, Mber?” tanya Andre setelah kelas berakhir.


“Tadi pagi janjian sama Momon mau ngopi di Mang Dadang. Mau ikut?” tanya Amber.


Andre diam sejenak lalu menjawab, “boleh lah.”


“Ke kelas Momon dulu ya tapi, jemput dia,” kata Amber.


“Terserah lo aja,” jawab Andre.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke kelas Charemon.


“Ambeeer, gue lupa belom ngerjain tugas buat kelas ntar,” kata Charemon dengan nada merengek.


“Gue nggak jadi ngopi sama lo ya? Maaf. Huhuhu,” lanjutnya lagi.


“Ish … kebiasaan,” kata Amber sambil mencubit gemas kedua pipi sahabat baiknya itu lalu membiarkan Charemon menghambur ke dalam kelas untuk melanjutkan tugas yang sedang ia coba selesaikan.


“Jadi ke Mang Dadang nggak, Ndre?” tanya Amber yang ragu untuk tetap mengajak Andre ke kantin.


“Nanggung udah sampe sini. Jadi aja,” jawab Andre.


***


Dari kejauhan, nampak Gian datang bersama Bimo. Mereka pun sepertinya akan menikmati jeda kelas sambil mengobrol di kantin. Bagi para mahasiswa, tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan saat-saat santai seperti ini di kampus.


“Amber noh,” kata Bimo yang kebetulan mengetahui terlebih dahulu bahwa Amber ada di kantin juga.


Gian langsung menoleh ke arah yang tadi ditunjuk oleh Bimo. Benar saja, Gian menemukan Amber sedang duduk dan mengobrol berdua dengan seorang lelaki yang belum pernah Gian ketahui sebelumnya.


Entah mengapa, di dalam hati Gian muncul perasaan ingin tahu siapa lelaki itu dan apa yang sedang ia bicarakan dengan Amber. Tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu kepada Bimo, Gian langsung menuju ke meja Amber.


“Ke mana lo?” tanya Bimo yang sedang sibuk membeli cemilan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak di dalam kelas tadi.


Gian tak menjawab dan terus saja berlalu ke arah Amber. Ia meraih sebuah bangku kosong yang masih tersedia di meja itu lalu duduk berdekatan dengan Amber. Tentu saja hal itu membuat Amber kaget.


“Ngapain lo di kantin jam segini?” tanya Gian tanpa menyapa Amber atau Andre terlebih dahulu.


Raut heran pun tergambar dari wajah Andre, yang walaupun sudah mengetahui siapa Gian namun belum mengenalnya.


“Jeda kuliah,” kata Amber sambil menggeser sedikit tempat duduknya.


“Lo siapa?” tanya Gian pada Andre tanpa basa-basi terlebih dahulu.


“Kenalin. Gue Andre temen sekelasnya Amber,” kata Andre sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak Gian bersalaman.


“Gue Gian. Anak Diskom. Temennya Amber juga,” sambil menjabat tangan Andre walau hanya sebentar.


“Bagi sini,” kata Gian sambil meraih tangan Amber yang sedang hendak menyeruput kopi hangatnya, menuntun tangan tersebut untuk memberikan seteguk kopi untuknya.


“Ih, kamu ngapain sih, Gian? Kalau mau aku beliin,” protes Amber yang mulai merasa bahwa Gian akan bertindak sesukanya lagi.


“Ogah, gue maunya minta punya lu,” kata Gian yang lalu menyeruput kopi Amber.


Setelahnya Gian malah sedikit terbatuk.


“Kopi spesial Mang Dadang?” tanyanya pada Amber.


“Iya,” jawab Amber singkat sambil secara refleks menepuk-nepuk punggung Gian yang masih terbatuk.


“Gue nggak suka jahe,” jelas Gian.


Amber jadi teringat kejadian di kala Gian memakan bakso cabe rawit miliknya. Ia ingat bahwa Gian tidak bisa mengkonsumsi yang pedas-pedas.


Amber pun lalu mengambil botol air minum yang selalu ia bawa ke mana-mana dan menyodorkannya kepada Gian supaya ia bisa minum dan sedikit mengurangi sensasi pedas yang ia rasakan. Di saat yang bersamaan, Andre sedikit tertawa menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.


“Makanya jangan asal serobot,” kata Amber yang akhirnya juga tak bisa menahan tawanya.


“Mber, balik kelas yuk. Bentar jedanya udah hampir abis,” Andre malah tiba-tiba mengajak Amber beranjak dari tempat itu karena memang kelas berikutnya sudah akan dimulai.


Amber melihat sebentar ke jam tangan yang ia kenakan.


“Oh iya. Aku balik kelas dulu ya, Gian. Air minumnya kamu bawa aja. Balikin botolnya besok pas ketemu,” kata Amber, lalu berdiri meninggalkan area kantin bersama Andre.


“Kok kesel ya,” ucap Gian dalam hati.