A Dominant

A Dominant
Anak



Keesokan harinya, Hana sadar dan saat ia membuka kedua kelopak matanya, ia melihat Ares tertidur dengan kepala tertelungkup di pinggir bed-nya dan ia melihat tangannya ada di dalam genggaman tangannya Ares. Hana mengusap kepalanya Ares dengan senyum penuh cinta.


Ares menggerakkan kepalanya lalu mengangkatnya dan ia langsung memeluk Hana, "Syukurlah kau sudah sadar dan tidak perlu tidur lebih lama lagi" Ares lalu menarik pelukannya dan berkata, "Aku akan memanggil dokter"


Hana langsung menahan lengannya Ares dan berkata, "Kau tidak rindu padaku? Kau tahu tidak aku menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melalui bebatuan terjal dan jurang yang curam untuk bisa kembali lagi ke sini, lalu apa? Kau akan meninggalkan aku?"


Ares langsung memeluk Hana dan terkekeh geli, "Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Aku hanya akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi kamu"


"Aku nggak mau pisah lagi denganmu, Mas. Temani aku aja dan jangan ke mana-mana! Jangan panggil dokter juga" Hana mulai menangis di dalam pelukannya Ares.


"Iya. Mas Ares kamu ini nggak akan ke mana-mana!"


Setelah dirasa Hana sudah tenang kembali, Ares melepas pelukannya dan berkata, "Sayang, Mas Ares kamu ini boleh minta tolong sama kamu?"


"Boleh. Dan aku dengan senang hati akan menolongmu, Mas"


"Mas minta tolong, lain kali jangan melompat ke dalam bahaya lagi! Mas nggak sanggup melihatmu terbaring sakit seperti ini, terluka dan........" Ares menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menangis.


Hana langsung menarik tangan Ares dan mereka kembali berpelukkan. Hana ikut menangis dan di sela isak tangis mereka berdua, Hana berkata, "Iya Mas. Aku nggak akan membahayakan diriku lagi"


"Janji?" tanya Ares sambil melepas pelukannya, lalu ia menatap Hana.


"Janji" Sahut Hana dengan senyum manisnya.


Ares tersenyum penuh cinta lalu ia mencium bibir istrinya dengan penuh cinta dan kerinduan.


Dua Minggu kemudian..................


Di sebuah vila mewah di kawasan elite dan menghadap ke pantai, Ares memeluk Hana di atas pasir putih pantai tersebut setelah penyatuan panas dan liar mereka di atas pasir putih.


Ares dan Hana berpelukan di atas pasir putih dengan menutupi tubuh mereka berdua yang masih polos, memakai selimut besar dan lebar.


"Mas, kita sudah dua Minggu berbulan madu di sini" Tanya Hana sambil menoleh ke Ares dan tersenyum.


"Hmm. Apa kamu bahagia?" tanya Ares sembari mendaratkan telapak tangannya di titik kenyal favoritnya, lalu tangan itu asyik bermain di sana dan Hana membiarkannya. Karena Hana, lebih berkonsentrasi ke pertanyaan penting yang sedari awal ia menikah, ingin dia tanyakan ke Ares.


"Aku sangat bahagia dan sangat beruntung memilikimu di kehidupan ini, Mas" Hana menatap Ares tanpa henti dengan kerutan di keningnya.


Ares menatap Hana dan mulai menautkan alisnya dengan tanya, "Ada apa? Apa yang mengganggu pikiranmu? kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Kenapa Mas selalu membuangnya? Apa Mas tidak ingin punya anak?"


Ares menjawab dengan santainya, "Aku tidak ingin punya anak. Maaf, Hana"


Hana terkejut mendengar jawabannya Ares dan langsung bertanya dengan tawa anehnya, "Mas, nggak serius, kan? Mas, bercanda, kan?"


"Aku serius. Aku nggak ingin punya anak"


Hana langsung bangkit berdiri dan menarik selimut besar untuk menutupi tubuh polosnya dan berlari masuk ke dalam vila. Hana masuk ke kamar dan mengunci diri di kamar dengan derai air mata.


Ares yang masih polos menutup tongkat kebanggannya dengan kedua telapak tangannya lalu berlari menyusul Hana. Dia mengetuk pintu kamar dan terus memanggil nama Hana, tapi Hana tidak membukakan pintu untuk Ares.


Ares menghela napas panjang dan dengan wajah kesal, ia menuju ke kamar yang satunya lagi untuk mandi dan memakai baju.


Di sore hari, kedua pengantin baru itu kembali bertemu di meja makan dan di saat Ares ingin memeluk Hana, Hana menepis tangannya Ares dan menghindari Ares. Mereka pun makan di meja makan dalam diam.


"Oke. Jangan diam aja! Kalau mau marah, marah saja. Kalau mau menamparku, tampar aja Tapi, jangan diam aja kayak gini, Hana!"


"Kenapa Mas nggak pengen punya anak? Kalau Mas nggak pengen punya anak, kenapa Mas menikah?"


"Yang mana dulu yang harus aku jawab?"


"Terserah!" Hana mendelik dan bersedekap di depan Ares.


"Aku menikah karena aku sudah menemukan wanita yang aku cintai dan aku pikir aku harus mengikat wanita yang aku cintai itu di dalam pernikahan agar tidak diambil orang lain dan wanita yang aku cintai itu, kamu"


"Lalu kalau cinta, kenapa Mas nggak ingin punya anak dariku?"


"Karena aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku akan memutus garis keturunannya Erick Allesio hanya sampai di diriku. Aku nggak ingin punya anak karena itu"


"Apa sumpah itu tidak bisa dilanggar, Mas? Toh, Papa kandungnya Mas juga sudah menebus dosanya. Dia sudah dipenjara"


"Nggak bisa Hana, maaf. Aku benar-benar tidak ingin melanjutkan garis keturunan pria brengsek itu. Kau sudah lihat sendiri kan, seperti apa dia"


"Sampai kapan sumpah itu kau pertahankan?" tanya Hana


"Seumur hidupku. Seumur hidupku, aku tidak ingin melanjutkan garis keturunannya Erick Allesio. Aku nggak ingin punya anak"


Hana langsung bangkit berdiri dan berkata, "Kita beda pandangan, Mas. Aku pengen punya anak.Sedangkan kau tidak ingin punya anak. Lalu kita harus gimana sekarang?"


"Baiklah. Kalau kau masih belum punya jawaban atas masalah kita ini, kita harus tidur terpisah malam ini. Aku butuh merenungkan semua ini, Mas"


"Hana, kenapa begitu? Ini masa bulan madu kita. Mana mungkin kita tidur terpisah?"


Hana langsung berlari meninggalkan. Ares seorang diri di meja makan dan Brak! ia membanting pintu kamar lalu menguncinya.


Ares melongo melihat kekesalannya Hana lalu ia meraup kasar wajah tampannya dan melangkah menuju ke kamar yang satunya lagi. Ares merasa tidak bersalah dan dengan mudah ia tidur dengan pulas malam itu.


Keesokan harinya, Hana telah bersiap di ruang tamu dengan koper dan tas ranselnya lalu ia menoleh ke Ares yang melangkah keluar dari dalam kamar dengan menguap santai.


"Aku mau pulang, Mas"


Ares langsung membeliakkan kedua bola matanya, "Hah! Sekarang?"


Hana menganggukkan kepalanya dengan wajah serius.


"Oke. Aku mandi dulu"


"Mas mandi aja di kamar kita, aku sudah siapkan baju ganti untuk Mas karena semua baju yang kita bawa, sudah aku masukkan. semua ke koper"


Ares mengangguk santai karena dia masih belum mencerna dengan benar bahwa masalah yang ia timbulkan kemarin, adalah masalah yang sangat rumit.


Di dalam perjalanan pulang, Hana tidak mau digandeng dan dipeluk oleh Ares dan Hana terus diam membisu. Ares merasa kesal sebenarnya, namun ia berhasil menahan kekesalannya itu hingga mereka sampai di rumah mereka.


"Kau mau nonton film di bioskop mini kita? Aku punya lanjutan dari film yang kita tonton terakhir" Ares menoleh ke Hana.


Namun, Hana mengabaikan Ares dan ia langsung berlari kecil meninggalkan Ares menuju ke kamar tamu dan mengunci diri di sana.


Ares mengacak-acak rambutnya dan akhirnya ia memilih untuk pergi dari rumah. Ares menelepon Handoko dan mengajak Handoko pergi ke kafe favoritnya untuk bermain piano di sana.


Hana mendengar rumahnya sepi. Lalu ia keluar dari dalam kamar tamu dan bertanya ke Evi, "Apa Tuan keluar rumah?"


"Iya Nyonya" Sahut Evi.


"Ke mana?" tanya Hana.


"Saya nggak tahu, Nyonya.


Hana akhirnya memutuskan untuk menunggu Ares di ruang tamu dari jam tujuh malam sampai jam satu dini hari, Ares akhirnya menampakkan batang hidungnya di depan Hana.


"Mas, kita punya masalah. Tapi, kenapa Mas tampak santai dan malah pergi keluar rumah. Mas pergi menemui salah satu wanita Submissive-nya, Mas, ya?"


"Kamu memaksakan keinginan kamu untuk punya anak dan sekarang kau menuduhku berselingkuh?"


"Memaksa punya anak? Yang benar saja, Mas?!" Hana mengulas senyum herannya ke Ares lalu ia kembali berucap, "Semua pasangan yang sudah menikah normalnya pasti ingin punya anak, Mas. Aku bukannya memaksa"


Ares diam membisu dan mematung karena ia tidak tahu bagaimana harus merespons protesnya Hana.


Hana kesal melihat sikap diamnya Ares lalu ia berkata, "Kalau Mas nggak ingin punya anak, lebih baik kita bercerai saja"


"Hah?! Cerai?" Ares tersentak kaget mendengar kata cerai.


Hana langsung berputar badan dan berlari ke kamar tamu dengan derai air mata.


Ares mematung lalu ia menoleh ke Handoko.


"Apa Anda ingin bercerai dengan Non Hana Tuan?"


Ares menggelengkan kepalanya dengan kencang.


"Anda ingin kehilangan Non Hana lagi? Dan saya kira untuk kali ini, jika Non Hana pergi, itu untuk selama-lamanya" sahut Handoko dengan wajah serius.


"Aku nggak mau kehilangan dia, Han"


"Kalau gitu, susul Non Hana sekarang juga! Langgar sumpah nggak berguna yang pernah Anda buat di masa lalu karena sekarang kondisinya sudah berubah, Tuan"


"Lalu apa yang harus aku lakukan jika aku susul Hana?"


"Bikin anak dong, Tuan. Apalagi? Bukankah itu yang Non Hana mau? Cinta itu harus bersedia berkorban dan ini saatnya Anda buktikan cinta Anda Tuan. Korbankan sumpah Anda yang tidak berguna itu"


"Tapi, kalau anakku nanti seperti Papa kandungku atau seperti aku, gimana?"


"Anak itu kebanyakkan mirip dengan Mamanya. Anda pasti ingin memiliki miniaturnya Non Hana memenuhi rumah ini, kan, Tuan?"


Ares membayangkan anaknya nanti semuanya manis dan menggemaskan seperti Hana dan tanpa ia sadari ia berlari menuju ke kamar tamu menyusul Hana.


Handoko tersenyum senang melihat tuannya bersedia mendengarkan saran dan nasehat darinya.