AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 105 - Kawan Lama



"Tara?"


Tarachandra dikejutkan oleh suara seorang wanita yang jelas memanggil namanya saat ia sedang menikmati karya di sebuah galeri seni. Otaknya tak dengan baik menyimpan memori siapa pemilik suara yang terdengar familiar ini. Ia pun menoleh dan melihat sesosok wanita anggun dengan balutan pakaian bernuansa etnis berdiri di sana. Ia tak mengenali siapa wanita tersebut hingga melihat tahi lalat yang berada tepat di tengah dahinya. "Ratih?"


"Pasti karena tahi lalat?" Ratih yang merupakan teman semasa kuliah Tarachandra itu pun terkekeh, seolah tahu jika awalnya Tarachandra tak mengenalinya. Ia menjabat tangan Tarachandra dengan ramahnya.


"Siapapun juga tidak akan bisa melupakan tahi lalat yang membuatmu dijuluki 'Sang Dewi' itu?" Keduanya tergelak lantaran ucapan Tarachandra.


"Sendirian?" tanya Ratih yang memang melihat Tarachandra tak sedang bersama dengan siapapun.


"Oh, tidak. Aku bersama putriku. Dia sedang ke toilet. Nanti aku kenalkan."


Belum juga lama Tarachandra mengatakan itu, Amber muncul dari kejauhan. Ia melihat ayahnya akrab mengobrol dengan seorang wanita yang belum pernah ia temui sebelumnya. "Ayah sama siapa?" batinnya.


"Nah, panjang umur. Ini dia putriku. Amber, kenalin ini Tante Ratih," Tarachandra memperkenalkan Amber kepada Ratih.


Dengan canggung, Amber menjabat tangan wanita itu. "Hai, Tante," sapanya.


"Amber cantik sekali. Kamu masih SMA ya, Nak?" tanya Ratih. Wanita yang satu ini memang selalu ramah pada siapa saja, termasuk orang yang baru dikenalnya.


"Udah kuliah, Tante. Mau ke semester dua," Amber menjelaskan dengan singkat.


"Aih, masih baru itu. Pantes kamu masih keliatan imut," ujar Ratih.


"Kamu masih saja pintar memuji seperti dulu, Ratih," ujar Tarachandra.


"Dulu?" Amber semakin penasaran tentang siapa sebenarnya wanita paruh baya yang ada di hadapannya ini. "Kenapa ia begitu akrab dengan Ayah?" batinnya.


"Tante dulu teman kuliah Ayahmu, Amber. Beda jurusan sih, cuma kami sering nongkrong bareng," jawab Ratih dengan sesungging senyum dan mata yang berbinar seakan-akan kenangan itu begitu manis dalam ingatannya.


"Tante ambil jurusan apa emangnya?" Amber semakin ingin tahu.


"Seni Tari, Nak," jawabnya dengan senyuman yang sedari tadi tak pernah pergi.


"Ngomong-ngomong, gimana kalau kita ngobrol sambil makan siang saja? Kebetulan aku dan Amber tadi memang ada rencana makan setelah dari sini," ajak Tarachandra.


"Tumben Ayah ngajakin teman wanita makan bareng? Bukannya biasanya Ayah males ya? Emang mereka deket banget ya dulu?" Batin Amber terus saja mempertanyakan banyak hal. Ada rasa penasaran yang menuntut untuk dikuak dalam benaknya.


"Enggak papa kan, Nak?" tanya Tarachandra. Ia khawatir jika Amber merasa tak nyaman. Bagaimanapun, Ratih adalah orang asing yang baru saja ditemuinya.


Amber merasa tak enak jika menolak karena Tarachandra sudah terlanjur melayangkan undangan. Selain itu, wanita itu tampak antusias dengan ajakan Tarachandra. "Enggak papa, Yah."


"Kalau gitu kita tukeran nomer dulu aja ya, Tara. Biar kamu bisa kirim alamat restorannya. Kita ketemu di sana aja, aku bawa mobil soalnya," Ratih berkata sembari mengeluarkan ponsel dari tas tangannya.


"Okay. Ketemu di sana ya. Bye, Amber," dengan lincah Ratih pergi meninggalkan Tarachandra dan Amber.


Ayah dan anak itu pun lalu menunggu Pak No datang. Setelahnya, mereka menuju ke restoran di mana mereka akan menikmati makan siang bersama Ratih.


Di sepanjang perjalanan Amber banyak terdiam. Hati dan pikirannya masih memproses kehadiran Ratih yang sepertinya dengan begitu mudah diterima oleh Tarachandra. Di saat yang sama, Amber tahu bahwa sejak kepergian Ayu, Tarachandra seolah membatasi pertemanannya dengan wanita.


Rasa penasaran yang begitu membuncah membuat Amber tak tahan untuk bertanya. "Ayah dulu deket sama Tante Ratih?"


Nada bicara Amber membuat Tarachandra sedikit tersentak. "Deket gimana maksudnya, Nak? Kata 'deket' itu relatif lho."


"Cuma penasaran aja, Yah. Tante Ratih kayaknya akrab sama Ayah," ujar Amber pelan.


"Ya deket. Kami dulu kan satu organisasi waktu kuliah. Ayah pertama kenal sama dia di sana," kata Tarachandra. "Terus dia pernah bilang suka juga sama Ayah. Tapi waktu itu fokus utama Ayah ya kuliah, jadi Ayah enggak bisa terima dia."


Ucapan Tarachandra membuat Amber terkejut hingga detak jantungnya menyepat. "Pantes aja mereka keliatan akrab. Tapi kenapa rasanya enggak karuan gini ya?" kata Amber di dalam hati.


"Kamu kenapa lho nanyain hal itu, Sayang?" Tarachandra bertanya kepada Amber.


"Enggak papa, Yah. Amber cuma pengen tau aja," jawab gadis itu sambil tersenyum. Ia tak ingin ayahnya tahu isi hatinya.


***


Makan siang bersama Tarachandra, Amber, dan Ratih berjalan menyenangkan. Paling tidak untuk Tarachandra dan Ratih yang nampak begitu larut dalam obrolan seputar masa kuliah keduanya.


Lalu bagaimana dengan Amber? Gadis itu tak banyak bicara dan lebih sibuk menjejalkan makanan ke dalam mulutnya sambil memasang telinga, menangkap setiap detail obrolan antara sang ayah dan kawan lamanya.


Ada perasaan tak biasa di dalam hati Amber yang seakan berkata bahwa Ratih masih manaruh hati kepada Ayahnya. Caranya menatap Tarachandra yang ditangkap Amber sebagai penanda. Terlebih, wanita anggun itu juga sempat berkata bahwa ia sama sekali belum pernah mempunyai suami karena sibuk dengan kariernya sebagai penari dan bahkan kini sudah mempunyai sebuah padepokan seni dengan jumlah murid yang cukup banyak. Yang lebih membuat Amber bepikir keras adalah fakta bahwa Ratih tadi juga sempat menunjukkan rasa simpatinya akan kepergian Ayu.


"Masa iya, Tante Ratih belum punya suami karena cintanya dulu ditolak sama Ayah?" gumam Amber yang kini sudah merebahkan dirinya di kamar. Pikirannya jauh menerawang pada hal-hal yang ia juga tidak tahu kebenarannya. Hanya praduga-praduga yang membuat otaknya berpikir keras. "Kalau Ayah jadi suka sama Tante Ratih gimana?" gumamnya lagi.


Sikap Tarachandra yang sama sekali tak pernah tampak menyukai wanita lain membuat Amber terbiasa. Tak pernah sama sekali terpikirkan olehnya jika suatu saat ayahnya akan berjodoh dengan seseorang.


Amber lalu menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha menghapus bayangan-bayangan yang semakin membuat kusut pikirannya, yang bahkan mungkin tak nyata dan hanyalah sebuah wujud kekhawatiran semata. Ia tak tahu harus merasa bagaimana soal hal ini. Membayangkan ayahnya menyukai wanita lain selain ibunya saja ia tak bisa.


Amber duduk dan membuka laci meja kecil yang terletak di samping tempat tidurnya. Diambilnya foto Ayu yang sedang memangku dirinya. Diusapnya pelan gambar wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


"Bunda … Bunda apa kabar?"


Sebuah kebiasaan yang sudah sejak lama ia lakukan. Sesuai saran yang diberikan oleh Ria, setiap kali Amber merindukan ibunya, ia akan berdoa atau sekedar 'mengobrol' sembari melihat foto sang ibu seperti sekarang ini. Hal ini membantunya lebih tenang dan tak meliputi dirinya dengan kemarahan dan kebencian akan kepergian sang ibu. Ia hanya memperbolehkan dirinya merasakan rindu yang sebenarnya lebih sering ia tahan supaya tidak sampai meluap dan membuatnya larut dalam kesedihan.


"Bunda, Amber harus gimana? Boleh kah jika Ayah suka sama wanita lain?" Amber sungguh tak nyaman dengan perasaan yang memenuhi hatinya saat ini. "Ayah udah merawat Amber dengan sangat baik. Bukankah Amber enggak boleh egois?" Gadis itu terus saja bergumam sambil memegangi foto ibunya hingga ia jatuh terlelap dalam tidurnya.