A Dominant

A Dominant
Amara



"Apa kamu.......ja....tuh......cinta......sama cewek itu?$


"Aku sangat mencintai Nora Laco, Ma" Wintang berucap dengan wajah dan nada suara penuh dengan keseriusan.


"Dasar anak nggak tahu berterima kasih. Mama sudah larang kamu jatuh cinta sama Putrinya Ares brengsek itu, tapi kenapa kamu jatuh cinta?! Dasar bodoh!!!!!" Mamanya Wintang mendelik dan berteriak keras ke putra tunggalnya yang sudah membuatnya marah besar.


"Aku sudah berusaha keras untuk tidak mencintai Nora, Ma. Tapi, semua rumor yang beredar di luar tentang Nora Laco tidak ada yang benar. Nora pribadi yang baik, asyik, dan lugu. Semua pria pasti akan jatuh cinta dengan sangat mudahnya sama Nora Laco kalau sudah kenal pribadinya yang.........."


"Diam!!!!!!! Jangan memujinya di depan Mama!!!!" Mamanya Wintang masih berkata dengan nada suara yang sangat tinggi dan mulai mencengkeram dadanya di saat dirasanya dadanya terasa sedikit nyeri terbakar amarah yang menyala-nyala.


"Ma, Mama baik-baik saja?" Wintang langsung memegang kedua bahu mamanya saat ia melihat mamanya mencengkeram dada dan terduduk lemas di tepi ranjang.


Mamanya Wintang mendorong Wintang dengan sangat kasar dan berteriak, "Jangan pedulikan Mama!"


"Ma, kalau Mama ingin balas dendam, kenapa Mama nggak balas dendam sendiri ke Ares Laco? Jangan libatkan orang yang tidak bersalah di perselisihannya Mama dengan Ares Laco. Itu nggak adil, Ma. Nora Laco tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa, Ma, jadi............"


"Diam!!!! Pergilah dari rumah ini dan jangan pedulikan Mama kalau kamu lebih peduli dengan cewek brengsek itu! Pergilah!" Mamanya Wintang berteriak dengan mencengkeram dadanya dan mulai menangis terisak.


"Dengan senang hati, Ma" Wintang lalu berjalan ke lemari pakaiannya untuk mengambil koper dan mengisi kopernya dengan baju-bajunya Dia juga tidak lupa memasukkan semua buku yang ada di atas meja kerjanya. Setelah selesai berkemas, Wintang berkata, "Aku akan keluar dari rumah ini. Tapi, Wintang akan tetap memantau Mama. Wintang pamit, Ma. jaga kesehatan Mama dengan baik"


Ares Laco menatap Handoko dan Handoko langsung berkata, "Anda ingin menanyakan apa, Tuan?"


"Kamu akan memilih Istri apa anak kamu?" tanya Ares Laco.


Handoko mengerutkan keningnya, lalu berkata, "Tentu saja kalau sudah menikah dan punya anak, semua orangtua akan mengutamakan anak mereka di atas segalanya, Tuan"


"Salah. Kamu salah, Han. Kalau aku, aku akan memilih Istriku. Yeaaahhh, walaupun aku sangat menyayangi Nora, tapi aku tetap memilih Istriku" Area menghentikan kalimatnya untuk melihat reaksinya Handoko.


Handoko diam mematung dan Ares langsung menyemburkan protes, "Kok kamu nggak bertanya kenapa, Han?"


Handoko tersentak kaget dan langsung bertanya, "Oh, maafkan saya, Tuan. Kenapa Tuan memilih Istri?"


"Karena anak kita akan meninggalkan kita membentuk keluarga baru tapi Istri kita akan tetap berada di samping kita selamanya sampai kita tua, sampai maut menjemput kita" Sahut Area dengan senyum lebarnya.


Handoko mengerutkan keningnya dan bertanya, "Lalu kenapa Tuan tiba-tiba membahas soal ini? Memangnya ada masalah apa, Tuan?"


Ares Laco menghela napas panjang, lalu berkata, "Kemarin Nora mengenalkan pacarnya ke aku dan Hana. Hana, sih, setuju aja. Kamu tahu Hana, kan, dia selalu berpikiran positif dan tidak pernah berprasangka buruk sama orang, Tapi, aku lain. Aku dan Hana jadi berdebat soal pacarnya Nora. Hana lalu bertanya, "Yang penting, kan, Nora, Mas. Kalau Nora cocok, kita harus restui. Mas, ingin Nora bahagia, kan? Anak itu lebih penting dari apapun di dunia ini, Mas" Ares berucap sembari menirukan nada dan gaya bicaranya Hana.


"Aku jawab ke Hana kalau Istri itu lebih penting, kok Hana malah ngeloyor pergi dan ngambek. Aku benar, kan, Han? Aku akan pilih Istri, dong. Benar, kan?"


Handoko menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu berkata, "Saya pilih netral aja kali ini, Tuan" Sahut Handoko kemudian.


"Lalu mana laporan mengenai pacarnya Nora? Sudah ada, kan?" tanya Ares.


"Sudah ada, Tuan" Handoko meletakkan amplop cokelat berukuran jumbo di atas meja kerjanya Ares.


Ares membuka amplop cokelat jumbo itu dan merogoh isinya. Ada beberapa foto wanita, foto pacarnya Nora, dan foto keluarga kecil yang tampak bahagia.


"Siapa wanita ini?" Ares mendongakkan wajahnya untuk menatap Handoko.


"Itu Amara Widura. Wanita yang menjadi Submissive pertama Anda, Tuan. Anda tidak ingat?"


Ares menggelengkan kepalanya dan kembali menatap foto wanita yang ia genggam.


"Amara Widura, Anda putuskan di saat kontrak kerja sama dominan dan submissive Anda dengannya sudah habis. Tapi, Amara tidak terima dan tanpa sepengetahuan Anda, dia hamil anak Anda. Tapi, setiap kali dia ingin bertemu dengan Anda, Anda selalu menolaknya"


"Ha.....mil? Aku selalu memakai pengaman. Kenapa dia bisa sampai hamil?" Ares melotot kaget ke Handoko.


"Dia pernah membuat Anda masuk di sebuah pesta. Mungkin saat itulah dia memutuskan untuk memiliki anak dari Anda karena, ia ingin menjadi Nyonya Ares Laco" Sahut Handoko.


"Lalu, a.....apakah, bocah laki-laki ini anakku? Jadi, Nora dan.........."


"Bukan Tuan. Amara merasa frustasi karena, dia nggak pernah berhasil bertemu dengan Anda untuk membahas kehamilannya, lalu dia memutuskan untuk bunuh diri terjun ke jurang. Dia keguguran, tapi nyawanya berhasil diselamatkan. Walaupun berhasil diselamatkan, dia mengalami kelumpuhan dan wajahnya rusak parah. Dia harus menjalani terapi pemulihan selama tiga tahun dan merogoh uang cukup banyak untuk melakukan operasi plastik dan akhirnya dia bisa berkenalan dengan Devoss. Amara menikah dengan Devoss dan punya putra bernama Wintang Devoss. Tapi,.........."


"Tapi, apa?" Ares berkata dengan nada lirih karena, rasa bersalah yang sangat besar telah menghantam dadanya.


"Tapi, usahanya Devoss bangkrut karena tekanan dari Graha Laco dan Devoss akhirnya bunuh diri karena stres menanggung banyak hutang" Sahut Handoko.


"Dulu aku sekejam itukah, Han?" Tanya Ares Laco.


"Anda masih sangat muda saat itu, Tuan. Saat Anda mencapai sukses yang begitu besar di usia yang masih sangat muda dan Anda memiliki luka batin yang sangat besar, wajar kalau Anda berhati dingin di dunia bisnis. Tapi, sesungguhnya bangkrutnya usaha Devoss bukan karena tekanan dari Graha Laco, tapi karena Devoss suka berjudi dan lama-lama dia memakai uang modal usahanya untuk menutupi hutang judinya. Di saat Graha Laco mengajak Devoss bersaing, Devoss kalah karena, kurang modal dan bangkrut"


"Berarti, Nora nggak boleh berhubungan lagi dengan Wintang Devoss! Feelingku benar, kan"


"Saya setuju, Tuan. Saya takut kalau Amara menyimpan dendam pada Anda dan berniat melampiaskannya ke Non Nora" Sahut Handoko.


"Atur pertemuanku dengan Amara! Aku akan. meminta maaf padanya atas semua kesalahanku di masa lalu" sahut Ares Laco.


"Baik, Tuan"