
Hana lalu menarik wajahnya dan berucap, "Maaf Mas, aku telah lancang mencium Mas"
Ares menarik tengkuknya Hana lalu mencium Hana sambil bergumam, "Lanjutkan aja kenapa berhenti? Aku belum ingin berhenti"
Hana mendorong tubuhnya Ares lalu bertanya, Mas, Mas marah, ya?"
Ares menggelengkan kepalanya, "Nggak! Aku nggak marah"
"Tapi, kenapa Mas, menggigit bibirku?" Hana menyentuh bibir bagian bawahnya.
"Itu karena aku gemas sama kamu" Ares meringis ke Hana.
Hana langsung salah tingkah dan bangkit lalu berlari meninggalkan Ares.
Ares kaget dan langsung berteriak, "Kenapa lari?! Kau mau ke mana Istriku?!"
Hana menoleh ke belakang sambil terus berlari pelan di atas pasir pantai dan berucap, "Mau beli gelembung. Mas tunggu aja di situ!" teriakan Hana membuat Ares langsung menoleh ke Handoko dan langsung memerintahkan Handoko untuk mengawal Hana.
Handoko segera bangkit dan berlari kencang menuju ke penjual gelembung di mana Hana tengah berdiri mengantre di depan sana.
Handoko berdiri di sebelahnya Hana dan Hana langsung menoleh kaget, "Lho Pak Han kok ada di sini?"
"Saya diperintahkan Tuan untuk menjaga Anda, Nyonya" gumam Handoko.
"Beli gelembung aja kenapa harus dijaga?"
"Karena Anda sekarang adalah Nyonya Ares Laco" Handoko berkata lirih.
Hana menghela napas panjang dan tetap berdiri mengantre.
Ares mengirim pesan text ke Handoko.
Handoko menunduk untuk membaca pesan text dari Ares, lalu ia menoleh ke Hana, "Anda kembali saja ke tempat Tuan, Nyonya. Biar saya yang membelikan gelembungnya"
"Nggak Pak Han, saya harus memilih sendiri gelembungnya karena, ini sangat penting bagi saya. Karena, saya mau beli untuk Mas Ares, suami saya"
Handoko menoleh ke belakang dan melihat wajah kesalnya Ares yang tengah berdiri dan berkacak pinggang tidak jauh dari tempat ia dan Hana mengantre untuk membeli gelembung.
Handoko langsung mengetik pesan text untuk ia kirim ke telepon genggam tuan besarnya.
Ares menunduk untuk membaca pesan text dari Handoko. Konglomerat muda itu langsung tersipu malu membaca pesan text dari Handoko yang memberitahukan ke Ares, Nyonya Hana ingin memilih sendiri gelembungnya karena, itu untuk suaminya dan itu penting.
Ares lalu menggigit jarinya dan bergumam, "Aku penting bagi Hana" Dan dengan senyum lebar, Ares kemudian berkacak pinggang dan berteriak, "Ah! senangnya! Aku penting bagi Istriku!" Ares berteriak sangat kencang saking girangnya dan mengabaikan berpuluh pasang mata yang menyorotinya dengan tatapan heran.
Beberapa menit kemudian, Hana berlari ke arah Ares dan Handoko belok untuk kembali ke tempatnya semula.
Ares langsung berlari dan menangkap tubuh Hana yang hampir jatuh. Lalu ia berucap, "Lain kali nggak usah lari! Kalau jatuh dan kamu terluka, aku akan tutup pantai ini selamanya"
"Pokoknya kamu nggak boleh jatuh dan terluka. Kamu juga penting bagiku" Ares tersenyum lebar ke Hana.
Hana membalas senyumannya Ares lalu ia menyodorkan mainan berbentuk pistol berwarna merah yang jika ditembakkan akan keluar gelembung sabun di depan wajahnya Ares.
Ares mengernyit dan memundurkan wajahnya, "Kenapa kau sodorkan tembakan itu ke aku? Kau mau menembak suami kamu, ini? Katanya aku penting bagi kamu?"
Hana melepas tawa renyahnya, lalu berkata, "Bukan untuk menembak Mas. Tapi, aku ingin Mas ucapkan semua hal buruk yang pernah Mas alami di masa lalu di depan tembakan ini"
Ares menatap Hana dengan heran.
"Ayo Mas lakukan! Kalau Mas malu mengucapkannya di depanku, Mas ucapkan saja di dalam hati Mas, ayok cepat!"
Ares mengucapkan di dalam hatinya sambil menatap mainan pistol berwarna merah yang ada di depan wajahnya, Aku benci Papa kandungku, aku benci saat Mama mati dibunuh oleh Papa, aku benci saat aku dikirim ke panti asuhan dan hidup beberapa bulan di sana, aku benci Macarena saat ia merenggut keperjakaanku dan lalu mengikatku untuk menjadi submissivenya.
Konglomerat muda yang sangat tampan dan gagah itu, lalu mengalihkan pandangannya ke Hana.
Hana bertanya, "Sudah semuanya?"
Ares menganggukkan kepalanya masih dengan kerutan di keningnya karena, ia masih belum memahami maksudnya Hana menyuruh dia melakukan hal-hal aneh yang sebelumnya belum pernah ia lakukan dan belum pernah ia jumpai.
Hana lalu mengarahkan moncong dari mainan berbentuk tembakan berwarna merah yang terbuat dari plastik, lalu menembakkannya ke udara bebas. Beberapa gelembung keluar dari moncong mainan berbentuk tembakan itu dan Hana menoleh ke Ares, "Mas lihat kan, gelembung itu di dalamnya ada kebencian-kebencian yang Mas ucapkan dan Mas krim ke dalam tembakan barusan dan lihatlah, Mas! Gelembungnya telah menghilang kan? Pecah dan hilang. Mas lihat, kan?"
Ares menganggukkan kepalanya masih dengan tatapan heran ia memandangi tingkah imutnya Hana.
"Itu berarti, semua kebencian yang ada di hati Mas. Semua kebencian yang ada di masa lalunya Mas. Semua peristiwa buruk yang pernah terjadi di masa lalunya Mas, telah hilang. Seperti gelembung-gelembung tadi. Mas harus melangkah menjadi manusia baru mulai dari sekarang. Tidak ada lagi......... hhmmmpppttt!"
Ares langsung membungkam mulut Hana dengan bibirnya. Dia lalu menarik pinggang Hana sampai Hana menempel di tubuhnya dan ia memperdalam ciumannya.
Dan di saat ia mengambil menarik bibirnya untuk mengambil napas, Hana mendorong pelan tubuhnya Ares dengan deru napas yang tidak beraturan.
Ares langsung memeluk Hana dan berucap, "Terima kasih sudah menghiburku dan bisa membuatku bernapas lega. Kebencian di dalam hatiku sudah tidak begitu terasa sesak di dalam hatiku. Terima kasih" Ares mendaratkan beberapa ciuman di pucuk kepalanya Hana.
Hana lalu melepaskan diri dari dalam pelukannya Ares laku ia menembakkan kembali gelembung sabun ke udara dan mengajak Ares untuk berlari mengejar gelembung sabun itu.
Ares mengikuti permainan kejar-kejaran dengan wajah ceria dan baru pertama kalinya bagi seorang Ares Laco, bisa tertawa lepas di depan ombak pantai.
Ares lalu mengajak Hana duduk di depan pantai sambil menikmati kelapa muda yang dibelikan oleh Handoko. Satu kelapa muda untuk diminum berdua, itu permintaannya Hana. Ares yang tidak terbiasa minum di wadah yang sama dengan orang lain apalagi itu makhluk yang bernama wanita merasa ragu untuk minum berdua dengan Hana.
Hana menyedot sedotan yang ada di depannya, lalu ia meminta Ares melakukan hal yang sama, namun Ares malah mematung dan berkata, "Aku tidak bisa. Bukankan itu berbagi kuman namanya?"
"Mas, ini namanya senasib sepenanggungan. Bayanganku kencan sempurna ya seperti ini. Minum satu kelapa muda untuk berdua. Ayolah Mas! Please! katanya mau menuruti semua mauku karena, aku akan menuruti semua mau kamu nanti malam"
Ares langsung menunduk dan menyedot kelapa muda dan minum kelapa muda itu berhadapan muka dengan Hana. Dan tanpa Ares duga, Ares menyukainya. Ada debaran aneh di hatinya saat ia menikmati segarnya air kelapa muda sambil berhadapan muka dengan istrinya.
Kedua mata Ares bersitatap dengan kedua matanya Hana dari tatapan itu terpercik aliran listrik yang sensasinya terasa mengejutkan, menggelitik aneh, namun indah.