
Elizabeth Laco, Nancy Laco, dan bahkan Christian Laco tampak antusias mengajak Hana Prakas untuk duduk di ruang keluarga.
Hana terkesima melihat lampu berlian yang tergantung di atas langit-langit, menjuntai indah di tengah sofa yang terbuat dari kulit asli harimau dan interior mahal dan gemerlap lainnya. Hana seketika itu merasa kecil dan tidak memiliki rasa kepercayaan diri yang cukup untuk duduk di tengah-tengah keluarganya Ares Laco.
Elisabeth dan Nancy putri tunggalnya, bisa merasakan ketegangan di kedua pundaknya Hana. Nancy langsung berucap, "Santai aja Kakak ipar. Kami semua nggak akan menggigit, kok. Entah kenapa, kami langsung merasa sayang sama Kakak ipar"
Hana tersenyum lebar dan tulus ke Nancy lalu mengucapkan kata, "Terima kasih sudah menerima saya yang datang dari keluarga tidak mampu ini"
"Kita semua ini sama, Hana. Nggak ada bedanya di mata Tuhan. Mama mertua kamu ini, anggaplah sebagai Mama kandung kamu, oke? Kamu boleh sering-sering main ke sini dan kita boleh sering-sering jalan bareng dan belanja bareng. Iya kan, Ares?" Elizabeth berucap sembari melirik ke putra asuhnya yang tampan.
Ares hanya membalas ucapan mama asuhnya dengan senyum tipis. Ares mengamati cara Hana bercengkerama dengan keluarga angkatnya dan Ares tersentuh hatinya, lagi dan lagi, ia tersentuh, hatinya terasa tergelitik aneh dalam arti yang indah setiap kali ia mengamati Hana Hana.
Dia gadis manis yang bisa dengan cepat merebut hati siapa pun yang ada di sekitarnya. Dia juga baik, lembut, dan tegar. Batin Ares mengagumi sosok Hana secara diam-diam.
Macarena melihat keakraban Hana dengan keluarga Laco dengan penuh kebencian. Iri hati dan kecemburuan semakin menggelapkan hatinya yang memang sudah gelap.
Damian Lordess, suaminya Macarena datang di ruang keluarga tersebut dan membuat Macarena semakin membenci Hana Prakas karena, suaminya juga berhasil dipikat oleh Hana. Suaminya bisa ikut nimbrung bercengkerama.dengan Hana dan Keluarga Laco, penuh senyum dan tawa riang. Bahkan suaminya memuji Hana, pintar saat Damian Lordess tahu, Hana kuliah di kedokteran.
Sial! Kenapa semua orang bisa dengan mudahnya menyayanhi gadis brengsek itu! batin Macarena kesal.
Dan yang membuat Macarena semakin merasa kesal adalah bisikan putri tunggalnya, "Ma! Aku akan merebut Kak Ares dari Istrinya yang kampungan itu. Aku mencintai Kak Ares dari dulu"
Kedua bola mata Macarena membelalak dan ia langsung menoleh ke putrinya dan berbisik dengan nada geram, "Jangan pernah mencintai Ares! Bunuh rasa cinta kamu itu sekarang juga!"
"Kenapa?!" Tanpa sadar putri tunggalnya Macarena yang bernama Mellisa itu memekikkan protesnya.
Semua mata tertuju pada Mellisa dan Elizabeth langsung bertanya, "Ada apa Mel?"
Macarena tersenyum canggung ke semua pasang mata yang mengarah padanya lalu ia berkata, "Mellisa ingin pulang sekarang juga karena, ngantuk. Tapi, aku melarangnya. Karena , kita kan belum makan malam. Kita asyik bercengkerama sedari tadi"
"Oh! Hahahaha, iya maafkan Tante, Mel. Tante keasyikan mengobrol dengan menantu Tante yang manis ini. Kalau gitu, ayok! Kita langsung ke ruang makan saja. Kita lanjutkan obrolan kita di sana"
Hana dirangkul bahunya oleh Nancy dan Nancy dengan riangnya berkata, "Aku berasa memiliki Kakak cewek dan aku suka banget punya Kakak cewek kayak Kak Hana yang cantik, pinter, dan baik hati"
Hana tersenyum tulus ke Nancy lalu ia berkata, "Bagaimana Dek Nancy bisa tahu kalau Kak Hana ini baik. Kita kan baru kenal"
"Aku ini pandai menilai orang. Kalau aku rasakan orang itu baik maka pasti lah orang itu baik" Nancy mencium pipinya Hana dan Ares yang berjalan di belakangnya Nancy dan Hana menatap kebersamaan Hana dan Nancy yang penuh kasih mesra yang tulus, membuat hatinya terasa hangat.
Mereka.makan malam dengan penuh keakraban dan Hana merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Laco yang tulus dan tidak menampakkan wajah munafik. Namun, ridak demikian dengan Macarena dan Mellisa.
Ares bangkit, "Maaf, aku akan ambilkan kain lap untuk Hana. Hana tidak terbiasa makan seafood dan dia pakai tangan"
Hana tersenyum malu ke semuanya dan berkata, "Maaf, saya tidak terbiasa makan semua hidangan di sini. Steak, seafood, lobster,pasta. Saya hanya mengenal nasi uduk selama ini, hehehehehe"
"Oh! Maafkan Mama, ya. Semua ini makanan kesukaannya Ares. Mama nggak tahu makanan kesukaan kamu. Lain kali, kita masak nasi uduk bareng ya?" Elizabeth tersenyum tulus ke Hana.
"Iya Ma" sahut Hana.
"Aku juga ikut" Sahut Nancy dengan senyum cerianya.
Mellisa adalah seorang gadis yang sepuluh tahun lebih muda dari Ares itu, mencintai Ares sejak ia masih kecil. Cinta pada pandangan pertama di saat ia masih berumur sepuluh tahun.
"Kak, ada yang ingin Mellisa katakan ke Kakak"
Ares memegang kain lap dan kotak tissue lalu berputar badan, "Ya?"
"Apa Kakak tahu, aku mencintai Kakak sejak aku masih berumur sepuluh tahun"
Ares menatap Mellisa dengan sorot mata dingin dan berucap singkat, "Kamu masih kecil dan aku sudah menikah"
Mellisa tersenyum kecewa menerima jawabannya Ares. Lalu gadis berumur delapan belas tahun itu, nekat memeluk Ares dan menggelungkan kedua lengannya di pinggang Ares dengan sangat erat.
Ares mengurai gelungan tangan Mellisa dengan sangat kasar sampa membuat Mellisa mendesis kesakitan, lalu ia mendorong tubuh dan mencekal pergelangan tangan Mellisa dengan erat tepat di saat, Hana berada di sana.
Hana melihat kembali, sisi gelap dari Ares dan gadis manis itu berdiri mematung di sana saat Ares melepaskan pergelangan tangan Mellisa dan Mellisa tertunduk menangis karena rasa sakit di pergelangan tangan dan rasa sakit di hatinya karena cintanya ditolak oleh Ares.
Ares lalu mengajak Hana pergi dari sana meninggalkan Mellisa begitu saja dan Hana tidak berani untuk berkomentar ataupun menolong Mellisa.
Ares pun diam seribu bahasa saat ia berjalan beriringan dengan Hana menuju ke ruang makan.
Area mengajari Hana cara makan lobster dan kerang karena Hana memang belum pernah makan lobster dan kerang
Macarena menatap Ares penuh dengan kecemburuan bercampur heran. Baru pertama kalinya Macarena melihat Ares mengajari serang gadis cara makan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Bahkan Ares bersedia mengisap sudut bibirnya Hana yang belepotan karena saos lobster.
Lain halnya dengan keluarga Laco, mereka menatap perubahan sikap pada diri Ares dengan senyum bangga dan bersyukur karena, Hana bisa merubah Ares ke arah yang lebih baik.
Elizabeth berucap, "Kalian tidur saja di sini malam ini. BI Ijah sudah menyiapkan kamar untuk kalian"
Ares dan Macarena langsung bersitatap. Macarena langsung menatap Ares karena ia paham betul karakternya Ares. Ares tidak pernah tidur dengan wanita manapun di atas ranjang. Setelah bercinta, Ares akan pindah kamar. Dan Ares menatap Macarena untuk alasan yang tidak jelas karena, sejak ia mengenal Hana, perasaannya sering memiliki makna lebih dari satu dan itu membuatnya sering merasa kebingungan sendiri.
Macarena mencoba menyelamatkan Ares dan menyelamatkan perasaannya sendiri dari kecemburuan dengan berkata, "Beth, biarkan mereka pulang ke rumah. Ini belum terlalu malam. Mereka kan pengantin baru jadi, pastinya mereka ingin berduaan aja di rumah. Iya, kan Ares?"
Ares hanya diam mematung menatap Macarena begitu pula dengan Hana.
"Nggak! Aku masih belum puas mengobrol dengan Hana. Kamu mau kan menginap di sini, Sayang?" Elizabeth Laco menatap Hana dan Hana menoleh ke Ares. Ares bersitatap dengan Hana dan kedua sorot mata Hana yang sendu membuat Ares tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
Elizabeth Laco memekik senang dan langsung merangkul Hana kembali ke ruang keluarga.
Macarena menahan lengannya Ares dan berbisik, "Jangan tidur dengannya!"
Dan tanpa Macarena duga, Ares menepis tangannya Macarena dan mengabaikan Macarena.
Macarena semakin meradang karena kesal, marah, dan cemburu.
Aku akan membuat Hana membayar semua ini. Batin Macarena.