AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 25 - Sahabat Sejati



Makan malam di kediaman Tarachandra kali ini terasa berbeda. Biasanya, hanya Tarachandra dan Amber saja yang ada di sana, menyantap masakan sedap buatan Bik Nem sembari bercerita tentang bagaimana hari mereka masing-masing berlalu.


Kali ini, suasana terasa lebih ramai dengan kehadiran Charemon yang kini sudah tak lagi merasa gugup mengobrol dengan Tarachandra. Mereka bertiga pun menikmati makan malam sembari berbagi cerita.


Setelah selesai makan, Charemon membantu Amber untuk membawa piring yang sudah kosong ke dapur. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih atas makan malam yang lezat tadi pada Bik Nem yang kebetulan sedang beres-beres di sana.


Charemon pun lalu tak segan untuk membantu Bik Nem mencuci piring. Awalnya Bik Nem merasa tak enak dan menolak, tapi Charemon terus memaksa jadi akhirnya diperbolehkan juga.


Hal itu terlihat begitu menyentuh bagi Amber. Tanpa diberitahu terlebih dahulu, Charemon tahu cara yang sopan untuk berbicara kepada Bik Nem yang sudah seperti anggota di keluarga itu, bukan lagi hanya seorang asisten rumah tangga.


Setelah selesai dengan urusan dapur, Amber mengajak Charemon untuk menghabiskan waktu di kamarnya setelah mengambil dua gelas air putih dan beberapa cemilan. Kamar Amber tak hanya cukup luas namun juga lengkap.


Di dalamnya tak hanya ada tempat tidur, lemari besar, sebuah meja belajar saja dan juga kamar mandi pribadi. Di sana ada pula sebuah loveseat empuk berwarna merah yang ditata menghadap sebuah televisi layar datar yang tergantung di tembok. Selain itu, ada semacam perpustakaan kecil tempat Amber menyimpan koleksi buku dan novelnya. Dengan fasilitas selengkap itu, wajar jika siapapun akan merasa nyaman di sana, termasuk Charemon.


"Nyaman ya di sini, Amber," celetuk Charemon yang sudah duduk di loveseat yang ada di ruangan tersebut.


"Iya, sih. Cuma kadang rasanya sepi," Amber menjawab celetukan sahabatnya dengan cukup santai lalu menyalakan televisinya yang sudah tersambung dengan siaran TV kabel.


Mendengar jawaban Amber, Charemon memandang wajah sahabatnya sebentar. Lalu ia teringat akan pertanyaan yang tadi sempat muncul di benaknya tentang ibu Amber.


"Kalau mau tanya, tanya aja. Nggak usah ngeliatin gitu," kata Amber yang lagi-lagi seolah tahu apa yang ada di pikiran Charemon.


Chameron pun langsung mengubah posisi duduknya. Ia kini tak lagi menghadap ke televisi namun ke arah Amber.


"Mmm … ibu lo ke mana? Kok dari tadi gue nggak ngeliat? Baru pergi ya?" tanya Charemon dengan nada ragu-ragu.


Amber tak langsung menjawab. Ia terlihat mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Ia seperti sedang mempersiapkan dirinya untuk mulai bercerita tentang sesuatu yang memang mungkin ada baiknya ia ceritakan pada sahabat dekatnya.


"Iya. Bunda Pergi. Sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu," jawabnya pelan namun dengan suara yang terdengar tegar, tak lagi lemah seperti dulu. Ia pun bisa menyunggingkan senyum saat mengatakan itu, walau getir.


Amber lalu mulai bercerita kepada Charemon. Semua yang lihat dari sudut pandangnya ia ceritakan pada sahabatnya itu. Ini kali pertama ia bercerita pada orang lain tentang ibunya. Ia percaya bahwa Charemon adalah teman yang tepat untuk mengetahui cerita hidupnya.


Charemon bahkan sampai tak mampu membendung air matanya saat ia mendengar semua hal yang Amber ceritakan. Awalnya ia berusaha keras agar tak menangis, tapi apalah daya. Air matanya jatuh juga di hadapan sahabatnya.


"Ngapain kamu nangis?" kata Amber sambil tertawa lalu menyodorkan tissue untuk Charemon.


"Maaf … gue nggak bermaksud nangis, tapi keluar sendiri nggak bisa gue tahan. Gue paling nggak bisaan sama cerita kaya gini," jawabnya, masih sedikit terisak. Ia lalu mengelap mata juga hidungnya.


"Nggak usah nangis. Aku baik-baik aja sekarang," ujar Amber sambil mengacak-ngacak sedikit rambut Charemon.


"Kenapa lo nggak cerita dari kemaren-kemaren sama gue? Soal bokap lo juga," Charemon sedikit bersungut-sungut.


"Nunggu moment, Mon. Nggak mudah," jawab Amber singkat.


"Kehilangan memang tak mudah ya," Charemon pun menjawab, dengan sedikit senyum di wajahnya.


"Mmm…tadi Mamamu juga cerita. I'm so sorry about your father," kata Amber lirih.


Charemon tersenyum saat mengetahui bahwa Amber sudah dengar cerita tentang ayahnya.


"It's okay, Amber. Kami sekeluarga sudah ikhlas. Papa pasti sudah jauh lebih baik sekarang," ujar Charemon.


"Sini, kelingking lo mana?" lanjutnya sambil meraih tangan kanan Amber lalu mengaitkan kedua kelingking mereka.


"Janji ya, kita bakal sahabatan terus dan saling menjaga?" Charemon menanyakan hal yang menurut Amber sungguh kekanakan dan sebetulnya tak perlu diungkapkan begitu.


"Apaan sih, Mon. Kaya bocah aja," Amber berusaha menolak ajakan Charemon.


"Ih, nurut aja kenapa sih? Bawel amat," kata Charemon yang makin mengeratkan katiran kedua kelingking tangan kanan mereka.


"Iya, iya. Janji," jawab Amber dengan canggung.


Ia memang masih belum terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Hanya saja, jauh di dalam hati ia merasa sangat bahagia. Tak pernah sebelumnya ia merasa sebahagia ini. Di hadapannya, ada seseorang yang akan selalu bisa ia andalkan sebagai sahabat.


★★★


Esok pagi ada Kuliah Umum yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru sebelum memulai perkuliahan reguler sesuai dengan mata kuliah yang ditawarkan di program studi yang sudah di pilih. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.15 sekarang. Amber dan Charemon masih terjaga, mengobrol tentang banyak hal.


Siapa yang menyangka, momen menginap seperti bisa terasa sangat menyenangkan bagi Amber. Ini adalah yang pertama kalinya.


"Eh, mulai besok kan kita bakalan sering ke kampus. Mungkin bakalan tiap hari. Lo bakal sering ketemu Gian dong?" celetuk Charemon.


Amber yang sudah mulai mengantuk membalas ucapan Charemon dengan malas, "dibilangin jangan ngomongin dia juga."


"Tapi beneran, gue curiga ama sikap Gian ke lo. Bisa jadi kan dia beneran suka sama lo?" Charemon berlagak seperti detektif lagi.


"Mana ada. Udah ah, aku mau tidur," lagi-lagi Amber mencoba menghindari topik tersebut.


"Cie … yang pengen buru-buru tidur biar cepet ketemu Gian besok," Charemon tak hentinya menggoda Amber.


Amber yang mulai kesal dengan tingkah Charemon lalu membekap mulut sahabatnya yang masih cekikikan itu, lalu mengancam, "besok pagi masih mau berangkat bareng aku nggak?"


"Yeee … bolehnye ngancem. Iya deh iya. Met bobok, Amber sayang," pungkasnya sambil menarik selimut untuk menghalau dinginnya malam.


Amber masih terjaga saat Charemon sudah mulai memasuki alam mimpi. Mau tak mau, ucapan sahabatnya itu memang sedikit mengusik batinnya. Bukan karena ia menyukai Gian, tapi karena membayangkan gangguan-gangguan yang terus saja datang dari pria menyebalkan itu.


Cepat-cepat ia membuyarkan lamunannya sendiri. Ia tak ingin semesta salah menangkap sinyal lagi. Ia pun kembali mencoba memejamkan matanya, berharap hari esok akan berjalan dengan lancar.