AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 35 - Kebenaran



"Nadine! Sini deh," panggil Saskia yang akhirnya melihat temannya itu keluar kelas.


"Apaan?" kata Nadine yang lalu ditarik oleh Saskia untuk duduk di sebelahnya.


"Lo sih kemaren pake acara bolos segala, ada kabar heboh tauk," katanya dengan sedikit berbisik.


"Kalau nggak ada acara juga gue nggak bakalan bolos. Kabar apaan?" Nadine pun akhirnya penasaran.


"Tempo hari Gian berantem sama cewek yang namanya Amber itu di kantin," bisiknya di dekat telinga Nadine.


"Yang bener lo? Siapa yang ngasih tau?" Nadine tak begitu saja percaya.


"Lo mah nggak percayaan banget. Gue liat sendiri pas gue makan siang di kantin. Puas?" jawab Saskia kesal.


"Hahaha … Bagus dong malahan. Gue jadi nggak perlu repot-repot bikin mereka berantem, udah berantem sendiri," ujarnya senang.


"Gue jadi nggak perlu repot-repot ngerjain si cewek tengil itu lagi biar dia menjauh dari Gian," lanjutnya sambil terus tertawa.


"Eh tapi gue nggak tau mereka berantem kenapa. Ga kedengeran soalnya. Cuma endingnya Amber pergi ninggalin Gian gitu. Sempet dicegah sama Gian tapi dia nggak mau dan tetep pergi," Saskia menceritakan apa yang ia lihat waktu itu.


"Boam. Yang penting kan sekarang mereka berantem, Gian udah nggak deket-deket lagi sama si cewek sialan itu, dan gue bisa dengan leluasa deketin Gian lagi," jawabnya dengan puas.


"Ya udah ke kantin yuk. Siapa tau ketemu Gian di sana," ajak Saskia.


"Tumben lo pinter," Nadine menjawab lalu beranjak menuju kantin bersama Saskia.


★★★


Amber sedikit cemas untuk membuka lokernya seusai kuliahnya selesai. Hal ini tertangkap oleh Egidia yang tadi sempat sekelas dengannya dan kini memperhatikan Amber dari kejauhan.


Egidia lalu menghampiri Amber. Terlihat wajah Amber tak lagi setegang tadi. Mungkin kali ini tak ada hal buruk yang terjadi lagi pada lokernya. Begitu pikir Egidia.


"Dek, lo nungguin Momon kelar kuliah, kan? Temenin gue lagi yok," ajak Egidia yang sebenarnya ingin mengobrol dengan Amber.


"Ke mana, Kak?" tanya Amber yang sudah selesai mengambil barang lalu mengunci lokernya.


"Udah ikut aja. Yuk," Egidia menggandeng tangan Amber dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.


Ternyata ia mengajak Amber duduk di kursi taman yang berdekatan dengan kolam ikan yang terletak di bagian belakang kampus. Bagi Amber, ini kali pertama ia ke sana.


Di sana lumayan teduh karena ada beberapa pohon besar yang membagi bayangannya. Sepoi angin sejuk yang bertiup dan suara gemericik air kolam juga membuat suasana terasa lebih menenangkan.


Amber tak menyangka ada tempat setenang dan sesepi ini di area kampus. Hanya terlihat beberapa orang saja yang lewat. Nampaknya, ini akan menjadi salah satu spot favoritnya selama ia menempuh studi di sana.


"Asik kan di sini, Dek?" tanya Egidia pada Amber yang masih larut dalam suasana tenang di tempat itu.


"Iya, Kak," jawab Amber dengan senyum kecil yang menghiasi bibirnya.


"Tapi … ngapain Kak Egi ngajak aku ke sini?" tanya Amber penasaran.


"Pengen ngajak ngobrol sebenernya, Dek," jawab Egidia.


"Gue udah denger cerita dari Gian tempo hari."


Amber langsung paham ke mana arah pembicaraan ini akan menuju.


"Gue udah temenan sama Gian sejak lama, Dek. Gue kenal betul siapa dia, bagaimana sifatnya, bahkan kadang ada kebiasaan-kebiasaan yang dia sendiri nggak sadar dan malah gue yang tau," ujarnya.


"Gian nggak seperti yang lo kira, Dek. Bukan Gian yang udah ngotorin loker lo," lanjutnya.


"Kenapa Kak Egi bisa seyakin itu kalau ini semua bukan ulah Gian?"


Walau Amber memang sudah berniat ingin minta maaf pada Gian, namun sebenarnya hatinya sendiri pun masih belum sepenuhnya yakin jika pelakunya memang bukan Gian. Pikirnya, sekarang adalah saat yang tepat untuk mencari tahu lebih dalam tentang ini melalui Egidia.


"Lo pengen tau alesannya apa?" tanya Egidia, kali ini sambil memiringkan duduknya ke arah Amber supaya ia bisa menatap gadis manis itu.


Amber menjawab dengan anggukan kepala.


"Di hari loker lo dikerjain sama orang, Gian bahkan nggak ada di kampus, Dek. Dia manggung di luar kota selama beberapa hari," jelasnya kepada Amber.


Jawaban Egidia ini sungguh membuat Amber sedikit tersentak. Kesimpulan seolah semakin meruncing kalau ia memang sudah salah menuduh Gian.


"Kak Egi yakin kalau ini juga bukan ulah orang-orang suruhan Gian?" Amber masih butuh penjelasan lagi.


Egidia justru malah tertawa mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Amber barusan.


"Jadi lo juga percaya kalau Gian itu punya pengikut setia, Dek?" ia masih terkekeh geli saat menanyakan ini pada Amber.


Amber hanya terdiam dan bingung. Ia tak tahu bagaimana ia harus menanggapi hal yang Egidia tanyakan barusan.


Cerita yang ia dengar soal Gian dan pengikutnya juga hanya ia dapatkan dari Charemon. Itu pun dari sumber yang entah terpercaya atau tidak kebenarannya.


Amber semakin penasaran. Seolah semakin jelas bahwa ia lah yang salah dalam pertengkaran tempo hari.


"Nggak ada yang namanya pengikut setia Gian, Dek. Itu cuma mitos yang dengan mudah dipercaya sama orang-orang yang nggak tau," kata Egidia sambil terbahak.


"Ada juga orang yang dengan sengaja memanfaatkan nama Gian buat kepentingan mereka sendiri, Dek. Kalau lo pengen tau, temen Gian yang sebenernya di kampus ini nggak banyak. Bukan karena dia nggak bisa berteman loh ya, cuma karena emang dia yang membatasi dirinya. There're too many fake people here yang cuma mau manfaatin dia aja," Egidia nampak lebih serius saat ia menjelaskan tentang hal ini kepada Amber.


Amber pun nampak kaget saat mendengarnya. Sepertinya, ia benar-benar telah berbuat salah kepada Gian dengan menuduhnya secara asal-asalan tempo hari. Ia bahkan sempat berteriak karena kekesalannya yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun kala itu.


Harusnya ia menurut pada apa yang sudah dikatakan oleh Charemon. Harusnya ia tak boleh gegabah.


Setelah tahu semua kebenarannya melalui cerita Egidia barusan, Amber juga jadi berpikir kembali. Tak seharusnya Amber sekesal itu pada Gian hanya karena ia masih menganggap Gian sebagai orang asing yang belum ia kenal.


Terlebih lagi, keusilan Gian padanya selama ini bukanlah keusilan yang berlebihan. Hanya keusilan biasa saja. Amber seharusnya tak boleh sekesal itu.


Sekejap, Amber menyesali sifatnya yang memang sulit untuk menerima orang baru di dalam kehidupannya. Andai kala itu Gian tidak marah-marah padanya di depan umum soal spot parkir, mungkin ia akan berpikiran lain tentang pria berparas tampan itu.


Hanya satu hal yang ada di pikirannya saat ini. Semoga belum terlambat untuk minta maaf dan memulai kembali dari awal.